Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Selayang pandang: D. R. Congo - High risk, but high gain

27 August 2008, 17:55 , by Erfan Ahmad Piliang

 

Sejak manusia terlahir … tumbuh & berkembang sebagai sosok hidup dan terpelajar maka dunia pun semakin berkembang seiring manusiapun semakin terlatih mengenal tentang peradaban.

Di negara yang maju dan mapan dengan peradabannya dimana banyak hal sudah tertata dalam kerangka/system konstitusi dan rakyatnyapun sudah cukup faham, dengan tatanan dan budaya negara/bangsa mereka. Kewajiban mereka hanyalah menjaga agar nama baik negara seantiasa dijunjung & dipelihara dimana itu adalah martabat sebuah bangsa yang memiliki peradaban dan ber-budaya.

Dalam perjalanan 5 tahun berkeliling benua Afrika (khususnya pada regional Africa yang semi-berkembang), saya melihat banyak fenomena, kalaupun boleh disebut sebuah fenomena. Betapa Africa yang sesungguhnya kaya dengan berbagai hasil buminya (Oval Stone-Diamond-Gold-OIL-Uranium) yang sesungguhnya jika dikelola dengan BAIK & BENAR akan menjadi modal besar untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa-bangsa di benua Africa ini menuju sebuah peradaban yang maju… tetapi kondisi ini, entah mengapa sampai saat ini belum menjadi buah pikir mereka secara universal kebangsaan.

Karena bangsa-bangsa di benua ini terdiri dari berbagai suku, pengaruh kesukuan/etnis ini juga berperan dalam mewarnai kehidupan berpolitiknya. Terkadang, mereka hanya memiliki sepenggal cinta antar sesama suku dan tidak jarang rasa kasih itu tersisa untuk mereka dari suku yang berbeda. persaingan antar individu dari sesama suku yang bertahta selalu menjadi kecemburuan sosial sekaligus menjadi pemicu perseteruan, dan acapkali genderang PERANG selalu menjadi puncak revolusi pembasmian sesama ras/suku kulit hitam tersebut.

Sesungguhnya mereka terjajah oleh bangsanya sendiri. (Masih segar dalam ingatan kita kejadian pembantaian di Rwanda – Ethiopia & Eriteria, Somalia, Angola, D.R.Congo, Kenya dan Zimbabwe ).

Andaikan saja kalau mereka mau bersatu dan belajar dari negara maju yang sudah memiliki peradaban, nisacaya mereka bisa sadar atas upaya buruk/invasi dari negara pengadu domba terhadap sesama suku mereka selama ini. Nah, jika saja mereka memiliki pemahaman tentang konsep peradaban ini, sederhana saja – akan tercipta Africa yang aman & damai dimana sesama beragam suku hidup berdampingan, paling tidak cinta dan tenggang rasa antar sesama bisa mewarnai kehidupan berpolitik mereka, begitu pula dengan hubungan antar suku-suku lainnya.

Tidak sedikit, bahkan ada berjuta orang pandai dan bodoh, yang mengatur dan mengeksekusi kehidupan di setiap negara dan selalu saja diantara mereka kemudian menjadi algojo bagi bangsanya (bahkan tidak terlepas di-negeri kita sendiri Indonesia) pun demikian. Lihatlah semuanya dari balik jendela langit diatas sana selalu ada malapetaka di-bumi persada bukan hanya para penguasa dan para elite-politik… ulama-pun ada saja selalu berseteru.

Berkeliling di Africa kadang terselip rasa iri juga betapa mahir mereka mempergunakan bahasa penjajah mereka sebagai second language sementara kita yang dijajah Belanda selama 3,5 abad dan Jepang 3,5 thn tidak meninggalkan sisa bahasa mereka sama sekali. Mungkin saya salah kalau menyesali diri mengapa bangsa Indonesia sangat sedikit yang mampu berbahasa asing, walaupun saya sadari bahwa bahasa kesatuan Indonesia sangatlah baik sudah mempersatukan kita dari Sabang sampai Merauke dan “Bhinneka Tunggal Ika “ yang sekaligus menjadikan kita sebagai bangsa yang memiliki peradaban meski terdiri dari berbagai suku serupa seperti mereka di benua Africa.

Menjadi salah satu ekspatriat yang bekerja di Bumi Africa ini … sering hati saya miris dan terenyuh melihat kehidupan yang demikian miskin. Jarak antara si kaya & si miskin demikian terbentang jauh seperti 7 lapis bumi & langit barangkali. Yang kaya selalu tidak perduli terhadap sesama dan penindasan justru terjadi pada sesama bangsa sendiri, apalagi jika sang juragan atau penguasa mempekerjakan seorang dari suku yang paling rendah maka jadilah iya layaknya budak belian dimasa penjajahan tempo dulu.

Terbayang sanak-keluarga yang jauh menunggu di kampung halaman dan membayangkan seandainya saya seperti mereka, berada di tanah air . Di Jakarta walaupun miskin mereka masih dapat makan dengan mudah dengan cara meminta minta, tetapi yang terjadi di D.R. Congo jangankan berharap untuk makan 3 kali sehari, agar bisa makan sekali sehari itupun sudah luar biasa… Kebiasaan mereka hanya makan sehari pada jam 4 sore (Sepiring Sweet Potato atau olahan Tepung UBI yang direbus menjadi seperti “getuk” dikenal dengan sebutan “FUFU”, dimakan dengan lauk seadanya sebagai makanan pokok mereka)

Bagi yang memiliki kemampuan, di pagi hari cukup hanya dengan sarapan sepotong roti saja. Gambaran terburuknya; sudah miskin dan lapar, tidak sedikit dari mereka lebih memilih untuk membeli minuman keras ketimbang membeli makanan. Hal ini jelas menjadi pemicu meingkatnya angka kriminal dimana-mana, dimana hal ini mengancam keselamatan para ekspatriat (pekerja asing) yang bekerja di Ibukota D.R. Congo -Kinshasa, misalnya.

Saya punya pengalaman ketika di-stop dalam sebuah operasi pemeriksaan pada sebuah Check Point , dimana dengan ringannya pak polisi yang hawa mulutnya nyaring benar beraromakan alkohol. Dia kemudian menyeru kepada saya bahwa sudah sering melihat saya melintas hilir-mudik di kota Kinshasa. Katanya, sepantasnyalah saya ini berkewajiban memberi uang kepada dia.

Waktu itu tidaklah banyak yang ada dikantong. Tahu berapa yang saya berikan?. Sebesar 500 Francs atau US$ 1.00 = harga 1 kaleng soda. Maka ia pun kemudian berlalu tanpa banyak ba-bi-bu, melengoslah dia kemudian.

Setelah itu, banyak hal-hal unik lain yang saya dapati dari menjalani hidup di D.R. Congo. Semisal, jika ada seorang Polisi atau Tentara meninggal dunia/cacat, posisi/jabatan mereka dapat digantikan oleh istri atau anak mereka dengan catatan harus berbadan sehat/dewasa dan parahnya, itu tanpa melalui proses pendidikan institusi Polisi/Tentara yang semestinya.

Berbekal cukup dengan selembar ijazah setingkat SMP saja.

Hal ini kemudian membuat saya geleng-geleng kepala saat mengetahui besaran gaji seorang tentara & polisi berpangkat prajurit disini. Besarannya berkisar US$ 30.00/bulan dan seorang perwira dengan pangkat Kapten hanya bergaji US$ 100.00/bulan. Gaji mereka tersebut dibayar per 3 bulan sekali, sementara biaya hidup di D.R. Congo berada dalam peringkat ke-4 termahal se-Africa.

1. Peringkat ke-3 termahal Botswana dan Libya.
2. Peringkat ke-2 termahal adalah South Africa,
3. Peringkat ke-1 termahal adalah Angola

.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang dirasa membanggakan bagi saya adalah; banyaknya product Sabun Indonesia produksi PT. Sinar Antjol/B29 yang menjadi pemimpin pasar di hampir semua negara Africa yang saya kunjungi….. sungguh luar biasa.

Sayangnya jepretan dibawah ini, produknya adalah dari kompetitor. Meski demikian, tetap adalah buatan Bangsa Indonesia.

Africa memang tidak semuanya miskin, tetapi berada di Africa sepertinya seakan waktu berhenti berputar mengitari bumi. Perubahan institusi terjadi setiap saat, tentunya ini berpengaruh besar pada kehidupan rakyat.

Salah satu contoh, pada Institusi Imigrasi di D.R. Congo, hampir setiap 3 bulan sekali terjadi rotasi pergeseran pejabat. Hal ini seakan-akan seperti berbagi rezeki/power-sharing terhadap sesama anggota partai yang berkuasa & oposisi. Uniknya, jika seorang DIRJEN memberi instruksi kepada bawahan didalam jajarannya, namun berasal dari partai berbeda, belum tentu instruksi tersebut bisa jalan jika kita belum memberi ‘distribusi undertable’ secara merata.

