Bulan Juni 2007, saya dan teman-teman satu tim di organisasi saya bekerja dulu, berkesempatan pergi ke Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah, untuk melakukan lokakarya di Takengon bersama komunitas perempuan di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Takengon lumayan jauh. Kami menyewa kendaraan umum, berangkat dari Banda Aceh sekitar pukul 11 pagi, dan sampai di Takengon sekitar pukul 7 malam. Jauh juga ya? Dengan melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik… capek hehehe…
Hari berikut di Takengon, kami diundang untuk menghadiri satu pesta pernikahan, dan pernikahan ini adalah pernikahan menggunakan adat Gayo. Dan baru pertama kali itu saya melihat bagaimana sih pernikahan suku Gayo (maksudnya makanan dan busananya hehehe…) iya, karena kami datang kesana pas waktu makan siang hehehe… Makanannya menurut saya lebih ringan dari makanan di Aceh daerah pesisir, walau masih dengan santan dan pedas, dan daging utamanya adalah daging kerbau, sedangkan ikan yang banyak diolah disana adalah Ikan Depik… ikannya kecil-kecil… tapi sedap. Busananya punya motif yang khas.

Selama mengikuti lokakarya, saya baru menyadari bahwa masyarakat Gayo adalah merupakan suku tersendiri yang berbeda dari suku Aceh. Dan semakin jauh, saya baru tahu kalau suku Gayo punya sejarah yang berbeda dari suku Aceh. Dari bacaan yang saya temukan, ternyata suku Gayo mempunyai sejarah yang berkaitan dengan Batak Karo di Sumatera Utara. Jika ingin tahu lebih banyak, ada banyak sumber bacaannya di internet.
Ada satu yang unik yang kami temukan dari kebiasaan kaum perempuan (khususnya Ibu-Ibu saja?) Ketika mereka tertawa… mereka punya cara tersendiri ketika tertawa… mereka akan mengakhiri tawa mereka dengan teriakan “Huuuuu…!!!!” secara bersama-sama… Dan rasanya suasana jadi lebih meriah dengan ke-khas-an itu… :)
Lokasi Takengon sendiri menurut saya juga cukup unik, berupa dataran yang luas dan dibentengi pegunungan, sangat indah… Juga ada Danau Laut Tawar yang menjadi obyek wisata terkenal di Takengon. Kami sempat pula berjalan mendaki bukit dan melihat pemandangan Takengon dari atas bukit… indah sekali…



(.dodie.)


Membaca kisah lawasmu di Takengon,bener-bener meyakinkan bahwa Indonesia memang kaya, ya budayanya ya alam-nya dan semua-semuanya… Moga2 upaya advokasi perdamaianmu disana bisa terus berkesinambungan, yah – Dod!…
Indah nya yaaa Tanah Airku Indonesia,begitu banyaknya asset Wisata yang bisa dijual ke Manca Negara,jujur deh saya pingin berkunjung kesana,lihat danaunya pingin mancing huuuuiiii. Bagus mas Dody info ini.
Danau laut tawar ?
airnya benar2 tawar ya ??? mirip dengan danau toba dong :)
Waaoow …. indah banget pemandangannya mas Dod ! … anyway busway … temenku dari nepal tak kasih liat foto2mu ini … dia bilang indah banget persis seperti Pokkara lake in Himalaya. Kapan2 mo kesana katanya … he he he
@ mas igi: kerja di indonesia dong hehehehe…
@ bang erfan: ayo bang, maen ke takengon.. enak buat refreshing… :)
@ mas kus: coba deh diminum kalo gak percaya hehehehe…
@ mas ambar: ayo2, promosi lebih banyak lagi mas hehehehe…