Dalam sebuah misi kemanusian, untuk pertama kalinya aku menginjak benua hitam Afrika. Lewat di pertengahan bulan Ramadhan 1429 H – September 2008. Kulirik arloji yang melilit tangan kiriku, jam menunjukkan 11.30, 30 menit tersisa sebelum pesawat itu terbang dari Brussels menuju Monrovia, ibukota Liberia. Terlambat sudah untuk berubah pikiran – “there’s no turning back”, ujarku. Suka atau tidak pekerjaanku kelak disana, yang pasti aku akan terdampar selama enam bulan kedepan. Sejenak terlintas mamihku bersama adik dan kakakku di tanah air, pasti sudah menjelang maghrib di Indonesia, mereka pasti sibuk-sibuknya menyiapkan makanan berbuka. Aku berhasil menghubungi mereka melalui sebuah telepon umum bandara yang luar biasa mahal. Kuyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja dan tak usah khawatir karena semua pasti akan menyenangkan. Sebuah pesan familiar, pesan standard, yang sejatinya pesan itu untuk diriku sendiri yang diterpa kegalauan.
Sebuah buku kubawa untuk membunuh bosanku yang lebih berfungsi sebagai pil penyuguh lelapku. Buku best-seller Barrack Obama yang dipenuhi ranah kata akademis yang pernah kuhafalkan ketika aku mengambil tes GRE, gaya bahasa yang tinggi, yang jelas terlalu tinggi untuk bahasa inggrisku yang pas-pasan. Menoleh aku melihat sekitar, hampir seluruh penumpang berkulit legam. Pakaian mereka kaya corak warna, “maragam-ragam barangkali kata orang batak” ujarku, seperti difraksi cahaya pada prisma kaca yang terpendar menjadi me-ji-ku-hi-ni-bi-u (merah, jingga, kuning, hijau, nila, biru dan ungu). Beberapa diantaranya memakai pakaian keBESARANnya dalam arti kelewat besar, cukup untuk dua buah mukena terusan ukuran XL.
Pesawat berangkat tepat jadwal, penerbangan itu memakan waktu 9 jam plus waktu transit di Abidjan – Pantai Gading. Crew pesawat tampak sibuk menyugguhkan makanan dan minuman tanpa henti, penciumanku yang mendadak menajam mengendus setiap sajian yang disuguhkan begitu juga mataku tak pelak sering kali melirik hidangan penumpang disebelahku. Jujur tergoda sekali untuk tidak meneruskan puasaku tapi karena keinginanku untuk menguji daya tahan perutku atau imanku- aku tidak terlalu yakin yang mana- kuteruskan puasaku. “Rasain sekarang ya baru nyaho deh …” gumamku pada perut kosongku yang selalu bermanja ria diluar bulan puasa ini. Perbedaan waktu 2 jam lebih awal di Liberia memberikan perpanjangan waktu 2×30 menit dari jadwal buka yang ditentukan. Ketika hampir mendarat, waktu berbuka yang dinantipun datang bersamaan dengan sajian minuman pamungkas yaitu air mineral 50 ml yang raib sekejap dalam sekali reguk.
Tibalah aku di bandara international Liberia, sekilas mengingatkanku pada bandar udara di Wamena Papua “Just as I expected” celotehku dalam hati. Bergegas aku menyambar sebuah luggage trolley yang belakangan diketahui ternyata harus disewa 1 USD. Airport kecil itu serentak sesak dipenuhi para penumpang yang baru datang.



Diterpa AC (baca: Angin Cepoi-cepoi) yang hangat membuat kaosku dibanjiri keringat dalam sekejap. Setengah jam kemudian conveyor belt itu mulai berputar, luggage itu mulai berarak seperti komidi putar. Tak lama semua bawaanku kumuat semua di trolley sewaanku.

Segera aku keluar berharap melihat seorang mengusung tanda bertuliskan organisasi tempatku bekerja. Sekonyong-konyong dua orang lokal menghampiriku dengan pigeon english-nya yang sejenak membuat keningku mengernyit, setelah dua – tiga kali mereka mengulang kata-kata yang sama, akhirnya aku paham mereka berusaha menyebutkan nama organsiasiku yang memang tertulis di t-shirt-ku. Belakangan diketahui mereka adalah porter dadakan yang mencari uang tambahan, karena merasa gak enak hati akhirnya kuberi juga sedikit uang untuk upah mendorong trolley sejauh 20 m.

Seorang sopir telah menungguku dengan gesit dia memasukkan semua bawaanku kedalam Toyota Land Cruiser, kendaraan standard organisasi kemanusiaan.
Sekejap mobil itu melaju dalam kegelapan malam, tak ada lampu penerangan dijalan, cahaya satu-satunya hanya cahaya dari kendaraan lain yang cukup banyak berlalu lalang menuju dan menjauhi bandara.


Perjalanan malam memang menyenangkan terutama ditempat baru, banyaknya lubang di sepanjang jalan tidak membuatku terganggu sama sekali. Kucoba membuka pembicaraan dengan sopir itu, tak ingat lagi aku namanya. Kultur asiaku membuat topik pembicaraan tidak jauh dari tema keluarga. Diselingi topik kondisi negara ini yang cukup lama gonjang-ganjing oleh perang saudara. Pengetahuan awalku tentang negara ini yang kubaca sebelumnya cukup untuk membuka pembicaraan. Obrolan itu akan sangat menarik kalau saja aku mengerti setengah dari ucapan sopir itu.
Aksen Inggris Liberia (baca: pigeon english) ini memang sering kali cukup sulit untuk di crack. Absennya syllable terakhir di hampir seluruh kata dicampur logat lokalnya dan diperparah dengan kecepatan mereka berbicara membuat dahiku berkernyit selama pembicaraan.
Serangan lapar dari sejak pesawat mendarat, membuatku memutuskan untuk berhenti sejenak disebuah restoran Libanon. Tidak terlalu susah mencari rumah makan Libanon itu, yang memang sengaja aku pilih karena afiliasinya yang kuat dengan kultur islam. Jadi pengorbananku berpuasa hari ini tidak akan terkontaminasi dengan konsumsi daging tak halal. Tak lupa aku ajak sopir itu untuk bergabung makan malam denganku. Restoran itu tampak biasa tidak ada yang spesial, beberapa pengunjung beretnis India dan Arab berada didalamnya. Tampak seorang yang tampaknya pemiliknya bertampang arab sibuk dimeja kasir sambil sesekali memberikan pengarahan. “Aman” ujarku, akhirnya aku bisa makan dengan tenang. Kemudian seorang waitress, wanita lokal, mengahampiri mejaku memberikan dua lembar menu sekilas tampak kurang ramah.
“Emang gue pikirin”, celotehku yang terpenting aku akan makan besar yang enak. Cepat kusambar menu itu, makanan timur tengah cukup cocok dengan seleraku. Biasanya hidangan mereka sangat spicy tapi cukup mengundang selera, kecuali kue mereka yang adonannya mengandung lebih dari 50 persen gula pasir membuat gigiku sering ngilu.
Tidak sabar menu itu kubaca satu persatu, baris ketiga di menu itu membuatku tersentak melihat pilihan hidangan Ham and Eggs, “Dasar Lebanon gila” ujarku kecewa, tapi apa boleh buat lelah ini mencegahku untuk mencari restoran lain yang belum tentu seperti yang kuharap. Akhirnya kuputuskan memesan nasi goreng vegetarian, salah satu hobby jadi-jadian yang sering kulakukan untuk menjadi vegetarian dadakan di daerah dimana makanan halal jarang ditemukan.
Kemudian kuteruskan kembali sisa perjalananku, menembus kota Monrovia dikegelapan. Walau tak terlalu jelas di keremangan malam tampak puing-puing dan bangunan tak terawat menghiasi jalan, sisa-sisa warisan perang saudara yang belum genap lima tahun berlalu. Perjalanan itu memakan waktu hampir 2 jam yang berakhir didepan sebuah rumah besar bergerbang hitam dan berdinding tinggi, dikelilingi kawat duri diatasnya.

Tampak dua orang security guard bertugas menjaga rumah, memberikan kesan keamanan adalah sesuatu yang masih mahal di kota ini. “Welcome to Liberia” ujar mereka yang belakangan kuketahui ini adalah expresi keramahan mereka yang sering kudengar ketika bertemu orang baru.
Bergegas aku masuk kedalam rumah besar itu dan mobil yang mengantarku pergi berlalu. Dengkuran generator yang cukup keras mengiringi malam itu, kamarku cukup besar dilengkapi dengan ranjang berkelambu, lemari, meja tulis dan sebuah kipas angin yang oversized.

Setelah berkenalan dengan beberapa teman baruku aku kembali ke kamarku melepas lelah, ku tutup mataku, entah apa yang terjadi besok. “Yesterday is a history, tomorrow is a mystery and today is a gift. That’s why it’s called a present” kukutip dari Master Oogle di film Kungfu Panda yang kutonton di pesawat tadi. “Welcome to Liberia, Hilman!” ujarku.
Dear Hilman,
Selamat datang di Liberia, semoga dalam penugasan mission kali pertama di Afrika ini bisa sukses ya.. dan betah..
Ayo, kalau mau nyate bareng – mampir ke supermarket Abi Jaoudi di Randall Street beli kambingnya, bumbu dan nasi sudah siap nih! :D
Mas Hilman,
Selamat menjalani kehidupan ‘baru’. menjalani dan menikmatinya mungkin adalah salah satu cara agar tidak mengalami ‘home sick’.
mudah2an tidak Mas ya…..tetap semangat!!!
Keluarga besar Liberia bertambah anggota dunk ….
Selamat bertugas ya mas Hilman … ciaooo
selamat datang dan bertuga mas Hilman
semoga lancar dan sukses
wah, ini ada hilman lain lagi ya…yang datang ke Liberia.
Selamat datang dan bergabung deh.saya hilman lain udah pulang, Kang Luigi ada hilman lain ya?????
Maap, ini Hilman yang dulu di Delft, yang temennya Cida bukan ya? Ini Dedek, adiknya Cida hehehe btw, suami gue lagi di Ghana Man, kalau lagi pas ke sana, kabarin ya…have a great time there :)