Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Puguh PAMUNGKAS

“Prang Aneuk Atjeh”(Perang Anak Aceh)

6 December 2007, 09:10 , by Puguh Pamungkas

 

Setelah bertahun tahun Aceh diradang konflik yang panjang, akhirnya sudah 2 tahun lebih masyarakat Aceh dapat bernafas lega dalam dunia atmosfir perdamaian dengan di tanda tangani MoU antara Pemerintah RI dan Pihak GAM 15 august 2005 di Helsinki Finlandia. Hal ini membawa dampak yang positif bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Selain itu tentunya ada efek-efek yang memang bakal terjadi akibat dari konflik di mana pun konflik itu terjadi di belahan dunia ini, mungkin salah satunya buat Aceh hal tersebut terjadi pada dunia anak-anak Aceh.

Dalam dunia anak-anak kita sering kita mengenal permainan perang-perangan, dan hal juga terjadi di Aceh namun hal ini lebih dominan terjadi pada event-event besar seperti Idul Fitri dan idul Adha, dimana sebagian anak aceh memperlengkapkan diri dengan senjata (airsoft gun) mungkin lebih kita kenal dengan senjata mainan namun mainan ini berpeluru biji-biji yang terbuat dari plastic dan mereka bermain tanpa perlindungan apapun, terkadang sebagian dari mereka juga menggunakan kacamata atau saebo.

Mereka berperang terdiri dari dua kubu yang tidak mengenal satu sama lainnya, salah satu kubu berada di check point(point tetap) dan yang satunya lagi berada dia atas kendaraan bergerak(mobil angkutan umum, mobil charteran, bahkan diatas becak)

Kubu yang bergerak adalah kelompok anak-anak yang akan menuju pusat keramaian pada hari Idul Fitri mereka telah mempersiapkan diri dengan senjatanya untuk menyerang check-check point yang berada disepanjang jalan mereka menuju ketempat tujuan yang diduduki oleh anak-anak dari daerah tempatan. Dan ketika kubu berjalan melalui tiap-tiap check poin disitulah pertempuran terjadi tak jarang terjadi korban cedera diantara mereka, dan mereka benar-benar menikmati permainan ini tanpa menghiraukan masalah keselamatan mereka bahkan ada pihak yang terkena serangan mereka ketika harus bepapasan dengan gerombolan pertempuran anak-anak ini, ada banyak pihak juga telah melakukan tindakan pencegahan atas tindakan ini, namun mereka tetap saja bergerilya untuk bertempur tanpa ada pemenangnya.

Inilah potret kehidupan anak Aceh yang terjadi saat ini mereka terlalu banyak melihat potret-potret konflik dengan mata kepala mereka sehingga hal ini secara tidak langsung terekam dan melekat pada diri mereka, semoga ini hanya tetap menjadi permainan dan bukan menjadi suatu kebiasaan berperang dalam jiwa mereka dalam menyelesaikan suatu masalah yang akan mereka jalani dalam kehidupan mereka yang akan datang di masa depan yang begitu cerah dalam atmosfir perdamaian yang telah tercapai saat ini di bumi Aceh.

Puguh PAMUNGKAS Puguh PAMUNGKAS With extensive hands-on experience in Movement Control and Air Operation field, Puguh Pamungkas contributed a significant role under the flag of UNHAS – United Nations World Food Programme Humanitarian Air Service, based in Banda Aceh, Aceh province – Indonesia. His...

Detail Profile »

8  Comments

by Luigi Pralangga at 6 December 2007, 10:04

Semoga anak-anak itu senantiasa diberikan Allah SWT masa depan yang cerah sebagai pengganti pahit masa kecilnya akibat konflik yang terjadi di Aceh. Amin!

by Yeni Setiawan at 6 December 2007, 13:16

Sebaiknya sejak dini mereka diberi pengertian bahwa perang itu tidak bagus dan bukan sesuatu yang bisa dijadikan impian.

Sehingga ketika dewasa nantinya mereka tidak rindu perang.

by ambar at 7 December 2007, 12:13

wow ! seperti di liberia ! semoga tidak berkelanjutan. prihatin ngeliatnya.

by Astri at 12 December 2007, 02:59

One thing that I hate most from war :(
efeknya benar2 terekam dalam benak si anak sampai jadi seperti ini, kekerasan memang tidak menyelesaikan masalah tapi malah melahirkan masalah baru

by Sangulosquaw at 12 December 2007, 10:25

Mas Puguh, cerita ini mengingatkan saya pada almarhum kakak sepupu saya yg berkerja di PT Arun Aceh, dan tinggal di komplek perumahan Arun bersama keluarganya. Beliau sendiri juga menyaksikan konflik perang yg terjadi di Aceh semasa beliau bekerja untuk PT. Arun. Potret2 konflik tersebut juga menimbulkan konflik tersendiri di hati & pikiran kakak sepupu saya itu, terpendam di hatinya yg paling dalam. Akibatnya, beliau meninggal krn serangan jantung diatas kursi goyang di rumahnya di Aceh, sore hari sesudah beliau pulang kerja. TRAGIS!!

by Falva at 26 December 2007, 17:51

assalamualikum…..,
kasian sekali mereka….,anak anak ini adalah korban dari ketidakpuasan, kerakusan manusia,…….. Masa anak anak mereka cenderung meniru atas apa saja yang dilihatnya,di dengarnya,…………,konflik yang terjadi di aceh memang ..klo saya boleh bilang meracuni pikiran mereka,..satu contoh anak yang di didik secara militer dia juga akan tumbuh ala militer ,dan jika tidak ada faktor penyeimbang……maka budaya kedisiplinan dalam militer dapat diterima oleh anak anak ini secara salah.alhasil dia malah tumbuh menjadi jagoan diantara teman teman nya..suka main pukul , tendang,…dan lain lain nya….
…memang perlu usaha yang extra keras……….specilally untuk anak anak yang secara logika….secara manusia…merekalah yang akan melajutkan…bagaimana aceh ke depan………
….yah perlu usaha yang keras. memang……..,mencoba untuk mngalihkan pikiran mereka tentang kekerasan,penindasan….Media agama mungkin paling baik menurut saya, artinya memakmurkan masjid……saya rasa kalo ada keinginan yang kuat mnegingat juga aceh dengan julukan serambi mekkah…..memakmurkan masjid ini perlu digalakan,….dengan sering melakukan kegiatan kegiatan keagamaan yang tentu tdk salah juga jika di selingi dengan hiburan hiburan sehingga tidak menimbulkan efek jenuh pada mereka.dan mungkin menjauhkan mereka untuk menonton acara acara berita kriminal di televisi….kita kan tau bahgamana berita berita kriminal di televisi…menyedihkan ,menakutan……..Mungkin lebih seru jika anak anak ini disuguhi..acara acara….seperti si bolang.,..supaya mereka tahu, BAHWA…ada kok yang indah indah., yang seru seru…dibelahan dunia yang lain.
….‘semoga peran orang tua, guru,petinggi,..dan semua…bisa behu membahu….menyembuhkan penyakit anak anak aceh..yang memprihatinkan ini………..
“ jika kita tdk bisa membantu secara langsung,insya ALLOH doa kita……juga akanmembawa perubahan untuk mereka………..
……..we love you……….anak anak aceh…….
wassalm

by agus edy purnomo at 26 December 2007, 21:57

saya ikut berdoa, semoga Allah SWT berkenan menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh, tidak banyak yang dapat kuperbuat selain itu

by Arina at 4 January 2008, 01:24

Saya jadi teringat di tahun pertama hidup di US dan berinteraksi dengan kehidupan sekolah anak saya…. Saat itu akan diadakan pesta air, anak2 dibolehkan membawa mainan apa saja yang berkaitan dengan air…. Karena belum tau ‘aturan main’ di sini, saya bertanya kepada gurunya, apakah boleh membawakan pistol air ke sekolah…. Gurunya kaget melihat saya bertanya spt itu, dan langsung berkata, bahwa mainan pistol dan sejenisnya tidak diperbolehkan ada di sekolah, tidak ditolerir sama sekali…. besoknya, saya mendapat segepok informasi yang dikemas dalam bahasa anak2 mengenai bahayanya senjata….. Sptnya, sang guru merasa perlu memberikan informasi itu ke saya spy saya tidak salah memberikan mainan ‘keras’ itu kepada anak saya…
Dari situ saya belajar, di tengah bebasnya senjata diperjual belikan di sini, begitulah cara mereka mendidik anak2 untuk tetap jauh dan terlindungi dari kekerasan…. dari tindakan belajar melakukan kekerasan…..

Semoga waktu bisa cepat mengembalikan kehidupan anak2 Aceh menjadi suatu kehidupan ceria khas anak2 dan jauh dari kekerasan….

Terima kasih untuk sharingnya…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Robertho Pardede Born and grew up in Jakarta, joined the Indonesian National Police in 1996 as a Cadet of Indonesian Police Academy and graduated in 1999. As the member of Mobile Brigade (Brimob) the Armed Police Force basic training and some courses...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago