Saya masih ingat sekali dikala hitungan kalender itu sudah H-10 dari jadwal penerbangan mudik. Hati ini berbunga-bunga sekali, pas seperti dikala jaman pacaran tempo dulu. Kalau sudah dekat hari Jum’at, besoknya hari Sabtu berjanji dengan si doi di ujung tikungan atau di alun-alun itu. Persis sama gelora hati ini dengan mendekatnya jadwal cuti dan terbang meninggalkan Liberia ini.
Alur panjang proses persiapan cuti, adalah prihal biasa bagi kita-kita para mission staffs yang sudah pastinya jauh-jauh hari berkoordinasi dengan Wakil Perdana Menteri Republik Rumah Tangga di kampung, karena beliaulah yang tahu persis prakiraan jadwal liburn anak sekolah dan serta-merta menyesuaikan dengan berbagai jadwal acara kumpul keluarga, dari arisan keluarga besar ini sampai keluarga besar itu. Jadi jadwal cuti mudik harus sudah sinkron dengan semua tetek bengek acara di kampung.


Sejak awal bertugas 2 tahun lalu, saya langsung ditacap bertugas di pedalaman Liberia, yaitu persisnya di Harper, Maryland County – yaitu sebuah county yang berbatasan dengan negara tetangga Liberia, yaitu Ivory Coast. Kota pelabuhan kecil dimana menurut sejarahnya, disinilah orang-orang Americo-Liberians, yaitu sejumlah budak yang dimerdekakan mendarat berlayar dari benua Amerika kembali ke Afrika. Aslinya mereka datang dan diambil dari berbagai belahan bumi afrika sebelumnya, dari Ghana, DR Congo, Mali dllsb oleh tatanan perdagangan budak di abad lampau. Liberia adalah rumah dari para budak yang dimerdekakan tadi, tumbuh besar hidup bersama penduduk asli disini. Sejarahnya boleh ditengok disini.
Kembali ke perihal cuti mudik, memang harus diakui bahwa daya tahan psikis manusia itu ada batasnya dimana dia akan terus dapat berfungsi, bekerja secara waras berinteraksi dan menerima tekanan/pressure dari profesi dan lingkungan pekerjaan, dimana Liberia yang notabene adalah masih tergolong pasca-konflik menurut standar UN Security masih berada dalam Security Phase III. Agar senantiasa dapat mempertahankan kewarasan dan keseimbangan psikis serta tetep profesional dalam bekerja di lingkungan seperti ini, upaya untuk pergi cuti berkala adalah jawabannya.
Ini dia foto saat mau terbang mudik bulan Maret lalu, meski waktu masih menunjukkan pukul 7AM, suegernya bukan main.



Sejak tiket pesawat itu sudah dipegang ditangan ini – istilahnya 30% kaki ini sudah bisa dikatakan menapak sudah di kampung halaman. Meski kenyataannya badan masiah berurusan dengan segala macam tetek-bengek di lapangan, senyum itu nampaknya tidak pernah habis-habis terpampang pada wajah ini. Rasa amarah itu nyaris tidak ada, bilapunada yang membuat gara-gara di kantor, hati ini hanya membalas dengan berkata: “Ah, sudahlah.. nggak usah diambil pusing”. Hebat nian memang imaji akan keluarga dan kampung halaman mempengaruhi daya adaptasi ini.. kalau sudah ketahuan tanggal mudik itu besok lusa ya!!.
Oke, marilah kita mulai mengulas urusan sakit kepala yang datang setelah masa berlibur itu usai..
Harus diakui bahwa cuti mudik, dan berlibur itu —-> butuh biaya yang bukan kepalang. Sebagai gambaran, untuk penerbangan kelas kambing, eh maksudnya kelas ekonomi dengan maskapai penerabangan Emirates dari Accra, Ghana ke Jakarta via Dubai, UAE – pada jadwal cuti kemaren, menghabiskan paling tidak sekitar 19 juta rupiah, hanya untuk tiket ditambah oleh-oleh ini dan itu, akhirnya dirogohlah kocek ini _ dalam hingga mencapai 20 jutaan deh, *sekali mudik, lho!. Taruhlah, setahun itu 2 kali mudik, jadi sudah kebayang khan?.
Pelesir kesana dan kemari, saat berada di kampung halaman. Wisata ke luar kota, dan memang nyaman sekali rasanya membelanjakan uang saat berlibur itu, bak expat dengan penghasilan berlipat, bersama keluarga menengok sanak famili diberbagai tempat. Saat tanggalan pada lembar kalender itu bergerak maju dna mendekat dengan tanggal keberangkatan kembali ke mission area _, mulailah itu _nyanyian/lagu rayuan pulau kelapa (Maksudnya: Rewel dan Merajuk) berkumandang dan sederet wajah muram bak sendal jepit dipintu kamar mandi itu. Dari anak-anak yang sudah mulai merasa rindu mengetahui ayahnya harus bekerja jauh kembali, dan terutama sang ibunda yang harus dihdapkan pada fakta ditinggal sendiri bersama anak-anak mengurus pemerintahan Republik Rumah Tangga ini sendirian, meski kebijakan dan arahan terus diberikan dari jarak jauh, pastilah berbeda dengan berada disebelah mereka.
Situasi itu sudah pasti membuat wajah ini pun berkerut bak jeruk purut, dan masam adanya. Apalagi menjelang H-2 keberangkatan kembali ke mission area. Tidak mudah sungguh. Sepertinya saya sudah mengidap penyakit umum staff mission yang gejala-gejalanya itu biasanya ditandai dengan orang-orang di rumah berperilaku seperti ini:
1. Sayanginulus Pelukitus —> Istri jadi lebih sayang dan ingin dipeluk terus dan dibarengi dengan gejala ngambek yang tidak jelas.
2. Manjaeyaolooraketulunganensis —>Apa-apa maunya dilayanin, diambilin, dituangin, dimandiin.. eh, salah! pokoknya dimanja macam kucing yang merem-melek kalau dielus2 sampai buntutnya.
3. Nontoninorangngepakbarangilus —> Yaitu perhatian tanpa berhenti ngeliatin saya ngepak barang dan bekal untuk dibawa balik ke mission area.
Namun demikian, terlepas dari semua gejala-gejala penyakit umum itu, sirna dengan kekuatan doa dan dukungan moril mereka dirumah. Komunikasi yang intesif dengan mereka adalah kunci utama dalam mengatasi tantangan bekerja jauh ini. Paling tidak mereka faham bahwa ayah mereka saat ini sedang berjuang untuk perbaikan kehidupan kedepan dan memastikan bahwa cita-cita bersama adalah yang menjadi landasan utama menjalani tugas ini.
Hampir 20 jam terbang dari Jakarta, kembali ke Monrovia, Liberia. rasa berat dan gundah itu perlahan sedikit sirna dengan menunggunya kerabat seperjuangan siap sedia menjemput di bandara. Memang initidaklah sebanding dengan rasa cita dikala dijemput di terminal kedatangan Bandara di kampung halaman, namun demikian mereka adalah pengobat rindu yang cukup untuk menguatkan jiwa ini bertahan sampai masa cuti mudik berikutnya.


Ohya, memang harus saya akui kalau kaos setrip-setrip ini adalah baju andalan yang selalu dpakai saat terbang mudik dan kembali ke mission area. Heheheehe!
Saya merasa bahwa, harus ada orang yang peduli dengan proses perdamaian di Liberia ini, dan saya bersyukur dengan pembelaan bekerja jauh dari keluarga ini, saya bisa menyumbangkan dharma bhakti demi kebanggan keluarga, bangsa dan negara. Bagaimana kisah dari peacekeepers lain-nya?, atau rekan-rekan yang saat ini masih bekerja berjauhan dengan tempat tinggal apakah penyakit umum itu juga kuat melanda?. Bolehlah cerita agar kita-kita di mission area ini bisa faham dan tidak merasa sendirian dan bisa berbagi pengalaman dan solusi. Salam hangat dari Harper, perbatasan Liberia dengan Cote D’ Ivoire.
selamat datang dan kembali bertugas mas don titipan dr kang luigi sdh di terima salam hangat dr sudat yang lg panas
Senyum, haru, bangga juga sedih bercampur saat baca tulisan ini. Selebihnya no comments! (T_T air mata sudah menetes…) Keep smile! Salam hangat dari Indo.
selamat….bermalas ria…mudik emang tiada duanya….harapan terpancar disaat ngumpaul keluarga..tapi setelah kembali….ya kerja lagi….penyakit ini..sudah dicoba membasmi virusnya ..ternyata penelitinya…menikmati juga …..mau diapain…….
Aduh btul skali DAN, skarang saya n rekan2 lagi d bandara sukaro-hatta prsiapan kmbali k UN POSN 7-3 slsai mlaks cuti, mals skali balik ampuuuuun …
gejala mau mudik nya sama nih, Pak. H-34 kita sudah mulai menghitung hari. sudah tanya tiket kanan kiri, walau tahu usaha akan sia-sia. di indonesia bag timur ini, pesen tiket mana bisa jauh2 hari, ada nya deket2 hari. senyum merekah selalu, sampai oarng bingung krn biasanya kita selalu bermuka masam akibat stres dan tak ada nya hiburan. saya enggak kebayang susahnya teman2 yang sudah berkeluarga, namun hrs bertugas jutaan km di dunia antah berantah. anyway, selama bertugas Pak.
Yuupp.. Kumpul bersama keluarga adalah hal terindah Mas..! Jangankan yg jaraknya ratusan ribu mil, lha wong sesama di pulau Jawa (Jakarta-Malang) aku pengennya pulang mlulu! hehe…
Tapi memang, untuk mencapai puncak kebahagiaan kita harus memilih dan mengorbankan sesuatu yang tidak mudah..! But life is about choice, right?!
Tetap semangaaaattttt!!
Home sweet home (that’s why we called it “home” & not house). Safe in trip and work, strength for the family & ourselves :)
Cheers.
hi…hi.. pas lg berbunga2x gitu taunya UN flight nya cancel..he..he bete deh terpaksa buat amandement MOP he..he
“mengurusi segalanya sampek tetek bengeknya”
gek tetek bengek iku ukurane piro …
:(
pa kabar Mas, semoga sehat, tetap dalam lindungan dan bimbinganNYA serta barokah dunia akhirat
saya agak geli sekaligus terharu baca postingan ini. :) tetap semangat! :)
“Wakil Perdana Menteri Republik Rumah Tangga”…. hahahaha.. !!, Buat Mas Luigi --->jabatan yang sama ya buat mba fenty?: keren yahhh :D
Salam hangat dari Jakarta :)
Makasih Mas, sudah saya baca tulisannya…
Huhuhuuuu………
Kirain para Bapak pada hepi kalo balik ke tempat bertugasnya (ouch, ngumpet takut dilempar sendal jepit!)…..Sayangnya dikit yang mau nulis tentang perasaan terdalam begini, padahal kan gakpapa….. Tentara juga manusia.
Sungguh menyenangkan mengetahui bahwa kalian (baca : para bapak) also feel the same as we do……
At least, I know I married to a human being, not robot…
Thanks for sharing….
Senangnya suami pulang dinas…..
sedihnya suami kembali ke ‘pelukan’ pekerjaan…. he..he.. tetap semangat bang !
Pak Don??!!
Wah sudah berkelebat ke belahan dunia lain ternyata.
Coba ajak2 saya pak, pasti saya ikut.
Ternyata tulisan pak Don enak juga diikutin nih, nggak sangka, baru nemu pas lagi iseng2 browsing.
Gimana pak kira2 masih butuh staf dari Indonesia nggak? Saya siap banget deh! (hitung2 untuk temen gitu hahaha)
Anyway kemarin sebelum berhenti dari IFRC sempet ditawarin ke Mozambique saya pak, tetanggaan lah sama Liberia.
OK pak sukses dengan misinya!
Kang Luigi ,
welcome home ketemu lagi ama Perdana Menteri Rumtang, eh salah harusnya menteri sekretaris rumah tangga merangkap bendahara…
And welcome home again in Monrovia to see people-2 yang bau kesang laat leet he..he..
Kalo sudah mudik ga mau balik lagi mah itu lebih dari wajar (yang ga wajar kan telor asin)
1. Sayanginulus Pelukitus —> Istri jadi lebih sayang dan ingin dipeluk terus dan dibarengi dengan gejala ngambek yang tidak jelas.
2. Manjaeyaolooraketulunganensis —>Apa-apa maunya dilayanin, diambilin, dituangin, dimandiin.. eh, salah! pokoknya dimanja macam kucing yang merem-melek kalau dielus2 sampai buntutnya.
3. Nontoninorangngepakbarangilus —> Yaitu perhatian tanpa berhenti ngeliatin saya ngepak barang dan bekal untuk dibawa balik ke mission area.
penyakit ini obatnya susah deh, mau diobatin pake apa aja ga sembuh2, kecuali pas yg bersangkutan back for good kali yaaa. but it’s good knowing penyakit ini masih ada sampe ber rumah tangga, jadi ga cuma pas lagi pdkt dan pacaran aja, hihihihihi. May God bless the troops always, best wishes from a far, ur home town, Indonesia =)
duh..belum ilang rasanya kangen mbakyu.. masku dah kembali bertugas… tapi itulah konsekwensi dari beban tanggungjawab. eh sempat gak mas ngucapin “ aku pergi untuk kembali” atau “ sebelum kau rindu aku sudah kembali” untuk mbakyu ku…? hehehehee.. ini dia yang namanya rayuan pulau kelapa.
papa,,,kami salut sama papa….
bangga jha gt,,,,,
papa the best lah buat kami semuaaa……
wiss u all the best…
we lav u paaa