Pagi itu, di bawah matahari Port Au Prince yang lumayan menyengat bertempat di Camp Charlie milik Brazilian Contingent diselenggarakan upacara untuk mengenang dan melepas 11 orang Peacekeeper yang tewas dalam kecelakaan pesawat pada tanggal 9 October yang lalu. Berbagai macam perasaan bercampur aduk di dalam hati, tentunya ada rasa sedih bercampur duka ketika melihat 11 peti jenazah yang dibungkus berbalut dengan bendera biru putih PBB.
Seiring doa dan pujian di lantunkan, tembakan salvo mengiringi keberangkatan mereka.Teman dan sahabat telah berpulang dalam mengemban tugas, semoga di terima di sisi Tuhan YME.
Pesawat CASA C-212 bermesin ganda turboprop terbang dalam patroli rutin untuk surveillance di salah satu zona perbatasan, mereka terbang di antara pegunungan perbatasan Haiti dengan Republik Dominika, dan jatuh ke lereng bukit pada hari Jumat sore, menewaskan semua orang di pesawat. Penyelidikan tentang apa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi sedang dilakukan.
Para korban kecelakaan dari Yordania itu Kolonel Adidallah Ibrahim Almawajdeh, Letnan Kolonel Jihad Semrin Almeirat, Mayor Brahim Ibrahim Mohammed Al-Shorman, Lt Belal Ahmed abu Hujailah dan Warant Officer Ame Mahmoud Alrawashdeh. Dari Uruguay, Kapten Jose Ignacio Larrosa, Lt Santiago Gabriel Hernandez, Jose Leonel Officer Pendeta, Kopral. Enrique Alejandro Montiel, Kopral. Yiyi Anabel Medina dan Cpl. Nestor Fernando Morales.
Pidato dari UN Representative Mr.Hedi Annabi berfokus pada tujuan dari 9.000 anggota peace keeper untuk Misi Stabilisasi PBB di Haiti, atau yang lebih di kenal dengan nama MINUSTAH.
Dewan Keamanan PBB sepakat untuk memperpanjang Mandat untuk satu tahun ke depan, mengatakan situasi di Haiti masih merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional meskipun telah ada kemajuan-kemajuan yang telah capai. Mandat yang diperbarui semakin berfokus pada Haiti agar dapat mengamankan tanah dan laut perbatasan, yang sangat mudah ditembus oleh penyelundupan manusia, penjualan senjata illegal dan pengedar narkoba yang menggunakan Haiti sebagai jalur pengiriman kokain Amerika Selatan.




Turut berduka cita atas gugurnya para peacekeepers di Haiti, selain resiko profesi, nampaknya selain personil militer PBB, staff sipil PBB juga rentan terhadap bahasa yang mengancam selama bertugas di misi perdamaian PBB ini.. saya doakan agar Eno dan kawan2 Indonesia di MINUSTAH senantiasa dalam sehat dan selamat.
Salam hangat dari kita-kita di Liberia/UNMIL.