Setelah menyelesaikan semua kegiatan selama Proses Check-In, Induction Course dan Administrasi Pemberangkatan di Kota Kinshasa Ibukota Republik Demokratik Kongo, akhirnya tiba saat bagi saya untuk berangkat ke tempat penugasan, Team Site 114 Lisala. TS (Team Site)ini merupakan tempat yang paling dihindari oleh Personel MILOBS lainnya di Region West MONUC DRC karena Status “RED” yang disandangnya akibat dari keterbatasan sarana prasarana yang ada serta sulitnya transportasi. Memang berat rasa hati membaca Surat Penugasan yang ada ditangan, tetapi TNI adalah pejuang yang pantang menyerah dan siap melaksanakan tugas kemanapun juga.
Perjalanan dimulai dari Bandara International Kinshasa melalui Terminal Khusus UN. Penerbangan selama 1 jam dengan menggunakan Pesawat Antonov-24 membawa saya menuju Kota Mbandaka (sekitar 600 Km arah timur laut kota Kinshasa) dimana saya harus transit selama 4 hari untuk menunggu penerbangan selanjutnya. Tidak ada penerbangan langsung dari kota Kinshasa ke Lisala dan ini menjadi salah satu kesulitan yang mendukung TS Lisala sebagai TS RED. Ngeri-ngeri sedap, kawan ikut penerbangan ini!. Suara baling-baling Pesawatnya kadang tiba-tiba berubah seperti suara orang ngorok disertai dengan lenggak-lenggok pesawat ke kiri dan ke kanan…. ngeri!!!
Tetapi sedap juga menyaksikan hamparan pemandangan hutan belantara yang penuh misteri dan aliran Sungai Kongo sepanjang perjalanan. Sungai yang panjang dan lebar dengan ribuan gugusan pulau disepanjang alirannya. Rasa penasaran tentang situasi dan keadaan di tempat tujuan juga ikut mengusik pikiran. Setibanya di Kota Mbandaka sesuai dengan koordinasi sebelumnya, rekan MILOBS dari Team Site 111 Mbandaka menjemput dan mengantar saya ke UN Quest House dimana saya menghabiskan waktu selama transit.
Dari nuansa yang tertangkap indera terasa bahwa perjalanan saya semakin menuju ke pelosok negara Kongo. Kota Mbandaka merupakan Ibukota Propinsi Equatorial yang juga terletak ditepian Sungai Kongo. Jangan membandingkan kota ini dengan Ibukota Propinsi yang ada di Indonesia. Keadaannya sangat jauh berbeda dari yang bisa kita bayangkan. Bila dilihat dari luasnya maka dapat saya gambarkan bahwa jalan-jalan keliling Kota dengan kendaraan dapat diselesaikan dalam waktu 15 menit saja. Anda tidak akan menemukan jalan Hotmix licin tanpa lubang disini. Hanya ada sebagian kecil ruas jalan yang sudah diaspal kasar ataupun cukup ditaburi kerikil kecil seperti Jalan Utama dari Bandara menuju ke pusat Kota (Kira-kira 2 Km). Kendaraan roda dua dan roda empat masih bisa dihitung dengan jari sehingga tidak ada kemacetan, lampu merah atau bising klakson kendaraan di Kota ini. Jaringan Listrik masih berupa rangkaian “LURRI” yang artinya “DIULUR SENDIRI” secara manual dari satu tempat ke tempat yang lain yang membutuhkan. Hidup matinya listrik, yah tergantung dari Si Empunya Generator, tetapi umumnya dari Jam 6 Sore sampai dengan jam 12 malam. Bangunan permanen baik yang masih digunakan maupun yang sudah rusak, dilihat dari modelnya dapat disimpulkan masih merupakan peninggalan dari Belgia seperti Bangunan Pertokoan, Gedung perkantoran dan Vila peristirahatan. Salah satu contohnya Kastil Tua yang masih berdiri kokoh di tepian Sungai Kongo. Menurut catatan sejarah, pada masa Kolonialisme, Belgia membangun Kota ini sebagai salah satu Kota perdagangan di bagian Utara Kongo. Banyak juga orang Belgia yang berkunjung ke kota ini hanya sekedar untuk berwisata karena posisinya yg strategis dengan pemandangan yang indah.
Sementara sebagian besar wilayah Kota lainnya merupakan lokasi pemukiman penduduk yang terlihat masih traditional dan tidak teratur. Satu hal yang sangat menyita perhatian saya adalah sampah berserakan dimana-mana bahkan ada tempat sampah yang berada di tengah jalan sehingga pengguna jalanlah yang harus mengalah melintas ke pinggir jalan. Saya menangkap kesan bahwa perbedaan antara kotor semrawut dengan bersih dan tertib sangat tipis sekali bahkan nyaris tak terdeteksi. Yang suka buang sampah ke kali Ciliwung mungkin bisa di transmigrasikan kesini kali ya?.
Jumlah penduduk lokal yang berdiam di Kota ini kurang lebih 12 ribu orang. Kaum expatriat yang ada selain Personel UN antara lain Libanese yang mendominasi sektor perdagangan, European, India dan Chinese. Mereka rata-rata melakukan bisnis pribadi dan sejumlah kecil adalah perwakilan organisasi international lain. Memang dasar para Bondo Nekad ya!!. Dah tau negara perang masih ditempati bisnis juga. Mungkin ada nilai positifnya juga kehadiran mereka bagi masyarakat lokal untuk bisa memacu pembangunan yang selama ini berjalan terseok-seok.
Di kota Mbandaka saya bertemu dengan seorang penduduk lokal yang bekerja pada UN Office Engineering Section bernama Jean Pierre Yoka.
“Papa Indonesia, how are you”.
“Hello, fine my friend, How do you now, I’m from Indonesia”.
“I know this Uniform and I know this flag”
Sambil menunjuk Badge Merah Putih di lengan baju sebelah kiri saya. Mulailah dia berkisah, pada saat berumur 6 tahun kira-kira tahun 60-an, ada Kontingen Pasukan GARUDA dari Indonesia yang ditugaskan di Kota Mbandaka dan Kota Kisangani. Mereka bertugas dengan baik sekali dan dapat merebut simpati dari masyarakat. Setiap kali Konvoi Pasukan GARUDA lewat mereka berbaur dengan masyarakat bahkan sekali-kali mereka membagi-bagikan bingkisan baik berupa makanan maupun pakaian bekas. Tidak seperti pasukan PBB dari negara lain yang tidak memperbolehkan masyarakat mendekat ke posisi mereka apalagi berbaur dengan mereka karena alasan keamanan. Kegiatan ini sangat membekas dihati masyarakat setempat sehingga sampai dengan sekarang mereka sangat merindukan kembali kehadiran pasukan Indonesia di tempat itu. Salah satu keluarga bahkan menamai salah seorang anaknya dengan nama “Indonesia”.
Terbersit rasa bangga juga sebagai orang Indonesia saat itu dan berterima kasih pada Senior-senior Pendahulu yang telah mengukir nama harum bangsa Indonesia di tempat ini. Saya sekalian lebih lanjut menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan makmur, apa pun mudah diperoleh dan murah sehingga bangsa Indonesia hidup berkecukupan bahkan lebih. Oleh sebab itulah bangsa Indonesia bisa membagi-bagikannya bagi bangsa lain yang membutuhkan. Saya pikir, memang demikian realitanya bila dibandingkan dengan Negara seperti DRC ini. Terlintas dalam pikiran tentang kegiatan-kegiatan sosial di Indonesia yang rutin dilakukan untuk mengumpulkan dana atau barang untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Disini to…. letak hubungan antara bantuan dan kemasyuran nama bangsa!. Mereka tidak mengingat satu persatu orang yang menyumbangkan atau membagi-bagikannya tetapi mereka mengenang Kebaikan Bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Ditengah kesendirian sepertinya waktu berjalan lambat sekali untuk melewati 4 hari transit di Kota ini!. Tetapi ketabahan menghitung detik demi detik akhirnya mengantarkan saya untuk melanjutkan perjalanan ke arah Timur laut sejauh 250 Km. Tepat pukul 09.00 Pesawat kecil “Raytheon Bechcraft 1900D” take-off dari Airport Mbandaka menuju Aerostrip Kota Lisala. Kembali saya berada di Angkasa Afrika selama 1 jam dengan perasaan ngeri-ngeri sedap. Sahutan: “Welcome to Lisala Paradise, my friend” seakan-akan membangunkanku dari lamunan yang menyeramkan tentang belantara Afrika. 2 orang MILOBS Lisala Team Site menyambut saya di Aerodrom sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“OK thank you, nice to meet you”, balasku. Rekan yang sudah lebih dulu bertugas di Team Site Lisala ada 4 orang yang berasal dari negara Paraguay, Mesir, Yordania dan Burkina Faso. Sangat membesarkan hati saya dari penyambutan yang hangat bahwa saya akan bertugas di Team Site yang anggotanya ramah dan bersahabat. Lebih lanjut mereka menjelaskan:
“You know Edwin, be ready for this here you will find everything is NO, ………no komputer, no internet, no extention, no comunication, no water, no food, no generator, no UN sister, no security, no flight, no fanta, no coka, no job, no work,…….. so no report ….. NO PROBLEM…… (sambil mereka tertawa cekikikan).
Hal ini baru saya mengerti dikemudian hari setelah mengalami sendiri hidup di Team Site pelosok yang serba sulit untuk mendapatkan Support dan Supply. Karena semuanya NO jadi kalau NO REPORT (baca: DSR/SITREP yang wajib dikirimkan ke Kantor Atasan), ya NO PROBLEM!!!.
Melintasi jalan utama di Kota Lisala menuju ke Team Site House, memberikan kesan bahwa saya sudah berada di tempat yang lebih pelosok lagi. Di Kota Lisala hanya ada 1 ruas jalan aspal sepanjang kurang lebih 3 Km yang kondisinya sudah berlubang disana-sini. Walaupun demikian jalan ini merupakan jalan utama Kota. Jalan lainnya adalah jalan tanah atau pasir yang bila hujan datang sangat sulit untuk dilewati kendaraan.
Bangunan permanen yang terlihat di sepanjang jalan utama hanya ada 3 yaitu Kantor Pemerintahan, Gereja yang berada satu lokasi dengan Sekolah Katolik dan Universitas Lisala. Selebihnya adalah rumah tinggal penduduk Non Permanen yang terbuat dari bambu/kayu dan tanah tanpa pagar pembatas. Kota ini dihuni sekitar 4000 penduduk.
Ada catatan sejarah khusus yang terkait dengan Kota Lisala. Di tempat inilah Mantan Presiden Zaire (nama negara ini sebelum berubah menjadi DRC) yang berkuasa selama 32 tahun bernama Jenderal Mobutu Sese Seko dilahirkan dan dibesarkan. Pada saat Presiden Mobutu Sese-Seko berkuasa, Kota ini mendapat Prioritas utama pembangunan di wilayah Barat negara Kongo termasuk salah satunya adalah pembangunan Istana Peristirahatan Presiden di tepian Sungai Kongo. Tetapi seluruh hasil pembangunan tersebut akhirnya luluh lantak akibat Perang Saudara yang terjadi sekitar tahun 1994 s.d 1997. Pasukan AFDL (Armed Forces Democratic Liberation) dibantu oleh Milisi dari Rwanda dan Uganda dibawah pimpinan Joseph Desiree Kabila menyerang Tentara pendukung Presiden di Kota Lisala. Semua asset Negara dan asset pribadi Presiden Mobutu hancur dan dijarah oleh Milisi maupun Masyarakat setempat. Hanya puing-puing bangunan yang masih tersisa dan menjadi saksi bisu kekacauan situasi pada masa sebelumnya. Milobs Team ditempatkan disini untuk memonitor dan mengawasi mantan anggota Milisi atau Kelompok bersenjata yang dulu bertikai.
10 menit perjalanan dengan Toyota 4Runner dari Airstrip akhirnya mengantar saya sampai ke Team Site House yang juga digunakan sebagai Team Site Office. Bangunan yang digunakan berukuran 200 M2 yang terdiri dari 1 Ruang Utama, 4 Kamar tidur, 1 Dapur dan 3 Mck. Satu hal lagi yang membanggakan tapi kali ini jangan sampai kebanggaan saya ketahuan rekan dari Negara lain. Saat masuk ke Ruang Kerja Team Site, saya langsung menyaksikan 2 buah Display Komputer menampilkan peringatan “ELANG BRONTOK, KIAMAT SUDAH DEKAT” dengan berbagai macam tuntutannya. Saya yakin para pengguna Komputer di Indonesia sangat familier dengan Virus yang menjengkelkan ini.
Hebat!, Virus ini bisa menjangkiti Komputer-komputer UN di Kongo ya! Lolos dari sedemikian ketatnya jaringan pengamanan Komputer bertaraf International yang digunakan MONUC. Tapi jangan sampai ketahuan nih kalau Virusnya berasal dari Indonesia. Sekedar intermezo saja saya berkomentar:
“What Program is this poping up my friend?”
“Ohhhh don’t think to much about that, it is just like One Virus and we don’t know the meaning here too, maybe from bla bla bla bla (disebutnya salah satu Negara, yang penting bukan Indonesia)”
Selamat deh, aku!. Seandainya saja ya, keahlian pembuat virus itu digunakan untuk menciptakan bukan merusak, apa gak hebat tuh hasil karya kita digunakan UN!!!!.















Bravo Mentor ….. artikel nya OK,ntar balik mudik bikin bergairah lagi di team site yang baru,semoga sukses selalu TNI ku
Bagus bang ceritanya jadi sedikit membuka wawasan saya tentang Congo,sukses bang dan hati2 tugas di negeri orang salam Garuda!!
:) tulisan yang menarik, akhir ceritanya lucu, saya pikir itu semboyan kesatuan bapak, ternyata… ;D
selamat bertugas pak!
Maju trus “merah putih”.
Meskipun keadaan dalam negara kita sekarang morat marit, kamu membuat kita semua bangga.
Doa mu diluar sana diperlukan untuk kondisi negara kita, dan kami pun turut mendoakan kesehatan dan kekuatan untuk mu dari Pencipta kita.
GIVE THE BEST FOR OUR COUNTRY,… Hidupkan semangat “NATIONALISM FOR THE BETTER WORLD”