Semenjak kedatangan saya kembali ke tanah air pada 11 February 2010 yang baru lalu, puji syukur saya panjatkan kehadirat yang Maha Kuasa, bahwa saya masih diijinkan untuk hidup dan menikmati terbitnya matahari pagi keesokan harinya setelah terperangkap berjam-jam tertimpa reruntuhan gempa yang meluluh-lantakan Haiti pada 12 January lalu. Gempa yang juga melumpuhkan operasi pemulihan perdamaian PBB di Haiti (MINUSTAH) dan menelan korban 90 personil staff misi termasuk diantranya 4 orang pejabat senior misi dan ratusan ribu penduduk setempat serta tidak terbilang lagi jumlah mereka yang cedera seperti saya ini.
Cobaan yang saya jalani selama bertugas pada misi PBB ini, boleh dikatakan yang terberat yang pernah saya alami, namun demikian tidaklah membuat saya menjadi surut untuk terus kembali bertugas saat masa cuti kelak selesai. pada kesempatan ini, tidak lupa saya haturkan banyak terima kasih kepada rekan kolega yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungannya, serta pihak pemerintah RI yang telah berupaya keras memperhatikan dan memberi dukungan kepada warganya di Haiti semenjak pasca-gempa.
Sedianya, memang sudah jatuh tempo buat saya untuk cuti mudik ke tanah air pada medio January 2010 lalu dimana sudah dicocokkan dengan jadwal cuti para UN Indonesian Peacekeepers dari misi lainnya agar bisa bersilaturahim langsung di Jakarta, namun apadaya dengan kejadian gempa di Haiti tersebut bergeser dan berubahlah semuanya itu.
Operasi kegiatan penyelematan dan evakuasi serta rehabilitasi atas fasilitas MINUSTAH terus berlangsung dan dukungan pun banyak mengalir masuk seiring dengan tercurahnya perhatian dunia yang dilaporkan langsung detik-demi-detik oleh berbagai liputan media global, serta upaya para pemimpin dunia dalam mengumpulkan dana guna membantu korban gempa Haiti.
Bandara internasional di Port-au-Prince sudah tidak terbayangkan lagi sibuknya seperti apa, ditengah fasilitas bandara yang hancur, operasional penerbangan bantuan kemanusiaan datang dan pergi tanpa henti. Termasuk bahan bantuan untuk badan-badan LSM internasional dari eropa mulai berdatangan.
Kesemuanya itu telah membuat moral staff MINUSTAH yang selamatpun kembali berkobar untuk terus bekerja tanpa lelah. Berbagai staff relawan yang tiba di Port-au-Prince, ibukota Haiti. Mereka adalah staff sipil PBB yang berasal dari berbagai misi-misi PBB lainnya, diterbangkan dari berbagai penjuru, termasuk mereka yang berada di benua afrika, dengan semangat kebersamaan terlihat bersemangat sekali dan beberapa dari mereka menjabat erat tangan ini, seraya ucapan selamat datang saya layangkan pada mereka.
Satu hal yang saya tidak akan pernah lupa adalah paket bungkusan yang berisi beberapa bungkus mie instan (Indomie) yang dibawakan khusus oleh Mbak Laxmi Karma, staff PBB asal Indonesia yang bertugas di markas besar PBB, New York terbang ke Haiti bersama rombongan staff headquarters lainnya.
Beberapa gempa susulan masih terjadi dan saya ingat sekali bagaimana rasa khawatirnya hati ini. Hal itu menyebabkan kita semua belum berani memasuki bangunan atau struktur besar yang dikhawatirkan dapat saja runtuh menimpa. Tidak sedikit dari kita yang terpaksa tidur diluar beratapkan langit dan berselimutkan angin malam.
Badan ini rasanya sudah mau rontok karena kelelahan, masih harus ikut antri jatah ransum yang dibagikan oleh kontingen peacekeepers Brazil, yang mengharuskan kehadiran fisik saat menerima jatah dan tidak bisa diwakilkan. Ada beberapa kali saya sempat tertidur sambil mengantri.
Mengingat keterbatasan bahan bantuan kemanusiaan yang tersedia, berbanding dengan jumlah penduduk Haiti yang mengantri pembagian, acapkali keteganganpun meningkat disaat ransum dibagikan. Tidak mengherankan bila proses pembagian jatah ransum untuk penduduk mesti dijaga olehpersonil peacekeepers dengan persenjataan lengkap, seperti jepretan diatas.
Meski jaringan komunikasi selular di Haiti berangsur-angsur pulih, kualitas signal telepon masih sangat memprihatinkan, hanya jaringan telepon global internal UN saja yang dapat diandalkan untuk menghubungi dunia diluar Haiti, dan itupun lebih banyak menerima panggilan masuk ketimbang berhasil untuk menelpon keluar.
Pergerakan staff amat dibatasi untuk keluar dari kompleks Logistics base MINUSTAH, dikarenakan pertimbangan keamanan diluar masih dirasa riskan. Ketegangan yang mencuat dimulai dari lamban-nya proses recovery yang dirasa oleh kebanyakan penduduk, apalagi saat sumber air bersih sudah mulai sulit didapat, dan jumlah jenazah dipinggir jalan itu sudah mulai membusuk dan bau menyengat mulai mempengaruhi batas psikologis, disitulah distabilitas keamanan mulai terasa menurun. Beberapa jepretan ini bisa menggambarkan dengan gamblang bagaimana penderitaan raktyat Haiti pasca gempa;
Tentunya rekan-rekan di tanah air banyak yang berkata dalam hatinya: “Apa yang saya bisa bantu dari sini?” atau mungkin “Saya bisa berbuat apa untuk mereka?” dan segudang pertanyaan dalam diri serupa lainnya. Misi PBB di Haiti-pun juga benar-benar memerlukan semua dukungan dan segala sokongan dari berbagai penjuru. Informasi lowongan yang berbasis geografis Haiti tercatat saat ini ada 426 lowongan, silahkan bagi mereka yang tertantang dan terpanggil untuk membantu demi kemanusiaan agar bisa melongok informasi lowongan itu dihalaman web —-> ini
Kepada para sahabat, terutama di tanah air, kiranya terus berkenan mendukung kita pada UN peacekeepers yang tiada lelah berjuang untuk kemanusiaan, mohon arahkan dukunganmu juga melalui halaman facebook staff DPKO untuk Haiti ini
Saya berharap untuk bisa menikmati cuti, mengumpulkan energi membangun kondisi hingga prima untuk kembali bertugas ke Port-au-Prince, Haiti bersama rekan-rekan peacekeepers lainnya. Sebelum mengakhiri artikel ini, tidak lupa ucapan syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, terutama pihak Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York dalam upayanya memproses pembuatan-ganti dokumen passport saya yang hilang-terimbun bersama reruntuhan gedung kantor itu. Karena situasi darurat tempo hari selama masih berada di Port-au-Prince, Haiti – tidak satupun di tanah air dari pihak famili yang mempunyai cadangan pasphoto diri saya, satu-satunya foto diri yang cukup jelas untuk keperluan pembuatan passport pengganti yang ada hanyalah yang satu ini.
Mungkin sayalah orang pertama pemegang passport RI yang fotonya (terpaksa) diperbolehkan menggunakan baret/tutup kepala yang kebetulan juga baret biru PBB, cocoklah jadinya dengan profesi saya saat ini.

















Selamat bertugas mba Eno. Saya, orang Indonesia asli, turut bangga dengan kehadiran mba Eno di Haiti. Salam dan salut saya untuk mba Eno.
Saya bangga dan terharu membaca cerita Mbak Eno, saya juga udah baca profilnya Mbak yg dimuat ditabl. Nova Minggu ini..
Selamat bertugas…Sukses!!
Hi Eno,
Kamu memang benar2 Princess..kemanusiaan dari Indonesia di Haiti…Selamat Bertugas sahabatku..doaku bersamamu…
salam dari Jakarta,
Satya
Selamat bertugas adikku, doa kami dari Makassar besertamu. Kami bangga padamu