(Adshit Al Qusayr, 1/12) Situasi di Lebanon Selatan kembali memanas. Pembongkaran technical fence sebagai simbol Blue Line di daerah Kfer Kella ternyata mengundang reaksi keras masyarakat Lebanon Selatan. Untuk mengantisipasi kemungkinan situasi berubah menjadi lebih buruk, UNIFIL menyiagakan Pasukan Reaksi Cepat (Quick Reaction Force) dari Kontingen Prancis di Markas Garuda XXIII-B UN Posn 7-1 Adshit Al Qusayr (1/12).

Protes keras dari masyarakat Lebanon bermula saat Pasukan UNIFIL dari Kontingen Spanyol melakukan pekerjaan pembongkaran barbed wires (kawat berduri) dan technical fence (pagar pembatas antar negara) dalam rangka memperbaiki saluran pembuangan air (drainase). Drainase ini memang sering menjadi biang kerok timbulnya masalah saat terjadi hujan deras di mana air hujan tidak mampu tertampung oleh drainase yang ada sehingga mengakibatkan genangan air yang cukup tinggi di kedua lokasi baik di wilayah Lebanon maupun Israel yaitu sekitar 0,5 meter bahkan lebih.


Pada awalnya masyarakat Lebanon menanggapi dingin pekerjaan Tentara Spanyol itu. Situasi berubah panas manakala mereka mengetahui bahwa pada saat bersamaan, Pihak Israel ternyata juga melakukan kegiatan pembongkaran yang sama tepat di sisi wilayah yang sedang dikerjakan Tentara Spanyol, yaitu di wilayah antara Mtelleh and Meskaf Aam. “Kami protes karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan Tentara Spanyol cenderung menguntungkan pihak Israel, terutama karena drainase tersebut akan digunakan untuk pertanian di wilayah Israel dengan memanfaatkan air yang berasal dari Lebanon. Kami menolak pekerjaan (tentara Spanyol) itu!”, tegas Mohammed Rashid Tawil, Deputi Mayor (Wakil Kepala Wilayah) Kfar Kella saat pertemuan antara UNIFIL, Liason Officer (Perwira Penghubung) dan Komandan Brigade 12 LAF (Lebanon Armed Forces) Brigadir Jenderal Reslan Halwi.
Dari hasil pertemuan tersebut, diputuskan pekerjaan dihentikan sementara sambil mencari solusi lebih lanjut.
Mengantisipasi kemungkinan pecahnya konflik, UNIFIL kemudian mengeluarkan Perintah Operasi parsial (Fragmentary Order) untuk menyiagakan Pasukan Reaksi Cepat (Quick Reaction Force; QRF) dari Kontingen Prancis berkekuatan 1 Kompi lengkap dengan persenjataan beratnya seperti Panser VBL Panhard, Main Battle Tank Leclerc dan Panser VAB. Selanjutnya, tidak memakan waktu lama setelah keluarnya perintah tersebut, pasukan ini meluncur ke Hot Spot Area. Berdasarkan pertimbangan taktis, Komandan Pasukan QRF Letkol Joseph Rodriguez memutuskan untuk menempatkan pasukannya di Markas Konga XXIII-B “Soekarno Base” guna mencegah timbulnya persepsi yang salah, baik dari masyarakat Lebanon maupun Israel karena kehadiran senjata berat di sekitar wilayah Kfer Killa.

Kehadiran Pasukan Prancis ini disambut hangat oleh Dansatgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII-B Letkol Inf A M Putrantos, S.Sos mengingat hubungan baik yang telah terjalin selama ini. “Selain alasan taktis, pasukan Prancis merasa aman di tengah-tengah Pasukan Indonesia yang terkenal sangat dekat dengan masyarakat setempat. Selain itu, mereka yakin dengan profesionalitas pasukan kita karena sebelumnya pernah latihan patroli bersama”, ulas Dansatgas saat memberikan briefing kepada Perwira Konga XXIII-B usai menerima Komandan Pasukan QRF Letkol Joseph Rodriguez.
Selanjutnya, koordinasi dan sinkronisasi kegiatan dan tindakan segera dilakukan oleh Perwira Seksi Perencanaan Operasi Kapten Marinir Burhanudin bersama dengan Kapten Michele Briton, Komandan Kompi Pasukan QRF. Perwira Wanita asal Prancis ini terkesan dengan kesigapan, kedisiplinan dan keramahtamahan Tentara Indonesia. Dia berharap, di masa yang akan datang dapat mengadakan latihan bersama atau kegiatan lainnya bersama dengan Pasukan Indonesia.



Dinamika situasi berubah cepat. Setelah diadakan pertemuan tingkat tinggi antara UNIFIL, Lebanon dan Israel diputuskan bahwa pekerjaan perbaikan drainase tetap dilanjutkan namun dengan pengawasan ketat dari Pasukan Internasional. Di sisi Lebanon, Pasukan UNIFIL bekerja sama dengan LAF mengawasi pekerjaan yang akhirnya dikerjakan oleh Kontingen Bellubat (Belgia Luxemburg Battalion).
Di sisi Israel, Tentara Internasional dari UNTSO (United Nations Truce Supervision Organization), bekerja sama dengan IDF (Israeli Defence Force) mengawasi pekerjaan kontraktor sipil dari Israel. Pekerjaan akan dilakukan selama kurang lebih 20 hari dengan target penyelesaian drainase sepanjang 50 meter.
Sementara Kontingen Spanyol berkekuatan 1 Kompi Mekanis diberi tugas untuk melakukan pengamanan Ring Luar bersama-sama dengan Pasukan LAF. Mereka membentuk 4 check point dari 2 arah yang berbeda dari lokasi guna mencegah provokasi maupun gangguan lainnya dari pihak-pihak yang mencoba memperkeruh suasana. Tugas Kontingen Indonesia sendiri, khususnya dari Kompi Mekanis-A / Lebah ialah memberikan pengamanan sekaligus membuka jalan untuk Pasukan QRF apabila dikerahkan menuju lokasi sewaktu-waktu.
Selain itu, Pasukan Garuda XXIII-B ini bertugas mem-back up bila eskalasi situasi semakin membahayakan mengingat kompi tersebut berbatasan langsung dengan lokasi proyek yang sedang dikerjakan.
Setiap tahun, permasalahan genangan air ini cenderung meningkat kerawanannya manakala ke-2 belah pihak berusaha mengatasi hal ini sendiri-sendiri. Saat Pihak Israel bekerja menguras genangan air, Pihak Lebanon curiga dan memprotes keras kegiatan tersebut karena Israel dinilai melakukan eksploitasi sumber air dari Lebanon.
Demikian pula halnya dari Pihak Israel, mereka pun menaruh curiga manakala Pihak Lebanon melakukan pekerjaan perbaikan di wilayah tersebut. Pihak Israel kuatir, pekerjaan itu menjadi kedok untuk membuat terowongan rahasia untuk menyusup ke wilayah Israel. Kecurigaan dan kekuatiran ke-2 belah pihak ini tak jarang diwujudkan dengan aksi face to face (berhadap-hadapan) sehingga rawan terhadap pecahnya konflik baru. Dengan inisiatip perbaikan yang dilakukan UNIFIL diharapkan ketegangan dan permasalahan yang ditimbulkan oleh genangan air tersebut dapat diselesaikan.


Kalau sudah begini ya sekarang sudah masuk ke dalam keadaan politik suatu negara, jadi harus pintar-pintarlah menjadi jembatan perdamaian yang memang sudah menjadi tugas KONGA yang bertugas. Semoga saja ada jalan keluar dari proses mediasi ini, dan kita yang bertugas dapat menjalankannya dengan sebaik-baiknya, serta menunjukkan kemampuannya.
Konga memang membanggakan pak….profesionalitasnya sudah diakui sama negara lain….ituah seharusnya tentara Indonesia…tentara yang tidak melupakan sisi manusianya