Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Menyembuhkan hati Haiti

21 February 2010, 05:32 , by Endang Satriyani

 

Semenjak kedatangan saya kembali ke tanah air pada 11 February 2010 yang baru lalu, puji syukur saya panjatkan kehadirat yang Maha Kuasa, bahwa saya masih diijinkan untuk hidup dan menikmati terbitnya matahari pagi keesokan harinya setelah terperangkap berjam-jam tertimpa reruntuhan gempa yang meluluh-lantakan Haiti pada 12 January lalu. Gempa yang juga melumpuhkan operasi pemulihan perdamaian PBB di Haiti (MINUSTAH) dan menelan korban 90 personil staff misi termasuk diantranya 4 orang pejabat senior misi dan ratusan ribu penduduk setempat serta tidak terbilang lagi jumlah mereka yang cedera seperti saya ini.

Cobaan yang saya jalani selama bertugas pada misi PBB ini, boleh dikatakan yang terberat yang pernah saya alami, namun demikian tidaklah membuat saya menjadi surut untuk terus kembali bertugas saat masa cuti kelak selesai. pada kesempatan ini, tidak lupa saya haturkan banyak terima kasih kepada rekan kolega yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungannya, serta pihak pemerintah RI yang telah berupaya keras memperhatikan dan memberi dukungan kepada warganya di Haiti semenjak pasca-gempa.

Sedianya, memang sudah jatuh tempo buat saya untuk cuti mudik ke tanah air pada medio January 2010 lalu dimana sudah dicocokkan dengan jadwal cuti para UN Indonesian Peacekeepers dari misi lainnya agar bisa bersilaturahim langsung di Jakarta, namun apadaya dengan kejadian gempa di Haiti tersebut bergeser dan berubahlah semuanya itu.

Operasi kegiatan penyelematan dan evakuasi serta rehabilitasi atas fasilitas MINUSTAH terus berlangsung dan dukungan pun banyak mengalir masuk seiring dengan tercurahnya perhatian dunia yang dilaporkan langsung detik-demi-detik oleh berbagai liputan media global, serta upaya para pemimpin dunia dalam mengumpulkan dana guna membantu korban gempa Haiti.

UNSG and Haiti Special Envoy

Bill Clinton - Haiti Special Envoy

Bandara internasional di Port-au-Prince sudah tidak terbayangkan lagi sibuknya seperti apa, ditengah fasilitas bandara yang hancur, operasional penerbangan bantuan kemanusiaan datang dan pergi tanpa henti. Termasuk bahan bantuan untuk badan-badan LSM internasional dari eropa mulai berdatangan.

Relief Global Logistics

Relief Loading

Haiti Relief Logistics

Kesemuanya itu telah membuat moral staff MINUSTAH yang selamatpun kembali berkobar untuk terus bekerja tanpa lelah. Berbagai staff relawan yang tiba di Port-au-Prince, ibukota Haiti. Mereka adalah staff sipil PBB yang berasal dari berbagai misi-misi PBB lainnya, diterbangkan dari berbagai penjuru, termasuk mereka yang berada di benua afrika, dengan semangat kebersamaan terlihat bersemangat sekali dan beberapa dari mereka menjabat erat tangan ini, seraya ucapan selamat datang saya layangkan pada mereka.

Satu hal yang saya tidak akan pernah lupa adalah paket bungkusan yang berisi beberapa bungkus mie instan (Indomie) yang dibawakan khusus oleh Mbak Laxmi Karma, staff PBB asal Indonesia yang bertugas di markas besar PBB, New York terbang ke Haiti bersama rombongan staff headquarters lainnya.

Beberapa gempa susulan masih terjadi dan saya ingat sekali bagaimana rasa khawatirnya hati ini. Hal itu menyebabkan kita semua belum berani memasuki bangunan atau struktur besar yang dikhawatirkan dapat saja runtuh menimpa. Tidak sedikit dari kita yang terpaksa tidur diluar beratapkan langit dan berselimutkan angin malam.

Badan ini rasanya sudah mau rontok karena kelelahan, masih harus ikut antri jatah ransum yang dibagikan oleh kontingen peacekeepers Brazil, yang mengharuskan kehadiran fisik saat menerima jatah dan tidak bisa diwakilkan. Ada beberapa kali saya sempat tertidur sambil mengantri.

MINUSTAH Peacekeepes securing distribution

Mengingat keterbatasan bahan bantuan kemanusiaan yang tersedia, berbanding dengan jumlah penduduk Haiti yang mengantri pembagian, acapkali keteganganpun meningkat disaat ransum dibagikan. Tidak mengherankan bila proses pembagian jatah ransum untuk penduduk mesti dijaga olehpersonil peacekeepers dengan persenjataan lengkap, seperti jepretan diatas.

Meski jaringan komunikasi selular di Haiti berangsur-angsur pulih, kualitas signal telepon masih sangat memprihatinkan, hanya jaringan telepon global internal UN saja yang dapat diandalkan untuk menghubungi dunia diluar Haiti, dan itupun lebih banyak menerima panggilan masuk ketimbang berhasil untuk menelpon keluar.

Pergerakan staff amat dibatasi untuk keluar dari kompleks Logistics base MINUSTAH, dikarenakan pertimbangan keamanan diluar masih dirasa riskan. Ketegangan yang mencuat dimulai dari lamban-nya proses recovery yang dirasa oleh kebanyakan penduduk, apalagi saat sumber air bersih sudah mulai sulit didapat, dan jumlah jenazah dipinggir jalan itu sudah mulai membusuk dan bau menyengat mulai mempengaruhi batas psikologis, disitulah distabilitas keamanan mulai terasa menurun. Beberapa jepretan ini bisa menggambarkan dengan gamblang bagaimana penderitaan raktyat Haiti pasca gempa;

Passing Coffin

Haiti Who Landed

Haiti Quake Aftermath

Haiti Rubble

Hillside Rubble

Sledge Hammer Haiti

Makeshift Refugee Camp

Temporary Shelter

Haiti Mass Grave

Haiti Unmakrked Graves

Tentunya rekan-rekan di tanah air banyak yang berkata dalam hatinya: “Apa yang saya bisa bantu dari sini?” atau mungkin “Saya bisa berbuat apa untuk mereka?” dan segudang pertanyaan dalam diri serupa lainnya. Misi PBB di Haiti-pun juga benar-benar memerlukan semua dukungan dan segala sokongan dari berbagai penjuru. Informasi lowongan yang berbasis geografis Haiti tercatat saat ini ada 426 lowongan, silahkan bagi mereka yang tertantang dan terpanggil untuk membantu demi kemanusiaan agar bisa melongok informasi lowongan itu dihalaman web —-> ini

Kepada para sahabat, terutama di tanah air, kiranya terus berkenan mendukung kita pada UN peacekeepers yang tiada lelah berjuang untuk kemanusiaan, mohon arahkan dukunganmu juga melalui halaman facebook staff DPKO untuk Haiti ini

Saya berharap untuk bisa menikmati cuti, mengumpulkan energi membangun kondisi hingga prima untuk kembali bertugas ke Port-au-Prince, Haiti bersama rekan-rekan peacekeepers lainnya. Sebelum mengakhiri artikel ini, tidak lupa ucapan syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, terutama pihak Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York dalam upayanya memproses pembuatan-ganti dokumen passport saya yang hilang-terimbun bersama reruntuhan gedung kantor itu. Karena situasi darurat tempo hari selama masih berada di Port-au-Prince, Haiti – tidak satupun di tanah air dari pihak famili yang mempunyai cadangan pasphoto diri saya, satu-satunya foto diri yang cukup jelas untuk keperluan pembuatan passport pengganti yang ada hanyalah yang satu ini.

Eno Peacekeepers

Mungkin sayalah orang pertama pemegang passport RI yang fotonya (terpaksa) diperbolehkan menggunakan baret/tutup kepala yang kebetulan juga baret biru PBB, cocoklah jadinya dengan profesi saya saat ini.

Endang Satriyani Endang Satriyani, or known as Eno, has recently joined the UN mission in September 2007, having been assigned in Haiti, under MINUSTAH as UNV Finance Advisor, of which her main duty is working together with Haitian Nationale Police (HNP)...

Detail Profile »

4  Comments

by yudha ph at 23 February 2010, 09:27

Selamat bertugas mba Eno. Saya, orang Indonesia asli, turut bangga dengan kehadiran mba Eno di Haiti. Salam dan salut saya untuk mba Eno.

by juju at 24 February 2010, 15:37

Saya bangga dan terharu membaca cerita Mbak Eno, saya juga udah baca profilnya Mbak yg dimuat ditabl. Nova Minggu ini..

Selamat bertugas…Sukses!!

by Satya at 25 February 2010, 11:23

Hi Eno,

Kamu memang benar2 Princess..kemanusiaan dari Indonesia di Haiti…Selamat Bertugas sahabatku..doaku bersamamu…

salam dari Jakarta,
Satya

by Muhammad Shahlan Dachlan at 27 February 2010, 12:50

Selamat bertugas adikku, doa kami dari Makassar besertamu. Kami bangga padamu

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Octave Ferdinal Octave FERDINAL Having previously assigned to UNAMSIL – United Nations Mission in Sierra Leone, Ocktave Ferdinal is nothing new to peacekeeping and DDRR process. Presently serving at UNMIN, the United Nations Mission in Nepal as Arms Monitor/Military Observer under Kontingen Garuda XXIV-1/UMN...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago