Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Octave Ferdinal

Trekking ke negeri atap dunia

7 January 2008, 03:55 , by Octave Ferdinal

 

5 Personel staff asal Indonesia yang tergabung dalam UNMIN – United Nations Mission in Nepal (Mbak Metty, Bang Arifin, Bang Avando, Rudy dan saya sendiri) mengadakan acara Trekking ke Base-0 Mt. Everest (Namche Bazaar). Pendakian ini tentunya bukan pada waktu yang tepat karena sudah memasuki masa musim dingin (winter) sehingga suhu udara di sekitarnya sudah mendekati titik beku.

Pesawat yang semula dijadwalkan berangkat dari Kathmandu pada pukul 06.30 molor dikarenakan cuaca buruk (foggy) sehingga baru pada pukul 10.30 kita baru bias take-off padahal semua sudah bangun cepat2 takut ketinggalan pesawat (banyak yang nggak mandi karena dingin). Pada pukul 11.00 kita mendarat di Lukla Airport, _begitu semua personel langsung beraksi dengan kameranya namun langsung diusir petugas untuk tidak memotret di Airport. _Di Lukla kita langsung menuju Namaste Lodge untuk makan siang, 3 orang langsung pesan Yak Steaks yang cuma ada di wilayah ini (semacam kerbau khas Nepal yang berbulu tebal). Atas bantuan Mr. Kami Sherpa di Lukla juga kita menyewa seorang Porter (namanya Surjaman) untuk mengangkut barang bawaan kita. Pada awalnya masih pada gengsi namun setelah beberapa lama semakin banyak barang yang dititipkan di Porter tersebut.

Rencana perjalanan dari Lukla ke Monjo untuk hari pertama sedikit terhambat karena pesawat molor, sehingga kita hanya bisa sampai Pakhding (para juru potret terlalu asyik photo2 sehingga gerakan semakin lambat). Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam lebih Pukul 16.10 kita sampai di Namaste Lodge Pakhding. Disini kita langsung makan malam nasi goreng pake telor double (seperti biasa) dicampur sambel yang ternyata pedasnya luar biasa (cabe budar).

Acara malam dilanjutkan dengan ngobrol diruang perapian karena hanya disitulah kita survive dari udara dingin sebelum masuk sleeping bag. Harga sewa kamar di lodge tersebut cukup murah hanya Rs.100 per malam (Rp. 14.000). Namun jika perlu kamar yang pake heater harus merogoh kocek Rs. 1000. Kita lebih banyak dihajar dimakanan karena makanan disini harga gunung (mirip di Irian), selain itu karena udara dingin kita jadi sedikit agak rakus.

Bangun pagi kita di hari kedua kita agak sedikit lambat mungkin efek sehari sebelumnya yang bangun buru2. Kita langsung sarapan pagi dan bergerak lambat mulai pukul 10.00 (rencananya pukul 08.00). Perjalanan dilanjutkan sampai di Desa Bunker disini Mbak Metty berubah menjadi Cowgirl dengan menaiki Mul (perkawinan kuda dan keledai) untuk menambah laju pergerakan rombongan. Di Monjo kita ambil break makan siang untuk mempersiapkan diri menghadapi rute terberat menuju Namche (sesuai peta topographi yang saya bawa).

Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan diawali dengan semangat yang tinggi namun perlahan-lahan berubah menjadi keputus-asa-an karena kita harus menempuh pendakian tiada akhir dan udara yang semakin dingin karena matahari mulai tenggelam (sebagai pelajaran jangan bergerak disaat petang). Rombongan mulai terpecah Mbak Metty dengan Mul-nya ngebut didampingi Porter disusul Rudy, sementara saya sendiri yang semula menemani rombongan terakhir mencoba menunggu ditikungan agar rombongan terakhir tidak tersesat, namun karena udara dingin akhirnya sayapun memutuskan untuk segera bergegas ke Panorama Lodge Namche.

Dugaan saya tepat rombongan terakhir mengambil jalan termudah menuju desa Namche yaitu jalur mendatar padahal seharusnya mengambil rute menanjak karena posisi lodge ada di atas. Rombongan tersebut akhirnya bisa sampai juga keatas melewati rute yang berbeda. Sampai di Lodge Bang Avando langsung merebahkan badan karena kecapean dan kedinginan (malemnya bangun langsung kelaparan). Di Panorama Lodge kita dilayani secara istimewa karena pemilik adalah orang tua dari Mingma Sherpa (CITS) rekan sekerja saya di kantor, kita sudah disiapkan kamar deluxe (Si Mingma bilang Boss-nya mau datang).

