“Kang, tolong bantu saya untuk booking/pesan tiket buat mudik dengan jadwal keberangkatan dan kembali sesuai jadwal yang saya tulis di email..“ Begitulah pesan singkat SMS saya kepada si kawan yang kantornya berada di Monrovia. Mengapa tidak bisa pesan sendiri??. Ya karena saya berada di Harper, sebuah kota terpencil di ujung barat Liberia, berbatasan dengan negara tetangganya, yaitu Pantai Gading (Ivory Coast), yang mana koneksi internet kantor dan kualitas sambungan dari jaringan seluler disini amat tidak bisa diandalkan untuk komunikasi/koordinasi. Travel agent yang bisa dikatakan cukup professional yang bisa melayani kebutuhan pembelian tiket bagi kebanyakan para staff yang bekerja di misi ini, berada di Accra, Ghana – negara disebelahnya Pantai Gading ini, itulah salah satu alasan-nya.

Istriku, ketahuilah bahwa lebaran tahun lalu, sedih sekali rasanya tidak bisa bersama kalian. Mengingat saat tiba di misi pertama kali adalah bulan juga September, dan waktu itu rindu sekali akan masakhan khas Hari Raya buatanmu..
Secepatnya setelah tiket ini ditangan, maka segeralah diajukan MOP (Movement of Personnel), yaitu sejenis permohonan untuk terbang dengan heli UNMIL dari Harper menuju Monrovia untuk kemudian lanjut dengan penerbangan regular UNMIL ke Accra, Ghana.
Hari keberangkatan sudah diujung mata, dimana angka pada lembaran kalender itu menandakan bahwa tinggal 6 hari lagi dari jadwal terbang saya untuk pergi dari Harper. Lama benar rasanya, detak waktu ini bergerak amat lambat dan harus diakui meski badan ini masih berada di sini, hati dan pikiran sudah jauh terbang melesat menuju kampung… dan membayangkan kedua kaki ini melangkah keluar gedung terminal bandara di Pekan Baru, ah indahnya..! – sering kemudian senyum itu tiba-tiba saja muncul saat lepas membayangkannya.
Hati boleh berharap yang indah-indah, namun rasa ketar-ketir ini mulai merajalela, secepatnya mengetahui semenjak 3 hari sebelum jadwal terbang bertemu dengan rekan-rekan military observers dari Negara lain yang kemudian mengeluh:
“Man, the flight is cancelled again.. due to bad weather and I’ve got a confirmed ticket to fly home which cannot be changed at all or I’ll lose the money!”
“That’s too bad, can you wait till tomorrow? – there will be another flight to Monrovia..” kata saya.

Gak jadi terbang hari ini, Heli-nya batuk dan pilotnya masuk-angin!
Maka berlalu-lah dia, si kawan yang berasal dari Ekuador yang dari kisahnya telah merogoh koceknya hingga lebih dari US$ 3,000.00 untuk tiket pesawat dari Monrovia ke Quito, dengan kelas ekonomi – bayangkan seberapa kelimpungan-nya jika harus menghadapi kenyataan jikalau si tiket itu hangus lantaran dia tidak bisa berada di Monrovia sesuai jadwal.
“Wahduh, bagaimana kalau itu terjadi pada saya sendiri..??” – buru-buru deh mastiken bahwa penerbangan minggu depan nggak seperti kisah si amigo satu ini.
Gimana sih rasanya bekerja, tapi pikiran dan hati udah nggak menyatu dengan urusan kerjaan?. Persis sekali! Kadang diajak bicara sering nggak nyambung dan mulai sering mendapati diri terburu-buru yang mana ingin rasanya hari ini cepat sekali berlalu dan menyongsong sebuah pagi dimana kedua kaki ini menaiki tangga helicopter itu dan terbang meninggalkan Harper dan urusan sakit kepala di pekerjaan itu untuk mudik.
Ya, benar sekali – saya butuh istirahat!.
Mendekatkan diri bersama keluarga yang selama beberapa bulan ini berada jauh dari mereka.. saya ingin menjadi imam sholat bersama istri dan anak-anak.. bersantap buka-puasa satu meja, tidaklah harus di restoran, cukup dirumah bersama mereka. Itu yang ada dibenak ini.
Hari minus 2, dari tanggal keberangkatan ke Monrovia. Hampir pada hari-hari sebelumnya selalu mendapati khabar kalau penerbangan heli dari Monrovia ke Harper batal terbang. Seperti biasa – cuaca adalah akibat utama pembatalan penerbangan itu. Bagaimana dengan jalan darat?. Saya masih ingat benar, dulu – dikala jalur trans-sumatera itu baru dibuka, jalan-jalan mulai dari Lampung hingga terus keatas sampai ke Bengkulu dan akhirnya ke Riau, itu persis sekali dengan keadaan kondisi jalan dari Harper menuju Monrovia. Jalan tanah berliku-dan-bergelombang, dimana saat hujan melanda di malam harinya, tiada yang tahu seberapa dalam kubangan itu kecuali benar-benar menceburkan diri kedalamnya.


Seperti banyak orang-orang di Liberia ini, perlu sekitar 10 hari berangkat dari Monrovia, untuk tiba di Harper – melewati Tapeta, Zwedru, dan Fishtown.
Sebut saja namanya Carlos Sigarelos, bersama dialah kita berdua memutuskan untuk nemumpang truk Palang Merah dari ICRC yang berangkat menuju ibukota, ketimbang menunggu jadwal penerbangan yang sudah 4 hari terakhir ini selalu berujung pembatalan. Setelah mendapat ijin dari RSO (Regional Security Officer) dari UNMIL, akhirnya kita berdua memutuskan untuk menempuh jalan darat. Tidak lama berselang sejak ayam berkokok, truk itu meluncur.
Jalan berlumpur dan renjul-renjul itu benar-benar membuat punggung dan bokong ini nyeri tiada tara akibat goncangan dan kerasnya tempat duduk.. yang penting diri ini secara geografis bergerak mendekati tujuan-lah!. Menumpang dan duduk diatas bak truk, persis seperti para pengungsi itu.. bukanlah seperti nyaman berkendara dengan bus pariwisata lengkap dengan semburan sejuk udara AC.
Keringat mengucur deras dan pemandangan yang membuat kesat mata ini, lantara sejauh mata memandang hanyalah semak belukar dan pepohonan tak beraturan itu sajian-nya.

Dalam hati, saya hanya bersenandung sebuah lagu khas dari kampung halman sembari berusaha menyabarkan diri;
Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
Takana Jo Kawan, Kawan Nan Lamo
Sangkek Basu Liang Suliang
Panduduknya nan elok nan
Suko Bagotong Royong
Kok susah samo samo diraso
Den Takana Jo Kampuang
Takana Jo Kampuang
Induk Ayah Adik Sadonyo
Raso Mangimbau Ngimbau Den Pulang
Den Takana Jo Kampuang
Remuk badan dan rasa letih itu akhirnya sirna, saat pemandangan perjalanan berubah dari semak-semak menjadi daerah yang mulai banyak terlihat perumahan dan berseliwerannya kendaraan kontingen militer UN. Ah, kita sudah lebih dekat sekarang..
Setibanya di Monrovia, malam-nya menginap dirumah Indonesia, yaitu rumah yang ditempati oleh Military Observer dari TNI, dimana atas budi baik Major Tusih Widayat, saya menginap semalam sebelum besoknya terbang ke Accra.
Istriku, malam itu juga, diputuskan saja untuk mengajak makan malam bersama rekan-rekan staff Indonesia,, yaitu selain Major Tusih, ada Vonny dan Kang Luigi yang mana mereka bertiga bertugas/berkantornya di Monrovia.
Senangnya bisa berkumpul bersantap malam sembari berbuka puasa bersama rekan, rasanya rahang dan lidah ini sedikit bisa beritirahat dari bercakap dalam bahasa Inggris untuk kemudian luwes berbahasa Indonesia ngobrol dengan mereka. Kita ditunjukkan pada sebuah restoran masakan cina yang balum lama ini dibuka, sebuah ragam masakan baru dan sepertinya lebih enak rasanya ketimbang resto masakan cinayang sebelumnya kita biasa mampir. Namun demikian satu hal yang saya tahu pasti adalah masakanmu dirumah jauh lebih enak.
Pagi menjelang, lepas menemani sahur Mas Tusih, secepatnya kita meluncur ke Bandara. Saya udah siap dengan 1 koper dan jacket. Perjalanan menuju bandara, tiada kantuk itu hinggap, meski kabut masih meyelimuti Monrovia dengan tebalnya.

Senangnya hati ini karena dalam kurang dari 1 jam, saya sudah bisa lebih dekat dengan pesawat jet yang akan menerbangkan diri ini keluar dari Liberia.. Perasaan waktu itu, mungkin kurang lebih sama riangnya seperti saat berjalan ke kantor disaat tanggal menerima gaji tiba. Pukul 8.30 pagi, kelar semua formalitas passenger check-in dan boarding, ternyata keputusan untuk tidak menunggu terbang dengan heli itu, Alhamdulillah berhasil memastikan saya berada tepat waktu untuk mengejar penerbangan mudik ini.


Kebayang kalau saya hanya duduk menunggu hingga cuaca membaik, bisa jadi lebaran ini saya tidak bisa berada ditengah-tengah kalian.
Selepas 1 jam 45 menit menembus awan, menjelajah diatas ruang udara Pantai Gading, mendaratlah kita di Accra, Ghana dimana dilandasan sudah terlihat pesawat yang akan menerbangkan diri ini selanjutnya lebih dekat ke kampung halaman.. memang mudik itu banyak perjuangan-nya ya?.
Melihat layar monitor dikursi pesawat, rasanya udah tidak sabar untuk segera berteriak pada sang pilot dicockpit itu: “Ayo tancaaap!!!!”


Terlepas dari semua ini, bukanlah sesuatu yang gombal bila kini saya nyatakan bahwa; Ku-sebrangi samudra luas, ku-jelajahi hutan rimba raya, sedari Liberia menuju tanah Minang Raya – hanya untuk bersama dengan kalian ber-lebaran di kampung halaman..
Selamat Idul Fitri ya mas Semoga setelah sampai Dirumah Pegal2selam dua harinya dapat terobati ya dengan berkumpul dengan Keluarga Minal Aidin wal Faizin
Oh, uda org padang rupanya yahhh…
Gapapa, jauh2 dari kampung yang penting semua keluarga selalu dekat dihati bukan? Baca ceritanya, rasanya sayapun bisa merasakan kelelahan dan rasa kangen yang begitu besar pada keluarga. Sabar ya mas, segala kerja keras pasti ada pahalanya.
Salam hangat dari Indonesia,
Silly
wah kang mas ulah sedih nya… Insya Allah nanti juga tiasa mudik. Salam buat orang2 monrovia… Salamin jgn perang mulu gituhh..
Met lebaran ya… Taqoballahu mina wa minkum. Mhn maaf lahir bathin
Mas Don,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H, semoga mudiknya kemaren dari JKT – Pekan Baru lancar dan didoakan perjalanan kembali dinasnya mulus.. jangan lupa oleh2 rendang istimewanya.. kita sudah ngiler nih dengan kripik balado dan rendang hitam itu :D
hai dun sanak … ado urang awak yo disinan,kebayang deh kalau rindu sama keluarga dengan kondisi harus menempuh jalan panjang seperti itu. Tapi mau diapakan lagi yaaa … smg kembali dlm keadaan sht walafiat.
selamat berkumpul dengan kel dan ninik mamak.
salam hangat uda dr kinshasa – EA Piliang ( urang Kumango Batu Sangkar )
Mas Don,
Minal Aidin wal Faidzin
Gak terasa sekarang sudah menghitung hari lagi untuk balik ke Liberia, rasanya baru kemarin saya antar ke Robert International Airport. Sempat juga hati ini ketar-ketir manakala jemputan belum datang ke rumah, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6.15 dan kita sudah stand by sejak habis makan sahur. Akhirnya saya telepon terus kawan saya dari negeri jiran (mayor Noor Azlan) yang bawa kendaraan. Tahu gak mas Don…. setelah mas Don masuk bandara, sekitar 5 menit kemudian pintu ditutup dan ada 2 orang datang dari UNICEF, sampai dia teriak-teriak minta dibukakan pintu tapi gak dibuka juga sampai pesawat lepas landas, padahal masih ada waktu 45 menit sebelum take off.
Mas Don
Mungkin kita cuma bisa bilang Yang Sabarr yaaa …
Tapi membaca tulisan mas Don membuat kita bisa berempati terhadap susahnya pulang kampung mengobati kerinduan kepada keluarga dan orang2 yg kita kasihi.
Dinikmati saja semua penderitaan dan kebahagiaan yg kita hadapi saat ini. Tuhan tahu yang terbaik buat kita semua.
Salam kenal dan Mohon Maaf Lahir dan Batin … semoga pertemuan dengan keluarga di Pekan Baru membuat hari hari Mas Don di Liberia selanjutnya tetap cerah ceria.
Ciao ….