Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Artesia IRAWAN

Tibet dan romantisme putus cinta

26 January 2010, 08:46 , by Artesia Irawan

 

Seumur-umur saya tidak pernah minta cuti pada bulan December, apalagi bersamaan dengan liburan natal. Pesawat penuh kemana-manapun jurusan penerbangan itu, harga sewa kamar hotel-hotel jelas mahalnya ampun-ampunan. Tetapi tahun lalu beda banget, berhubung pacar saya dulu hanya bisa berlibur disaat natal dengan senang hati saya juga minta liburan natal. Eh, sebulan sebelum natal, saya putus dengan sang pacar. Bingung mau kemana acara natal mendadak dan hanya ada waktu satu bulan buat memutuskan.

Kulukutek di depan komputer, browsing sampe pusing, akhirnya cari tempat yang orang mikir sepuluh kali untuk kesana di musim dingin.

Tibet

Tibet bukan tempat yang asing buat saya, perjalanan saya kali ini adalah ketiga kalinya saya mencoba untuk ‘mengintip’ the Roof of The World ( Atap Dunia ) karena lokasinya adalah di ketinggian rata-rata 5000M.

Tibet Map

Sebelumnya selalu gagal karena alasan politik, entah itu ditutup oleh pemerintah Cina atau restriction untuk para turis yang datang. Tapi kali ini, selain rasa gigih, penasaran tapi dibekali rasa kesal juga karena putus sama pacar. :-(

Dengan peraturan yang ketat oleh pemerintah Cina, tidak mudah untuk para turis seenaknya datang, muncul dan berjalan jalan di Tibet. Semua turis harus bergabung dengan tour selama di Tibet. Harus punya visa dan travel permit yang diurus oleh tour agent. Dan untuk kesana sendiri lumayan mahal minimal 1500 US dollar untuk tour ke Everest Base Camp 9 hari di Tibet. Duh udah putus cinta tambah miskin pula. Tapi tekad dan nekad bersatu padu. Lewat bantuan Lonely Planet Thorn Tree Forum, saya advertise perjalanan saya ke Tibet dan mendapat sambutan dari dua orang Singapore. Dalam hati lumayan, biaya digabung bertiga. Setelah beberapa hari sibuk ngurus visa, ada satu orang Kanada yang begabung lagi. Wuaahh tambah murah biaya nih. Akhirnya saya hanya membayar sekitar 525 US dollar buat 9 hari di Tibet, akomodasi, transport dan sarapan pagi.

Setelah urusan visa, permit, tiket, peralatan lenong dari mulai boots, pakaian thermal, sarung tangan, topi, jacket, sleeping bag selesai dan sukses masuk ke backpack yang mirip gembolan orang pindah ke Timbuktu. Berangkatlah saya menuju Beijing dan bertemu Brock, orang Kanada. Kita berdua menuju Lhasa lewat Chengdu dengan Air China.

Lhasa adalah ibu kota Tibet, dengan ketinggian 3700M memaksa saya dan Brock untuk menelan diamox untuk mempermudah kita untuk menyesuaikan dengan tipisnya oxygen di Lhasa. Hari pertama adalah hari istirahat, kita tidak boleh wara wiri atau melakukan aktifitas yang berat tujuannya untuk menlong penyesuaian dan proses aklimitasi. Tapi hari itu juga, sore itu juga kita baru masuk hotel kita berdua sudah langsung kabur ke jalan karena tidak sabar untuk melihat Potala Palace yang jaraknya hanya 10 menit jalan kaki dari hotel kita menginap. Yang ada saya langsung keleyengan dan harus mencari tempat duduk sebelon tumbang.

Selama ini Potala Palace hanya dilihat di internet atau di TV, megah dan indah. Pilgrim berdatangan dari pelosok Tibet di musim dingin untuk berdoa ke Potala Palace, dulu tempat pemimpin spiritual Tibet, Dalai lama. Melihat ratusan orang berkeliling Potala Palace cukup membuat saya terdiam dan terbawa ke suasana spritual disekeliling Potala Palace.

Pilgrims in Tibet

Tibet - Potala Place2

Tibet - Potala Place

Tibet - Potala in Lhasa

Semua penderitaan dan siksaan lahir dan batin yang diakibatkan oleh kekejaman rezim komunis yang dimulai oleh Mao selama 50 taun tidak membuat mereka berhenti berdoa sampai saat ini. Terkadang saya tersedak dan terharu melihat mereka yang berjalan kaki berhari-hari dan mungkin berminggu minggu untuk datang ke Lhasa dan tetap berdoa.

Tibet - Pilgrim in Lhasa

Di hari kedua, ternyata kita bisa mengunjungi Potala Palace. Pemerintah Cina menjadikan Potala sebagai museum dan siapapun boleh masuk. Rasa bersalah, rasa sungkan, rasa ingin tahu bercampur aduk disaat saya memasuki Potala. Tempat dimana Dalai Lama belajar dan mengajar, tempat beliau tidur. Rasa bersalah karena Potala adalah tempat yang sangat sakral dan tidak semua orang boleh masuk dijamannya. 13 lantai dan terdiri dari 1000 kamar, menjadi satu pengalaman juga.

Walaupun didalam sempet juga ngomong: “Punten ya Dalai Lama saya masuk ke kamar situ. Jadi nggak enak nih”

Selain Potala, kita mengunjungi Jokhang Temple, Sera Monastery, Ganden Monastery dan Drepung Monastery. Dulu sebelum masuknya China ke Tibet. Drepung Monastery adalah monastery terbesar di dunia dengan jumlah monks ( biarawan ) sekitar 10.000.

Hari itu datanglah dua orang dari group kita dari Singapore. Puay Hoe dan Justin. Semua teman baru saya berumur 27 tahun. Hanya saya saja yang sudah beranjak senja dibanding mereka semua. Kita akhirnya berkenalan dan mengunjungi Festival di Jokhang Temple di Barkhor Square malam itu.

Tibet Flags2

Dua hari kemudian kita menuju Everest Base Camp. Setelah memaksa Puay Hoe dan Justin belanja karena tidak punya sleeping bag. Kita semua masuk mobil dan menuju arah barat daya dari Lhasa. Di perjalanan kita semua tidak berhenti takjub dengan keindahan dataran tinggi Tibet. Danau yang berwana biru di ketinggian 4480 Yamdrok-Tso adalah pemandangan pertama kita pagi itu. Indahnya tidak bisa saya jelaskan, warna biru yang tidak pernah saya lihat, dengan dataran tinggi yang kontras warnanya. Tapi diketinggian itu dan waktu masih menunjukan 8 pagi, dinginnya sangat menusuk. Setelah ambil beberapa photo, saya kabur masuk lagi ke dalam mobil.

Tibet - Shencen Guesthouse

Hari itu kita bermalam di Shigatse ketinggian 3900M. Dinginnya malam itu rasanya seperti tulang saya terasa diketok-ketok, ngilu. Masuk hotel, melihat mbak mbak recepsionis semua pake baju dingin tebal didalam hotel. Berdoa mudah mudahan saya tidak harus pakai jaket, sepatu dan sleeping bag didalam kamar. Beruntung ternyata hotel ini salah satu hotel yang nyaman dan ada pemanas dikamar. Seperti anugrah dari Tuhan! Langsung malam itu saya cuci rambut, mandi air panas. Nikmatnya…!

Perjalanan dilanjutkan besoknya, semua umpel umpelan karena terdesak desak oleh tebalnya jacket semua orang didalam mobil. Semua muka manyun, entah itu karena masih ngantuk apa masih lapar atau kedinginan. Tak lama setelah meninggalkan Shigatse kita terhibur lagi oleh pemandangan diluar selama perjalanan. Simi-La Pass 4330M dan PangLa Pass 5120M menawarkan pemandangan yang spektakular. Dari atas kita bisa melihat semua gunung gunung diatas 8000M ngumpul berdesak-desak. Salah satunya ada Everest, gunung tertinggi dunia.

Tibet - Pang La Pass

Tibet - Simi La Pass2

Tibet - Simi La Pass

Pada saat itu ujung Everest tertutup awan. Tetapi pada saat kita mendekati Everest Base Camp, awan menghilang dan Everest berada pas didepan muka kita dari kejauhan. Matahari yang sudah mulai terbenam seperti mewarnai Everest dengan warna yang hangat.

Tibet Everest View

Hari itu kita bermalam di Rongbuk Monastery 5100M, monastery tertinggi di dunia. Dan juga terdingin di dunia. Dinginnya pol!! Malam itu sebetulnya malam yang indah sekali, bintang-bintang bertaburan. Karena kita berada dilokasi jauh dari kota, malam itu sangat pekat dan bintang bintang bertaburan dari horizon ke horizon tertutup gunung dan bukit. Didalam monastery, saya hanya duduk didepan kompor. Tidak peduli dengan muka saya yang sudah kayak lobster matang.

Malam itu saya tidak mau lepas dari kompor karena malam itu mungkin sekitar minus 15-20. Dan takjubnya lagi, Hp bisa bekerja dengan baik, saya sms ibu saya yang malang punya anak wanita yang kerjanya liburan ketempat tempat aneh. Saya sms memberitahu beliau kalau saya masih hidup. Tapi waktu tidur, kita harus ke dalam kamar. Kamar yang dinginnya seperti kulkas. Tidak ada air panas, tidak ada pemanas. Hanya ada 4 tempat tidur berdempetan. Kaca jendela udah retak, dinginnya udara dengan gembiranya memasuki kamar.

Malam itu saya tidur ditempat tidur yang paling jauh dari jendela, tiga lelaki semua mengalah. Saya memakai baju kaos dalam, dua baju thermal, jacket fleece, gloves, penutup kuping, topi, kaos kaki dobel dan sleeping bag yang ditutup seluruhnya kecuali muka saya. Badan mulai terasa nyaman dan mulai kreyep kreyep ketiduran. Tapi gak lama kemudian saya terbangun karena muka saya perih sekali karena saking dinginnya. Resleting sleeping bag saya tarik lagi, akhirnya saya tidur dengan tertutup sleeping bag kecuali hidung dan mulut. Tapi itu juga tidak menolong, dengan temperature didalam kamar mungkin sekitar dibawah 0 derajat dan ketinggian 5100M sangatlah tidak memungkinkan untuk bisa tidur nyenyak.

Tiap setengah jam saya bangun seperti kehabisan napas, karena tipisnya oxygen di ketinggian itu membuat kita semua terbangun dengan rasa ‘lupa napas’. Jadi semaleman kamar itu berisik dengan semua penghuni tiba tiba tarik napas lebar lebar. Terus tidur lagi nganga, napas lewat mulut karena napas lewat hidung perih. Tengah malem bangun lagi tenggorokan kering dan perih.

Ambil botol air minum saya yang ternyata sudah jadi air es, tambah menderitalah itu tenggorokan saya.

Malam itu saya sejujurnya takut, bagaimana kalau saya ‘tidak napas’ dalam tidur saya? Dalam hati takut dan menyesal karena terlalu dini untuk mengirim sms ke Ibu saya dan bilang saya masih hidup. Bagaimana kalau tidak bangun besok pagi? Saya melihat Puay Hoe menderita sekali, dengan peralatan yang tidak lengkap dan menolak minum diamox pasti rasanya lebih parah dari yang saya rasakan. Tengah malam Puay Hoe tidak bisa tidur, dia setengah duduk ditempat tidur sampai pagi. Semaleman yang ada dipikiran saya, Hotel Shigatse, air panas, pemanas, tempat tidur empuk.

Tapi pagi itu seperti pagi terindah dalam hidup saya. Bangun pagi lari kedalam dapur dan nongkrong lagi di depan kompor sambil menikmati teh ternikmat sedunia. Pagi itu di mobil, dunia terasa sangatlah penuh keindahan, saya bisa bernapas lagi lewat hidung rasanya seperti suatu anugrah. Bernapas lagi dengan normal, penderitaan berakhir.

