Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Muhammad IRAWADI

Pesan Presiden terhadap Personel TNI

3 January 2008, 08:29 , by Muhammad IRAWADI

 

Presiden SBY saat melantik 942 taruna TNI-Polri menjadi perwira muda di Semarang tanggal 17 Desember 2007, mengungkapkan bahwa TNI-Polri harus dapat merespons dengan cepat dan tepat terhadap perubahan dibidang teknologi persenjataan dan strategi tempur yang berkembang saat ini. Pernyataan ini tentunya diungkapkan bukan serta merta, namun bila ditilik lebih dalam memang sudah saatnya institusi TNI untuk mampu menghadapi perkembangan yang terjadi disekitarnya.

Pernyataan Presiden bila dilihat konteks perkembangan jaman, tentunya untuk menggugah dan mendorong institusi TNI, agar mampu menghadapi situasi yang bergerak cepat dibidang tehnologi. Saat ini revolusi tempur tidak hanya menjadi domain militer namun juga bagi perencana militer sipil yang berkompeten untuk bersama meningkatkan kemapuan pertahanan Indonesia. Bila dilihat kebelakang sejenak, memang TNI secara internal telah melakukan pembenahan untuk meningkatkan profesionalismenya. Hal ini adalah dilakukan sesuai dengan keinginan dan tuntutan.

Reformasi didalam tubuh TNI telah dilakukan dan Mabes TNI telah mengeluarkan pedoman dan langkah strategisnya untuk melakukan pembenahan secara struktural dan kultural. Buku “TNI Abad XXI” melalui Redefinisi, Reposisi dan Reaktualisasi Peran TNI dalam kehidupan bangsa merupakan “Buku Putih” TNI untuk menunjukkan jati diri dihadapkan pada perubahan jaman. “TNI yang kita andalkan haruslah makin profesional dan memiliki kemampuan dan tidak boleh tertinggal dengan kemampuan negara lain. Sehingga TNI diharapkan senantiasa siap jika penggunaan kekuatan militer harus ditempuh untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara”.

Kutipan diatas merupakan ucapan SBY saat mewisuda para perwira muda dari Akademi TNI dan Polri di Semarang tersebut. Revolusi tempur telah dilakukan oleh negara luar, seperti Amerika Serikat, untuk dihadapkan terhadap tuntutan tugas. Konsep militer tersebut dikenal dengan Revolution in Military Affairs (RMA). RMA adalah sebuah teori tentang peperangan masa depan, dimana sering dikaitkan dengan kemampuan untuk siap melakukan perubahan terhadap tehnologi dan organisasi yang ditujukan terhadap peperangan. Peperangan masa depan adalah peperangan informasi, network-centric warfare, Komado dan Kendali terintegrasi yang semuanya berbasis tehnologi informasi yang bermuara pada Keamanan Nasional. Negara-negara diseluruh dunia saat ini telah melakukan revolusi tempur karena tindakan ini bukan semata-mata untuk melakukan pertempuran secara konvensional namun telah terjadinya pergeseran yang sangat besar dalam bidang kemiliteran, sehingga negara tersebut tahu bagaimana mereka akan melakukan tindakan untuk kepentingan keamanan nasionalnya. Sedangkan negara lain seperti Belanda, Australia, Selandia Baru, RRC, Singapura, Rusia dan Jerman telah melakukan riset yang mendalam tentang Revolusi Tempur dan hasilnya melakukan perubahan dibidang infrastruktur dan organisasi militernya.

Meskipun negara tersebut memahami bahwa investasi untuk membuat infrastrukturnya sangat mahal. Namun keniscayaan terhadap ancaman dan melindungi kepentingan nasional menuntut negara-negara tersebut konsisten melakukannya. Hal ini harus dipahami oleh para perwira militer Indonesia bahwa Revolusi Tempur telah memunculkan dimensi lain yaitu informasi disamping kemampuan didarat, laut dan udara.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keunggulan komperatif, mulai dari sumber daya alam, jumlah penduduk dan letak geografis yang strategis. Modal awal anugrah Tuhan YME ini akan berlalu begitu saja, jika tidak dikelola dengan sumber daya manusia yang ada didalamnya. Sejak dahulu kala, tidak disangsikan bahwa jajaran kepulauan Nusantara telah menarik minat asing untuk menanamkan pengaruhnya terhadap negri yang subur dan memiliki kekayaan alam melimpah.

Tentunya selain untuk berdagang mereka juga ingin “menguasai” secara ekonomi dan politik. Saat Indonesia ini memiliki perbatasan dengan negara tentangga seperti Malaysia, Singapura, Pilipina, Papua Nugini dan Australia, sehingga tidak menutup kemungkinan konflik intensitas rendah hingga tinggi dapat muncul dari perbatasan. Meskipun Presiden mengatakan bahwa cara militer adalah cara terakhir yang dilakukan setelah diplomasi dan negosiasi politik, namun kesiapan dan kewaspadaan harus tetap tinggi bagi personel militer Indonesia.

Dengan keterbatasan anggaran negara untuk menyiapkan postur yang ideal bagi kemampuan personel militer Indonesia, menuntut improvisasi dari para perwira muda untuk tidak berhenti belajar dan berkreasi. Pemulihan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia. Karena bila anggaran pertahanan dinaikkan maka akan berpengaruh terhadap anggaran bidang kesehatan dan pendidikan.

Secara alami bila ingin meningkatkan profesionalisme bidang apapun maka akan bermuara pada tuntutan dana anggaran untuk pembinaan penyiapkan personel yang profesional. Kematangan dan kedewasaan berpikir dari pribadi personel militer harus dikedepankan untuk mendukung kemanunggalan dengan rakyat. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk tetap mencurahkan perhatian untuk meningkatkan kemampuan dibidang militer.

Muhammad IRAWADI Muhammad Irawadi Let Col. Muhammad Irawadi, has been supporting the Indonesian Battalion named as Kontingen Garuda/KONGA XXIII-A at United Nations Interim force in Lebanon (UNIFIL) since its deployment in early December 2006. Armed with hands-on experience during his first assignment as...

Detail Profile »

5  Comments

by Luigi Pralangga at 3 January 2008, 09:03

Mas Irawadi,

Sependapat dengan apa yang dituangkan dalam entry kali ini, satu hal yang harus kita sadari bahwa sebuah rumah akan terasa lebih aman bila ada pagar pembatas yang kuat dan jelas, dimana TNI & POLRI adalah berfungsi sebagai institusi pagar pelindung bagi rumah dan penghuninya.

Menguatkan, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan TNIPOLRI, baik personil dan kapabilitasnya adalah sebuah kebutuhan dan bukan menjadikan militerisme diatas elemen lain dalam struktur bernegara/bermasyarakat. Berjiwa militan adalah penting bagi setiap individu bangsa, bukan hanya tugas mereka yang berseragam dan yang dipersenjatakan saja.. setiap individu penghuni “rumah” itu mempunyai tanggung-jawab dan hak yang sama dalam pembelaan bangsa.

Meningkatkan kemampuan militer adalah elemen deterrence dini, agar bangsa dan negara ini senantiasa bisa disegani dan dihormati, karena kita bisa dan mampu membela diri bukan untuk pamer kekuatan.

by Agung Eka Dahana at 4 January 2008, 03:02

Anggaran militernya aja ngga cukup untuk itu…ditambah lagi dengan korupsi di tni sendiri sehingga mereka nggak konsen untuk berperang lawan malaysia….

by Luigi Pralangga at 4 January 2008, 03:25

Dear Agung,

Trims buat responsenya. Saya yakin perihal ini bisa dijawab dengan pencerahan dari kawan-kawan di TNI.
Satu hal yang saya faham adalah, TNI layaknya organisasi/institusi besar lainya juga menerapkan perbaikan-perbaikan internal.

Dari sudut pandang seorang sipil, yang juga berkecimpung dalam dunia peacekeeping, perihal serupa juga dialami oleh angkatan bersenjata lain-nya meski tidaklah semua serupa dan berbeda karakter situasinya. Dengan mekanisme dan fungsi kontrol yang sudah berlaku, saya yakin kedepan TNI bisa jauh lebih profesional. Kita doakan saja dan tentunya didukung.

A little pat on the back and sincere support from us, as civilian is much more effective rather than the negative gestures. After all, they are the one guarding our home. Right? :-)

Please continue expressing your voice, this way – we know that you care.

Kind regards from West Africa.

by Sulthon Hasanudin at 4 January 2008, 05:31

Wah menarik memang pernyatan presiden ini, jaman sekarang memang kita ngak bisa lepas dari kemajuan tehnologi, bahkan bisa dikatakan merupakan tuntutan jaman,dalam membentuk postur tni yg profesional.

Namun kita harus ingat bahwa manusia masih merupakan subject yg paling penting dalam kekuatan militer, setinggi apapun kecanggihan teknologi tanpa dibarengi sikap mental dan semangat juang yg tinggi akan menjadi suatu pajangan semata, sejarah beberapa kali mencatat tehnologi tidak musti memenangkan pertempuran, tapi tanpa teknologi nampaknya sangat sulit untuk menang.

Kembali pada semangat juang dan semangat bertempurlah yg menentukan kemenangan. Ini tidak hanya militer lo, semua komponen bangsa militer sipil mempunyai hak dan kwajiban yang sama dalam bela negara……….he he he…….ini kata undang undang.

by Tedja at 11 January 2008, 21:10

Irawadi,
Rudy Rahmat

How are you doing?
Nice to contact you again.

Regards
Tedja

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Indobatt juara Turnamen Voli tingkat SECEAST UNIFIL
(Marjayoun, 15/3) Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mengharumkan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah komuniti internasional, telah dilakukan dengan berbagai upaya dan kerja keras... »
Yogi Nugroho , 23 hours ago

Kursus MS Office Basic untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga: The Power of Motherhood
Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri... »
Ro'is Nahrudin , 3 days ago

Indobatt gelar Training of Trainer
Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mencapai suatu keunggulan positif dibandingkan dengan satuan tugas dari kontingen lain, memerlukan inovasi yang kreatif dan berhasil guna bagi lingkungan dimana... »
Yogi Nugroho , 3 days ago

Pertemuan Satuan Polisi Militer di Lebanon
(Blate Marjayoun UN Posn 7-3, Lebanon). UN Military Police Meeting adalah acara pertemuan seluruh Satuan Polisi Militer Internasional yang tergabung dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB, khususnya UNIFIL... »
Muhammad Dahlan , 4 days ago

Budaya orang Congo berfotoria
Orang-orang Congo sangat hobi untuk berfoto ria, jadi jangan heran jika tukang foto keliling bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota. Kebiasaan berfoto-ria ini memang sudah membudaya di masyarakat Congo,... »
Arny Wahyuni , 4 days ago

 

Recent Comments

Husam commented on Low Numbers, High Impact: Involvement of Women in Peacekeeping Operations
a few seconds ago


Nurul Fitri Lubis commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Didut commented on Impresi gado-gado di Myanmar
a few seconds ago


Didut commented on Menu makanan [pengungsi] hari ini
a few seconds ago


Didut commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com