Kebiasaan (aneh) ini memberikan dampak kontra-produktif, dimana ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh para trader, yang sudah pasti dimasukkan menjadi bagian dari jumlah modal kerja. Ini berujung pada harga jual produk yang melambung luarbiasa mahalnya.

Disadari atau tidak, pemerintah setempat selalu menutup mata terhadap jeritan kemiskinan rakyatnya.

Seperti di Mozambique – sampai saat ini, setelah perdamaian negaranya terwujud pada tahun 1992, kondisi kemiskinan masih melanda ¾ dari populasi 21 juta jiwa rakyatnya demikian juga di Zimbabwe, dimana ¼ rakyatnya masih hidup dalam kelaparan/sesuai pengakuan President Robert Mugabe menjelang pemilu kemarin…bukan main.

Terlepas dari kondisi ini, justru negara-negara Africa yang bergolak senantiasa menjadi impian bagi para Exportir negara lain (termasuk Indonesia). Berbisnis di africa gambarannya adalah: High Risk but High gain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Africa saat ini sedang mengalami masa Booming. Kebutuhan dan potensi yang paling mendesak adalah makanan mengingat 1/7 dari penduduk dunia ada di benua Africa ini dan menempati hampir seperempat daratan dipermukaan bumi. Saya terkenang dengan ucapan seorang African pada majalah Africa News yang mengatakan:

KAMI HITAM bukan karena panas tetapi karena kami bermandikan minyak & kaya dengan hasil bumi…” – Nampaknya ada benarnya juga.

Dan saat ini pengintai ulung yang luar biasa piawainya memanfaatkan situasi Africa adalah China selain India tentunya (Sesudah Amerika & Europe yang menjarah habis hasil bumi Diamond-Gold-Oil & Uranium)

Hampir disemua Afrika yang semi-berkembang, China memberi bantuan di infrastructure berupa bangunan jalan tol-airport dan telekomunikasi/CCT _ dengan kompensasi bebas/low TAX terhadap semua barang masuk China dan negotiation selalu flexible karena kemudahan Africa yang sangat rakus terhadap _undertable-deals.

Untuk fasilitas telekomunikasi di D.R. Congo, pemain industri dari China secara perlahan tapi pasti mulai menggeser keberadaan tehnologi NOKIA yang selama ini dipakai, selain Celtel/Zain dan Vodacom. Satu hal yang saya sangat salut terhadap dukungan pemerintahnya [China] kepada para pengusaha-nya adalah mereka mendirikan semacam Holding Company di setiap negara Africa dan dari pusat warehouse inilah mereka mendistribusikan produk buatan China tersebut.

Luar biasanya, kendaraan droping yang mereka pakai memakai plat CD/kedutaan China…sebuah strategy bisnis bebas berlindung dibalik Corp Diplomatic dan sering terlihat jika mereka datang dan pergi selalu mendapat prioritas untuk masuk di ruang tunggu VIP.

Di lain sisi kalangan borjouis, penguasa militer & politik membentuk sebuah Aliansi/kekuatan dari suku yang sama, mereka menguasai tambang tambang minyak & diamond dan bekerjasama dengan pengusaha Europe sebagai penyerap pangsa pasarnya, uniknya setiap tambang yang mereka kuasai dijaga oleh pasukan militer resmi negara setempat dan militer dari negara Europe.

Di D.R. Congo ini, status hukum negara untuk kekayaan atas BUMI-nya masih belum jelas sehingga selalu menimbulkan konflik dalam oposisi percaturan politik mereka dan dari kekayaan kepemilikan lahan tambang berlian inilah masing-masing Clan/oposisi mendanai kekuatan partai politik & tahta kesukuan mereka (fakta ini benar).

Dan jangan heran jika anda berkunjung keseluruh Africa begitu banyaknya para penduduk local yang dengan pongahnya mengenderai berbagai mobil mewah: Hummer – Jaguar – Mercedes – Toyota Land Cruiser – Toyota Prado – BMW dan lucunya kebiasaan pamer mereka ditengah kondisi jalan yang begitu berdebu, jendela mobil mewah tersebut dengan sengaja terbuka lebar-lebar (terkecuali mobil berplat CD) bisa anda bayangkan mobil mewah yang penuh debu & kucel banyak di Africa ini eeehhh.

Dan sejak tahun 1998 melalui kesepakatan PBB, Indonesia ikut berperan membantu mengirimkan 1 KONTINGEN GARUDA dari semua unsur kekuatan TNI/AD – AU – AL ke D.R. Congo _ dengan siklus 1 tahun masa pengabdian secara bergantian terus menerus. Saat ini di D.R. Congo ada sebanyak 175 orang Prajurit TNI dan 17 orang Perwira Mayor TNI dibawah bendera UN sebagai Military Observer atau lebih dikenal dengan sebutan MILOBS yang bertugas di Kinshasa, perbatasan negara dan propinsi yang masih tercatat sebagai kawasan _benang merah. Pasukan khusus Pengamat Militer TNI Indonesia/MILOBS ini dipimpin seorang perwira senior Let.Kol. Laut Dr. Ahmad Syam (Beliau mulai bertugas sejak 15 Mei 2008 lalu menggantikan posisi Let.Kol. Laut Dr. Siswanto Budiman yang kembali ke Indonesia).

Dan dari jalur religius, ada sebanyak 6 orang Missionary Catholic Indonesia dari congregation SVD yang berpusat di Belanda, mereka datang dari Flores/Timor, mengabdi untuk kemanusiaan yang tersebar di berbagai propinsi (2 Pastor – 2 Romo – 2 Bruder).

Secara umum di D.R. Congo hanya ada sekitar 200 orang populasi Indonesia. Kondisi yang sulit buat para WNI adalah di D.R. Congo ini tidak ada KBRI, statusnya masih dibawah KBRI di Senegal, sehingga jika terjadi sesuatu hal, yaaa pandai-pandailah kita mejaga diri sendiri atau bisa juga berlindung/bersilaturahmi di Indonesian House tempat para perwira TNI kita bermukim disebuah apartment dibalik dinding markas besar UN (MONUC) di Avenue Boulevard Kinshasa.

Kembali ke sepenggal cinta di Africa … memang sebuah fenomena yang datang dari sebuah Budaya bangsa Africa sendiri, terkenang dengan sopotong kalimat Kaya & Miskin serta Pintar & Bodoh adalah sebuah pilihan dan bukan takdir. Apapun yang terjadi di Bumi Africa pastilah sebab dan akibat dari sebuah pilihan bangsa itu sendiri.

Akankah mereka sadar untuk mau sesegera mungkin ber-ubah haluan dan belajar dari negara lainnya tentang sebuah konsep peradaban yang maju ataukah mereka ingin tetap menjadi algojo bagi bangsanya sendiri, hanya waktu & peradaban itu sendiri yang akan memberi jawaban.

Atau mungkin ketika TUHAN merasa lelah menyaksikan ummatnya yang selalu berperang dan perang lagi perang terus terus perang hanya satu sabdaNYA; akan AKU bubarkan dunia ini….. KIAMAT.

CINTA adalah sebuah anugerah walaupun hanya sepenggal dan cinta akan selalu terlahir bukan hanya di Bumi Africa tapi pasti di Bumi Tuhan terhadap semua ummat NYA. Setiap orang atau bangsa yang tidak memiliki rasa cinta terhadap sesama adalah orang yang tidak mendapatkan HIDAYAH dari NYA dan sesungguhnya mereka adalah orang yang merugi.

Rasa cinta akan memberi kita sebuah nuansa ruang & waktu terhadap kasih sayang yang tulus – pengertian dan perhatian yang tiada putus serta rasa hormat dan empati terhadap sesama walaupun kita terdiri dari berbagai BANGSABAHASABUDAYASUKU dan AGAMA….. kita adalah satu dan selalu bersatu dalam sebuah komitment akan menjadikan kita sebuah bangsa yang tidak akan terkalahkan oleh bangsa manapun.

Sebuah bangsa yang besar dengan kekuatan konstelasi peradaban yang besar pula. SEMOGA ….. sepenggal cinta akan selalu bersemayam dihati kita untuk semua,ada begitu banyak orang disekitar kita yang sering sekali kita abaikan karena begitu sibuknya kita dengan pekerjaan kita yang hanya memikirkan diri kita sendiri.

Coba sejenak bayangkan betapa pahitnya kehidupan orang Africa yang sebahagian besar masih miskin dan tertinggal dan selalu tertindas oleh PERANG antar SUKU dan kemiskinan, hanya dengan membayangkan hal tersebut maka kita akan sadar dan selalu bersyukur bahwa INDONESIA ternyata jauh lebih sejuk, indah & damai dibandingkan dengan Bumi Africa.

Salam Sejuk “Setepak sirih sejuta pesan“ dari Bumi Kinshasa – Erfan Ahmad.

Note : mohon maaf jika ada data yang salah dan kurang bekenan dengan penyajian artikel ini, mohon dimaklumi hanya sebuah artikel dari seorang Balada yang terdampar di Bumi Africa…peace!.

Erfan Ahmad Piliang Erfan Ahmad Piliang is not new comer to Africa. Currently responsible to support Indonesia’s Sinar Antjol markets existence in the Democratic Republic of Congo (DRC). Previously serving in various eastern african regions, like Angola, Eritrea – Ethiopia, Comoros Island, Madagascar...

Detail Profile »

3  Comments

by s@ikhu at 28 August 2008, 11:20

High risk buat balada yg terdampar, high gain buat Dewa…hihihihi…..anyway….dimana bumi dipijak, disitulah langit kita junjung…..so?….enjoy as it be……(dari temen serumah di Madagascar)

by Ella Lestiana at 28 August 2008, 12:05

Aku percaya dan yakin bahwa memeang terjadi pemiskinan, pembodohan dan penjajahan di negara2 kaya sumber alam
contohnya di Indoensia ini bukan ?

Sehingga bebas diserap sumber daya alamnya untuk kepentingan ….. selanjutnya tahu khan ?

Salam,
Ella

by Sangulosquaw at 4 September 2008, 05:52

Hi mas Erfan, salam kenal yah… Article tentang D.R. Congo nya keren juga, tajam & sangat informatif. Pas aku ngeliat foto yang ada produk sabun buatan bangsa kita sendiri, rasanya aneh juga…ada percikan rasa bangga =) Tentang “HIGH RISK BUT HIGH GAIN” memang ada benarnya juga niy mas. Termasuk orang Indonesia, yang salah satunya adalah rombongan boss saya yg rencananya mau berangkat pertengahan bulan October tahun ini. Tips dari mas Erfan yang ini nih, T.O.P.B.G.T. deh, berguna banget:
“di D.R. Congo ini tidak ada KBRI, statusnya masih dibawah KBRI di Senegal, sehingga jika terjadi sesuatu hal, yaaa pandai-pandailah kita mejaga diri sendiri atau bisa juga berlindung/bersilaturahmi di Indonesian House tempat para perwira TNI kita bermukim disebuah apartment dibalik dinding markas besar UN (MONUC) di Avenue Boulevard Kinshasa.”
Smoga kuat di perantauan & selalu dalam perlindungan TUHAN! Salam,

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

547 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Ninien IRNAWATI Ninien IRNAWATI Ninien is Pralangga.ORG site editor, and would be dealing with developing site cross-links with other blog-writers whom wish to inter-link. Ninien previously coordinates and edit the former Blogsite (http://pralangga.blogspot.com). Before taking care of Luigi’s blog, they have been friends for...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Kursus MS Office Basic untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga: The Power of Motherhood
Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri... »
Ro'is Nahrudin , 1 day ago

Indobatt gelar Training of Trainer
Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mencapai suatu keunggulan positif dibandingkan dengan satuan tugas dari kontingen lain, memerlukan inovasi yang kreatif dan berhasil guna bagi lingkungan dimana... »
Yogi Nugroho , 1 day ago

Pertemuan Satuan Polisi Militer di Lebanon
(Blate Marjayoun UN Posn 7-3, Lebanon). UN Military Police Meeting adalah acara pertemuan seluruh Satuan Polisi Militer Internasional yang tergabung dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB, khususnya UNIFIL... »
Muhammad Dahlan , 2 days ago

Budaya orang Congo berfotoria
Orang-orang Congo sangat hobi untuk berfoto ria, jadi jangan heran jika tukang foto keliling bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota. Kebiasaan berfoto-ria ini memang sudah membudaya di masyarakat Congo,... »
Arny Wahyuni , 2 days ago

Senjata ampuh bikin bujur melepuh
Ayah nanti mau dibekelein apa balik ke Liberia ini?. Pertanyaan itu selalu muncul dari si Idung Pesek-ku saat ia menyadari bahwa masa cuti mudik si kampret ini hanya tinggal 1... »
Luigi PRALANGGA , 4 days ago

 

Recent Comments

Didut commented on Impresi gado-gado di Myanmar
a few seconds ago


Didut commented on Menu makanan [pengungsi] hari ini
a few seconds ago


Didut commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Didut commented on Senjata ampuh bikin bujur melepuh
a few seconds ago


Arny commented on Budaya orang Congo berfotoria
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com