Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

The Voices from the field

 

Specials

Indonesian Dinner

23 August 2007, 10:11 , by Luigi Pralangga

 

For most of us being away from home, whether you realize it or not, your
expertise in culinary has become better than before. At least, for me.. I began to learn to cook and getting around the kitchen longer that I used to be when still living back home in Indonesia. Since the year 2000, when I start living and working in New York, as those burgers and other fast food really bore me a lot, which I also need to mention that they [eating out and taking Chinese take-outs] really burn my pocket deep!.

Looking up recipes from the net and calling-up my mom back home, which is 10-11 hours ahead – just to ask how to cook this and that, and why is the hell it turned out to taste worst-and stuffs had made me a bit more proficient with my cooking skills. Further to trials and error, as I push myself to undertake mission’s assignment – it all went out well, at least those instant seasonings can make your tummy really happy and the longing for home-style meals are similarly compensated, which to include making your housemate in the mission getting a better acquainted with the Indonesian Culture through its dishes.

Here in Liberia, I am glad to have someone whose curious enough to
accompany me while doing things at the kitchen, meet my housemate, Antonio. Though he’s not much of a great help, but at least I’ve got a great cooking companion – just like on those TV’s cooking show, he’s my culinary assistant trying to explain to me how to cook using the Bumbu Inti.

However, I could not comprehend better of his Indonesian translation… can
you help me by listening to what he said?

Wawancara - Radio Singapore International (Berlebaran di Liberia - Tiada Ketupat dan Opor Ayam selezat di kampung)

14 November 2006, 23:36 , by Luigi Pralangga

 

Meski suasana Idul Fitri sudah lumayan lama berlalu, namun bagi kita-kita yang berada jauh dari kampung halaman masih membekas seperti baru saja
kemarin lusa. Sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, tentunya sudahlah membekas pengalaman ramadhan bertahun-tahun lapanya dialamai saat di kampung halaman, mendengarkan suara takbir dari surau,atau masjid-masjid yang menggema keseluruh alam raya saat hari raya Idul Fitri tiba, sebuah suasana yang mampu membuat rambut kuduk ini berdiri merinding.

Bagi saya pribadi, bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat makna dan limpahan pahala, dimana mutu/kualitas ibadah mesti senantiasa dipersungguh dan di-giat-kan, terutama ibadah lainya selain ibadah wajib, selain itu Hari Raya Idul Fitri adalah juga kesempatan bagi diri untuk bisa bertemu sanak-famili sekaligus dalam waktu bersamaan, menghantarkan salam silaturahim dan menjabat erat para kerabat yang tinggal di kota lain datang berkumpul yang belum tentu bisa bertemu sapa setahun sekali.

Namun kali ini [dan sebelumnya lebaran tahun 2004], kawan-kawan dari TNI yang bertugas sebagai Military Observer dan saya di Monrovia, karena masa tugas, mengharuskan diri berada di Liberia, dan tidak mudik kampung untuk merayakan Lebaran.

Selama bulan Ramadhan, kawan-kawan Milobs sangat berbaik hati untuk mengundang saya ke rumah mereka untuk bersantap buka puasa bersama dengan menu “combat ala carte” – apaan sih itu? Iyah combat ala carte artinya makanan siap saji khas Indonesian Peacekeepers.

Dengan bumbu ala kadarnya, semuanya terasa sedap/nikmat untuk level/standard peacekeeping mission. Segala keterbatasan bumbu dapur dan penyedap lainya dimana banyak tersedia di kampung, si masakan itu; rendang ala monrovia, tumis bayam bumbu loreng, balado telor cengek-raya (Maksudnya: sarat cabe rawit liberia), dan serba-neka hidangan santap malam berbuka puasa, sudah cukup membuat kenyang perut ini dan bahagia hati dibuatnya pada malam – malam itu.

Lebaran pun tiba, kami pergi untuk sholat Ied di Jordanian Battalion Mosque, di UNMIL Logistics Base, di bilangan Freezone.. disitulah saya merasakan kerinduan akan suasana indahnya berlebaran di kampung… sedih sekali hati ini terenyuh haru, seraya mengucap dalam hati memohon pada Alloh SWT agar kiranya pada Lebaran di tahun selanjutnya, insyallah bisa dilaksanakan bersama keluarga di kampung halaman.

Hidangan Idul Fitri pun sudah tersaji lengkap di Rumah Indonesian Peacekeepers di 18 Street, Sinkor Area – Monrovia, dimana kawan-kawan sudah sibuk mempersiapkan di saat malam takbiran. Opor Ayam, Sapi cah Cabai, Lontong jadi-jadian, kerupuk, dan dendeng goreng. Memang hidangan itu tidaklah secanggih menu-masakan yang biasanya ibu saya dan ibu mertua saya sajikan saat lebaran, namun itulah yang terbaik kita bisa lakukan bersama disini.. sembari diselingin obrolan-obrolan seputar masakan lebaran dari daerah asli asal masing-masing.

“Wah kalau di kampung saya, sudah pasti ada menu ini, itu, wess, pokoke gemah ripah long jinawi, dah!”
“Biasanya sih di rumah siap dengan satu panci besar opor ayam, sambel goreng ati, dan acar kuning.., itu sudah pasti nggak ketinggalan..”
“Ini orang-orang dirumah pasti sudah keliling ke para tetangga pada makan enak nih… “

..dan ungkapan/ekpresi serupa lainya dari kita masing-masing membicarakan dan membayangkan bagaimana indah dan nikmatnya melalui Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman.

Hari Raya Idul Fitri di Liberia, tidaklah terasa ramai dirayakan dan dijalan-jalan terlihat satu atau dua kelompok orang yang berjalan dengan busana muslim khas Afrika yaitu para bapa-bapa yang memakai seperti baju daster mamak-mamak di kampung saya, dengan warna dan corak seragam sekeluarganya.. takbir pun tiada nyaris terdengar, sebab tidak banyak masjid di Monrovia, dan komunitas Muslim di Liberia sangatlah sedikit.

Esoknya, kami pun masuk kerja seperti biasa, dan menerima banyak email ucapan selamat hari raya idul Fitri dari keluarga dan kawan-kawan di tanah air. Tidak lama pun melintas seorang kawan baik saya, Om Rane Hafied, blogger dari Singapura dan berbaik hati meminta saya untuk berbagi kisah Berlebaran di negeri orang.

Terima kasih Om Rane atas kesempatan sharingnya di Radio International Singapore, edisi Lebaran, semoga cerita sharing Lebaran-nyabisa berkenan di hati para pemirsa-nya.

Berbincang Jalan Episode #12 AstroTV

1 November 2006, 06:10 , by Luigi Pralangga

 

Salah seorang kawan baik, yang juga pemerhati blog si kampret ini, adalah kawan di Jakarta dan dalam emailnya pada pertengahan Agustus lalu, mengawali kontak perdana kita, dimana dalam emailnya tersebut mengabarkan bahwa beliau sering mampir dan membaca-baca entry pada blog sontoloyo itu dan menanyakan apakah akan pulang mudik dalam waktu dekat, dan menanyakan apakah bersedia untuk berbagi cerita tentang Liberia dan keseharian selama berdinas di negeri si bau kelek ini dalam sebuah wawancara TV di salah satu jaringan TV swasta satelit yang belakangan ini berdiri di Indonesia.

Koordinasi pun berlanjut, sekaligus mengabari rencana jadwal cuti-mudik, terima kasih buat Kang Asep Iwan (Former Indonesian Milobs to UNMILKONGA XXI-2) & Mas Muhammad Irawadi (Punten Mas Irawadi – saya blom faham rank/jabatan saat ini) yang sudah bersedia membantu dan mengijinkan lokasi wawancara dilakukan di Markas TNI-AD di Cilodong. Bogor, sekaligus meliput kesiapan Kontingen Garuda XXIII/A yang sedang berlatih disana.

Singkat cerita akhirnya jadwal cuti pun tiba, dan September 2006 lalu, akhirnya liputan pun dilaksanakan dan dipandu oleh host – Berbincang Jalan, yaitu Mas Riza Primadi. Tayangan berbincang jalan episode ke -12 kali ini berkisar tentang peranan personil sipil di misi pemulihan perdamaian PBB, dimana saat ini ada sekitar 7-10 staff sipil PBB asal Indonesia yang bekerja pada beberpa misi pemulihan perdamaian PBB, kebetulan si kampret ini salah satu diantara mereka, dan masih bertugas di Liberia, Afrika Barat

Tak lupa tentunya sekali lagi saya haturkan banyak terima kasih buat Kang Asep Iwan, Mas Muhammad Irawadi, segenap pasukan TNI -AD di Cilodong yang mendukung liputan tersebut, Mas Riza Primadi dan kawan-kawan Crew – Berbincang Jalan – Astro TV Indonesia.

Memang belum banyak staff asal Indonesia yang terjun bekerja di UN Peacekeeping, yang notabene ditempatkan di daerah pasca konflik, seperti di Democratic Republic of Congo, Sierra Leone, Liberia, Ivory Coast, Burundi, Sudan, Iraq, Afghanistan dan beberapa daerah pasca-bencana alam lainya.

Channel 30, Astro Awani dari Astro TV, tanggal 9 Oktober 2006 lalu adalah tanggal tayang si wawancara itu, sayangnya dalam versi web ini, hanya tersedia file audio-nya saja. Mudah-mudahan cuplikan wawancara (audio) ini, bisa memberikan cakrawala baru dan antusiasme bagi anak bangsa untuk dapat berperan lebih aktif lagi bagi perdamaian internasional dan di arena multi-lateral seperti PBB.

Welcome to the United Nations, It is your world!

Miss Liberia 2006: Beyond Beauty, Brain, Behave, Courage...

1 November 2006, 05:52 , by Luigi Pralangga

 

Liberia, sebuah negara kecil di kawasan afrika barat, yang berpenduduk kurang lebih 3,3 juta jiwa, diwilayah hampir setara atau lebih kecil dengan luas propinsi Jawa Barat, yang selama 14 tahun terakhir ini tak henti-hentinya mengalami kehancuran multi-dimensi akibat konflik internal bersenjata, baru saja bangkit dari mimpi buruk — dengan dukungan dunia internasional melalui misi pemulihan perdamaian PBB yang sedianya digelar pada Oktober 2003 lalu, kini sudah pulih. Sejak 16 Januari 2006 lalu, Liberia kini mencatatkan sejarahnya melalui pengangkatan presiden wanita pertama dalam sejarah demokrasi afrika, yaitu Ellen Johnson Sirleaf, mengawali babak baru langkah pembangunan kembali negeri permata afrika barat.

Antara Liberia dan Indonesia, terdapat sebuah persamaan, yaitu dalam perjalanan masing-masing bangsa yang berliku dalam upayanya menghasilkan profil tokoh pemimpin. Pemimpin atau juga wakil rakyat yang mampu mewakili kepentingan khalyak ramai dan membawa kebangaan tersendiri. Salah satu diantaranya adalah wakil dalam kontes ratu kecantikan, dimana perihal ini mulai mendapatkan perhatian besar oleh masyarakat masing-masing.

Pasti masih teringat jelas diingatan kita masing-masing perihal pemilihan putri Indonesia dan kontes Miss Universe, dimana khalayak umum di negeri tercinta kita masih kemudian dibuat kurang puas dengan kinerja/performance sang duta kecantikan kita tahun ini, Nadine Chandrawinata saat wawancara itu.

Ya semua orang pasti berharap banyak dari sang utusan yang mewakili khalayak lebih dari 200 juta penduduk Indonesia ini di kancah internasional seperti miss universe ini.

Kontes ratu kecantikan serupa pun, di Liberia sudah mulai mendapatkan perhatian besar oleh khalayak umum, terutama bagi penduduk Monrovia, ibukota Liberia dimana 30% lebih populasi tumplek tumpah-ruah disini.

Bagi negeri yang baru saja pulih dari konflik internal berkepanjangan ini — pemilihan kontes ratu kecantikan sudah kembali diselenggarakan sejak tahun 2005, dan mendapatkan banyak sambutan positif, selain itu adalah sebuah ajang hiburan bagi rakyat Liberia.

Seminggu sebelum malam pemilihan digelar, para kontestan pun ramai terlihat dimuka public melalui arak-arakan diatas platform kendaraan yang berkendara keliling kota, menyapa seluruh penduduk Monrovia, selain dari mengikuti beberapa program seleksi lainnya.

Tanggal 15 Juli 2006 adalah malam babak penyisihan Miss Liberia 2006, yang bertemakan: Reconciliation, Reunification and Peace. Acara perhelatan akbar di Liberia ini juga didukung oleh UNMIL (United Nations Mission in Liberia), yaitu misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia, dimana perlengkapan panggung dan dukungan musisi juga disponsori oleh UNMIL, dan bersama sponsor korporat lainya, terselenggaralah acara tersebut.

Panitia penyelenggara Pemilihan Miss Liberia 2006, Today’s Women Incorporated, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan seperti Miss Liberia Contest dapat mendukung upaya melestarikan perdamaian yang menitikberatkan pada pemberdayaan generasi muda Liberia, dengan mendidik kalangan wanita- sekaligus juga mendidik bangsa. Pagelaran kontes kecantikan ini juga dalam upayanya memperkenalkan budaya, intelegensia, unjuk-rupa (talent), humanity dan kapabilitas kaum wanita Liberia yang sekaligus dapat memberikan kontribusi positif terhadap usaha reunifikasi, rekonsiliasi dan peace-building di Liberia.

Pada pemilihan kali ini, kontes kecantikan Miss Liberia 2006 diikuti oleh 9 kontestan, yang berasal dari 9 county region dari 15 total jumlah county (propinsi) yang berada di Liberia, mereka adalah:

Nama:
Ms. Korlu Turay, 21 tahun, Berat 120 pon, 5,9 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah:
African Methodist Episcopal University – Junior Class – Manajement of Public Administration

Nama:
Ms. Johnette Foyah, 21 thn, Berat 110 pon, 5,9 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah:
African Methodist Episcopal University – Junior Class – Accounting

Nama : Ms. Patrice Juah, 21 thn, Berat 110 pon, 5,9 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah: African Methodist Episcopal University – Sophomore –
Mass Comms – Political Science

Nama : Ms. Janet Sando, 23 thn, Berat 110 pon, 5,8 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah: University of Liberia – Sophomore –
Public Admin – Sosiology

Nama : Ms. Victoria Cole, 23 thn, Berat 120 pon, 5,7 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah: University of Liberia – Senior – Biology – Chemistry

Nama : Ms. Amina Wesley, 21 thn, Berat 110 pon, 5,8 inchi (tinggi badan)
Nama Sekolah: Cuttington University College – Sophomore –
PubliC Administration – Economics

Nama : Ms.Christine Reeves, 20 thn, Berat 110 pon, 5,7 inchi
Nama Sekolah: ECOWAS Computer Training Institute
Computer Science

Nama : Ms.Lethia Waleh, 20 thn, Berat 135 pon, 5,9 inchi
Nama Sekolah: African Methodist Episcopal University – Senior
Public Management

Nama : Ms. Bendu Ciapha, 20 thn, Berat 130 pon, 5,9 inchi
Nama Sekolah: University of Liberia – Freshman
Public Management

Uniknya, acara malam final pemilihan Miss Liberia 2006 ini dimulai tepat tengah malam — terus berakhir hingga jam 6 pagi, dan hal serupa juga berlangsungtahun sebelumnya. Sungguh jadwal acara yang cukup aneh buat saya, sebab memang banyak terlihat tamu yang tidur terlelap dibangkunya masing-masing. (Gelo! — bayangin aja, gua udah nangkring dari jam 10 malem — terus lanjut ampe jam 6 pagi —dimana 5 jam sendiri gua berdiridan ngejar2 tuh ratu-ratu buat di jepret pose2nya – pegeel,man!)

