(Adshit Al Qusayr, 1/9) Kehandalan Pasukan Indonesia Kontingen Garuda XXIII-B kembali dibuktikan dengan meraih gelar juara III Turnamen Militer antar negara Kontingen UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), yang diselenggarakan di Tibnin, Lebanon Selatan. Turnamen bertajuk Bellubatt Run and Power Games 2008 merupakan lomba yang cukup bergengsi di kalangan pasukan yang sedang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan untuk mengadu kemampuan olah pikir dan tenaga sekaligus kerjasama tim.
Turnamen yang diprakarsai oleh Kontingen Belgia dan Luxemburg atau lebih dikenal dengan nama Bellubat (singkatan dari Belgia Luxemburg Battalion) digelar di dalam Markas Bellubat UN Posn 6-5 terdiri dari 2 jenis perlombaan. Perlombaan pertama yaitu Power Games meliputi 11 macam materi lomba olah pikir dan tenaga yang ditempatkan dalam 11 pos atau lokasi yang berbeda. Beberapa materi tersebut di antaranya ialah:
1. Tolak Balok Kayu,
2. Lari Estafet 100 M dengan membawa jeriken berisi air,
3. Lari Estafet 100 M membawa Ransel berisi pasir,
4. Mendorong Truck mogok,
5. Memegang dan Menahan beban 10 Kg,
6. Mendorong/menggelindingkan Ban Truk sejauh 100 M dan lain-lain.
Sedangkan perlombaan kedua yaitu Run Games merupakan lomba lari estafet sejauh 7 × 3 Km atau sejauh 21 Km. Menurut Ketua Panitia yang juga Komandan Batalyon Bellubat, Letkol Dany De Wolf, undangan sudah disampaikan kepada seluruh kontingen, termasuk tentara Lebanon.
Namun pada saat technical meeting, hanya 6 kontingen yang dapat mengikuti turnamen Power Games dan 8 kontingen yang mengikuti Run Games. Enam negara yang mengikuti Power Games ialah tuan rumah Belgia (2 tim), Prancis (1 tim), India (1 tim), Polandia (1 tim), Korea (1 tim) dan Indonesia (2 tim) sehingga total 8 tim.




Kemudian, negara yang mengikuti Run Games yaitu Belgia (1 tim), Prancis (1 tim), India (3 tim), Polandia (1 tim), Korea (2 tim), Portugal (1 tim), Indonesia (1 tim) dan Malaysia (2 tim) serta ditambah dengan 1 tim putri dari Belgia sehingga total berjumlah 13 tim. Dalam Power Games, masing-masing tim terdiri dari 4 orang anggota dan 2 orang Perwira. Seorang Perwira dari tim itu ditunjuk menjadi Team Captain guna menyusun taktik dan strategi untuk memenangkan setiap lomba, sedangkan untuk Run Games tiap-tiap tim terdiri dari 6 orang anggota dan 1 orang perwira.

Perlombaan Power Games berlangsung seru karena masing-masing tim memiliki taktik dan strategi yang berbeda untuk meraih kemenangan. Ramainya dukungan supporter dari masing-masing kontingen juga ikut menambah hebohnya perlombaan. Sampai jeda untuk istirahat siang, masih belum dapat ditebak tim mana yang akan keluar sebagai pemenang mengingat persaingan perolehan nilai yang cukup ketat.
Selain itu, panitia yang bertindak sebagai Juri bersikap amat tertutup sehingga tidak satu pun peserta yang tahu persis berapa nilai yang diperoleh oleh lawan-lawannya. Namun kondisi itu berbeda saat lomba Run Games (lari estafet jarak 7 × 3000 M) dimana kemampuan setiap tim dengan jelas dapat terlihat.
Pelari Kontingen Korea sejak awal bendera start dikibarkan berada jauh di depan peserta lainnya, dibayangi dengan ketat pelari Kontingen Belgia dan India. Sementara Pelari Prancis, Portugal, Polandia dan Indonesia masih berkelompok saling mengejar di belakangnya. Yang cukup jauh tertinggal di belakang ialah pelari-pelari dari Kontingen Malaysia. Sempat terjadi salip menyalip antara pelari Korea dan India namun sewaktu mendekati finish, pelari-pelari Korea menunjukkan ”kelasnya” hingga dapat mendahului pelari India dan keluar sebagai pemenang pertama.
Selanjutnya Pelari India menempati posisi kedua dan Pelari Belgia menempati urutan ketiga. Setelah itu berturut-turut, Pelari India kembali menempati posisi ke-4 dan ke-5, Pelari Portugal menempati posisi ke-6, Indonesia posisi ke-7, Korea posisi ke-8, Perancis posisi ke-9, Polandia posisi ke-10 dan akhirnya pelari Kontingen Malaysia menempati posisi ke-11 dan posisi ke-12 serta ditutup oleh Pelari-pelari putri Belgia di posisi ke-13.
Sedangkan pada saat pengumuman pemenang Power Games di sore harinya, Indonesia berhasil masuk 5 besar (The Best Five), di mana tim Indobatt-A berhasil meraih gelar Juara III setelah tim Kontingen Korea (Juara I) dan tim Kontingen Belgia (juara II) sementara untuk tim Indobatt-B berada di urutan ke-5.

Tropi dan Sertifikat diserahkan langsung oleh Komandan Kontingen Belgia, Brigjen Wouters kepada Mayor Mar Romy Hutagaol selaku Team Captain dan dilanjutkan dengan acara foto bersama.
Momen bersejarah ini disaksikan oleh sejumlah Komandan Batalyon dari Belgia, India, Portugal, Korea dan Malaysia serta para perwira dari negara peserta.
Menurut Dansatgas Konga XXIII-B Letkol Inf A M Putranto, S. Sos, keberhasilan ini merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat persiapan untuk menghadapi turnamen dari segi waktu sangatlah terbatas yaitu hanya sekitar 8 hari sebelum perlombaan mengingat seluruh tenaga dan pikiran prajurit Garuda XXIII B baru saja dikerahkan untuk mensukseskan acara Indonesian Medal Parade pada tanggal 20 Agustus lalu.
Dengan alokasi waktu yang ”mepet” tersebut, pasukan Garuda melaksanakan latihan intensif di bawah bimbingan Mayor Mar Romy Hutagaol dan Mayor Inf D. Zulkarnaen dibantu oleh Kapten Inf Mahbub Junaedi dan Kapten Inf Edy Widiyanto. ”Meskipun hasil yang diraih ialah juara III, namun prestasi ini jelas menunjukkan adanya peningkatan yaitu berhasil mengungguli Kontingen India yang sebelumnya sulit dikalahkan”, tegas Dansatgas kepada prajurit Konga XXIII-B sesaat setelah acara penerimaan tropi pemenang.
Kondisi keamanan Lebanon Selatan, termasuk di sepanjang Blue Line yang saat ini relatif tenang, apalagi dengan telah diperpanjangnya masa berlaku Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 melalui Resolusi Nomor 1832 pada tanggal 28 Agustus 2008 telah memberikan inspirasi bagi Batalyon Belgia yang akan mengakhiri tugasnya untuk menyelenggarakan event ini. Namun demikian, kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas setiap kontingen yang tergabung di UNIFIL, baik di Sektor Timur maupun Sektor Barat. Kegiatan turnamen militer ini merupakan tugas tambahan dan tidak sedikit pun mengurangi tugas pokok kontingen UNIFIL, termasuk Kontingen Garuda XXIII-B yaitu untuk memelihara perdamaian di Lebanon Selatan melalui kegiatan taktis berupa pelaksanaan patroli, baik berjalan kaki maupun berkendaraan serta melakukan observasi secara terus menerus di Area Operasi yang telah ditetapkan serta kegiatan non taktis berupa pelaksanaan Cimic (Civil Military Cooperation) dan Humanitarian Assistance.


Harus diakui bahwa kemampuan personil TNI, memang tidak bisa diremehkan begitu saja..meski persiapan yang relatif mepet tenggat waktunya masih bisa maksimal – bravo Konga XXIII-B!
Semoga semangat ini terus terbawa hingga saat kembali ke tanah air nanti. :D
Waaahh salut untuk anggota kontingen KONGA XXIIIB yang bisa mendapat prestasi baik dalam mengikuti turnamen militer antar kontingen PBB di Lebanon, walau hasil tersebut didapat tanpa persiapan yang meksimal. Semangat yang tinggi dan pantang menyerah inilah yang dibutuhkan oleh negara kita dan semoga semangat ini tetap ada pada diri seluruh anggota KONGA XXIIIB pada saat kembali ke Tanah Air di bulan depan………Amien.
Salut buat kontingen Garuda di UNFIL!
Keep the spirit up roar high kawan,:)
selamat buat Konga XXIII-B. lama nih gk update berita dari lebanon.
Wuahahahahah… Om.. ko acara pertandingannya kaya pertandingan 17 Agustusan di kantor saya sih wekekkekekke
Selamat buat tim Konga XXIII-B. Acaranya seru! Ternyata dunia indah tanpa perang.. Buat A’a, report acaranya cukup detail…jadi pengen ikutan lomba! ;-p
Selamat atas keberhasilan Pasukan PBB ke 23 , telah melaksanakan Tugasnya dengan baik, semoga TNI selalu Berjaya , Bersatu dengan Hati Bangsa & Negara dalam mengemban Tugasnya yang telah berhasil meraih prestasi yang gemilang di mata Dunia, dalam menjaga keamanan di Lebanon .