Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Alarikka

Tentara Indonesia yang “Lelah”

28 November 2008, 10:41 , by Alarikka

 

(Artikel lama yang dimuat 9 Feb 2006 di Sinar Harapan). Sejak tahun 1945 hingga saat ini, gelar pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak pernah dihentikan. TNI selalu memiliki gelar penindakan, baik deployment atau employment.

Pasukan TNI selalu ditugaskan untuk mengatasi berbagai konflik baik internal maupun eksternal. Bisa dikatakan sejak tahun 1945 hingga saat ini, kita memiliki tentara yang lelah, yang tidak pernah sejenak beristirahat untuk memikirkan apa yang dilakukannya dalam 30-50 tahun mendatang.

Pengamat militer, Andi Widjajanto mengatakan tanpa doktrin pertahanan yang tegas, sulit bagi TNI untuk memiliki kesiapan strategis (strategic readiness). Doktrin yang saat ini digunakan masih mengacu pada doktrin yang ditandatangani oleh mantan menteri Pertahanan LB Moerdani.

“Setelah itu kita belum lagi memiliki doktrin pertahanan yang baru. Departemen Pertahanan belum membuat doktrin pertahanan yang baru menggantikan doktrin tahun 1991 tersebut”, katanya.

Ia memaparkan idealnya suatu negara memiliki doktrin pertahanan yang jelas sehingga postur yang akan dibangun bisa dilalui setahap demi setahap. Dengan begitu, bila diantara waktu pembentukkan kesiapan strategis tersebut ada permintaan gelar pasukan, hal tersebut merupakan minimum essensial forces dari postur pertahanan yang sedang dirancang.

Ia mengakui tidak mudah untuk menyiapkan postur pertahanan bagi suatu negara. Negara besar seperti Amerika Serikat pun membutuhkan waktu paling tidak 130 tahun sejak keluar dari perang sipil dan perang Meksiko untuk membangun kekuatannya. Jepang membangun kekuatan militernya sejak akhir retorasi Meiji di abad 18 hingga 1904 sebelum berperang dengan Rusia.

Barangkali yang harus dilakukan adakah meniru China. China sadar harus mengubah karakter tentara yang efisien, mengandalkan teknologi, dan siap melakukan perang modern.

Kesiapan tahap pertama untuk tahun 2013, antara lain dengan menetapkan untuk keluar dari brown water navy menjadi grand water navy.

“Jadi dia akan bisa main di laut China Selatan di tahun 2013. Setelah itu berfikir untuk berada di samudera menjadi blue water navy di tahun 2033, atau 20 tahun kemudian. Setelah 2013 kita akan lihat China main-main di Selat Malaka, Laut China Selatan, karena strategic readiness-nya sudah dilakukan dari tahun 1981,” papar Andi. Selama masa itu pula, strategi yang dikedepankan, yaitu melalui diplomasi dan kerjasama ekonomi.

Pertahanan berlapis
Bagaimana dengan strategic readiness Indonesia?. Strategi pertahanan berlapis (layer defense) sebagai strategi pertahanan besar yang telah dipegang selama ini seakan sudah jadi kesepakatan masing-masing angkatan. “Kalau memang itu yang diinginkan, harus tetap direncanakan untuk menghadapi internal war atau transnasional conflict,” ujarnya.

Bila dikaitkan dengan anggaran pertahanan, hal ini tidak pernah akan mengalami titik temu. Saat ini kurangnya anggaran selalu menjadi alasan kesiapan yang belum terbentuk. Di awal pemerintahan Megawati, untuk anggaran pertahanan Indonesia sebesar Rp. 10 triliun. Diakhir jabatannya, angka ini naik menjadi Rp. 21 triliun atau mengalami kenaikan 100%.

Tidak ada negara di dunia ini dalam 4 tahun menaikkan anggaran pertahanannya 100 , kecuali Indonesia dari 2000-2004. Meskipun begitu, pemenuhan kebutuhan belum bisa memenuhi 100, kurang lebih hanya mampu 74%. Ketika masa pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemenuhan kebutuhan turun drastis jadi sekitar 40%. Permintaan anggaran sebesar Rp. 45 triliun hanya mampu disediakan Rp. 23 triliun.

