“Saya pesan yang sederhana, dan langsung ke titik masalah: pertempuran ini harus berhenti. Kepada kedua belah pihak, saya katakan:” Berhenti, sekarang juga. Terlalu banyak korban meninggal. Terlalu banyak rakyat jumlah penduduk sipil yang menderita. Terlalu banyak orang Palestina dan Israel, dalam kehidupan sehari-hari dengan ketakutan. Dan di Gaza, elemen masyarakat paling mendasar sedang terus dihancurkan: rumah rakyat; infrastruktur umum, fasilitas kesehatan masyarakat, dan sekolah. “ (Sekretaris General Ban Ki Moon, Konferensi Pers, 12 Januari).

Operasi militer Israel telah memasuki hari yang kedelapanbelas. laju kekuatan Israel dari udara, laut dan darat terus mengepung wilayah di Jalur Gaza, dan Gaza dan Gaza Governorates Utara tetap terisolasi dari sisa keseluruhan wilayah Gaza.

Seiring dengan krisis kemanusiaan yang yang intensif, jumlah korban sipil Palestina meningkat. Pemboman oleh Israel menyebabkan kerusakan yang meluas ke rumah-rumah dan infrastruktur umum di seluruh Jalur Gaza dan mengancam pasokan air, sanitasi dan pelayanan medis. Peningkatan jumlah orang Palestina yang lari meninggalkan rumah mereka meningkat akibat gencarnya arus masuk pasukan Israel menembus lebih ke jauh ke dalam Jalur Gaza. Rumah sakit adalah staf medis yang dibebani kelewat batas dalam upaya menanggulangi semakin tingginya jumlah korban, dimana banyak dari mereka memiliki beragam luka/cedera, khususnya adalah anak-anak, yang notabene adalah 56 persen dari populasi Gaza.
Pada tanggal 13 Januari, Perserikatan Bangsa-Bangsa – Komite tentang Hak-hak Anak menyatakan keprihatinan yang mendalam atas dampak yang sangat besar pada anak-anak terhadap keterlibatan operasi militer di Gaza.


Tanggapan atas tuduhan pejarahan atas bantuan pangan, badan-badan kemanusiaan (PBB dan mitra lembaga lain-nya) yang terlibat dalam pengiriman dan distribusi bahan pangan menegaskan bahwa belum ada laporan pencurian atau penyalahgunaan persediaan tersebut. Mereka menekankan bahwa mekanisme-dan pengawasan yang ketat memantau terus arus bantuan yang mengalir di tempat, meski situasi konflik di lapangan yang berlanjut membuat pemantauan menjadi sulit.
PERLINDUNGAN SIPIL
Militer Israel masih menguasai wilayah di utara, timur Gaza dan daerah-daerah perbatasan Rafah. Bombardemen/pemboman dari udara, dan dari armada angkatan laut dan penembakan artileri, terus terjadi sepanjang 13 Januari. Gerakan pasukan darat Israel didukung oleh artileri dan helikopter melaju lebih jauh ke daerah-daerah padat penduduk di pinggiran Kota Gaza. Kegiatan militer israel diberitakan mulai intensif sejak semalam, khususnya di Tel al Hawa, lingkungan Gaza utara dan di desa Khuza’a timur Khan Yunis.
Dengan masuk-nya lebih pasukan Israel ke Jalur Gaza, semakin banyak wilayah kantong penduduk yang terjebak di dalam rumah mereka. Daerah yang terkena termasuk Siyafa, Al Atatra, Al Isra, As Salateen, Beit Hanoun timur, dan di utara; Timur Jabalia (Gaza Utara); Zaitoun tenggara Az (tenggara dari Gaza Governorate); dan Tuffah Pada (timur Gaza Governorate). Organisasi bantuan kemanusiaan sampai saat ini tidak dapat melayani masyarakat.
Jenazah orang-orang yang tewas dalam rumah Al Samouni di Az Zaitoun pada tanggal 5 Januari ada masih belum dapat diambil, walaupun pihak personil bantuan medik berkali-kali memohon akses kepada tentara Israel untuk memasuki bangunan rumah tersebut.
SERANGAN TERHADAP PERSONIL MEDIK
Keamanan bagi pekerja kesehatan dan akses ke fasilitas medis menjadi sangat sulit. Pada tanggal 12 Januari, angkatan udara Israel menyerang sebuah rumah di dalam Jabalia membunuh seorang dokter yang merawat para korban luka-luka, dan serangan tersebut melukai tiga staf medis yang menunggu di luar untuk menyingkirkan yang terluka. Tiga belas orang tenaga medis telah tewas sejak 27 Desember, dan serangan pada personil medis dan ambulans sangat organisasi kemanusiaan untuk membantu korban terluka.
Dalam sebuah pernyataan publik bersama pada 13 Januari, ICRC dan PRCS menyatakan bahwa faktanya banyak orang telah ditinggalkan dibiarkan menderita, terluka dan kemudian meninggal akibat tidak dapat mencapai rumah sakit dan tidak diberikannya akses bagi ambulans dan pekerja medis oleh pihak militer Israel untuk menolong tepat waktu. ICRC dan PRCS menekankan bahwa di merujuk Hukum Kemanusiaan Internasional ,semua pihak yang berkepentingan memiliki kewajiban untuk mengumpulkan/mengangkut, merawat korban terluka dan mengungsikannya, tanpa menunda atau diskriminasi.
KORBAN
Palestina Departemen Kesehatan (Depkes) sebagai tokoh-tokoh dari 13 bulan Januari 1600 adalah 971 orang Palestina, 311 diantaranya adalah anak-anak dan 76 adalah wanita. Jumlah terluka berdiri pada 4418, 1549 diantaranya adalah anak-anak dan 652 adalah wanita. Depkes Palestina seperti dilaporkan pada 12 Januari, bahwa jumlah korban anak-anak telah melonjak tiga kali lipat sejak awal operasi serangan darat, pada 3 Januari (dibandingkan dengan jumlah korban anak-anak pada 27 Desember hingga 3 Januari).


Ancaman bahaya serangan terhadap staf medis dan kesulitan penggalian korban yang terluka dari tertimpa bangunan roboh, membuat perkiraan data jumlah korban dan evakuasinya sulit, termasuk untuk menentukan jumlah korban sipil Palestina laki-laki. Sejak operasi militer dimulai pada 27 Desember, dua staf PBB dan empat kontraktor UNRWA telah terbunuh ketika sedang bertugas, dan enam staf serta empat kontraktor terluka.
Dua staf PBB lain-nya telah terbunuh saat selesai bertugas. Selain itu, pada tanggal 27 Desember, sembilan Trainee terbunuh di daerah dekat UNRWA – Gaza Training Centre.
Pada tanggal 5 Januari, tiga laki-laki bersaudara terbunuh di Sekolah UNRWA di Asma saat berlindung. Pada tanggal 6 Januari, 43 orang meninggal dan 55 luka-luka akibat serangan artilleri yang jatuh menimpa halaman luar sekolah UNRWA di Jabalia.
Setidaknya ada 49 bangunan PBB/UNRWA yang menderita kehancuran parah, dimana 28 bangunan diantaranya rusak dalam jangka waktu tiga hari pertama dari operasi militer Israel tersebut. Satu klinik LSM internasional dilaporkan telah hancur dan beberapa dari kompleks perumahan mereka juga telah rusak.
Setidaknya ada empat insiden penembakan jarak dekat oleh tentara Israel terhadap iring-iringan/konvoy bantuan PBB.
Sembilan tentara Israel telah tewas sejak 27 Desember. Sementara pejuang Palestina terus melancarkan penembakan rocket dan mortars dari Jalur Gaza ke Israel. Menurut juru bicara Kepolisian Israel, korban sipil Israel yang jatuh berjumlah empat meninggal dan 58 luka-luka. (Data dari UN-OCHA tidak termasuk angka korban pihak Palestina dan Israel yang dirawat akibat shock.)
PENGGUNAAN WHITE PHOSPHOROUS
Sejak Januari 3, ada sejumlah laporan media tentang dugaan penggunaan phosphorous putih (WP). Human Rights Watch menyatakan bahwa sementara tentara Israel nampaknya menggunakan senjata WP sebagai
penghambat untuk menutupi operasi militer darat yang melaju, ‘WP juga cukup efektif untuk membakar,struktur bangunan, dan objek saat bersentuhan, serta dapat mengakibatkan luka bakar serius bila terkena dan berpotensi sangat membahayakan populasi sipil di Gaza yang dikenal terpadat di dunia.


Pihak militer Israel mengatakan pada Human Rights Watch dan wartawan bahwa WP tidak digunakan di Gaza.
Catatan: Informasi kompliasi dari beberapa sumber: UN-OCHA, UNRWA & ReliefWeb. Photos: Reuters & UN Multimedia.


PBB harus segera mengirim pasukan perdamaian untuk menjamin dan mengawal suplai obat-obatan dan makanan. Dimana pasukan perdamaian dari PBB ?
@Tikno: Ada mekanisme yang harus dipenuhi agar PBB bisa mengirimkan pasukan perdamaian-nya seperti pada misi-misi PBB di Lebanon, Liberia, dan lain sebagainya – ialah *MANDAT* dari Dewan Keamanan (United Nations Security Council) yang memberi mandat/perintah (berikut alokasi anggaran dan sumberdaya) dan didukung oleh pengerahan personil militer dari kontribusi negara anggota PBB/TCC (Troops Contributing Countries) sedemikian sehingga kesemuanya berjalan.. tanpa adanya mandat tadi – Ban-Ki Moon hanyalah seorang Ban-Ki Moon saja..
PBB tidak bergerak sendiri dan mempunyai pasukan khusus sendiri miliknya selain dari sumbangan pasukan negara-negara anggota-nya berikut peralatan dan lain sebagainya.
Kerangka rancangan perdamaian yang diusulkan dalam Franco-Egyptian plan adalah salah satunya; Pasukan Pengawas Internasional yang menjaga perbatasan Gaza – Egypt.. ini pun masih alot ulur-tarik untuk diterima oleh Hamas dan Israel..
Bila kesepakatan gencatan senjata sudah dicapai – barulah pasukan internasional bisa masuk.. Indonesia pun (bila di minta) belum akan mengirim-terjunkan pasukan pemulih perdamaian-nya bila situasi di lapangan belum tercipta gencatan senjata. Sama saja dengan menjadikan mereka sasran tembak kedua belah pihak..
Kita doakan dan terus gencarkan seruan gencatan senjata ini..
Bila sudah ada mandat, apakah Indonesia akan menurunkan pasukan begitu saja? Dan apakah ada jaminan dari DK PBB thd pacekeepers qt? Dalam bentuk apa?
Secara, camp PBB di Gaza juga sudah digempur Israel. Padahal disaat yang sama, Ban Kim Moon juga ada di Tel Aviv.
Thx
@Rahma: Situasi seperti di Gaza saat ini sangat dinamis dan p[erkembangan-nya adalah detik demi detik, dimana kesepakatan yang dicapai (kalau pun ada) belum tentu segera terlaksana pada level ‘ground’..
Stabilitas keamanan akan mulai tercipta hanya bila pihak yang bertikai sepakat untuk mengadakan gencatan senjata, bukan dari DK PBB – dimana gencatan sejata pun acapkali sering terjadi pelanggaran.
Perihal Israel – Palestina memang sejak dulu selalu pelik, berbeda dengan ‘nature of conflict’ yang ada seperti di afrika atau lain-nya, terlalu banyak elemen dan hak veto dari negara anggota permanen DK. khususnya AS.
Pihak sekretariat (UN) juga sudah menyatakan kecaman keras atas serangan terhadap gudang penyimpanan UNRWA di Gaza. Sepertinya tekanan kepada keduanya untuk segera mengakhiri konflik, terutama terlebih kepada Israel perlu lebih dikoordinasikan lagi. Sudah terlalu banyak korban..
Laporan yang sangat menarik dan memberikan pencerahan kepada semua yang ingin tahu apa yang terjadi di Jalur Gaza.
Terima kasih Mas Luigi sudah berbagi dengan artikel ini..Saya akan ikuti terus beritanya. Salam dari Tanah Air.
hasil kompilasinya agak putus2 :) tp gpp masih terbaca maksudnya..
ntah brp banyak lg korban berjatuhan
penyelesaian masalah cara primitif dg perang akhirnya terpilih..
dg kemanusiaan di atas agama, perluasan wilayah, dll, gencatan senjata hrsnya tdk bs ditawar
akankah hamas mengubur bangsanya sendiri
akankah israel orgasmus dg pembantaiannya
mahal nian perdamaian itu ya
eh mas luigi, komen posting lama ditutup ya..
Israel (A disputed Legacy)..
The whole world shunned the jews out of thier countries and settled them in what is now Israel. Instead of staying with the original inhabitants in peace, they became mass murderers and banished them from their land. They wanted sympathies from the whole world after the holocaust. But what they are doing is no less. Present day Israel is a manifestation of Hitler’s policies. Thy are doing what was did to them. And the world supports the Israelis because they threw them out as dirt.
kang Luigi,
kira2 kapan perang itu selesai ? apa ngga bisa anak2 balita negara konflik dikirim ke Indonesia u sementara waktu (kejauhan kalee..) atau dikirim ke negara yang aman lainya ? kasihan lihat anak kecil jadi korban euy…
kapan ya muncul tulisan yang berjudul “ Finally, the war is ended…”