Perhelatan serupa di tanah air biasanya dimulai pukul 7 PM hingga lewat tengah malam sedikit, namun demikian para penonton yang hadir disana nampak dengan antusias menanti dan mendukung para kontestan yang mewakili daerah geografis countynyamasing- masing. Boleh dikatakan, malam final pemilihan Miss Liberia 2006 ini adalah acara paling bergengsi dimana para pejabat pemerintah setempat, para pengusaha local, tamu-tamu diplomatic dan beberapa perwakilan dari UNMIL.

Jadwal acara dimulai dengan sambutan, ini-itu lalu suguhan taritarian khas Liberia, dimana pada umumnya tarian khas negeri ini banyak menyguhkan goyang bokong dan getaran dada para penari wanitanya :) yang diriringi oleh gemertak alunan gendang dan akustik khas afrika dari buah terong yang kering berisikan pasir. (Kecrek-kecrek gitu deh!) Warna musik pop Liberia, harus saya akui bahwa mereka lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan musik R & B serta Hiphop di Amerika, dari gaya berpakaian sang musisi, jenis genre lagu dan gayagaya khas aksi panggung mereka benar-benar mengimitasi para artis di AS. Aksi panggung yang memikat oleh para artis negeri jiran dari Accra, Ghana juga diundang meramaikan acara. Beberapa session persembahan lagu-lagu pop khas berbahasa Fanti (Ghana) yang cukup terkenal di Liberia pun membuat banyak penonton yang ikut bernyanyi dan bersorak.

Kalau dibandingkan mutu penyelenggaraan acara ini dengan event-organizing acara setingkat pemilihan Putri Indonesia — tentunya jauh berbeda dari segi gemerlapnya pesta dan persiapan yang matang, namun dengan keternatasan disana-sini, malam penobatan itu adalah sebuah event bergengsi bagi Liberia dan telah memberikan banyak suguhan yang menghibur.

(Kalau boleh jujur — sang MC kayaknya harus di tatar dulu deh — suruh main dan magang sama anak2 muda yang mengelola perusahan EO di Jakarta — rundown scriptnya payah — mutu obrolan dengan pemirsanya kurangtajam dan kurang entertaining — selain itu : gu anggakngetri apa yang mereka omongin — segitu katanya bahasa ingris — logatnya ancuuuuur! — di telinga gua ini hanaynangkep: Waaa.waawwwaaaa.. Wha? … gitu deh!)

Satu hal yang gua salut banget dengan para penonton yang hadir, yang umunya duduk di barisan dekat panggung adalah kalangan berada di Monrovia, anak2 teenager orang kaya disini, artis2 lokal dan kalangan begaul sejati — Monrovia, adalah pengorbanan yang cukup signifikan dengan datang lengkap dengan dandanan gemerlap glamour. Inget banget saat menjelang jam 4 sore, hari itu juga, saya membeli tiket masuk malam final itu di salah satu salon rambut paling terkenal di Monrovia — dimana sang juragan salon adalah salah satu panitia penyeleggara yang menjual tiket masuk.

Disana ada 10 bangku salon yang penuh dengan anak2 teenage dan juga beberapa mbakmbak yang mungkinsudha pada kepala 3 umurnya, sibuk dilayani oleh 2 kapster yang menganyam sambut mereka dengan rambut imitasi. Ada yang berwarna ungu persis bantalan cap, dan ada yang kuning, merah serta tak ketinggalan warna favourite wanita liberia dalam menggunakan wig adalah warna merah tembaga yang mengkilap — mana tahaaan, man!. Mereka rela antri dan dijenggut-jenggut kepalanya selama berjam-jam agar si sambungan rambut imitasi nan gemerlap itu terpasang rapi dan kuat menempel dikepalanya didalam hiruk-pikuknya ruangan salon yang terasa pengap yang rasanya persis seperti masuk los pasar tanah abang!

Ada yang memilih model rambut yang di gelung berbentuk piramida melingkar dengan ujung rambutnya dibuat mekar persis seperti daun pohon palem. Model yang tak kalah sensasinya adalah keriting indah layaknya Little Missy yang diperankan oleh bintang Holywood cilik — Shirley temple itu.

Sebagai informasi aja, rata-rata wanita di Liberia, nggak muda atau setengah baya — rajin menghabiskan waktunya ke salon untuk ganti model rambut, sedikitnya 2-3 kali seminggu, dan paling rendahnya menghabiskan uang sebulan-nya antara US$ 50 — 150 untuk urusan bongkar-pasang rambut palsu.

Berikut adalah beberapa jepretan dari para selebriti Monrovia yang hadir dalam acara malam final Miss Liberia itu:

Pada akhirnya, di pneghujung acara, keputusan dewan juri memutuskan bahwa Miss Liberia 2006 jatuh pada kontestan dari Bong County, yaitu Ms. Patrice Juah. Teraiakan pada penonton dan gemuruh sorak-soraipun menggema kelseluruh penjuru ruangan di Unity Convention Center, Monrovia, dimulai sejak pengumuman pemenang juara harapan satu dan dua — bisa dibilang cukup seru layaknya nonton sepak bola disebuah stadion olehraga- bedanya hanya lebih banyak penonton wanita dan bergaun cantik dan beraroma parfum, ketimbang bau kelek dan pesing para penonton sepakbola itu.

Begitu salah seorang jurubicara dari tim dewan juri mengumumkan pemenang Miss Liberia, saya kaget banget dengan aksi para wartawan dan fotografer yang langsung loncat menaiki panggung untuk mengabadikan penganugerahan mahkota, hal inipun diikuti oleh bebereapa rekan sejawat lainya, termasuk itu para videographer, sehingga pasukan polisi anti-huru harapun akhirnya terpaksa bergabung dengan kerumunan orang diatas panggung lengkap dengan pentungan, menyabet orang-orangitu untuk segera bubar danturun dari panggung — wah heboh benar deh! — untung lensa zoom ini cukup tajam untuk mengambil gambar situasi dari kejauhan — kalau nggak bisa biru-biru kena sabet pentungan polisi itu — yangkelihatannya tanpa ba-bi-bu main swing-kekana-lalu-kekiri itu — gelo!

Kerumunan masa pun akhirnya tumpah luber ke daerah baris kursi VIP, semua dari lantai balkon — penonton kelas dua dan tiga akhrinya menyerbu masuk ke lantai panggung, berteriak-teriak menyapa dan mengelu-elukan sang Miss Liberia 2006.

Semua orang nampak larut dalam euphoria yang menggelegar seiring dengan dentuman lagu sejenis house-music ala afrika begitulah. Dari semua sudut terlihat mereka berjingkrak dengan girang berdansa dalam sebuah lingkaran. Sebuah pesta kemenangan buat kaum wanita Liberia, nampaknya.

Selain dari hadiah sebuah sedan KIA — Rio dari para sponsor dan sederet hadiah lainya, Miss Liberia 2006 ini kemudian akan berlanjut menuju tingkat seleksi internasional yaitu Miss World. Selamat berjuang Miss Liberia 2006, semoga pesan perdamaian di Liberia bisa terus berlanjut ke tingkat internasional dan membawa Liberia keluar dari sejarah yang buram.

Terlihatlah jelas bahwa, khalayak saat ini memang benar-benar haus akan sebuah kepemimpian, keteladanan yang dapat mampu membawa dan menjaga kebanggaan dan nama besar komunitas yang diwakilinya. It’s the search of leaders, a great-quality, and competent and honest/trust worthy icon that the people are longing for. Entah siapakah dari Indonesia yang akan mewakili dalam perhelatan Miss World tahun ini? Selamat berjuang bersama Miss Liberia 2006.

Dari Liberia, Afrika Barat — salam perdamaian selalu.


Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

812 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sulikan First Lieutenant Sulikan, born in Tuban, 23 November 1971 is currently assuming new duty as the Indonesia Garuda Contingent XX-I to MONUSCO (The United Nations Stabilization Mission for the DRC) as Contingent’s Military Public Information Officer. Prior his initial international...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Partisipasi IndoEngCoy pada Pembuatan Pagar di St.March - Haiti
(Gonaives-Haiti, Sabtu 16/5/12). Prajurit TNI dengan total personel 167 orang , yang tergabung dalam Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda XXXII-A/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haïti) dengan 1 tahun Misi, melaksanakan pekerjaan pembuatan pagar di daerah Saint March. Pasukan Garuda , Indoengcoy MINUSTAH melaksanakan pekerjaan pembuatan pagar di daerah Saint March, Artibonite, Haiti. Wilayah ini masih merupakan daerah tugas untuk kontingen zeni Indonesia (Indo Eng Coy) di wilayah utara Haiti.
Rofki Meristika , 20 hours ago

Pertemuan Budaya dalam 1 citarasa
Keriuhan sangat terasa malam itu. Belum lagi dengan cuaca dingin yang menyentuh kulit sehingga memaksa kami untuk mengunyah makanan guna meredam kedinginan yang melanda. Mie goreng dan Nasi goreng adalah makanan yang tidak terlalu spesial bagi kami. Namun lain hal bagi para peacekeeper mancanegara yang ada pada saat itu seperti Italia, Perancis, Spanyol, Irlandia dan Guatemala. Mereka sangat menyukai Mie goreng dan Nasi goreng yang merupakan satu dari ratusan warisan budaya kuliner yang ada di Indonesia. Tak kalah hebatnya, Italia pun menghidangkan apa yang mereka sebut dengan PASTA. Namun, sepertinya pasta italia harus merelakan kemenangan mie goreng indonesia kali ini, karena hampir seluruh undangan memilih mie goreng indonesia untuk disantap. Salut untuk Indonesia.
Thomas Barus , 5 days ago

Tim UNIFIL Cek Kesehatan Lingkungan Markas Indobatt di Lebanon
Kedatangan tim yang terdiri dari 4 orang ini melaksanakan penilaian terhadap kesehatan lingkungan yang mencakup kebersihan, kenyamanan lingkungan kerja, pengolahan sampah dan limbah berbahaya serta piranti lunak yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan di sekitar Markas Indobatt.
Wandi Suwandi , 6 days ago

Kangaroo Exercise Berlangsung di Markas Sector East Military Police Unit
Blate Marjayoun UN Posn 7-3, 10 Mei 2012, Markas Satuan Tugas POM TNI Kontingen Garuda Sector East Military Police Unit (SEMPU) XXV-D/UNIFIL, dengan Komandan Satgas Letnan Kolonel Cpm Ida Bagus Rahwan Diputra, S.H., yang berkedudukan di UN Posn 7-3, dijadikan sebagai CP (Concentration Point) yang berada di UNIFIL, sebagai tempat latihan evakuasi /relokasi dari seluruh UN Civillian beserta keluarganya dengan tema “KANGAROO EXERCISE”, beberapa waktu lalu.
Wandi Suwandi , 7 days ago

TNI Terapkan _"Posting System"_ Dalam Perbaikan Jalan di Kongo
“Seluruh alat-alat berat yang berada di lapangan mendapat pengamanan dari tentara (FARDC) Forces Army Republik Democratik of Congo, sedangkan dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan jalan mendapat pengawalan dari batalyon Infanteri dari negara Maroko, sehingga Kompi Zeni TNI terfokus pada tugas perbaikan jalan tanpa harus dibebankan lagi untuk tugas pengamanan”, katanya.
Sulikan , 8 days ago

 

Recent Comments

herulukito commented on Kolaborasi Tarian Indonesia Pukau Penonton di Lebanon
a few seconds ago


Aa Hilman commented on Jumatan pertamaku di Afghanistan
a few seconds ago


Michiko commented on Wanita TNI dalan Misi Perdamaian PBB: Kekuatan yang memberdayakan
a few seconds ago


Metty Fauziah Wardhani commented on Force Engineer MONUSCO : Kontingen Indonesia Terbaik di Kongo
a few seconds ago


Cipu commented on Jumatan pertamaku di Afghanistan
a few seconds ago