Terkadang kita harus melewati pengalaman buruk untuk menghargai sesuatu yang sangat kecil.

Sebelum berangkat meninggalkan Rongbuk, kita sekali lagi menoleh Everest dari dalam mobil. Satu pengalaman lagi yang cukup membuat hati saya tersenyum bahagia.

Tidak terasa 9 hari hampir selesai, kita berempat menghabiskan waktu malam terakhir bersama di restauran Snowland, restaurant favorit kita selama di Lhasa. Minum milk tea hangat, makan daging Yak yang rasanya lebih lezat daripada daging sapi, ngobrol dan bercanda sampai restaurant tutup.

Hanya ada satu orang yang ingin saya ucapkan terima kasih, yaitu bekas pacar saya. Kalau kita tidak putus cinta, kecil kemungkinan saya ada pengalaman diakhir tahun yang sangat indah.

Artesia IRAWAN Artesia IRAWAN Her world began to change once she took further on her endeavor. From the hometown of Bogor and moved on from previous career in Garuda Indonesian Airways, the company she had spent 3 years with as a cabin crew....

Detail Profile »

4  Comments

by kus at 1 February 2010, 18:33

mantap banget .. keren dan indah. :D . Ide bagus juga kalau patah hati diobati dengan pergi tamasya :)

by Viking KARWUR at 5 February 2010, 13:18

Ide yang bagus nih…

by lintar at 4 March 2010, 19:46

Edan, cewek dah ke everest basecamp!!!,
Aduh Juli besok ikut gak yah ke sana??? masalahnya bukan cuma duit, tapi fisik juga kudu siap.
BTW budget totalnya berapa tuh Mba??

by Lulu at 10 March 2010, 03:26

Mama Echieeee,
Great pictures and great story chie..
Kapan ya bisa berani liburan ketempat yang model begitu?
Masa sih harus nunggu putus cinta dulu?:D
Ditunggu postingan berikutnya yaa…
Mwuahhh…x

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

549 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Bismo Teguh Prakoso Police Captain Bismo Teguh Prakoso was born in East Java, Indonesia in 1980. After completion of his formal education of high school at SMU Taruna Nusantara, Magelang in 1998, he joined Indonesian Police Academy as a cadet. In the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

In memoriam: Boas Woisiri
Bebarapa waktu yang lalu Polri kehilangan seorang pahlawannya Brigadir Boas Wosiri dalam peristiwa penyerangan teroris di Aceh Besar. Banyak kenangan yang saya dapat dengan Boas, Ia adalah seorang anak buah... »
Reinhard HUTAGAOL , 2 hours ago

Kecil Kecil Cabe Congo
Urusan perut memang ngga bisa dianggap remeh. Awalnya, aku sepele dengan urusan ganjal perut ini. Berbagai saran dari teman – teman di Indonesia dibiarkan berlalu begitu saja. Masuk telinga kiri... »
Nurul Fitri Lubis , 1 day ago

Observasi Batas Daerah Operasi UNIFIL
Pemahaman tentang batas daerah operasi antar satuan di jajaran UNIFIL ( United Nations Interim Forces in Lebanon ) bukan hanya perlu di mengerti di atas peta, namun harus disertai pemahaman... »
Yogi Nugroho , 2 days ago

Indobatt juara Turnamen Voli tingkat SECEAST UNIFIL
(Marjayoun, 15/3) Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mengharumkan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah komuniti internasional, telah dilakukan dengan berbagai upaya dan kerja keras... »
Yogi Nugroho , 3 days ago

Kursus MS Office Basic untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga: The Power of Motherhood
Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri... »
Ro'is Nahrudin , 4 days ago

 

Recent Comments

Nurul Fitri Lubis commented on Kecil Kecil Cabe Congo
a few seconds ago


Arny commented on Kecil Kecil Cabe Congo
a few seconds ago


Luigi Pralangga commented on Kecil Kecil Cabe Congo
a few seconds ago


Lili commented on Budaya orang Congo berfotoria
a few seconds ago


Husam commented on Low Numbers, High Impact: Involvement of Women in Peacekeeping Operations
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com