Akrabkah telinga anda dengan nama “Georgia”? Pernahkan anda mendengar atau mengetahui tempat ini? Beberapa kolega saya menjawab, “Kalau tidak salah…itu negara bagian di Amerika Serikat”. Yang lain menjawab,”Itu negara di Eropa!”, bahkan ada yang mengatakan itu nama tempat di Afrika. Jawaban yang beranega ragam itu tentu saja berasal dari masyarakat awam, bukan dari kalangan pemerhati atau akademisi.
Memang sebelum bulan Agustus tahun ini, nama Georgia hampir jarang disebut dalam percaturan dunia. Tapi cobalah sekarang anda search di Google atau search engine lainnya, hakul yakin yang muncul ialah cerita maupun tulisan-tulisan tentang Georgia, negara republik yang bersitegang (baca : berperang) dengan negara bekas Bapak kandungnya, Rusia pada bulan Agustus – September silam.
Menengok ke belakang, jauh sebelum perang ini terjadi, saya – Kapten Inf Edwin Adrian Sumantha dan 2 Perwira TNI lainnya yaitu Mayor Nav Toni dan Mayor Mar Pangestu tidak pernah membayangkan akan menjadi saksi salah satu perang antar negara abad ini. Semuanya ini berawal saat kami bertiga diberikan kepercayaan oleh Negara dan PBB untuk menjadi Milobs (Military Observer alias Pengamat Militer) tergabung dalam Kontingen Garuda (Konga) XV-15 menggantikan rekan-rekan perwira Konga XV-14 yang telah tuntas masa tugasnya selama 1 tahun.
Setelah melalui masa menunggu kepastian berangkat yang cukup panjang, akhirnya pada tanggal 19 Mei 2008 kami berangkat ke daerah penugasan PBB, yaitu Republik Georgia -negara kecil yang baru merdeka dari “cengkraman” Uni Soviet pada tahun 1992. Di negara tersebut, kami akan bergabung dengan rekan-rekan kami di UNOMIG (United Nations Observer Mission in Georgia).
Sekilas tentang terbentuknya UNOMIG, bermula saat terjadi konflik antara Republik Georgia dengan salah satu wilayahnya yaitu Abkhasia. Akar penyebabnya ialah keinginan Abkhasia untuk melepaskan dan memerdekakan diri dengan dalih historis dan politis. Tentu saja keinginan ini ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Georgia saat itu. Konflik ini kemudian meruncing dan pecah menjadi konflik bersenjata yang memakan korban jiwa masyarakat sipil dan kehancuran infrastruktur terutama pada saat Georgia mengirimkan tentaranya ke wilayah Abkhasia untuk memelihara status quo. Namun dengan bantuan dan dukungan dari Rusia, pada tahun 1993 tentara Georgia dipukul mundur sampai ke Selatan, yang sampai hari ini menjadi Cease Fire Line (CFL) yaitu sungai Inguri. Tahun yang sama, Abkhasia nekad mengumumkan kemerdekaannya. Praktis, Georgia tidak mau mengakuinya bahkan melaksanakan embargo dan memblokade ekonomi Abkhasia.
Akibatnya sampai sekarang Abkhasia terisolasi, kecuali dengan Rusia yang membuka perbatasannya dengan Abkhasia dan memberi kemudahan bagi etnis Abkhasia menjadi Warga Negara Rusia. Hal ini yang menimbulkan bibit ketegangan antara Rusia – Georgia. Melihat ancamannya terhadap perdamaian dunia, akhirnya PBB pun turun tangan. Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 858 tanggal 24 Agustus 1993, yang selanjutnya di-ikuti dengan lahirnya Moscow Agreement pada tanggal 14 Mei 1994 disepakati adanya pengerahan Pasukan Penjaga Perdamaian dari negara-negara eks Uni Soviet (CIS/ Commonwealth Independent State), termasuk kebutuhan Pengamat Militer untuk mengawasi terlaksananya perjanjian tersebut. Guna mendukung tercapainya tujuan, dibentuklah UNOMIG untuk menjalankan mandat DK PBB guna mencegah timbulnya konflik baru antara Abkhasia dan Georgia.

Gerbang UNOMIG Headquarters

Saat mengikuti Training di Nyala
Kembali ke cerita semula, setibanya kami di UNOMIG Headquarter yaitu di Sukhumi, kami melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti halnya para Milobs di setiap Misi UN yaitu Induction Training, English Test, Driving Test dan “RG-31/Nyala” Vehicle Training (Kendaraan Anti Ranjau). Kegiatan tersebut berlangsung kurang lebih selama 1 (satu) minggu, baik di Sukhumi (Induction Training) maupun di Gali (“Nyala” Training), setelah itu kami di-deploy ke masing-masing sektor, yaitu Sektor Zugdidi dan Gali. Selanjutnya selama 4 bulan pertama kami berada dan bertugas di sini, terus terang Laporan Hasil Patroli sebagai bagian tugas sebagai Milobs selalu berbunyi “NSTR alias Nothing Significant To Report” atau “Calm and Quiet”. Hal ini memang berdasarkan pengamatan kami secara kasat mata dimana boleh dikatakan keadaan di antara pihak-pihak yang bertikai yaitu Georgia versus Abkhasia cukup tenang dan stabil.

Diantara Tentara Rusia & Georgia Sebelum Perang

Pangestu & Toni saat Patroli
Namun keadaan yang tenang dan damai itu tiba-tiba saja berubah menjadi hari-hari yang kelam. Pada tanggal 8 Agustus 2008, pukul 06.30 waktu setempat (GMT: +4), saat mayoritas penduduk Georgia masih tertidur lelap (termasuk kami tentunya), belasan Jet-Jet Tempur Rusia Su-25/Su-24 memuntahkan bom-bom pintarnya (smart bomb) di beberapa titik di wilayah Georgia, tidak terkecuali Kota Zugdidi, salah satu tempat di mana UNOMIG bermarkas.
Selidik punya selidik, pemicunya ialah Penyerangan yang dilakukan oleh Pihak Militer Georgia kepada Pasukan Penjaga Perdamaian CIS (Commonwealth Independence States – Peace Keeping Forces) pimpinan Rusia. Penyerangan ini berakibat tewasnya 10 orang personil CIS PKF.

Skema Penyerangan Rusia

Senaki Military Base under Russian Air Strike
Kontan, alert status pun ditingkatkan. Seluruh personel UN langsung dikumpulkan dan akan segera dievakuasi bila keadaan semakin membahayakan. Bagi personel yang berada di Sektor Gali & Sukhumi akan dievakuasi ke Sochi – Rusia dan yang berada di Zugdidi akan di evakuasi ke Trabhzone – Turki.
Merasakan detik-detik dalam suasana perang, boleh dikata seperti melihat liang kuburan sendiri. Ada “sensasi” yang tidak terucap oleh kata namun terasa menjalar ke seluruh tubuh. Tegang dan mencekam, mungkin itu kata yang paling mendekati untuk menggambarkan suasana di Georgia saat itu. Seluruh personel UN telah siaga dan siap dievakuasi kapan saja. Namun setelah diadakan serangkaian pertemuan dengan pihak berwenang dan berkoordinasi dengan UN DPKO, akhirnya Pimpinan UNOMIG di Georgia memutuskan untuk tidak meninggalkan ZoC (Zone of Conflict) dan tetap mengibarkan Bendera UN agar penduduk sipil merasa tetap aman dan terlindungi serta tidak eksodus meninggalkan Kota Zugdidi dan sekitarnya.

Kapal-kapal Perang Georgia yang dilumpuhkan pihak Rusia di Poti Port
Hari-hari berikutnya, seperti yang mungkin anda saksikan lewat siaran CNN, BBC maupun media internasional lainnya, eskalasi situasi berubah dengan cepat. Dinamika yang sangat tinggi terutama diwarnai dengan masuknya Pasukan Rusia yang bukan merupakan CIS-PKF (Commonwealth Independence States – Peace Keeping Forces) ke wilayah teritorial Georgia, lengkap dengan segala Persenjataan dan Arsenal Militer yang dimilikinya. Ketenangan dan ketentraman penduduk sipil lambat laun berubah menjadi ketegangan dan ketakutan, namun Personel UNOMIG tetap berusaha meyakinkan mereka bahwa keadaan akan segera pulih.

Sarana Perhubungan di Putus – Rel Kereta oleh Serangan Udara

Rumah Penduduk lokal terkadang terkena Imbasnya
Sebagai konsekuensinya, Laporan Patroli para Milobs yang biasanya selalu “NSTR” dan “Calm and Quiet” berubah menjadi laporan real time yang lengkap dan penting sebagai mata telinga dunia internasional tentang keadaan konflik sebenarnya di Tanah Georgia
Bagi kami para Milobs saat menyaksikan kenyataan menyedihkan ini, timbul pertanyaan dalam hati “Apakah perdamaian hakiki bisa terwujud di Tanah Georgia setelah 2 Raksasa Dunia, yaitu Rusia dan CIS-nya yang mendukung Abkhasia di satu sisi serta USA dan Uni Eropa yang mendukung Georgia di sisi lain tidak bisa mencapai kata sepakat?”
Jelas bukan rumput yang bergoyang yang akan menjawabnya, melainkan waktu. Waktu-lah yang akan menjawabnya dan semoga, sesuai tekad kami para Peacekeepers, Perdamaian benar-benar akan terwujud di tanah ini. (Ditulis oleh : Kapten Inf Edwin Adrian Sumantha/ Perwira Kontingen Garuda XV-15-UNOMIG)


hebat bang!, lanjutkan dan ditunggu ke pulangan abang. Sukses selalu bang dari kami sekeluaraga
perang ini membuktikan keunggulan teknologi persenjataan dan jumlah tentara terlatih yang dimiliki suatu negara, Indonesia harus belajar bahwa membangun kemandirian di bidang pembuatan alat utama sistem kesenjataan di semua angkatan adalah mutlak diperlukan dan ketergantungan terhadap barang impor harus segera dikurangi kalau tidak ingin mempunyai nasib yang sama dengan Georgia yang bahkan NATO pun tidak bisa membantunya.