Pertama kali mendengar khabar ketika akan dikirim untuk bertugas ke Sudan, sudah pasti sangatlah mendebarkan. Tidak tahan rasanya untuk berlama-lama di kampung sendiri dan secepatnya segera bekerja (Maklumlah mental buruh, semakin cepet kerja, makin cepet juga dapat duit). Menyandang kontrak kerja dibawah naungan PBB ini, ego ini berguman: Keren bangetlah kayaknya!. Perselingkuhan (Waduh, istilahnya nggak kuaat!) dengan PBB, pertama kali berawal sewaktu masih bekerja di Timor-Leste. Saat itu saya masih bergabung salah satu perusahaan yang mendapatkan kontrak disana, yaitu Skylink Aviation.
Bertitel jabatan Ground Manager. Sejauh kedua mata ini memandang mereka (Baca: Para staff PBB), hati ini kemudian berguman ala sontoloyo: “Kayaknya enak banget kalau lihat orang PBB yang kerjanya kelihatan sedikit tetapi jaring pukatnya besar (maksudnya pendapatannya gede)“.
Dahulu, terbayangnya amat sangat ceria dan penuh gempita banget melihat mereka. Party – Pesta sana-sini, ditambah lagi dengan liburan lebih sering dan panjang bila dibanding umumnya orang kerja. Satu hal lain, yaitu Passport Biru-nya mengundang banget!, dimana predikat diplomat yang dialamatkan ke awak PBB sangatlah bergengsi.
Singkat cerita: Sudan, Here I am!
Proses pemberangkatan kurang-lebihnya sama seperti anak baru yang dipelonco. Dimana ada beberapa unit kerja yang harus disambangin/kunjungi, senyum sana-senyum sini.. Biasalah basa-basi perkenalan. Mungkin diawalnya agak-agak jaim (Baca: Jaga Image), mempertahankan tampang: Serious-look, padahal sih – diri ini udah nggak betah, apalagi masa awal kedatangan yang kudu-harus ikut Sesi Pembekalan Wajib bagi staff yang baru tiba (New Arrivals), Bete banget deh, pokoknya!
Everything has a start!. Ya , betul sekali. Pertama kali diberitahu informasinya kalau Duty Station – yaitu tempat/kota dimana saya akan mengambil pos penugasan, adalah di Malakal.
Oke!, Tidak masalah, lagi pula sejauh yang saya tahu dan maklumi, bahwa Malakal itu cuma ada di semenanjung Melayu (Melaka). Mau di Malakal atau dimana, kek – sabodo-amat!, Pikirku pos itu hanya sebatas pos penempatan saja.
Yang membuat hati ini kemudian menjadi ciut, adalah, sebelum deployment ke Malakal, terjadilah huru-hara disana, sodara – sodara!. Paniklah si perantau ini, dibuatnya!. Bingung dan kaget, tapi The Show Must Go On!
Tetap saya harus terbang ke Malakal apapun yang terjadi. Mas Sulung Purwoko yang kebetulan sudah bertugas di Malakal jauh sebelum saya, sering banget memberi berita/update laporan terkini akan situasi yang terjadi dilapangan.
Perihal seputar keadaan darurat, tidak tersedianya akomodasi yang standar/layak sesuai digariskan oleh PBB, memaksa saya harus merombak beberapa kabin office disulap menjadi ruang akomodasi: Abrakadabra!!!!!.
Menjejalkan beberapa unit office container set menjadi satu kabin office, dan merubah kabin office tadi menjadi ruang untuk tidur dan tempat masak. Terlepas dari banyaknya komplain yang masuk, saya berkilah: Inilah pilihan terbaik saat itu!!.
Coba bayangin saja, ada sekitar 60-an orang – Internasional staff (termasuk visitor) yang harus ditampung di kabin Office. Jadi, sodara – sodara, beraneka-ragam bau badan nan apek itu kemudian bercampurlah mereka, dihiasi dengan wajah nan kuyu, letih, lemah lesu (Kayak reklame multi supplement!)
Satu hal yang membuatnya amat memprihatinkan adalah, ketersediaan makanan belum tentu bias dimakan (sementara si perantau ini tidak disiapkan untuk menghadapi kondisi kacau seperti ini). Maka, berbekal biscuit crackers-lah menu sepanjang hari!
Namun demikian, keberuntungan itu masih berpihak padaku. Berat badan yang dulunya di atas rata-rata ini, menjadi normal kembali (Mungkin habis kerja di PBB bisa dipikirkan buku berjudul; HOW TO LOSE WEIGHT – The UN Diet)
Mas Sulung Purwoko, adalah orang yang berjasa bagi saya – khususnya pada saat itu. Beliau telah berbaik hati menjadi penyedia untuk ransom perbekalan demi kelangsungan hidup saya! (Hidup Mas Sulung). Beliau juga adalah kolega curhat-kelas-wahid, yang piawai menjadi keranjang sampah berbagi cerita-derita.
Beberapa kawan dari Military Observer TNI yang juga bertugas di Team Site, telah menjadi penghibur lara yang dirasa ampuh. Beliau-beliau ini sering berkunjung di kabin office saya (Dimana mungkin niatnya selain bersilaturahim – juga hendak ikut numpang minum teh dan makan mie instant…he..he..bercanda, Boss!?)
Berbicara soal, mie instant, waktu itu menu utama dan yang tersedia hanya benar-benar itu saja. Jadi tiap hari makannya hanya itu dan langsung secara instant (Baca: Seketika – tanpa dimasak lagi). Sesekali saja dimasak kalau sempat, dimana bukan rebus tetapi direndam, alias direndam saja dengan air panas – dan langsung: hap, blem! Masuk mulut.
Pada akhirnya semua kesulitan dilapangan itu bisa dilalui. Setelah melewati suatu masa, akomodasi kantor yang layak rampung dibangun maka kita semua bisa pindah. Bedol kantor istilahnya (meminjam istilah jaman eyang: Bedol Desa). Bermigrasilah kita semua ke Logistics Base.
Rasa nyaman dan enaknya berbaring tidur, di kamar sendiri, walau ukuran kamar kita tidak lebih besar dari kamar mandi kebanyakan orang-orang di Indonesia. Paling tidak, kita bisa mendengkur dengan nyaman. Kita menyebut kamar ini sebagai Kamar Sarden, karena terbuat dari kaleng (paling tidak ini menurut perkiraan saya). Tapi nyaman juga kok dari pada tidur di sela-sela kabel computer yang berseliweran.
Waktu beranjak terus dan bulan pun berlalu, sekarang saya bertugas di Port Sudan, yang kondisinya 360 derajat berbeda dari Malakal. Jalan mulus dan tidak becek saat hujan seperti halnya di Malakal. Kamar yang nyaman dan luas, tidak sempit seperti kamar yang dulu. Internet akses 24 jam di kamar sendiri dengan wireless.
Ah! Layak dan resikah pokoknya!!!!.
Tetapi dasar! – ada saja masalah yang timbul kemudian, makanan selalu menjadi kendala. Dulu di Malakal, kita jarang makan karena memang susah mendapatkan mereka yang menjual makanan. Lain ceritanya di Port Sudan ini. Kita malas untuk makan karena menu masakan dan jenis makanannya hanya itu-itu melulu.
Port Sudan terkenal dengan ikan lautnya. Cuman ya itu lagi, dimasaknya selain dibakar, ya digoreng. Sialnya, cara makan disini selalu ditemani/dipadukan dengan roti (kalau makan di rumah makan). Bayangin aja, makan ikan kering dengan roti kering!. Buat saya yang merasa dari kampong nan udik banget, tentulah agak merepotkan. Bagaimana lidah ini bermanuver untuk mengunyah dan melumat makanan itu masuk ke perut.
Soal cita rasa makanan itu, biasanya sih – saya minta cabe, agar ada sedikit gurih/pedas rasanya. Dan cara memasak seperti ini kemudian diaplikasi kepada Ayam Olahan juga. Jadi kalau hari ini saya makan ikan goreng, selanjutnya besok – saya makan ayam panggang, begitu juga sebaliknya. Terlepas dari itu semua, yang namanya berkerja – Di manapun sebenarnya sama saja. Semua bergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita akan mengeluh terus sepanjang hari akan segala macam hal yang terjadi atau sebaliknya.
Sekarang ini, semuanya sudah terbiasa dan bisa dimaklumi.
Acapkali saya bermimpi bahwa saya kepingin banget bisa lebih banyak lagi orang Indonesia yang bergabung dengan PBB, seperti di misi pemulihan perdamaian di Sudan ini. Mungkin juga sudah ada banyak, walaupun tidak sebanyak mereka dari negara lain.
Kedepan ini, saya akan berbagi cerita per segmen mengenai Malakal, Port Sudan, dan tentu saja Khartoum dengan kaca mata saya pribadi (walau terkadang kaca mata saya agak kabur jadi kalau ada yang kurang sesuai, tolong bantu disesuaikan).
Terimakasih saya untuk Mbak Laxmi di New York, Sulung Purwoko di Malakal, Yuanita Soedono di Khartoum (keep on rocking!), Imelda Tjahja di Malakal, Eva Mulyandari di El-Obeid dan salam hangat buat semua Indonesian Peacekeepers yang sedang dalam masa penugasan. Jabat erat dari Port Sudan.


Mantap dibuat Novel nih kisah!!! Nanti buat saya yah tender pencetakannya! Harga bisa diatur deh yang penting untung jangan digoyang… hik..hik..hik
BTW for the Indonesian Civilian Peace Keepers, saya mau saran untuk terus menyebarluaskan info tentang Bgm cara bergabung and kerja dg PBB, tarik rekan2 kita sebangsa sebanyak2nya. Saya sebenarnya sangat cemburu dg pers negara lain yg bisa ngumpul bareng setiap hari dg teman2 sekampungnya. Ujung2nya mereka kolusi dan nepotisme pada semua lini di Misi, yang enak-enak disabet duluan. Atau saya juga cemburu, kok Indo Civilian yang banyak cuma ke Sudan??, Yang ke Kongo gak kelihatan! Coba kalo banyak juga, banyak privilege deh aku n gak homesick, sekalian dapat tempat buat numpang ngemil.
Bli, thanks yah udah sempatkan cerita pengalaman lawasnya saat nyampe di Sudan tempo hari.. ayo ditunggu ceritanya lagi!.
Bang Edwin,
Alahmdulillah temen2 di UNMIS sudah gencar dengan ‘jejaring’nya dalam membantu rekans agar bisa bergabung dengan UN dan UN Missions lainnya, satu hal yang memang perlu dukungan KBRI dan pendekatan dari PTRI di New York agar ‘jatah’ Nationality Diversification dan Nationality Quota Indonesia di HRMSnya UN bisa dinaikkan, wong jelas-jelas WNI yang ada pada Internationally Recruited Staffs masih terbilang —-> UNDER REPRESENTED jauh banget!.
Tambahan satu lagi, mengapa jarang di MONUC? – karena disana bahasa Perancis! :D, ada bule perancis pernah ngajak ngobrol, ditelinga ini cuman bisa nangkep:
“Sipasong… Sipasong..” Gitu deh – Nggak ngerti maksudnya apa, Sepertinya dia nanya: “Ini ada isinya apa kosong?” – “Sipasong..” mirip khan? :D
Wow, thanks for sharing :)
Berita lama, tapi masih asyik dibaca …
wow.. cerita yang sangat menarik dan patut dicatat dalam sejarah :)
Salam hangat dari Bandar lampung