Tahun 2006 diminta Rp. 25 triliun yang disediakan Rp. 28 tiliun. Dalam rancangan Dephan, pada tahun 2009 akan meminta anggaran Rp. 140 triliun, sedangkan dari kacamata ekonomi makro, angka tersebut baru bisa disediakan oleh negara pada tahun 2024.

Apa yang harus dilakukan?
Selama persiapan strategic readiness tentu diasumsikan perang harus ditunda. Amerika lagi-lagi menjadi contoh.

Di masa perang dingin, dilakukan satu perang global melawan Uni Soviet dan perang regional dimanapun. Pasca perang dingin, Amerika menurunkan kekuatan pertahanannya secara drastis, hanya siap dua perang regional. Masa Clinton diturunkan lagi satu perang regional. Di masa pemerintahan Bush mereka menyebutkan siap 1,5 perang. Satu di Irak, setengahnya siapkan perangnya, tapi ditunda, sampai perang yang satu selesai.

“Strategi itu yang harus kita bayangkan. Kita tidak akan siap perang dengan negara manapun, katakanlah sampai dengan tahun 2024, karena strategi perangnya setengah perang. Ada military employment yang kecil-kecil, ada strategi diplomatnya juga ekonomi yang dikembangkan,” papar Andi.

Dengan cara ini, Indonesia bisa _“mengistirahatkan” pasukannya yang lelah dan membangun kesiapan untuk 30-50 tahun nanti.

Kata kuncinya efisiensi dan rasionalisasi. Tapi bagian yang mana yang harus melakukan ini?. Ketika alutsista pun banyak yang tak laik pakai lagi. Ah jangan-jangan ini hanya utak-utik angka saja.

Alarikka, Jakarta.

Alarikka Alarikka Having spent over 11 years as news correspondent/journalist, specializing to cover politics and Indonesian Military, Alarikka would then prefer to write more on travel and humanitarian featured topics. There are abundant wisdom in life to learn from the under previlleged...

Detail Profile »

2  Comments

by Erfan Ahmad at 29 November 2008, 05:21

Tentera yang lelah atau kelelahan BISA jadi demikian…kalau dulu walaupun lelah mereka masih ada harapan untuk terjun dijalur politik,saat ini impian tsb buyar. Berkaitan strategy saya banyak mendengar kalau sosok LB.Moerdani sangat piawai dalam menyusun strategy,kalaupun sampai saat ini masih mengacu kpd doktrin yang lama artinya para JENDERAL sesudah beliau bisa jadi TIDAK memiliki keterampilan/talenta dalam menyusun doktrin pertahanan yang baru,atau sengaja melumpuhkan diri. semua asumsi tentu dlm tanda petik,tapi BISA jadi demikian.

salam

by Andri Gandhy at 6 December 2008, 09:31

Bagi rekan-rekan non militer mungkin bisa mencari dan membaca referensi tentang TRIDEK TNI sehingga ada gambaran mengenai doktrin TNI juga membaca buku-buku tentang sejarah militer mulai dari jaman sebelum PD I, PD I, PD II, Perang Dingin, Perang Teluk,Perang Balkan, Perang Melawan Terror.

Hal lain coba googling tentang perbandingan kekuatan, saya pernah menemukan situs tentang perbandingan kekuatan dengan statistik serta parameter lain yang sangat konperensif (sayangnya saya lupa nama situsnya). nah mudah2an nanti ada pencerahan.

Ilmu strategi militer sangat dinamis karena merupakan seni mengelola manusia dalam bertempur dengan batasan2 ekstrim beserta perilakunya.

Studi akademik, analisis dan statistik belumlah cukup, bahkan dengan pengalaman operasi tempur-pun belum cukup juga.

Namun saya sangat positif kepada para pengamat2 militer yang banyak memberi masukan, tanggapan dan sangat menghargai upaya2 perbaikan TNI demi tegaknya NKRI.

Kiranya hal ini juga sebagai “semangat” bagi para pengamat maupun kalangan militer sendiri untuk terus menambah ilmu, memperkaya cara pandang dan memajukan pertahanan NKRI.

Demikian, semoga bermanfaat.

May Pnb Andri Gandhy
Strategic Military Cell,
United Nations – Department of Peacekeeping & Operations
DPKO, UNHQ, New York

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Donasion Donasion Having to conclude his initial assignment with the International Federation of Red Cross – IFRC, then successfully completed another at the British Red Cross during the Tsunami post-disaster rehabilitation in Aceh Province, Donasion further engaged into new challenges in the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago