Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Sudan, I’m In (**T) LOVE

11 December 2009, 17:50 , by Wijaya NGURAH

 

Pertama kali mendengar khabar ketika akan dikirim untuk bertugas ke Sudan, sudah pasti sangatlah mendebarkan. Tidak tahan rasanya untuk berlama-lama di kampung sendiri dan secepatnya segera bekerja (Maklumlah mental buruh, semakin cepet kerja, makin cepet juga dapat duit). Menyandang kontrak kerja dibawah naungan PBB ini, ego ini berguman: Keren bangetlah kayaknya!. Perselingkuhan (Waduh, istilahnya nggak kuaat!) dengan PBB, pertama kali berawal sewaktu masih bekerja di Timor-Leste. Saat itu saya masih bergabung salah satu perusahaan yang mendapatkan kontrak disana, yaitu Skylink Aviation.

Bertitel jabatan Ground Manager. Sejauh kedua mata ini memandang mereka (Baca: Para staff PBB), hati ini kemudian berguman ala sontoloyo: “Kayaknya enak banget kalau lihat orang PBB yang kerjanya kelihatan sedikit tetapi jaring pukatnya besar (maksudnya pendapatannya gede)“.

Dahulu, terbayangnya amat sangat ceria dan penuh gempita banget melihat mereka. Party – Pesta sana-sini, ditambah lagi dengan liburan lebih sering dan panjang bila dibanding umumnya orang kerja. Satu hal lain, yaitu Passport Biru-nya mengundang banget!, dimana predikat diplomat yang dialamatkan ke awak PBB sangatlah bergengsi.

UN Passport

Singkat cerita: Sudan, Here I am!

Proses pemberangkatan kurang-lebihnya sama seperti anak baru yang dipelonco. Dimana ada beberapa unit kerja yang harus disambangin/kunjungi, senyum sana-senyum sini.. Biasalah basa-basi perkenalan. Mungkin diawalnya agak-agak jaim (Baca: Jaga Image), mempertahankan tampang: Serious-look, padahal sih – diri ini udah nggak betah, apalagi masa awal kedatangan yang kudu-harus ikut Sesi Pembekalan Wajib bagi staff yang baru tiba (New Arrivals), Bete banget deh, pokoknya!

Everything has a start!. Ya , betul sekali. Pertama kali diberitahu informasinya kalau Duty Station – yaitu tempat/kota dimana saya akan mengambil pos penugasan, adalah di Malakal.

Oke!, Tidak masalah, lagi pula sejauh yang saya tahu dan maklumi, bahwa Malakal itu cuma ada di semenanjung Melayu (Melaka). Mau di Malakal atau dimana, kek – sabodo-amat!, Pikirku pos itu hanya sebatas pos penempatan saja.

Yang membuat hati ini kemudian menjadi ciut, adalah, sebelum deployment ke Malakal, terjadilah huru-hara disana, sodara – sodara!. Paniklah si perantau ini, dibuatnya!. Bingung dan kaget, tapi The Show Must Go On!

Tetap saya harus terbang ke Malakal apapun yang terjadi. Mas Sulung Purwoko yang kebetulan sudah bertugas di Malakal jauh sebelum saya, sering banget memberi berita/update laporan terkini akan situasi yang terjadi dilapangan.

Perihal seputar keadaan darurat, tidak tersedianya akomodasi yang standar/layak sesuai digariskan oleh PBB, memaksa saya harus merombak beberapa kabin office disulap menjadi ruang akomodasi: Abrakadabra!!!!!.

Menjejalkan beberapa unit office container set menjadi satu kabin office, dan merubah kabin office tadi menjadi ruang untuk tidur dan tempat masak. Terlepas dari banyaknya komplain yang masuk, saya berkilah: Inilah pilihan terbaik saat itu!!.

Coba bayangin saja, ada sekitar 60-an orang – Internasional staff (termasuk visitor) yang harus ditampung di kabin Office. Jadi, sodara – sodara, beraneka-ragam bau badan nan apek itu kemudian bercampurlah mereka, dihiasi dengan wajah nan kuyu, letih, lemah lesu (Kayak reklame multi supplement!)
Satu hal yang membuatnya amat memprihatinkan adalah, ketersediaan makanan belum tentu bias dimakan (sementara si perantau ini tidak disiapkan untuk menghadapi kondisi kacau seperti ini). Maka, berbekal biscuit crackers-lah menu sepanjang hari!

Namun demikian, keberuntungan itu masih berpihak padaku. Berat badan yang dulunya di atas rata-rata ini, menjadi normal kembali (Mungkin habis kerja di PBB bisa dipikirkan buku berjudul; HOW TO LOSE WEIGHT – The UN Diet)

Sulung Purwoko

Mas Sulung Purwoko, adalah orang yang berjasa bagi saya – khususnya pada saat itu. Beliau telah berbaik hati menjadi penyedia untuk ransom perbekalan demi kelangsungan hidup saya! (Hidup Mas Sulung). Beliau juga adalah kolega curhat-kelas-wahid, yang piawai menjadi keranjang sampah berbagi cerita-derita.

Beberapa kawan dari Military Observer TNI yang juga bertugas di Team Site, telah menjadi penghibur lara yang dirasa ampuh. Beliau-beliau ini sering berkunjung di kabin office saya (Dimana mungkin niatnya selain bersilaturahim – juga hendak ikut numpang minum teh dan makan mie instant…he..he..bercanda, Boss!?)

Berbicara soal, mie instant, waktu itu menu utama dan yang tersedia hanya benar-benar itu saja. Jadi tiap hari makannya hanya itu dan langsung secara instant (Baca: Seketika – tanpa dimasak lagi). Sesekali saja dimasak kalau sempat, dimana bukan rebus tetapi direndam, alias direndam saja dengan air panas – dan langsung: hap, blem! Masuk mulut.

Pada akhirnya semua kesulitan dilapangan itu bisa dilalui. Setelah melewati suatu masa, akomodasi kantor yang layak rampung dibangun maka kita semua bisa pindah. Bedol kantor istilahnya (meminjam istilah jaman eyang: Bedol Desa). Bermigrasilah kita semua ke Logistics Base.

Rasa nyaman dan enaknya berbaring tidur, di kamar sendiri, walau ukuran kamar kita tidak lebih besar dari kamar mandi kebanyakan orang-orang di Indonesia. Paling tidak, kita bisa mendengkur dengan nyaman. Kita menyebut kamar ini sebagai Kamar Sarden, karena terbuat dari kaleng (paling tidak ini menurut perkiraan saya). Tapi nyaman juga kok dari pada tidur di sela-sela kabel computer yang berseliweran.

Waktu beranjak terus dan bulan pun berlalu, sekarang saya bertugas di Port Sudan, yang kondisinya 360 derajat berbeda dari Malakal. Jalan mulus dan tidak becek saat hujan seperti halnya di Malakal. Kamar yang nyaman dan luas, tidak sempit seperti kamar yang dulu. Internet akses 24 jam di kamar sendiri dengan wireless.

Ah! Layak dan resikah pokoknya!!!!.

Tetapi dasar! – ada saja masalah yang timbul kemudian, makanan selalu menjadi kendala. Dulu di Malakal, kita jarang makan karena memang susah mendapatkan mereka yang menjual makanan. Lain ceritanya di Port Sudan ini. Kita malas untuk makan karena menu masakan dan jenis makanannya hanya itu-itu melulu.

Port Sudan terkenal dengan ikan lautnya. Cuman ya itu lagi, dimasaknya selain dibakar, ya digoreng. Sialnya, cara makan disini selalu ditemani/dipadukan dengan roti (kalau makan di rumah makan). Bayangin aja, makan ikan kering dengan roti kering!. Buat saya yang merasa dari kampong nan udik banget, tentulah agak merepotkan. Bagaimana lidah ini bermanuver untuk mengunyah dan melumat makanan itu masuk ke perut.

Soal cita rasa makanan itu, biasanya sih – saya minta cabe, agar ada sedikit gurih/pedas rasanya. Dan cara memasak seperti ini kemudian diaplikasi kepada Ayam Olahan juga. Jadi kalau hari ini saya makan ikan goreng, selanjutnya besok – saya makan ayam panggang, begitu juga sebaliknya. Terlepas dari itu semua, yang namanya berkerja – Di manapun sebenarnya sama saja. Semua bergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita akan mengeluh terus sepanjang hari akan segala macam hal yang terjadi atau sebaliknya.

Sekarang ini, semuanya sudah terbiasa dan bisa dimaklumi.

Acapkali saya bermimpi bahwa saya kepingin banget bisa lebih banyak lagi orang Indonesia yang bergabung dengan PBB, seperti di misi pemulihan perdamaian di Sudan ini. Mungkin juga sudah ada banyak, walaupun tidak sebanyak mereka dari negara lain.

Kedepan ini, saya akan berbagi cerita per segmen mengenai Malakal, Port Sudan, dan tentu saja Khartoum dengan kaca mata saya pribadi (walau terkadang kaca mata saya agak kabur jadi kalau ada yang kurang sesuai, tolong bantu disesuaikan).

Terimakasih saya untuk Mbak Laxmi di New York, Sulung Purwoko di Malakal, Yuanita Soedono di Khartoum (keep on rocking!), Imelda Tjahja di Malakal, Eva Mulyandari di El-Obeid dan salam hangat buat semua Indonesian Peacekeepers yang sedang dalam masa penugasan. Jabat erat dari Port Sudan.

Wijaya Ngurah SUKARASA Experienced in hospitality industry for 10 years, before join SKYLINK Aviation in Timor Leste during UNTAET/UNAMET mission as Ground Manager. Currently serving under UNMIS (United Nations Mission in Sudan) as Facilities Camp Management in Malakal (Southern of Sudan) then...

Detail Profile »

3  Comments

by Ehabel at 11 December 2009, 18:46

Mantap dibuat Novel nih kisah!!! Nanti buat saya yah tender pencetakannya! Harga bisa diatur deh yang penting untung jangan digoyang… hik..hik..hik

BTW for the Indonesian Civilian Peace Keepers, saya mau saran untuk terus menyebarluaskan info tentang Bgm cara bergabung and kerja dg PBB, tarik rekan2 kita sebangsa sebanyak2nya. Saya sebenarnya sangat cemburu dg pers negara lain yg bisa ngumpul bareng setiap hari dg teman2 sekampungnya. Ujung2nya mereka kolusi dan nepotisme pada semua lini di Misi, yang enak-enak disabet duluan. Atau saya juga cemburu, kok Indo Civilian yang banyak cuma ke Sudan??, Yang ke Kongo gak kelihatan! Coba kalo banyak juga, banyak privilege deh aku n gak homesick, sekalian dapat tempat buat numpang ngemil.

by Luigi Pralangga at 12 December 2009, 04:55

Bli, thanks yah udah sempatkan cerita pengalaman lawasnya saat nyampe di Sudan tempo hari.. ayo ditunggu ceritanya lagi!.

Bang Edwin,

Alahmdulillah temen2 di UNMIS sudah gencar dengan ‘jejaring’nya dalam membantu rekans agar bisa bergabung dengan UN dan UN Missions lainnya, satu hal yang memang perlu dukungan KBRI dan pendekatan dari PTRI di New York agar ‘jatah’ Nationality Diversification dan Nationality Quota Indonesia di HRMSnya UN bisa dinaikkan, wong jelas-jelas WNI yang ada pada Internationally Recruited Staffs masih terbilang —-> UNDER REPRESENTED jauh banget!.

Tambahan satu lagi, mengapa jarang di MONUC? – karena disana bahasa Perancis! :D, ada bule perancis pernah ngajak ngobrol, ditelinga ini cuman bisa nangkep:

“Sipasong… Sipasong..” Gitu deh – Nggak ngerti maksudnya apa, Sepertinya dia nanya: “Ini ada isinya apa kosong?” – “Sipasong..” mirip khan? :D

by sherly at 23 December 2009, 00:07

Wow, thanks for sharing :)

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

550 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Endang Satriyani Endang Satriyani, or known as Eno, has recently joined the UN mission in September 2007, having been assigned in Haiti, under MINUSTAH as UNV Finance Advisor, of which her main duty is working together with Haitian Nationale Police (HNP)...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Pertemuan Satuan Polisi Militer di Lebanon
(Blate Marjayoun UN Posn 7-3, Lebanon). UN Military Police Meeting adalah acara pertemuan seluruh Satuan Polisi Militer Internasional yang tergabung dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB, khususnya UNIFIL... »
Muhammad Dahlan , 5 hours ago

Budaya orang Congo berfotoria
Orang-orang Congo sangat hobi untuk berfoto ria, jadi jangan heran jika tukang foto keliling bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota. Kebiasaan berfoto-ria ini memang sudah membudaya di masyarakat Congo,... »
Arny Wahyuni , 7 hours ago

Senjata ampuh bikin bujur melepuh
Ayah nanti mau dibekelein apa balik ke Liberia ini?. Pertanyaan itu selalu muncul dari si Idung Pesek-ku saat ia menyadari bahwa masa cuti mudik si kampret ini hanya tinggal 1... »
Luigi PRALANGGA , 2 days ago

Indobatt Smart Car: Children's favourite way to learn and have fun
It has been ultimate commitment for Indobatt to always assisting the community to benefit the most from the existence of UNIFIL in the Area Of Responsibility (AOR). One of the... »
Ro'is Nahrudin , 2 days ago

Kinshasa, Aku Datang!
Sang pramugari berusaha menenangkan dan membawa barang mereka ke bagasi lain yang masih kosong. Namun sang istri ngotot ingin barang – barang itu tak jauh – jauh dari mereka. Lelaki kulit putih yang kulihat di ruang tunggu duduk di sampingku. Akhirnya setelah hampir satu jam mengatur para penumpang beserta barang bawaannya, pesawat pun lepas landas. Jangan berharap bisa tidur selama perjalanan. Aroma tak jelas sudah bukan masalah besar lagi. Perjalanan dari Bangkok menuju Nairobi membuat hidungku terbiasa dengan bau khas ini. Suara penumpang tak ada hentinya. Suami istri yang tadinya meributkan bagasi yang penuh kini tengah berdebat, entah memperdebatkan apa. Sang suami sibuk dengan kalkulator super gedenya sementara sang istri tak ada hentinya menjerit, meneriakkan instruksi kepada sang suami.
Nurul Fitri Lubis , 3 days ago

 

Recent Comments

Victor George commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Dobuol Sudan Nyuon commented on Malakal family
a few seconds ago


Arny commented on Budaya orang Congo berfotoria
a few seconds ago


Surya commented on Senjata ampuh bikin bujur melepuh
a few seconds ago


jarwadi commented on Senjata ampuh bikin bujur melepuh
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com