Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Sate Kambing ala Konga citarasa khas Congo

19 June 2009, 10:21 , by Dede Rusdiana

 

Tujuh bulan berlalu dalam Misi Perdamaian PBB di DR Congo. Banyak sudah tugas dan prestasi kerja yang sangat membanggakan. Selama kurun waktu itu semua anggota disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang sudah dijadwalkan. Tidak dapat dipungkiri timbulnya rasa jenuh dan bosan. Terkadang timbul juga rasa kangen dan rindu dengan suasana tanah air dan keluarga. Dan yang paling terakhir adalah rasa kangen dengan kuliner tanah air. Rasanya lidah ini ingin dimanjakan dengan masakan-masakan khas tanah air.

Selepas istirahat siang sayup-sayup terdengar suara kambing di sekitar kamp. Benar juga, sudah ada seekor kambing yang kelihatan sehat dan segar. Rupanya malam ini akan ada sebuah hajatan. Suara kambing semakin keras seolah-olah tahu bahwa ajalnya sudah dekat.

Sementara anggota tenda sebelah sedang sibuk mempersiapkan tusuk-tusuk bambu. Malam ini rasanya akan ada sedikit makanan yang berbeda. Setelah menanyakan ke anggota, ternyata akan ada makan malam bersama dengan menu utama sate.Akhirnya rasa kangen terhadap masakan Indonesia dapat terobati. Sudah sekian lama ini hanya makan masakan ala tugas operasi. Bisa dibayangkan gimana rasanya makan makanan ala Barat. Dulu pertamanya banyak yang sakit perut karena tidak terbiasa. Bahkan ada anggota yang tidak pernah makan daging karena memang sebelumnya tidak makan daging di tanah air.

Sore hari tim masak sudah sibuk mengolah masakannya. Ada yang memotong-motong daging dan ada pula yang membuat bumbunya. Sementara sebagian yang lain mempersiapkan tusuk-tusuk bambunya. Terlihat sebuah suasana yang berbeda disini. Ada sebuah kegembiraan tersendiri yang berbeda dari biasanya. Meskipun dengan peralatan masak yang terbatas semua berusaha menyajikan masakan yang istimewa.

Malam harinya sate-sate tersebut siap di sajikan. Memang dari tadi siang sate tersebut tidak langsung dibakar. Hal ini dimaksudkan agar pada malam harinya dapat disantap dalam keadaan masih segar atau hangat. Ada anggota yang bertugas sebagai tukang bakar (Barbecue Man) dan ada pula yang bertugas sebagai tim penyaji. Tidak lupa kita mengundang personil UN yang lain seperti dari MOVCON, MORBATT, dan UN Agency yang lain . Selain Sate sebagai menu utama juga disajikan sop daging yang menggugah selera. Rasanya memang mantap persis hidangan Sate Stasiun Cimahi (hehehe..).

Malam itu semua sangat bergembira. Kita bisa menikmati salah satu kuliner tanah air. Lidah ini rasanya sudah lupa cirri khas rempah-rempah yang terdapat dalam masakan Nusantara. Sate inilah yang sedikit mengobati rasa rindu terhadap tanah air dan menambah semangat dalam penugasan di daerah misi ini. Semua bergembira sambil menonton film dan mengobrol dalam suasana yang hangat dan damai.

Dede RUSDIANA First Lieutenant Dede Rusdiana was born in Kuningan, November 6, 1983. Graduated from Taruna Nusantara Senior High School in 2001 and then joined to Indonesian Military Academy in Magelang. After graduation in 2004, he continued with Basic Ordnance Officer Course...

Detail Profile »

3  Comments

by didut at 19 June 2009, 19:03

enak enak enak spt jingle iklan :D

by dewi at 19 June 2009, 22:50

rupina mah hihidna kakantun di cimahi nyak kang? :)

by Endang Triastuti at 23 June 2009, 08:33

welah… enak yo pak?

biasanya durasi persiapan sama acara makannya gak sbanding, persiapan 3 jam, makan 10 menit.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Aisyah Aisyah was born and grown up in Medan, Indonesia. Grown up as a country girl with strong Medan accent, which sometimes confuse people from Indonesia about her Indonesian language. She didn’t imagine that she would travel to leave her country...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago