Berawal dari mengikuti kursus bahasa Inggris tingkat advance di Sekolah Bahasa Polri di Cipinang Jakarta, maka saya berkesempatan mengikuti misi pemeliharaan perdamaian PBB di Sudan Afrika.

Misi ini adalah misi ke dua kalinya untuk saya. Misi saya pertama dulu adalah misi perdamaian di Bosnia Herzegovina, pada tahun 1997 – 1998. Misi kali ini merupakan misi yang benar-benar berat, baik dari segi keamanan maupun segi kenyamanan. Memang setiap misi PBB itu berbeda karakteristik, tergantung dari kondisi Negara dan mandat yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. Salah satu mandat yang diberikan dalam misi di Sudan ini adalah mereformasi dan merestrukturisasi lembaga kepolisian Negara Sudan, yang ikut terkoyak akibat perang. Reformasi dan restrukturisasi lembaga kepolisian dimaksud telah diatur dalam bentuk:
1. Memonitor pelaksanaan tugas kepolisian lokal yang sesuai dengan kepolisian dunia yang menerapkan sistem yang demokratis. Monitor ini juga diberikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada petugas polisi lokal sehingga mereka menjadi lebih memahami tugas-tugas pokok mereka. Karena 99% petugas kepolisian Sudan adalah mantan kombatan perang saudara.

2. Melaksanakan patroli bersama dengan polisi lokal, baik patroli jalan kaki maupun patroli bermobil.

3. Mengunjungi lokasi kantor polisi, pos polisi maupun check point yang berada dalam area of mission.
4. Menerapkan Community Policing.

Perlu diketahui bahwa Sudan adalah salah satu Negara di Afrika. Negara terbesar dari segi luas wilayahnya, yaitu 2,505,810 km2 dan jumlah penduduk mencapai 41 juta jiwa, berdasarkan sensus tahun 2006. Sudan merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam (70%), sisanya adalah menganut kepercayaan sendiri (25%) dan penganut agama Kristen (5%). Temperatur udara di Sudan bisa mencapai 2° C pada malam hari dan mencapai 48°C pada siang hari. Negara Sudan terbagi dalam 3 wilayah besar, yaitu Northern Sudan yang meliputi Khartoum sebagai ibukota Negara, Western Sudan yang meliputi Darfur pusat kotanya dan Southern Sudan yang meliputi Juba sebagai pusat kotanya.

Sudan memperoleh kemerdekaannya setelah menjadi koloni Inggris pada tanggal 1 Januari 1956. Oleh Inggris Sudan dibagi menjadi 2 wilayah besar, yaitu Southern (wilayah Selatan, yang didominasi oleh kaum Kristen) dan Northern (wilayah Utara yang didominasi kaum Islam).
Satu tahun sebelum merdeka pecah perang sipil pertama dikarenakan Sudan wilayah Selatan mengkhawatirkan akan dominasi Utara yang Islam atas Selatan yang Kristen. Perang sipil ini berlangsung hingga tahun 1972. Perang sipil kedua terjadi pada tahun 1983 hingga 2005. Perang itu berkobar karena adanya kelompok perlawanan dari kaum Selatan (SPLM = Sudan People Liberation Movement) dengan kelompok bersenjatanya (SPLA = Sudan People Liberation Army) terhadap dominasi kaum Utara yang tidak memperhatikan wilayah Selatan.


Perang sipil kedua ini berakhir pada tahun 2003 dengan diadakannya gencatan senjata dan proses perdamaian antara Pemerintah Sudan (GoS = Government of Sudan) dan SPLA. Pada tanggal 9 Januari 2005 ditandatanganilah CPA (Comprehensive Peace Agreement = Perjanjian Perdamaian Menyeluruh) di Nairobi Kenya, yang memberikan otonomi selama 6 tahun dan kemudian melaksanakan referendum dengan opsi kemerdekaan kepada wilayah Selatan.
Dalam merespon perjanjian perdamaian itu maka PBB membentuk misi penjaga perdamaian di Sudan yang diberi nama United Mission In Sudan (UNMIS). Misi ini diikuti oleh 45 negara kontributor, yang mengirimkan personel militernya, baik sebagai pemantau (observer) maupun sebagai pasukan dan personel kepolisian sebagai advisor.
Indonesia sebagai salah satu Negara anggota PBB kemudian mengirimkan juga personel kepolisiannya. Sejak tahun 2006 hingga kini telah dikirim 24 anggota Polri ke Sudan. Terakhir, pada tanggal 25 November 2008, sejumlah 14 anggota Polri diberangkatkan kembali ke Sudan. Mereka berasal dari beberapa Polda seluruh Indonesia dan berasal dari berbagai kesatuan maupun fungsi kepolisian, yang terdiri dari 9 orang Pamen, 3 orang Pama dan 2 orang Bintara. Menariknya salah satu Bintara adalah Polwan, yang merupakan satu-satunya Polwan pada rombongan/kontingen ini.
Pada tanggal 26 November 2008 jam 11.00 waktu Sudan kontingen tiba di Bandara Khartoum Sudan. Suasana dan udara panas terik langsung menyapa kulit seluruh anggota kontingen yang sudah kelihatan lelah akibat perjalanan jauh di atas pesawat Qatar Airways. Sejak tanggal 27 November 2008 hingga 8 Desember 2008 seluruh anggota kontingen mendapat pelatihan pengenalan (Induction Training) dari seluruh unit kerja di Markas Besar UNMIS (UNMIS HQ = Head Quarters). Pada tanggal 9 Desember 2008 seluruh kontingen dipecah menjadi 8 kelompok kecil sesuai dengan penempatan tugas baru.

Setiap tempat tugas baru akan diisi oleh 2 orang personel Polri. Mereka adalah:
1. AKBP Eko Rudi S. dan IPTU Wahyu Candra Irawan di Team Site (Polsek) Rumbek.
2. AKBP Irfing Jaya dan Kompol Gigih Prabowo di Team Site Ed Damazin.
3. AKBP Oktavianus M dan AKP Raja Simamora di Team Site Yambio.
4. Kompol Arsdo dan Kompol M. Kamba di Team Site Bentiu.
5. Kompol R. Syukri dan AKP Bismo Teguh di Team Site Bor.
6. Kompol Suprijono dan Aiptu Samiyanto di Team Site Abyei.
7. AKBP Maru Siagian di Northern Regional HQ (Mapolda Utara).
8. Briptu Santy Rahmi di UNMIS Pol HQ.
Setiap personel akan melaksanakan tugas sebagai Police Advisor di tempatnya masing-masing, sesuai dengan mandat PBB yang diterimanya, yang telah dijelaskan di awal tulisan di atas.
Semoga perjalanan Bhayangkara Negara di Sudan dalam salah satu bentuk pengabdian diri kepada Negara ini diterima oleh masyarakat Sudan umumnya dan kepolisian Sudan khususnya.
idealnya, hal-hal seperti ini menjadi headline news agar ada keseimbangan informasi, bahwa TNI-POLRI kita HEBAT, dan rakyat boleh bangga akan hal ini.
pengen kenal sama Briptu Santy Rahmi hehehehe…
Selamat berdinas dan sukses untuk seluruh anggota Team, suatu kebanggan mengemban tugas negara. Salam buat temanku di sana Kompol Arsdo Simatupang.
waduh asyik juga dong ada ceweknya, bisa digilirlah ya?? apalagi disana item semua kan, pasti mbak ini yang pualing ayu nan sexy
Dobardan Gospodin. Okta,semoga masih kenal dan ingat dengan saya. Dulu kita pernah sama2 seleksi misi Bosnia, saya tidak berangkat waktu itu. Tahun 2000-2001 baru saya ke Bosnia dengan Pak Boy sebagai Dan Konga XIV-14. sampaikan salam saya buat syukri, chandra, musakar, suprijono dan maru. saya sekarang di spn cisarua, sudah akbp tapi belum sespim, bgmn dengan Mas Okta? By the way, misi UNAMID berapa lama? saya juga mau coba ikut.
Saya turut bangga dengan tugas mulia ini. Semoga Tuhan senantiasa melindungi, membimbing, melimpahkan kesehatan, & kemampuan dalam melaksanakan tugas. Serta menjaga keluarga yg ditinggalkan di tanah air.