(Adshit Al Qusayr, 6/11) Seluruh peralatan yang dimiliki Satgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-B dinyatakan lulus dan memenuhi standar yang ditetapkan sebagai Pasukan Perdamaian PBB setelah di-inspeksi dan diperiksa oleh Tim Inspeksi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dari Contingent Owned Equipment (COE) Unit beranggotakan 4 orang personel Sipil PBB dan 1 orang personel Militer dari Tanzania yang dipimpin oleh Charles Nlamba yang berasal dari Zimbabwe.


Pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim COE dalam setiap Triwulan ini bertujuan untuk mem-verifikasi kondisi dan kesiapan seluruh peralatan yang dimiliki oleh Satgas Konga XXIII-B. Hal ini terkait dengan MoU atau kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan Markas PBB di New York di mana semua peralatan Satgas Konga XXIII-B yang dibawa ke daerah misi PBB di Lebanon Selatan harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan baik menyangkut peralatan utama _ maupun peralatan pendukung _(self sustainment).
Peralatan yang diperiksa sesuai MoU tersebut yaitu Major Equipment terdiri dari 13 item pemeriksaan yang meliputi Kendaraan Tempur Panser VAB APC, VAB Ambulance, VAB Commando, Panser VBL Panhard, Panser BTR 80-A, Senjata, Crane, Bechoe loader, Excavator, Forklift, Truk Cargo, Kendaraan Ringan Jeep, Mobil Komunikasi Mobil (Komob), Mesin penjernih air, Generator, Kontainer pendingin makanan, Kontainer gudang, Rumah sakit, dan lain-lain.

Sementara untuk Self Sustainment terdiri dari 15 item diantaranya Perlengkapan memasak/dapur, Perlengkapan makan, Alat Komunikasi, Tenda, Alat Optik (Teropong, NVG, GPS, Kompas), tempat MCK, dan sebagainya. Disamping itu, perlengkapan perorangan prajurit juga ikut diperiksa.
Pemeriksaan dilakukan selama 2 hari berturut-turut dan dilakukan dengan mengecek secara fisik antara data yang ada di MoU dengan dengan kondisi nyata di lapangan. Sebagai konsekwensinya, Tim COE mengunjungi seluruh Base Camp Satgas Konga XXIII-B yang berada pada 4 lokasi yang berbeda, yaitu UN Posn 7-1 Adshit Al Qusayr, UN Posn 9-63 El Aadeisse, UN Posn 8-33 Sheikh Abbad Tomb dan UN Posn 9-2 Az Ziqqiyah. Bahkan guna mendapatkan hasil yang obyektif, Tim PBB juga tidak ragu-ragu untuk memeriksa Panser yang sedang melakukan patroli atau yang sedang berada di Pos Pengamatan (Observation Post). Pada saat memeriksa, Tim COE ini didampingi oleh Perwira Staf Satgas Konga XXIII-B yang terkait bidang Logistik yaitu Kapten (Marinir) Yuyun Susanto (Kasi-4/Logistik), Kapten Inf Fanny Pantow (Pasi-4/Logistik), Kapten Chb Putut Samiaji (Perwira Perhubungan), Kapten Cba Laris Simanjuntak (Danton Bekang), Kapten Cpl Ramin Alpome (Perwira Harpal), Kapten (Mar) Doni Ivan (Danton Zeni), Lettu Cpl Irwan (Danton Harpal) dan Lettu Cba Kemal Pasya (Perwira Makanan).
Pemeriksaan yang teliti dan ketat ini dilakukan sedemikian rupa karena sangat terkait dengan penggantian sewa atau reimbursement dari PBB kepada Pemerintah Indonesia atas Peralatan Satgas yang benar-benar memenuhi standar sesuai MoU. Metode ini dikenal dengan istilah Wet Lease dimana Pemerintah Indonesia sebagai TCC atau Troop Contributing Country (Negara Kontributor Pasukan PBB) bertanggungjawab untuk menyediakan peralatan pasukan TNI (dalam hal ini Satgas Konga XXIII-B) dan mampu memelihara dan merawatnya sesuai standar yang ditentukan selama menjalankan tugasnya sebagai Pasukan PBB . Berlawanan dengan metode ini, dikenal juga istilah Dry Lease yaitu metode yang digunakan oleh PBB untuk menyediakan sendiri seluruh Peralatan yang dipakai oleh Pasukan PBB termasuk, termasuk dalam hal pemeliharaan/ perbaikan dan suku cadangnya. Dengan demikian, dalam metode Dry Lease tidak ada reimbursement bagi TCC.
Pada saat melakukan pemeriksaan, Tim COE memberi apresiasi positif terhadap kesiapan personel Kontingen Indonesia yang telah menggelar semua Peralatan Satgas secara tertib sehingga amat memudahkan verifikasi yang dilakukan. Hal ini menurut Charles Nlamba, jarang sekali ditemui di kontingen negara lain. Bahkan salah anggota Tim COE yang bernama Ibrahim, selain salut dengan ketertiban peralatan Satgas, Ia juga memuji kebersihan kendaraan yang diperiksa. “Unbelievable!” demikian komentarnya saat melihat bagian dalam mesin kendaraan yang nampak kelihatan sangat bersih seolah-olah kendaraan “gress” yang baru keluar dari showroom.


Menghadapi pemeriksaan ini, Dansatgas Konga XXIII-B Letkol Inf A M Putranto, S.Sos sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya melalui berbagai upaya, diantaranya mengerahkan seluruh Perwira dan personel lainnya yang terkait untuk melakukan perbaikan-perbaikan semaksimal mungkin agar hasil pemeriksaan dapat lulus dan memenuhi syarat. Sebut saja diantaranya pembersihan, pengecatan, penggantian cuku cadang yang rusak, dan lain sebagainya. Selain itu, sebelum Hari “H” dilakukan “Pra Inspeksi” oleh Dansatgas maupun Wadan Satgas Letkol (Marinir) Ipung Purwadi. Semua upaya ini menurut Dansatgas, semata-mata agar semua Peralatan tetap siap untuk dioperasionalkan, baik oleh Satgas Konga XXIII-B sendiri maupun Satgas penggantinya mengingat partisipasi TNI dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon Selatan masih akan terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama.
Alhamdulillah…kalau semua peralatan sdh lulus uji kelayakan bekerjapun kita akan merasa aman,seringkali kita menghabaikan hal hal kecil,padahal yg kecil itu bisa bahagian dr hal yg paling FATAL kalau tdk benar dijaga dgn baik. Bgt pun tentu harus dirawat dgn baik secara team Work bukan hanya kepedulian seorang saja. selamat Berjuang TENTARA ku,TNI.
salam.
Tidak salah bahwa keputusan untuk menghadirkan peralatan baru dan dirawat secara intensif akan mendapatkan hasil yang maksimal.. semoga peralatan ini bisa awet terus hingga dipakai bertugas di negeri tercinta.
Banyak peralatan kontingen lain di Liberia yang malah dijadikan sebagai ‘tempat pembuangan’ yang mana banyak yang tidak layak pakai dan jadi barang rongsokan menganggur di pelabuhan tanpa reimbursement.
salut buat Tim Konga. sukses selalu di mana pun berada :D