Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Profesionalisme dan Humanisme Peacekeepers

6 December 2009, 05:31 , by Ro'is Nahrudin

 

Semua orang tahu bahwa setiap anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) semenjak pendidikan dasar pembentukan telah ditanamkan dalam ruang bawah sadarnya untuk selalu taat, disiplin pada aturan dan perintah. Tetapi apakah ini yang kemudian disebut sebagai prajurit professional? Atau, sebagaimana juga sebagian besar orang menilai bahwa Tentara Nasional Amerika yang biasa melaksanakan tugas “menjaga dan memaksakan kedamaian” dimuka bumi disebut sebagai tentara professional? Bagaimana dengan humanismenya? Namanya saja PEACEKEEPERS berarti kan harus professional dan humanis. Saya sangat risau dengan instilah dan penilaian tentara professional dan sekaligus humanis ini. Apapun teorinya, dan siapapun ahlinya, saya lebih ingin memilah dan memilih ukuran professional dan humanis berdasarkan analisa saya. Saya akan menganalisa profesionalisme dan humanisme peacekeepers ini dari urusan perut saja.

Saya tidak pernah menyadari sehingga saya menyaksikan sendiri, di sepanjang jalan menuju arah Kota Marjayoun kira-kira 1.5 KM dari arah UN POSN 7-2 Sector East HQ melalui kompleks Sector East Military Police Unit (SEMPU), terdapat kompleks gubuk-gubuk kumuh di kanan kiri jalan. Ternyata, mereka yang tinggal di rumah-rumah itu adalah para pengungsi dari Negara Syria dan kota-kota lain yang dilanda perang saudara. Mereka boleh berada di Lebanon Selatan tetapi tidak boleh mendirikan bangunan permanen. Setiap kali mobil UN melalui jalur tersebut, maka anak-anak berumur lima hinggga sepuluh tahunan dengan pakaian yang lusuh dan raut muka yang kumuh akan berhamburan keluar ke jalan melambaikan tangan dan menengadahkan tangan, berlarian mengejar mobil UN. Kalau di bahasakan mungkin berbunyi: “ Hi, peacekeepers, you are so rich and gallant, look at me; my hand, please give me something to eat”. Tetapi, sesuai SOP kami TIDAK BOLEH memberikan apapun kepada mereka. Dan, kami harus professional…

Saya pernah berdinas di Australia selama kurang lebih dari dua tahun sebagai LO di Defence International Training Center (DITC) Victoria. Saya kebetulan juga sering memonitor pekerjaan dapur dimana TNI dan Tentara Diraja Malaysia ikut makan di Officer Mess. Saya tahu persis bagaimana para chefs dan cooks bekerja menyiapkan makanan dan memperlakukan makanan. Setelah jam makan habis (ukurannya BUKAN; apakah semua orang sudah makan? atau semua makanan sudah dimakan?), maka makanan yang tidak habis atau tidak dimakan, tidak peduli daging sapi, kambing, ayam, kalkun, keju, es cream, dan sebagainya..semua akan di disposed, dibuang ketempat sampah. SELESAI. OK itu Australia, dan saya tidak melihat sekelompok orang yang menderita seperti diatas. Fine, I said Fine! Meskipun hingga saat ini saya masih “bertempur” melawan perasaan dan dalil “MUBAZIR ya Alloh MUBAZIR Why don’t you just export those food to my village; Klaten? So that…” Tetapi karena itu juga aturan maka saya juga tetap harus professional…

Peristiwa itu sekarang terjadi lagi, “perang” membuang sisa makanan (dimakan atau tidak dimakan tetap saja dianggap sisa) juga dilakukan di dapur Sector East HQ. “Memang begitu aturannya pak, kita harus professional” kata salah satu pemasak yang didatangkan dari Kompi E Indobatt XIII-D; Pratu Nurcholis. Oh…Profesional adalah dengan membuang sisa makanan yang sebegitu lezat, yang sudah ditakar kadar kalorinya berdasarkan ukuran UN…OK.

Indobatt Dining

Kemudian saya mulai mendapatkan jawaban dari komplikasi antara being professional dan being humanist. Keduanya tidak pernah akan menikah kalau masing-masing kita jadikan ukuran. Keduanya harus dilaksanakan bukan dijadikan ukuran. Supaya kita menjadi tentara professional; berarti kita harus melaksanakan makan tepat waktu, mengenakan pakaian sesuai aturan. Dan, menjadi Humanis; berarti kita harus mengingat sudara-saudara kita yang kurang makan, bahkan tidak makan sama sekali dengan cara mengambil secukupnya, menghabiskannya, dan mengucapkan terima kasih kepada para pemasaknya, dan tentu saja bersyukur kepada Alloh atas nikmatnya. Profesionalisme dan Humanisme peacekeepers cukup dirasakan dan dilaksanakan oleh pribadi masing-masing dan bukan dipertentangkan…

Ro'is Nahrudin Major Inf. Ro’is Nahrudin has been serving in the Indonesian Army (TNI AD) for over 13 years. Undertaking office at the Indonesian Defence Language Education and Training Center in Pondok Labu Jakarta Selatan. Holding a Graduate Degree in English Literature...

Detail Profile »

2  Comments

by Bayu Prasetyo at 6 December 2009, 12:11

Klo tiap hari menu makannya itu2 aja dan ga ada perubahan….is that profesionalisme SIR..?? hehehe

by kus at 6 December 2009, 18:35

sama dengan memberi sedekah kepada pengemis tapi diganjar hukuman kurungan, hukum memang kadang tidak berpihak pada rakyat kecil dan tertindas.

Sampean memang tentara, tapi sampean juga manusia.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

548 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sulung PURWOKO Courage under fire, this would be sufficient to describe this fellow’s personal quality traits. Equipped with hands-on expertise in medical field, having been working in West Papua, Indonesia – Sulung Purwoko, began to step-up into a bigger challenges, that is...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Indobatt juara Turnamen Voli tingkat SECEAST UNIFIL
(Marjayoun, 15/3) Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mengharumkan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah komuniti internasional, telah dilakukan dengan berbagai upaya dan kerja keras... »
Yogi Nugroho , 6 hours ago

Kursus MS Office Basic untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga: The Power of Motherhood
Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri... »
Ro'is Nahrudin , 2 days ago

Indobatt gelar Training of Trainer
Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mencapai suatu keunggulan positif dibandingkan dengan satuan tugas dari kontingen lain, memerlukan inovasi yang kreatif dan berhasil guna bagi lingkungan dimana... »
Yogi Nugroho , 2 days ago

Pertemuan Satuan Polisi Militer di Lebanon
(Blate Marjayoun UN Posn 7-3, Lebanon). UN Military Police Meeting adalah acara pertemuan seluruh Satuan Polisi Militer Internasional yang tergabung dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB, khususnya UNIFIL... »
Muhammad Dahlan , 3 days ago

Budaya orang Congo berfotoria
Orang-orang Congo sangat hobi untuk berfoto ria, jadi jangan heran jika tukang foto keliling bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota. Kebiasaan berfoto-ria ini memang sudah membudaya di masyarakat Congo,... »
Arny Wahyuni , 3 days ago

 

Recent Comments

Nurul Fitri Lubis commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Didut commented on Impresi gado-gado di Myanmar
a few seconds ago


Didut commented on Menu makanan [pengungsi] hari ini
a few seconds ago


Didut commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Didut commented on Senjata ampuh bikin bujur melepuh
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com