Tersirat dari judul mungkin pikiran pembaca ada sesuatu atau seseorang yang tersesat, tetapi disini yang akan saya ceritakan adalah seorang Perwira Menengah TNI AU dengan korps PASUKAN KHAS (Baret Jingga) dengan gagah berani merambah melaksanakan perintah dari sang team leadernya untuk berangkat dan hidup selama 4 hari ditengah hutan bersama sekitar 4000 lebih tentara pemberontak.
Mereka disebut pemberontak oleh pemerintah Negara SUDAN, (dimana sang Jingga ini bertugas dan bergabung dengan UNMIS – misi pemulihan perdamaian di Sudan) dan PBB, dalam hal ini UNMIS menganggap kelompok yang menamakan diri sebagai Sudan People’s Liberation Army ini selalu membuat masalah…(Kalo saya certain, panjang dan lama sejarahnya…mending baca si lakon …sang Jingga, allright, beibeh?)
Awal cerita, sang Jingga yang telah menjalani misinya di UNMIS tepatnya pada Teamsite Melut selama 6 bulan dari 1 tahun yang direncanakan. Saat sedang melaksanakan kegiatan rutin sebagai UN Military Observer dengan patroli jarak pendek, sesuai jadwal yang sudah ditetapkan dimana salah satu jadwal hari tersebut adalah patrol udara ke wilayah Quffah.
Quffah adalah dikenal sebagai kantong atau pemukiman pemberontak (SPLA Proper) yang menurut cerita dari para UNMOs yang pernah merambah kesana sangat kekurangan air, makanan dan transportasi serta menurut pendaratan patroli udara sebelumnya, si LZ (Landing Zone) dinyatakan unsafe/tidak aman oleh QUFFAH Commander dikarenakan banyaknya lokasi ranjau darat yang belum dapat ditentukan lokasi persisnya. …*nah loh!!!*
Sebenarnya perintah air patrol ini tidak ditujukan ke sang JINGGA, teamsite leader telah menunjuk 4 UNMOs lainnya, dimana salah satunya adalah perwira Jerman yang sosok penampilannya tinggi besar, tegap en….katakan aktif serta jago-lah perihal urusan teknologi terutama program computer.
Nah, mungkin setelah mendengar berita dari teman UNMOs yang lain, si Jerman ini merajuklah supaya minta diganti dengan alasan sakit. Sang Leader merasa bingung karena persyaratan administrasi telah dikirim ke pusat dan waktu pemberangkatan tinggal menunggu jam, bukan hari.
Akhirnya dengan merajuk seperti belalang sembah, sang Leader meminta menggantikannya dan sang Jinggapun dengan sigap mengiyakan (hajar bae, boss..) padahal belum prepare anything. So, dengan waktu yang ada, sang Jingga bergabung dengan tim dan berangkat menuju QUFFAH dengan menggunakan pesawat UN Helikopter Mi-17 berbendera Ukraina dengan membawa perbekalan air, makanan dan alat komunikasi yang dibutuhkan selama 4 hari.

Lima puluh menit adalah waktu perjalanan udara dari Teasmsite Melut menuju Quffah dan sesampainya disana, sang Jingga disambut suhu yang kurang lebih 45 derajat dan tandusnya lingkungan sekitar serta dijabat oleh sang Komandan Divisi setempat.

Adapun tugas utama yang dipegang teguh sang Jingga disini semata-mata adalah menghitung jumlah personil, senjata – baik ringan maupun berat dan biasalah… Monitoring and Verification also intelegence-sense yang harus dicurahkan ke kertas putih nantinya.
Pada hari pertama ini, hambatan datang dari birokrasi tingkat tinggi namun tidak sampai ke tingkat bawah. Hal ini mengakibatkan sang Jingga pun tidak dapat berbuat apa-apa.. “…just wait until the next day“ (tentunya setelah berdebat dan hasil komunikasi dengan pusat). Tuan rumah (Batalyon Commander) pun hanya menyediakan tukuk (rumah jerami) sebagai akomodasi tapi mereka tidak bisa menyediakan air, makanan dan listrik… soalnya asli masih IDT (Identifikasi Daerah Tertinggal).

Sang Jingga bermalam menginap hanya berbekal cahaya lilin yang dibawa dan mulai mempraktekkan lagi survival lesson seperti membuat air panas dengan kayu bakar, dll… yeah..just face it, guys even for 4 days…

Di hari kedua, sang Jingga mulai beraksi melaksanakan tugas mulia ini dengan mendatangi SPLA Proper yang sudah dikumpulkan di lapangan yang tidak rata dengan masing-masing menyandang senjata seperti AK-47 bahkan ada yang RPG



(Catatan: Cara berbarisnya mereka sama-sekali ngga rapih ….maklum belum diajarkan Peraturan baris-berbaris, malah banyak yang pake sendal tapi yang membuatnya ngeri…sebagian besar diantara mereka adalah CHILD SOLDIERS…gimana neh menteri pemuda dan olahraga??? Atau Kak SETO belum survey yah?).

Setelah memakan waktu kurang lebih 1 jam, sang Jingga menyelesaikan tugasnya meski dibawah teriakan-teriakan kecil diantara kerumunan tentara tersebut yang mungkin intinya mereka tidak senang dengan kehadiran UN, muncul tugas baru dengan jenis sama tapi beda tempat yaitu ke Yaftah.
Yatfah adalah suatu tempat yang jaraknya sekitar 4 km dari Quffah. Perlu diketahui ternyata Yaftah adalah HQnya divisi SPLA Proper. Jadi sang Jingga mengatur rencana waktu dan pembagian tugas serta tak lupa merencanakan penghematan terhadap air dan bekal makanan (karena kalo ga disiplin, tentunya bisa berabe boss!).
Rencana inipiun tentunya diatur dengan koordinasi tuan rumah agar sang Jingga didukung transportasi dan dicocokkan dengan situasi kondisi yang ada di lapangan.
Memang rencana tidak selamanya bisa berjalan lancar, karena panjangnya birokrasi mengakibatkan sang Jingga harus selalu berhubungan dengan pusat (Pake satellite phone dong…cell phone ga ono signal mass…).
Tuan rumah tidak berkenan dengan sang Jingga melaksanakan tugas tambahan dengan harus menghitung jumlah armada tank, artileri dan senjata berat yang mereka miliki. Hal ini dikarena tidak sesuai dengan butir-butir perundingan yang telah disepakati sebelumnya.
Setelah bergelut dengan perbincangan alot antara sang Jingga dengan Komandan on the ground, akhirnya datanglah salah satu anggota eksekutif perundingan dari sektor sebelah _ membantu menjelaskan bahwa dia telah dan sedang berusaha membantu _Joint military Team (JMT) yang digawangi sang Jingga dengan selalu berkomunikasi dengan atasan masing-masing.
Bantuan ini membuahkan hasil dengan diijinkannya tim sang Jingga melaksanakan tugas tambahan tersebut yang direncakan 3 hari berturut-turut karena sebagian dari tentara yang ada selalu bergerak bergantian dengan tugas mencari persediaan air dan makanan dari tempat yang diperkirakan tidak dekat dari markas mereka. Jadi setiap hari tim sang Jingga menghitung tentara yang hadir dan tidak akan menghitung tentara yang sudah di verifikasi.
Pada hari kedua dan ketiga tanpa kesulitan sang Jingga melaksanakan tugas karena komandan on the ground mau tidak mau harus mendukung dan mengakomodasi kegiatan ini meski pernah satu waktu pernah terjadi mereka tidak bisa mendukung transportasi sehingga harus berjalan kaki sepanjang 5 km dibawah terik matahari yang pada waktu intu sekitar 50 derajat dan tidak berbekal air minum. Yup…let’s rock n roll!!!HURRRAAA!!!!!.

Tahukah anda bahwa suhu di tempat tersebut ternyata berbanding terbalik antara siang dan malam (bisa sampai 5 derajat, boss!), fortunately sang Jingga membawa sleeping bag kebanggaan dengan warna loreng TNI sehingga tidak mengigil kedinginan sampai pagi sementara kalo siang cukup dengan “hammock“ (tempat tidur gantung).

On the third day… siang hari – sang Jingga mendapat kabar bagus yaitu mendapat undangan makan siang dari sang Jendral lapangan di suatu tempat yang harus melintasi perbatasan. Tentunya atas ijin dari pusat, undangan tersebut dapat dipenuhi. Alhamdulilah memang rejeki tak kan lari, selain mendapat dukungan dan admirasi atas tugas yang telah diemban, sang Jingga mendapat bantuan dukungan bekal makanan dan air dari sang Jendral tersebut.

Hari terakhir merupakan hari yang ditunggu-tunggu, meski sang Jingga harus bangun lebih pagi dan tidak lupa memasak air untuk sarapan Energen dan biskuit, semangatpun tak pernah reda karena masih harus melakukan verifikasi terhadap lebih dari 3000 personil pasukan pemberontak yang diberitakan baru melintas perbatasan dengan peralatan beratnya. Setelah tugas dibagi rata, sang Jingga dan tim mulai beraksi dengan sigap dan cepat serta teliti karena personil tentara SPLA proper yang baru datang ini terlihat lelah dan you know exactly…dengan wajah mereka yang terlihat lapar siap menerkam kita.
Dari hasil verifikasi ini, sebagian adalah masih dibawah umur (child soldiers-red), akan tetapi dari pemantauan, sungguh sangat naif bila tidak melihat tentara wanita. Setelah dikonfirmasi bahwa hampir seluruh tentara wanita tidak bisa bergabung lagi karena mungkin kembali ke keluarganya dan tidak ikut bergabung melakukan“ exodus“.
Empat jam yang diperkirakan ternyata bisa lebih diefektifkan oleh tim sang Jingga dengan hanya 2,5 jam pelaksanaan karena tim Jingga ini tergabung didalamnya UNMOs yang giat dan brillian. Dan, sang Jingga memutuskan kembali ke Quffah untuk preparation for back to camp.
Satu setengah jam sang Jingga menanti pilot UN heli dan berharap si sang pilot tidak sasab (Got Lost) karena dikhawatirkan tidak tahu koordinat sang Jingga berada makan berakibat episode survival tahap kedua nih!. Dari utara nampak satu titik yang diiringi suara gemuruh mesin heli UN yang dinanti dan sang Jingga berucap syukur yang tiada hentinya pada-Nya.

Sang Jingga dan segenap anggota tim – selaku tamu mengucap “syukron” terhadap tuan rumah dan meninggalkan bekas jejak yang baik karena hubungan dan koordinasi yang baik membawa kesuksesan yang tak ternilai harganya walau harus berkorban yang tak tersebut didalamnya.
Selama 50 menit perjalanan udara, sang Jingga mendarat di Melut Teamsite, the paradise place for UNMOs. Ucapan syukur dalam hati disambut dengan senyum rekan UNMOs lainnya bak layaknya baru pulang naik Haji atau perang.
Yup…guys, that’s the end of a little bit of Jingga was in the middle of no where.
Dari perjalanan tugas ini, Sang Jingga hanya memanjatkan doa: “Lord, I’m doing………the best I can ………to be a BETTER MAN”
PS: Some images displayed for illustration purposes and are/bear sole copyright of the respective owner (AP/Reuters and AFP Photos).


Wah Emang si Jingga yang satu ini tiada duanya ya Mas Nana jangan asik di team site aja dong maen ke KRT ya di tunggu loh ama Mas UPIKU dan Mas Sukron selamat bertugas
baret jingga sedang berduka nih, saya ucapin belasungkawa yang sebesarnya atas kecelakaan yang menimpa korps TNI AU di Lanud Atangan Sanjaya.
Semoga arwah para korban diterima di sisi Allah SWT , dan untuk keluarga yang ditinggalkan, tabah dalam menghadapi cobaan. Amin
Wah, nampaknya ujian yang pernah diajarkan saat pendidikan dasar dulu bener2 dicoba di lapangan di Sudan yah.. didoaekun lancar dalam penugasan berikutnya sampai purna tugas, ya Mas Nana..!
Baret Jingga bikin Bangga!
Nuhun pisan dah dionlinekan tulisan daku, boss
Gapap foto sy kl krg lengkap, pelan2 sy penuhi.
Sekarang sy lg Long range patrol dr 6-9 april ke Arrank yg jaraknya sktr 200 km dr TS MELUT, jd patrol leader lagi.
Ya sama2 doain ya boss
Wassalam
Major Nana Setiawan
Teamsite Melut/UNMIS – Sudan
ini baru dari perih jadi peurah. Tapi kepuasan batin telah menyelesaikan tugaskan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata komo pas hari terakhir ningali pasawat apanan bungah kacida. Iraha mulang ka Karawang?