Salam Garuda!. Tulisan ini dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu, untuk menghilangkan rasa jenuh, rasa kangen terhadap keluarga, saudara, sahabat, kerabat, makanan,masakan, cuaca, di negeri tercinta indonesia.
Tanpa mengurangi rasa respek saya terhadap seluruh rekan2 yang fasih berbahasa bule, sepertinya lebih baik saya menggunakan bahasa kita, bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia dan mungkin ditambah beberapa catutan bahasa daerah…_setuju_….? Ya sudah terserah komentarnya apapun juga jalan terus…..!
Baik…cerita ini dimulai ketika saya menerima telpon rekan senior di Markas Besar TNI untuk persiapan berangkat bertugas sebagai United Nations Military Observer (UNMO) ke Liberia…senang bercampur kaget karena saya tidak menyangka yang diberi kesempatan, tanpa pikir terlalu lama, saya langsung menyatakan kesiapan. Untuk dikethui saya berangkat seorang diri menggantikan senior Letkol Lek Joseph Rizky.
Dengan persiapan yang cukup (mepet) akhirnya saya menerima SP (Surat Perintah) untuk berangkat tanggal 7 November 2008.
Tanggal 7 November 2008 pukul 08.00, berangkat dari bilangan Halim, Jakarta Timur, setelah semalam menginap di Mess bersama mantan kekasih dan tentunya 2 anak saya yang sedang lucu-lucunya, yaitu Zahra dan Mirza. Perjalanan menuju Bandara Cengkareng, dijadwalkan pesawat take-off pukul 13.05 WIB dengan menggunakan Thai Airways.
Jujur, ini adalah kali pertama melaksanakan dinas ke luar negeri (selama ini saya kurung batokeun, orang sunda bilang: nggak pernah pergi ke negara orang). Mendarat di Bangkok International Airport, Suvarnabhumi, pukul 16.35 setelah itu menunggu lebih kurang 8 jam transit-time, berikut beberapa oleh-oleh foto dari Bandara Suvarnabhumi;





Dari Bangkok, penerbangan selanjutnya diteruskan dengan pesawat Kenya Airways menuju Nairobi, (pada saat check in di Bangkok, ada sedikit hambatan karena petugas imigrasi menanyakan visa Liberia, dengan sedikit berdebat saya sampaikan bahwa ke Liberia sebagai United Nations’ Personel tidak memerlukan visa, tetapi cukup menunjukkan surat penugasan dari UN saja). Maka berangkatlah saya dari Bangkok pukul 00.40 dan mendarat di Nairobi pada 06.10 waktu setempat.

Kenya Airways – The pride of Africa
Melelahkan memang, sebab selama transit di Nairobi, harus menunggu lagi selama 6 jam, satu dan lain hal adalah dikarenakan koneksi penerbangan menuju Liberia yang seharusnya berangkat pukul 09.30 ditunda sampai pukul 12.30. Selain penundaan yang membuat jemu nggak ketulungan ini, ada hal lain yang menambah kejengkelan saat menunggu di Nairobi, yaitu perlakuan otoritas bandara disana kepada para penumpang, persis seperti bola pingpong dengan simpang-siurnya informasi lokasi dan nomor gerbang keberangkatan. (Namun saya sih masih merasa asoy geboy moropoy aja).
Akhirnya saya tiba juga di Liberia, penerbangan kenya Airways itu mendarat di RIA ( Roberts International Airport ) – Monrovia pada pukul 19.00, setelah sebelumnya transit sebentar di Kotoka International Airport di Accra Ghana untuk refueling. Bersyukur sekali saya mendapati para senior yang tentunya untuk kelancaran dan keselamatan juniornya rela menjemput saya di bandara (Terima kasih Bang Joseph dan Bang Tusih).
Melihat perbandingan gedung Bandar Udara Internasional sejak dari Cengkareng, Jakarta, lalu Suvarnabhumi, Bangkok, Nairobi, Accra and kini Monrovia, adalah berbeda jauh dari segala aspek. khususnya Liberia yang baru saja keluar dari masa konflik yang berkepanjangan, bandar Udara Internasional Roberts masih amat sederhana sekali.

Kotoka International Airport, Accra – Ghana

Expat Jawa mendarat di Liberia – akhirnya!

Bandara Internasional Roberts, Monrovia – Liberia
Menurut saya, Bandara Udara Iskandar – Pangkalan Udara dimana saya pernah menjadi Kadisops di Lanud Ikr selama 2,5 tahun amatlah jauh lebih mentereng kemana-mana.
Setelah seluruh bagasi kelar dimuat dan masuk kedalam kendaraan UNMIL, kemudian langsung diajak santap malam oleh Bang Joseph, sekaligus memberikan salam perpisahan dengan beliau. (Keesok pagi harinya beliau kembali ke tanah air tercinta, Indonesia atas purna tugas sebagai milobs di Liberia usai sudah).
Kesan pertama di Liberia yang mendalam atas senior, Mayor Cpl Tusih Widayat, yang akrab saya panggil Bang TW.

Sosok senior khasimatik: Bang TW

A Resourceful Mentor: Bang Agoeng Satiawanpoetra
Mendarat pada hari Sabtu malam, dimana hari Minggu adalah hari libur, proses pelaporan menghadap tugas (Duty Check-in) dilaksanakan pada hari Senin bertempat di UNMIL Headquarters – PAP (Pan Africa Plaza) dengan diantar oleh Mayor Tusih, dimana kawasan Monrovia & Greater area adalah wilayah yurudiksi patroli beliau di Team 3 – MILOBS.

Inilah UNMIL Headquarters, Monrovia
Lepas urusan Duty Check-in selesai, setelah itu, serangkaian prosedur administrasi, meskipun tidak rumit, namun cukup melelahkan karena urusan tersebut dilakukan pada tempat yang berbeda dan cukup jauh jaraknya. Antara UNMIL HQ di PAP Building dan UNMIL – Logistics Base di kawasan Star Base, Freezone lumayan jauh dan lalu-lintas waktu itu sedang macet sekali.
Proses “duty check-in” dapat diselesaikan dalam sehari dimana mendapatkan kartu ID personil UNMIL diberikan hari itu juga, dengan nomor index ID: MO-001123. Sesuai dengan prosedur yang berlaku, setiap staff baru (New arrivals) diwajibkan mengikuti Induction Course selama 5 hari yang waktu itu dimulai dari tanggal 24 hingga 28 November, yang kemudian dilanjutkan dengan ujian kefasihan Bahasa Inggris (ELPEX), serta ujian presentasi dihadapan Chief of Staff (Jenderal berbintang satu dari Nigeria). meski berbekal kefasihan berbahasa Inggris yang cukup lumayan, ahamdulilah keesokan harinya, hasil penilaian kemampuan presentasi tersebut dinyatakan lulus dengan hasil cukup memuaskan.
Semalaman sejak kelar ujian presentasi tersebut, saya tidak bisa tidur membayangkan, jika hasil ujian penilaian kefashian berbahasa Inggris dan presentasi tersebut gagal, cilaka!. dari cerita rekan-rekan senior sebelumnya, menceritakan bahwa pada saat mereka dulu [1 tahun lalu], ada kejadian dimana 3 perwira military observer dari negara di kawasan Amerika Latin yang hasil ujian/penilaian kefasihan berbahasa mereka dinyatakan gagal/tidak lulus, dan berdasarkan kegagalan mereka itu, dalam tempo kurang dari 10 hari dipulangkan ke negera asalnya dengan alasan “incompetence”. Terbayang jika saya dikembalikan/di-repatriasi dari misi oleh UNMIL atas alasan tersebut, mungkin saya akan mengajukan pensiun dini setibanya di tanah air).
Terima kasih Mentor Agung dan Bang TW (Tusih) yang selalu memotivasi saya selama 5 hari pertama ini, berbagai pembekalan intensif diberikan saat tinggal di Rumah Indonesia, (maksudnya: Rumah kontrakan Indonesian Milobs di Monrovia), walaupun proses pembekalan tersebut dilakukan sambil ngulek cabe untuk sambel makan malam (Sumpee ‘Tor!!, Sambelnya enak!! – kapan-kapan saya ngadep, ‘tor – minta disambelin! – he..he. Sambel itu membuat saya teringat masa-masa di Handariawina neh!. Harus diakui bahwa semua arahan mentor dan abang teramat berarti untuk saya.

Suasana kelas saat induction trainning: Sebuah pengalaman langka.
Syukur alhamdulilah selalu saya panjatkan pada Allah SWT, mengapa?. Karena saya selalu diberikan kemudahan olehNya, dari mulai proses pemberangkatan sampai dengan saat ini, mungkin hal ini dikarenakan doa dari orang tua, dukungan moril dari pihak keluarga ,kerabat dekat, sahabat, para rekan senior dan junior. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada semua pihak, semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan rahmat dan nikmat kepada kita semua tentunya. Amien…

Major CPL Tusih W, Letkol Laut (P) Agung MKS dan saya Mayor Lek Deden berpose di rumah indonesia sesaat akan berangkat menuju UNMIL HQ di Monrovia.
wah selamat kang Deden, semoga rahmat dan berkah Allah SWT selalu menyertai kang Deden.
Kalau sama Kang Luigi sek kontrakan juga??
selamat bertugas pak,
seru membaca ceritanya.
semoga bisa menjalankan tugas dengan baik (rock)
cayo cayo….met sukses ya