Sesampainya di kota Dungu, saya menemukan eksotisme yang berbeda. Memang tidak ada gedung-gedung bertingkat maupun jalan-jalan yang beraspal. Akan tetapi disini terasa benar sebuah kota tua yang dulu pernah berjaya. Kota Dungu ternyata merupakan sebuah pusat administrasi pemerintahan pada jaman penjajahan Belgia. Bekas-bekas bangunan tua masih berdiri kokoh disekitar kota sebagai bukti kejayaannya di masa lampau.


Yang paling menarik perhatian saya adalah sebuah kastil tua yang sangat besar. Kastil ini dibangun tepat di tepi Congo river, sehingga terlihat pemandangan sungai yang indah. Kastil ini diperuntukkan bagi raja-raja Belgia ataupun pejabat yang singgah di kota Dungu.


Di dalamnya banyak sekali kamar-kamar untuk tempat istirahat. Bangunan ini terdiri atas empat lantai dan temboknya terbuat dari batu bata. Kastil ini dikelilingi tembok yang tinggi dengan beberapa pintu gerbang. Di bagian belakang terdapat halaman yang luas. Di situ juga terdapat bekas bangunan para pelayan kastil dan kandang kuda . Melihat konstruksi bangunan ini timbulah pertanyaan bagaimana cara merekatkan batu bata sedemikian kokohnya sementara waktu itu belum ada semen.


Kondisi kota Dungu sendiri ternyata masih sangat sederhana. Penduduk lokal memang sudah banyak bertempat tinggal di sekitar kota. Pada jaman penjajahan dulu penduduk lokal tidak berani menempati daerah perkotaan. Mereka menempati desa-desa pinggiran atau bahkan di hutan. Bekas-bekas bangunan pemerintahan maupun perkantoran masih berjajar di sepanjang jalan kota. Bangunan-bangunan itu banyak yang beralih fungsi menjadi tempat tinggal penduduk. sebagian dari mereka memang tidak memiliki tempat tinggal sehingga mereka tinggal di bekas bangunan tersebut. Sementara perumahan di sana juga sangat sederhana. Mereka hanya beratapkan jerami atau ilalang. Bentuk rumah melingkar seluas 5 meter persegi. Dindingnya terbuat dari tanah liat. Kamar mandi dan dapur terpisah dari bangunan utama. Sebagian lain juga memiliki satu bangunan lagi sebagai rung tamu atau sekedar berkumpul anggota keluarga.

Kemudian satu lagi yang bikin saya kagum tentang bangunan di Dungu. Sebuah jembatan yang sangat unik yang terbuat dari susunan batu bata. Jembatan ini sangat berguna bagi masyarakat karena menghubungkan kota dengan desa-desa yang lain.


Kontruksinya kuno mengikuti gaya Barat. Bagian bawahnya melengkung dan bagian atasnya datar. Tidak ada tiang-tiang sebagai penguat jembatan di bagian atasnya. Jembatan ini membelah Congo River sejauh 200 m.


Harus diakui memang bahwa peninggalan kolonial masih menyimpan banyak masa kejayaan di DRC, sama dengan di Liberia, dimana saat Pres. Tubman berkuasa – Liberia berada pada jaman keemasan-nya, masihterlihat kini di beberapa daerah peninggalan sisa bangunan sebagai saksi bisu itu.. semoga mereka semua bisa belajar dari sejarah agar – sejarah yang buruk tidak berulang.
Eksotis…jadi inget kota lama di Semarang..
Menurut saya kota “DUNGU” adalah suatu kota dengan peninggalan bersejarah yang masih bisa dibilang sangat bagus.
Walaupun terlihat di tumbuhi tanaman, tapi bisa dilihat bangunan keseluruhannya masih amat baik.Memang dimanapun berada sebaiknya bangunan peninggalan bersejarah itu tetap dapat dipelihara.
Itu merupakan contoh yang baik, walau kota yang terbilang jauh lebih kecil dari Jakarta, tapi apa yang dilakukan tentang pemeliharaan bangunan bersejarah merupakan contoh yang sangat baik bagi kita.
kok mereka tidak bisa melanjutkan fungsi gedung gedungnya yah?
Dear Mas Pralangga/Mas Dede Rusdiana,
Salam kenal dari Tebet, jakarta.
Pertama, terimakasih banyak buat mas Pralangga yg sdh membuat blog khusus yg berhubungan tgs2 UN para Army kita, two thumbs..deh.., sudah cukup lama saya mengikuti perjalanan mas Luigi Pralangga.
kedua, terimakasih banyak buat mas Dede yg sudah crt ttg gimana daerah DUNGU itu, beberapa minggu ini saya cukup penasaran kayak opo yo DUNGU itu?
Alhamdulillah terjawab dab sedikit terobati bisa lihat suasana sekilas DUNGU dengan perwakilan foto2nya. Thanks a lot…
Mas-mas yang baek,
begini lho, saya mo minta tolong, karena kebetulan saya dkk yg punya usaha freight forwarding di tebet,namanya PT. Transaka Dunia Cargo ditunjuk untuk mengurus pengiriman barang-barang untuk TNI yg bertugas di DUNGU.
Kita agak kesulitan masalah transportasinya disana, jika kita hantarkan, pihak pelayaran di Africa hanya mau sampai Kongo.
Nah, maksudku bukannya Dungu, termasuk di Kongo kuga ya? saya masih bingung nih, mas-mas ada pengalaman or masukan nih, gimana ya masalah perijinan disana? local truckingnya apakah begitu sulit ke Dungu? apakah masih kondisi perang?
Mohon dibantu ya mas, ingin sekali kami bisa menghandle projects ini sukses sd tujuan DUNGU, hanya terus terang kami belum punya partner Forwarding di local DUNGU, or minimal yg dekat DUNGU. Ada yang bisa bantu?
Plan kami, akhir Juni ini, ada 12 Container berangkat lewat Mombasa, 6 Flat rack, 6 nya GP or container 1×20FT berisi alat2 kebutuhan personal UN di DUNGU.
wah, saya byk banget crt, ini surprise banget bisa langsung share sama mas-mas yg tugas di DUNGU.
Suwun sanget mas Luigi Pralangga, sahabat friendster ku dulu. Apa kabar? selamat bertugas.
salam Hormat,
Susana
@Susana:
Dear Susana,
Saya mengerti sekali kebingungannya.. DRC itu teritorialnya seluas eropa barat.. dan hanya satu negara. kebayang ‘logistical-nightmare’nya.. saya pun baru saja tutup telepon dengan rekan di MONUC yang adalah sahabat sebelumnya bertugas sama-sama satu kantor di UNMIL – Liberia dan bercerita tentang urusan “sakit kepala” perihal pengiriman barang dari LN yang banyak hilang, tersesat dan tercuri selama transit dijalan dari mulai pelabuhan di Mombasa, Kenya hingga sampai ke DRC.
Perihal pengiriman COE (Contingent Owned Equipment) ke Dungu, saya menyarankan agar merujuk pada INCOTERMS 2000 dan jaminan asuransinya. Pastikan itu.
Berikut sharing saya perihal pengiirman barang ke daerah mission:
1. Cargo Tampering: Kecolongan pada cargo – ini mungkin istilah mudahnya. Banyak kiriman barang ke Liberia yang hilang, rusak dan lain sbeagainya hingga si barang tersebut diterima rusak dan tidak lengkap, Selain faktor keamanan setempat dan selama transit, untuk mencegah barang hilang dan rusak pengamanan packaging dan labeling sedianya dilakukan oleh pihak designated freight forwarder. Barang sebaiknya bila dikriim dalam bentuk LCL (Loose Cargo) diperkuat dengan wooden crate dan seals/segel yang tidak memberi kemudahan untuk dicongkel dibuka paksa dan lain-nya (tampering), sebab jarak pelabuhan dengan Kinshasha dan atau daerah di Dungu adalah lebih dari 600 miles. Melewati beberapa check points dan lintas batas negara – meski itu barang UN – tetap saja tidak luput dari pencurian dan resiko lainnya.
Packing list dan shipping documents sebaiknya merefkleksikan semua secara rinci agar bila ada discrepancy bisa terlacak, dan pastikan bahwa insurance of cargo is applied. Shipping to Africa has its uniquely high risk to theft and tampering.
2. Koordinasi dengan MONUC – MOVCON dan JLOC. MOVCON adalah sebuah seksi di UN Mission yang berhubungan dengan movement control of passengers and cargo. MOVCON bertugas (untuk UN Shipment) mengurus customs clearance dan formalities dari semenjak barang dibongkar dari kapal dan dinaikkan diatas truk untuk dipindahkan ke UN Container yard menunggu customs clearance. Semenjak cargo sudah rampung dengan urusan custom clearance, maka JLOC (Joint Logistics & Operation Control) mendukung pemindahan shipment tersebut dengan Truk UN atau truk milik Kontingen yang ditugasi. Kita di Liberia, ada batalion transport dari kontingen China yang mendukung logistik disini, termasuk itu urusan angkut-angkut barang dari pelabuhan, termasuk pengiriman COE dari pelabuhan ke lokasi si kontingen pemilik barang tersebut. (Silahkan di cek dengan rekan2 di MONUC dan Contact person di Konga XX-F).
Kalau tidak salah email MOVCON MONUC adalah monuc-movcon-entebbe@un.org dan monuc-movcon-mombasa2un.org, silahkan membuka komunikasi dengan mereka bila ada hambatan, namun sebelumya koordinasikan dengan rekan di Konga XX-F dahulu.
Singkatnya.. pihak kontingen sudah menjalin koordinasi dan kerjasama dengan seksi terkait pada misi tersebut. Silahkan dipastikan bahwa masing-masing elemen terkait sama-sama memiliki akses informasi dan dokumen yang sama agar koordinasi menjadi memungkinkan dan mudah. Seperti disebut diatas, ada baiknya pihak FF (Freight Forwarder) dapat juga menjalin koordinasi dengan MONUC – MOVCON guna memastikan bahwa kiriman barang untuk keperluan Konga lancar dan tidak ada kekurangan sesuatu apapun.
Demikian dari saya, sekiaranya ada yang kurang jelas silahkan email saja. Salam hangat dari kita-kita di UNMIL, Liberia (West Africa).
PS: Mas Leo dan Kang Dede, kiranya mungkin bisa diresponse langsung kepada Susana. Nuhun!
Dear Mas Luigi dkk,
Nuhun sanget balasannya dan alhamdulillah bisa nambah wawasan lagi ttg bagaimana situasi transportasi dan logistics di Dungu. Apakah benar sikon jalannya rusak parah ya mas?
Saya butuh dibantu lagi nih bagaimana mendapatkan link/akses email atau kenalanny yg bekerja di point 2) MONUC-MOVCON dan JLOC.MOVCON? maaf banget jadi merepotkan, soalnya kalau dari crt diatas yg sudah dipaparkan mas Luigi, wah khawatir juga ya byk terjadi hilang, tersesat dan bahkan tercuri, maka perlu koordinasi yang matang sekali.
Apalagi brg yang akan dikirim nilainya tidak murah, kami punya tanggungjawab yang besar sekali disini.
Barangkalai ada masukan lagi dari mas Leo dan mas Dede? saya sangat menunggu advise nya …
Wah, andai bisa turun langsung yach ke Dungu…suatu tantangan juga…, penasaran banget dgn lokasinya yang super exotic saya rasa…
selamat bertugas para pejuang kita! Sukses selalu!
Have a great day,
Susana