Prakata …..
Kutorehkan kisah ini secara ringkas atas permintaan seorang sohib tentang perjalanan hidup ku, semoga para insani/community Indonesian Peacekeepers berkenan menikmatinya, sungguh Aku tak bermaksud riya (baca: pamer) atau gagah-gagahan dengan menceritakan pengalaman ini, paling tidak jika anakku membaca artikel ini mereka akan memahami bahwa apa yang mereka dapatkan saat ini adalah hasil sebuah proses yang panjang dan berliku.
Disinilah aku dilahirkan disebuah desa dari sebuah kecamatan diranah minang, tepatnya disebuah kampung “Kumango” Batu Sangkar – Sumatera Barat. Perjalanan hidupku tidaklah istimewa biasa biasa saja sebagaimana layaknya anak perantau putra minang yang bagi keluarganya jika sudah berani meninggalkan Rumah Gadang dianggap sebagai anak hilang hingga disuatu saat kembali dengan membawa sukses dari ranah urang.
Dan sejalan dengan waktu aku kemudian terdampar di kota Medan melanjutkan sekolah di SMP & SMA Muhammadiyah yang kemudian bermuara sampai ke strata 1 University…ketika itu seperti memang sebuah tradisi kalau orang minang harus belajar di sekolah Muhammadiyah, dan mayoritas orang Minang umumnya pada masa itu menghanut paham kemuhammadiyahan tersebut.
Yang menarik dalam kisah hidupku adalah pahit getirnya gelombang hidup yang kulalui sejak SD s/d SMA aku harus hidup mengembara dari satu sanak keluarga kesanak keluarga berikutnya, tujuanku hanya satu aku ingin disekolahkan oleh mereka, sebuah keinginan yang begitu besar selalu mengusik tidurku dengan berbagai impian, mungkin juga semua ini terobsesi dari cerita Umi-ku setiap kali meninabobokan aku kala menjelang tidur diantara kelap kelip lampu teplok berminyakan sisa osengan kelapa serut, ta’kan pernah daku lupa cerita Umi tentang suksesnya perantau minang dari mulai Bung Hatta – Buya Hamka – Sutan Syahrir – Emil Salim – Abdul Latif sampai penyanyi Elly Kasim.
Sungguh pandai Umiku bercerita semua itu padahal aku tahu sekolahnya tak pernah selesai paling juga semua itu beliau dapatkan dari membaca koran Singgalang & semua itu kulalui dengan berbagai macam dinamika kehidupan, boleh dibilang masa kecil dan remajaku kulalui tidak sebagaimana layaknya anak anak remaja lainnya.
Hidupku selalu ditunggu dengan pekerjaan seusai pulang sekolah (namanya juga menumpang hidup) dari mulai memompa air, memberi makanan ayam & itik kemudian mencuci mobil dan membersihkan halaman rumah, waktu merampas semua impian bermainku, belajar kusempatkan disemua sudut ruang dan halaman rumah. Pahit getirnya kehidupan inilah yang kemudian menjadi motivasi bagiku dalam mengambil keputusan ketika 3 bulan selesai SMA tepatnya ditahun 1980 nasib baik menghampiriku, aku diterima bekerja di sebuah Bank swasta nasional dikota Medan…sungguh bangga aku ketika itu si Buyung anak desa dari ranah minang mulai belajar memakai dasi (bodohnya aku …sampai sekarangpun tak pernah pandai aku melilitkan dasi dengan baik) pernah suatu ketika menjelang meeting dasi yang sudah kupersiapkan dikerjai teman pada malam harinya karena tak pandai melilitnya kembali jadilah aku satu satunya peserta yang tak berdasi.
Setelah 1 tahun bekerja dengan berbekal sedikit tabungan yang kumiliki aku memutuskan menikah dengan wanita pilihan idamanku yang terlahir dari sebuah keluarga yang cukup terpandang & terpelajar masih berdarah minang bangsawan dari Bukit Tinggi, ketika itu usiaku masih sangat muda 19 tahun, impianku aku ingin meraih kebahagiaan hidup sebagaimana yang kulihat selama ini, meninggalkan semua kepahitan dan perjuangan hidup yang kulalui bertahun panjang.
Dan disaat yang sama atau 3 bulan sesudah pesta perkawinanku aku mendapat kesempatan untuk belajar kejenjang Universitas, proses belajar ini kulalui dengan mulus sampai meraih kesarjanaanku sebagai Sarjana Hukum.
Gelombang hidup, obsesi dan ambisiku achirnya merubah arah cita citaku, kutinggal kan pekerjaanku di Bank swasta yang ketika itu kuanggap cukup membosankan, jiwa petualanganku lebih memilih untuk berada di lapangan ketimbang duduk seharian didalam ruangan AC yang sejuk dan nyaman dengan dasi yang terjuntai aku tak suka disana berlama lama ada nuansa kecenderungan koruptif – kolusif & nepotis menari samba dalam angka-angka fiktif.
Nasib baik masih berpihak bagiku, aku beruntung ditahun 1985 bisa bergabung dengan sebuah perusahaan Multi-National/distributor No.1 di Indonesia pada masa itu dan dalam satu kesempatan aku kemudian terpilih untuk mengikuti Management Training for Manager dan proses waktu juga yang menjadikan aku selama 15 tahun berkeliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Apakah aku puas dengan apa yang sudah kugapai mengejar semua impian masa remajaku, jawabannya selalu ingin dan ingin, sebuah naluri ketidakpuasan atau mungkin karena ter-obsesi masa lalu yang pahit, aku pun tak tau.
Dari usia 26 tahun masa perkawinanku, aku mendapatkan 3 putra yang gagah & cantik seperti kedua ibu bapanya eeehhh caileee, mereka tumbuh dan besar serta kudidik ditempat yang layak dengan penuh kasih sayang yang achirnya menjadikan mereka sebagai anak anak yang tegar – disiplin – sukses & sholeh, Putra pertama 27 tahun Sarjana Fisipol kuberi nama Laksmana Adjie Berjaya yang juga merupakan alumni SMA negeri 5 Bandung sudah bekerja dan masih bertunangan dengan seorang dokter, putra kedua seorang putri 26 tahun kuberi nama Maharani Darmawan, Sarjana Kedokteran Umum dan baru menikah pada July 2008 lalu dengan teman sejawat sesama dokter, keduanya merupakan alumni SMA Negeri 3 Bandung, putra ketiga masih ber-usia 12 tahun kelas 1 SMP kuberi nama Nabiel Muqarriem, kata angku dan datuk penghulu dikampungku dengan nama yang baik insya Allah mereka akan menjadi anak yang baik & sholeha, tapi semuanya tidak terlepas dari NIAT dihati tentunya.
Obsesi, ambisi & panggilan jiwa adventure kembali membakar adrenalin otak kananku untuk mencari sesuatu yang baru yang achirnya kuputuskan untuk bergabung dengan divisi Sales & Marketing International pada tahun 2002 lalu.
Terkenang dengan ungkapan seorang atasan _biarkan imajinasi mu berjalan dulu baru pikiran mencari jalan untuk mewujudkannya_…..berbekal pesan tersebut tekadpun kubulatkan lego jangkar kulepas mencari dermaga baru, pelabuhan baru tuk menggapai impianku lalu kucoba meng eksploitasi potensi diriku belajar menjadi pekerja asing dinegeri asing, sambil berucap Bismillah kaki ini kulangkahkan digerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan baru…Bumi Africa.
Jauh hari sebelum kepergianku & beberapa teman yang terpilih kami diwajibkan menjalani Diklat Militer di Secapa TNI Bandung selama 2 pekan sebagai persiapan dan bekal pendalaman atas Disiplin diri – Leadership dan Ketahanan mental/spirit, pelatihan ini sungguh meninggalkan sebuah kenangan indah. Selama disana aku dibawah bimbingan pelatih/mentor Letkol Hamzah sekarang beliau bertugas di MABES TNI Jakarta dan beliau tau serta surprise ketika aku informasikan keberadaanku saat ini sering bergabung dengan Duta Bangsa para TNI/Milobs UN di Kinshasa.
Jadi kalau dikemudian hari Mas Luigi melantikku sebagai Mayor Teng Jend (Mayor Tetangga Jenderal) aku kira memang pantas juga mengingat aku sendiri adalah alumni Bumi Secapa TNI Bandung eeehhh x x bercanda mas…(segera kirim Mas sertifikatnya).
Kini ….. aku disini Kinshasa – Ibukota D.R. Congo – AFRICA disebuah benua yang begitu jauh, yang dulu hanya kuketahui dari sebuah peta buta, tak pernah terlintas dalam anganku bahkan bermimpipun takut aku rasanya. Tanpa terasa 5 tahun telah kulalui berkeliling Africa mencari nafkah halal…laksana merajut harmoni zaman kata sang penyair Taufik Ismail. Kutanamkan dalam diriku bahwa pekerjaanku adalah dedikasi hidupku hari ini untuk esok dan esok untuk sebuah masa depan yang lebih baik lagi, bagiku & demi kemaslahatan keluargaku dan kurajut pinta tiada putus kepada Allah agar aku selalu terlindungi & senantiasa bermandikan dengan rahmat dan hidayah-Nya.
Dengan pertimbangan yang matang keluarga tak kubawa serta, menurutku bagaimanapun mereka akan merasa lebih nyaman berada di negeriku-tanah-tirku-tanah-tumpah darahku…Indonesia.
Kali pertama menginjak Bumi Africa betapa aku rasakan … rindu Lampung halaman, kesepian rasa gamang & gundah gulana serta kerinduan akan keluarga, suasana rumah yang nyaman, tertib – teratur dan merdunya canda anak-anak kami.
Dulu sering sekali ketika petang merangkak keperaduan malam gemuruhnya hati ini seperti takut & gemetar berhadapan dengan sang dewi malam selalu ada sepi disana, sebuah kesepian didalam bilik apartment 4X5 mtr persegí yang menjadi saksi bisu selama bertahun panjang. Seringkali aku terpikir seandainya esok tak pernah datang dan bagaimana jika Allah tak berkenan membuka mata ini setelah sepanjang malam terlelap dan ajal menjeputku dibilik apartment tak seorangpun tetangga asing akan peduli terkecuali ketika bau busuk dari badan sebatang mulai menyengat hidung mereka, ngeri aku membayangkan hal itu.
Setiap kali bangun tidur di pagi hari & membuka mata selalu ter-ucap kalimat syukur bahwa Allah masih meng izinkan diri ini kembali melihat fajar, menikmati mentari dan hembusan angin África yang melintas terbang jauh dari gurun sahara atau angin laut merah menerjang ruang & waktu menyelinap digordyn jendela apartment yang katanya mulai berdiri sejak masa pemerintahan President Mobutu tahun 1970 lalu.
Kini aku tak lagi seperti itu dan gagap aku sudah bisa ber-adaptasi dan ber-evolusi baik secara phisik – pikiran & jiwa ku.
Logika tentang realita Africa sudah kujalani dan kuterima sebagai sesuatu yang biasa sebagai sebuah pilihan hidup … peradaban, kultur dan budaya Africa secara perlahan telah kupahami sebagai sesuatu yang biasa dan harus (seperti pepatah lama dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung) kini tak ada lagi sebuah keraguan, semua kujalani seperti air mengalir menembus jalan berliku terjal & bergelombang semua menjadi lazim bagiku.
Dan hal lainnya tidak lagi menjadi heboh & sensasional yang datang justru sebuah perenungan baru tentang pola kehidupan dalam kesendirian di Bumi Africa ini bagaimana sebuah Goal’s harus diciptakan, sebuah karya besar harus menjadi pujian atasan…ditempat kerjaku parameter kebehasilan adalah hasil, kompetensi & profesional yang dibayar mahal, profit & loss haruslah diperhitungkan dengan benar, berbeda lho mas dengan PNS eeehhh (yang selalu dengan slogan “kalau bisa diperlambat kenapa harus dipercepat) buatku pekerjaan adalah borongan order yang segera harus diselesaikan.
Haram bagiku jika ada pekerjaan yang tersisa hari ini. Memang tak lah bisa kita pungkiri kalau kita mengejar sesuatu pastilah ada yang tertinggal dibelakang sana atau dikorbankan bahkan menjadi korban dari sebuah ambisi dan obsesi kita.
Terpisah jauh dari keluarga memanglah bukan sesuatu yang mudah…apalagi kita terlahir dari bangsa dengan budaya timur yang senang berkumpul dan ber-silahturahmi. Tapi inilah hidup dimana kaki sudah menebar salam dan asa sudah menjadi impian yang harus digapai surut berpantang kita kebelakang…menolehpun jangan, itu kata guru silat ku ketika aku masih berada dikampung halamanku didesa Kumango Batu Sangkar.
Bukanlah tak kupikirkan kalau perpisahan dengan keluarga selalu melahirkan sebab & akibat. Ada berjuta orang yang mampu bertahan dalam kebahagiaan & keharmonisan Begitu pun ada orang yang hancur dan lebur tak terkendali karena obsesi terbalik arah menjadi bumerang bagi sebuah pencarian, uang menjadi kendali yang terkendali lagi…ironis memang dan mereka ada disekeliling kita, diantara kita…_”sukses menjeput gagal”_ keberhasilan yang terseok & terpuruk dalam fantasi pola hidup & budaya asing yang tak tersaring, mereka lebih kepada memilih bala.
Sungguh memang hidup adalah sebuah romántika yang penuh dinamika heroik dan klassik, bergolak, mendayu & merayu rayu kadang bahkan menyebar, serentak dan mengacak ngacak iman dan akidah kita.
Akankah aku mampu bertahan & sampai kapan, 5 tahun sudah mengais rezeki berburu Mr. Dollar di Bumi Afrika ini sendiri dan anehnya kesendirian ini secara perlahan sungguh sungguh kunikmati sebagai sebuah kesendirian yang menyedihkan tapi mengasyik-kan, ibarat kain perca sutra ‘indah dipandang dibuang sayang’.
Telah 5 tahun tak pernah lagi aku rasakan berkumpul di bulan Ramadhan & Berlebaran ber tarawih dan mengumandangkan takbir Illahi secara bersama sama dengan anak & istriku, kadang miris juga hati ini mengingat itu semua…..apa sesungguhnya yang aku kejar dan kucari selalu saja tak pernah cukup dan tercukupi.
Bukannya tak kedengar …….. kadang……. anak telingaku bergoyang, alis mata ku menari dan mataku semalaman tak bisa terpejam menerawang menembus langit langit kamar, samudera & benua padahal sudah 2 butir valium aku telan….. sungguh aku teringat sangat dengan anak istriku aku rindu mereka ada disampingku, hatiku belumlah membatu dan jiwa serta kasih sayangku masih ada disanubariku melekat erat terpilin tali kasih sisa potongan talipusar anak ku….. sungguh tak bisa ku hilangkan rasa yang luar biasa itu…..aku seperti mencium wanginya gulai asam padeh masakan istriku, mendengar dengkur sikecil anak ku, sembari memeluknya sering kudengar denyut jantung dan gemerisik aliran darah mereka darahku dan kadang terkenang dengan suasana keheningan malam didesaku atau suara burung yang berisik lagi bercinta diatap rumahku yang berdaun nipah berdindingkan tepas bambu dan indahnya pantulan rembulan yang jatuh tenggelam disumur gubuk kami menerjang cermin kaca kuno yang terlihat retak 1000 peninggalan sisa zaman Kompeni disudut jendela terali bambu.
Sungguh….. aku rindu dengan keluargaku Aku ingin pulang kampung seperti dulu menghirup aroma desa tanah kelahiranku, duduk santai sambil meniup musik saluang diatas kerbau etek Ana janda kaya pemilik sawah yang disewa ayahku yang kata Umi ku hampir saja menjadi ibu tiriku…..sikecil anakku pernah bilang: “pulanglah Buya dan bíarlah kita miskin seperti dulu, mandikan awak bersama dengan Umi … awak ingin selalu dekat Buya ada dirumah gubuk kita, pulanglah Buya walaupun hidup kita ber-alaskan sehelai tikar yang usang dan makan diatas piring daun jati, minum bergelaskan cangkang batok kelapa gading, kalaulah memang sudah begitu kehendak Illahi, kami bahagia dan mensyukurinya kata istriku menimpali pula…”
Demikianlah sohib kisah ini kupaparkan sesuai permintaanmu sesederhana mampunya aku menulis, semoga artikel ini enak dilahap mata & dicerna hatimu.
Begitu indahnya masa yang hilang sampai sang penyair bertutur sapa “kalaulah bisa kembali kemasa laluku … menikmati kembali asal usulku akan kutukar dengan semua sisa hidupku” (reinkarnasi).
Salam setepak sirih sejuta pesan : Erfan Ahmad Piliang “Kinshasa DR Congo” ‘dalam dekap sajadah & sujud tafakur’ kuselesaikan artikel ini disubuh tadi. (petikan surah Al-Qadr … dan DIA mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu DIA memberimu ber-KECUKUPAN).
Terima kasih tiada bertepi buat keluarga besar TNI/Milobs di Indonesian House Kinshasa yang sudah memberi tempat, ruang dan waktu dalam keseharian bersilatuhrahmi, semoga Allah SWT jualah yang membalas semua kebaikan….amin.
Dear Mas Erfan, Rindu akan sanak-famili dan kampung halaman adalah sebuah anugerah dan sekaligus sebuah jangkar agar biduk ini tidaklah sesat terhadap iombang ambing jaman.. insyallah didoakan agar senantiasa bisa sabar dalam bertugas jauh dari keluarga/kampung.. dan segera bisa berkumpul kembali.
mas irfan selamat bertugas dan semoga Allah selalu bersama Hamba2Nya yang sedang menelusuri perjalanan ini hingga akhirnya kita harus kembali ke padaNya semoga bisa segera berkumpul cepat dengan Keluarga di kampung
selamat bertugas pak, semoga berkah.
PS : Anak Padang memang pandai bersastra :), tulisannya bagus sekali
Berkorban dan berjuang memang perbuatan yg sungguh mulia…semoga yg diperantauan cepat pulang dan bertemu kembali dengan istri, anak dan saudara tercinta……
Sukses pak erfan adalah cermin yang luar biasa dari anak perantau,smg sukses sll.Oni
Baru kutau Pan dibalik yg kulihat selama aku mengenalmu,aku salut punya karib sepertimu…salam Nafie
Hanya Tuhanlah yang tau betapa tabah dan kuatnya Mas Erfan dalam mengejar berbagai impiannya.Tidak semua anak desa sesukses bapak.semoga segera berkumpul dengan sanak keluarga. Tabik
Luar Biasaaaaaaa Sutan,perjuangan ini memang tdk akan pernah berhenti,dan sebaiknya jgn pulang kampung dulu,saat berburu dolar masih belum usai.Bawa saja keluarga dr kampung ke Africa man. bravo Sutan.
Waduh bang,mantap kali tulisan riwayat hidup ini,bawalah kakak ke Afrika kalau mmg ingin berkumpul,jgn pulang dulu,medan lagi susah nich cari uang,bertahan ajalah biar bisa kupinjam uang abang eeehhh.salam rinduku Hendri
Assalam,abang salut pan dan baru tau kalau perjalanan hidupmu seperti ini,semua yang kau dapat pastilah karena RIDHO Allah SWT,tdk semua orang mendapat hidayahNYA pan,sll lah bersyukur. Sukses sll yaa adinda,adinda adalah salah satu team ku yg terbaik. salam Harun Bogor
Kami yakin anda akan mampu bertahan dalam mengemban kepercayaan management SA, kami tahu benar bahwa tidak semua orang bisa terpilih sebagaimana Tugas dan tanggung jawab yang anda pikul saat ini, selamat bertugas,sukses selalu. Renzy - Jakarta.
Perjalanan Saudara adalah cermin dan motivasi hidup bagi kami di Kantor cabang di Ethiopia, kalau saudara sudah mampu bertahan selama 6 thn dan sendiri, kami juga yakin kami yang muda pasti akan mampu juga bertahan dan mengukir sukses sebagaimana yang sudah saudara ukir. Salam sejawat dari FIE Team di Addis Ababa, Ethiopia
Membaca tulisan Bapak, telah menjadi pendorong semangat bagi kami yang terlahir dan besar dalam sebuah keluarga yang utuh, terbayang betapa beratnya waktu yang telah Bapak lalui hari demi hari, semoga dikuatkan dan diberi ketabahan dalam menjalani ibadah ini. Salam Tanah Air/Radja
Selamat Berjuang Pak Erfan,tetaplah bertahan di Africa, company masih sangat membutuhkan orang-orang seperti Pak Erfan, semoga Allah SWT senantiasa melindungi Bapak disana. Salam Hormat : Adrianto dari Addis Ababa, Ethiopia.
Good Pagi and selamat morning Africa - Artikel Pak Erfan telah menjadi motivasi dan pencerahaan hidup bagi saya. Sukses selalu pak. Agus : Pluit - Jakarta.
Uda Erfan, samo bana nasib awak yo,j auah dari keluarga tacinto. Tapi ndak baa do, semua demi keluarga.
Tetap semangat ya kakanda.
Donasion/Liberia - Afrika Barat.
Nice artikel pak Erfan,senang sekali membacanya sebuah torehan pena kisah hidup yg pantas ditiru bagi anak perantau seperti kita kita ini.Sukses selalu brother.
salam hangat wong kito Palembang…Agus and fam di Vietnam
Pagi Pak Erfan,ber ulang X saya membaca tulisan ini,sebuah pengalaman yg hampir sama dgn perjalanan hidup saya,semoga selalu dalam lindungan dan kasih Tuhan.
Jhosepine …Hochimin Vietnam
Puji Tuhan Bung…membaca tulisan sampeyan saya jd terkenang dengan sampeyan selama di Madagascar,smg sll kuat dlm mengharungi kehidupan ini,selamat menuai sukses selalu.
Ronald – KBRI Antananarivo Madagascar
Apa kabar rekkkkkkkk,wah jd happy nich membaca cerita pengalaman hidup pak Erfan,sukses deh…ya kita doakan semoga bisa cepat berkumpul sama juragan Dapur alias istri juragan hehehe…
salam dari Lagos Nigeria
ass pak.. pak erfan setelah pertemuan pertama di kinshasa ternyata pak erfan jadi penulis setia di sini ya..selamat berkreatifitas mudah2an kita bisa ketemu di bulan mei di indo house pak
wass wr wb
Senang sekali membaca artikel ini,sebuah cermin dari kesuksesan anak perantau urang Padang yg pantas diteladani,sukses sll Pak Erfan.
salam dari Lhokseumawe-Syaira
Hidup memang tak semudah yang terlihat,sering orang tdk tau dibalik sukses seseorang betapa banyaknya pengalaman pahit yg sdh dilewati,selamat menikmati apa yg sdh tercapai saat ini pak Erfan,smg satu hari yg baik nanti kita msh bertemu.
salam hangat…Azis dan kel,Sibolga
Membaca kisah hidup ini saya seperti kembali kemasa lalu Pak erfan,asyikk buat jd contoh tauladan bagi generasi anak desa yg ingin merantau agar tdk patah arang dlm menembus badai kehidupan,salam sukses dr Lampung-Erman Paris
Assalam Pak Erfan,sukses deh buat Bapak,smg semakin sukses terus yaa dan sll dlm lindungan Allah SWT,amin.
Wassalam – Juliardi Deplu Jkt.