Pemilik lodge menyarankan untuk melihat Everest pada pukul 06.30 dari Nepal Army Barak di atas bukit Namche. Namun saya melihat keluar masih gelap dan tidak tahu kalau Mbak Metty on-time berangkat sendiri ke atas. Karena saya lihat yang lain masih kecapean saya mandi di hot shower dan langsung sarapan dengan Rudy. Setelah sarapan saya ingin juga ikut naik seperti mbak Metty untuk melihat Everest dari dekat, namun sesampainya di Nepal Army saya kurang puas dan naik keketinggian yang lebih yang ternyata dibalik bukit tersebutpun saya harus naik ke bukit berikutnya (ketutupan, euy!!) dan setelah menempuh waktu 50 menit nanjak nonstop yang bikin dengkul lemes akhirnya saya sampai di Hotel Panorama Syengbonche (3800m).

Dari sinilah saya bisa menikmati pemandangan Sagarmatha (Everest/South Face) dengan cukup jelas. Dengan bantuan kamera Bang Avando saya nge-shot Everest. Sementara yang punya kamera dengan Bang Arifin nge-shot dari Nepal Army barak (3500m).

Setelah puas beraksi dengan tustel masing-masing akhirnya dengan berat hati kita harus kembali melanjutkan perjalanan pulang (Mbak Metty harus cheking out process). Sebelumnya saya sudah merubah jadwal penerbangan (untungnya ticket sudah saya titipkan kepada Mr. Kami Sherpa) sehingga perjalan pulang tidak harus langsung ke Lukla namun kita bisa transit dulu di Pakhding. Setelah menginap di Pakhding kita melanjutkan perjalanan ke Lukla dengan lebih santai karena perjalanan tidak terlalu berat dan kita sudah lebih fresh. Di Lukla kita menginap semalam dan keesokan harinya baru kita terbang ke Kathmandu (seperti biasa pesawatnya telat). Berakhir sudah perjalanan melelahkan namun kami semua sangat menikmati petualangan ini (karena kecil kemungkinan kita kembali lagi ke negri atap dunia ini). Dhanayabat.

Octave Ferdinal Octave FERDINAL Having previously assigned to UNAMSIL – United Nations Mission in Sierra Leone, Ocktave Ferdinal is nothing new to peacekeeping and DDRR process. Presently serving at UNMIN, the United Nations Mission in Nepal as Arms Monitor/Military Observer under Kontingen Garuda XXIV-1/UMN...

Detail Profile »

12  Comments

by Nour at 7 January 2008, 04:50

Perjalanan yang pasti asik. Semoga semua enjoy..by the way kalo udah balik ke Indonesia, Saya undang makan kepiting..saya tunggu

by Imeza Saraswaty at 7 January 2008, 12:52

Sounds a very cool trip thou :)
I’ve been dreaming since my childhood to visit Nepal (after reading Tintin in Tibet, for sure) and now, after reading this article, makes me really want to make my childhood dream come true. Thank u for sharing the strory and the pics :)

by ayahshiva at 7 January 2008, 18:22

wah pastinya capek banget tuh naik ke atap dunia

by andi bagus at 7 January 2008, 19:35

weledeleh..dingin dingin kok yg daki gunung es..

by H. Dody Pradiza Hadri at 8 January 2008, 01:57

Luigi…asik ya bisa jalan2 ke Nepal..lihat Everest lagi.. he..he…

by Rinto at 8 January 2008, 03:27

wow! bener mas! gak pasti 2 kali untuk bisa berkunjung kesana,ckckckckck…..bacanya aja sambil ngebayangin asyik banget! apalagi ngalamin ndiri….hmmm…beruntung sekali ya…

by pudakonline at 8 January 2008, 19:30

wah perjalanan yang sangat menarik pak,
nggak semua orang bisa mencapai mount everst,
terlebih soal persiapan fisik yang harus dalam kondisi terbaik,

by de at 9 January 2008, 16:33

wah hebat mas…masih kuat fisiknya. saya mah cukup mahameru wae itupun udah belasan taun lalu hahaha

by Bamby Cahyadi at 9 January 2008, 22:46

Gila dingin banget pasti di atas gunung itu. Tapi pemandangannya oke banget. Ternyata sebelum kenalan dengan Mas Lugi, saya pernah search blog ini by google saat membuat cerita di blog FS, dan sempat baca-baca. Ditunggu kisah-kisah berikutnya.

by didut at 10 January 2008, 01:26

belon pernah naik gunung dan kelihatannya gak akan kuat naik gunung *lirik perut buncit :P *

by Ella Lestiana at 11 January 2008, 05:22

Bagusnya gambar2 disana ….
Senang bgt bisa jalan2 kayak gitu ….

by andri at 12 January 2008, 12:41

Memang mbak Metty yang terbaik.
Semangat, profesionalisme dan welas asihnya senantiasa menjadi inspirasi para peacekeeper.

Untuk para senior teriring doa senantiasa sehat & sukses dalam melaksanakan tugas.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

nowelyn-aytin-tshering Nowelyn Aytin TSHERING Nowelyn is nothing new to the UN system organization. Several years of supporting the deployment of personnel under United Nations Volunteers Programme. Her appointment to the field/peacekeeping missions started in 2005. She began her peacekeeping journey by joining UNMIL in...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago