Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Senjata ampuh bikin bujur melepuh

10 March 2010, 21:35 , by Luigi Pralangga

 

Ayah nanti mau dibekelein apa balik ke Liberia ini?. Pertanyaan itu selalu muncul dari si Idung Pesek-ku saat ia menyadari bahwa masa cuti mudik si kampret ini hanya tinggal 1 minggu lagi. Ya, sudah menjadi alarm rutin baginya untuk membantu persiapan perbekalan, sortir baju-baju termasuk quality control akan lembar/helai kolor si kampret ini akan mana yang masih patut dibawa kembali ke Liberia dan apa saja yang harus sudah harus dipensiunkan. . Bekal ini tidak berhenti sampai beberapa pasang kolor segar (baca: Baru) saja, namun juga termasuk itu logistik dapur, bahan camilan, sampai pada beberapa macam masakan jadi yang dibungkus sedemikian rupa. Semisal agar paket balado teri kacang atau balado jengkol itu tidak bocor/rusak hingga mencemari baju-baju didalam koper.

Logistics Support

Ya, bekal masakan khas ibu mertua, yaitu Balado Teri Kacang, Urak-arik Tempe, lalu bekal masakan Gulai Rendang khas Warung Ibu Anung yaitu ibunda dari sahabat Alif di sekolahnya, lalu tidak ketinggalan lagi masakan Balado Jengkol khas buatan Namboru Dewi Nita Siahaan, paling tidak salah satu atau beberapa dari macam masakan diatas selalu ada tersedia dan dibawa ke daerah misi. Sebagai cara jitu mengatasi rindu kampung, kebosanan citarasa saat lidah ini sudah mulai menyadari bahwa masakan yangtersedia di kafetaria UNMIL Headquarters itu mulai berasa persis makanan ternak, nah persediaan cadangan strategis (Balado Teri Kacang dan kawan-kawan lainnya) barulah mereka unjuk gigi diatas meja makan, keluar dari persembunyian di ruang freezer.

Pada saat peluncuran perdana grup masakan nusantara ini, biasanya sahabat-sahabat seperjuangan sudah menanti untuk santap bersama, disaat si kampret ini tiba di daerah misi. Wajarlah, mereka pun rindu kampung yang sangat, paling tidak dengan mencicipi si Gulai atau Balado jengkol asli buatan kampung halaman, setidaknya lebih dari 10% rasa rindu kampung ini terobati.

Staff Dinner

Balado jengkol namboru itu sama sekali tidak terasa bau khas nyaring jengkol-nya!. Si kampret ini pun sampai merem-melek menikmatinya. Beneran, sumpah!. Urusan wese hangseur (Baca: Bau Pesing) akibat dampak si balado jengkol ini adalah urusan belakangan.

Untuk masakan yang tahan tanpa harus masuk freezer, biasanya disimpanlah pada lemari dapur, dimana si kampret ini berbagi fasilitas dapur ini dengan staff PBB lainnya yang serumah. Kita sebut saja namanya: Radomir Sontoloyev, asli dari Minsk, Belarusia – dia adalah staff yang kebetulan tinggal bersama selaama 1 bulan, dirkirim dari kantornya Pusat Logistik PBB di Entebbe, Uganda untuk sebuah training di Liberia. Mas Sontoloyev ini ramah sekali, mampu untuk bisa akrab dengan banyak kolega antar-bangsa dan menghargai keberagaman budaya, sampai kepada rasa ingin tahu akan ragam citarasa kuliner teman-temannya. Singkatnya, semua makanan dicobanya.

Kita memang jarang bertemu selama dia berada 1 bulan di rumah kita, sebab dia pulang cukup malam dan si kampret ini sudah mendekam didalam kamar lewat jam 10, hanya terdengar saja suara aktivitas malam persis – tikus dapur. Dalam hati, ah biarlah, masakan khas kampung halaman itu tersimpan di lemari dapur dan didalam kulkas biarkansaja dicobanya. Selain memang Mas Sontoloyo ini tidak pandai memasak, namun dari beberapa kali sesi makan malam bersama dirumah, ia pandai sekali memberi pujian, apalagi pada makanan yang memang asing baginya, tapi tetap saja dia lahap menyantapnya tiada cape.

Seiring waktu berjalan, 3 minggu sudah berlalu cepat dan waktu penghujung masa training si Mas Sontoloyev ini pun berakhir, dimana besok pagi-nya ia harus terbang kembali ke duty station asalnya di Entebbe, Uganda. Maka, diundanglah kita serumah makan malam diluar, di sebuah restoran. Percakapan seru pun melintas dari satu ke berikutnya dan diakhir acara itu, sambil saya mengucapkan terima kasih atas jamuan makan malam tersebut, dia berucap mendekati bahu si kampret ini dan sedikit berbisik:

You people have the strongest stomach ever…!

Lalu saya tanya kembali dengan sedikit heran, karena pertanyaan itu tidak ada dalam obrolan santai barusan. Why?

I did not know exactly what the stuffs you have on that container jar, that little red-thing mixed with some peanuts altogether sweet and spicy like hell..

Balado Teri Kacang Close-up

Don’t get me wrong.. I like it.. BUT, I could not stand the fact that the next morning, especially at the office, I had to go back and forth to the toilet..
and I swear to God, it burns my bums…

Dia nggak berenti nyerocos sambil bisik-bisik kalau dia sampai harus minum tablet semacam stopcret begitulah untuk meredakan gejolak beteung (Baca: Perut), namun yang membuat si kampret ini tersenyum saat mendengarkannya berbisik, dia berkata: I love the food, please spare me some so I can take it with me.. (Wah, doyan dia!).

Saat itulah saya faham, bahwa si tikus dapur tengah malam itu adalah benar si Mang Sontoloyev satu ini, jelaslah sudah bahwa si Balado Teri Kacang itu menjadi cepat sekali surut isinya.

Hahahahhahahahahaaa! – maka meledaklah tawa kita berdua. Sementara teman-teman lainnya hanya keheranan melihat kita berdua tertawa seru.

Ternyata memang Balado Teri Kacang itu adalah senjata ampuh bikin bujur melepuh.

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

10  Comments

by Nina at 10 March 2010, 21:50

balado jengkol??!!?? Woowww!! mantraaff!! hihihi.. haruuuumm, hmmm.. .

by YudhaPH at 10 March 2010, 23:30

Balado teri kacang memang top-markotov!
Untung Sontoloyev itu ga punya penyakit wasir/ambeien.

Bagaimana dengan rendang ala monrovia nya? sudah bosan?

by Nurul Fitri Lubis at 11 March 2010, 04:12

Mas Luigi… Cabe merah di Congo juga bisa bikin melepuh Mas… Kaya orang2 Medan pada umumnya, yang suka bgt dengan makanan pedas, suka kalap kalo liat sambel..Baru deh abis makan sambel pada nyesel karena harus antri kamar mandi.. he he he…

by Uncu Syahrial at 11 March 2010, 05:51

sambal lado teri kacang bikin persahabatan tambah lengket… wah gulai jengkol tanpa “efek samping” ? apa tuh resepnya..jadi rindu sama rendang jengkol amak ku!!!

by harto at 11 March 2010, 09:49

Wahhh…top markotop euyyy.. Jengkol nepikeun ka Liberia..uhuy! cobain jangkrik goreng mentega buatan kongo kang…kriuk…kriuk kayak udang.Anyway busway..met tugas Kang. Sehat dan selamat lahir batin, SUKSES

by Tommy Aria at 11 March 2010, 15:09

Hahahaha…biar tau rasa tuh sontoloyev….Besok2 dibawakan rujak cingur. Supaya bisa ngerasain cingur sapi.

by jarwadi at 12 March 2010, 18:51

meski sangat suka makanan pedas, bulan bulan ini saya harus mengurangi dosis nya

masakan aseli indonesia, te o pe deeeh

by Surya at 12 March 2010, 18:58

Ha…ha….dasar gelo….!
Si Sontoloyev gelo, nu tukang cerita lebih gelo lagi.

by Didut at 14 March 2010, 08:53

wahahahhaha~ gak tahan liat isi packing kopernya …pasti baju gak ada yg kebawa tuh di koper LOL

by Deded Wardi at 1 April 2010, 12:36

Kang, ada lagi yg lebih paten yaitu keripik jengky, nantilah kalo kang Lui balik indonesia lagi akan saya import langsung dari Padang… itu top kang di tambah balado merah nya… :)
dan juga Rendang Paru kesukaan Agus Mewal… you have to try it…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Reinhard HUTAGAOL Reinhard Hutagaol currently serving as AKBP/Leut. Col (Police Commision) at Indonesian National Police (INP). Having equipped with extensive exposure during his previous international assignment in Bosnia-Herzegovina in 1997 – 1998. Reinhard has already deployed to Sudan for assignment to...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago