Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Marinir TNI menjelajah wilayah maritim & udara Liberia

10 December 2009, 23:44 , by Dicky Wijanarko

 

Kedua mata ini terjaga sudah, meski waktu masuh menunjukkan pukul 4:00AM, waktu sholat subuh masih sekitar 1 jam lagi. Entah mengapa kantuk itu sirna sudah, tidak seperti kawan satu kamar, perwira menengah asal Ecuador yang masih terlelap dibalik selimutnya terlihat cukup jelas dari kelambu jejaring nyamuk yang membungkus rapi tempat tidurnya. Beginilah biasanya saat jadwal giliran saya tiba untuk memimpin patroli udara pada jam 08.30 AM nanti, pikiran ini tidak berhenti berputar akan apa-apa saja yang perlu dipersiapkan. Alarm pada ponsel itupun berdering, segera disambarlah dengan cepat untuk menghentikan jerit alarm agar si kawan tidak ikut terbangun. Pagi ini, saya memang terbangun lebih awal dari alarm itu.

Sebagai pengamat militer PBB, atau umumnya dikenal sebagai UNMO, dimana panggilan singkat profesi kami disebut sebagai MILOBS (Military Observer) pada misi PBB untuk Liberia (UNMIL), salah satu diantara tugas pokoknya adalah melaksanakan patroli menyeluruh terhadap area penugasan atau disebut AOR Area Of Responsibility baik melalui jalan darat, patroli udara dan patroli udara dilanjut jalan darat (AIFP – Air Inserted Foot Patrol) Dengan didukung oleh kontingen aviasi dari Ukraine, patroli udara biasanya diawaki oleh 2-3 perwira UNMO yang mencatat hasil pengamatan udara pada sebuah area yang diawasi, bisa saja area tersebut adalah areal hutan dan pesisir pantai dimana pada laporan terdahulu baik dari hasil patroli sebelumnya sulit dijangkau melalui jalan darat atau atas dasar masukan dari elemen operasional yang menyarankan agar pengamatan lebih lanjut dan lebih dekat oleh komponen militer dapat dilakukan pada sebuah daerah tertentu.

Air Recon

Pagi itu, pukul 8:30AM, kita sudah siap menunggu penerbangan. Menurut jadwal yang tertera, penerbangan air reconnaissance kali ini akan menggunakan 2 unit helikopter jenis Mil Mi-24 (Миль Ми-24), helikopter tempur buatan Russia dibuat oleh Mil Moscow Helicopter Plant dan heli tempur jenis ini mulai beroperasi sejak tahun 1972 oleh AU-Soviet (ketika itu). Helikopter jenis ini terbilang cukup besar dimensinya namun kapasitas daya angkut personil
yang terbatas.

Mil_Mi-24_HIND

Setelah lepas pre-flight briefing, menjelaskan daerah yang akan dilalui dan jalur penerbangan serta informasi ketinggian terbang dan lain sebagainya, pada pukul 8.15AM kita semua sudah bergegas naik, dalam hitungan kurang dari 5 menit terbanglah si heli ini meninggalkan Greenville Airfield menuju Air Patrol Route E.

Sunnguh berbeda sekali rasanya menaiki dan terbang dengan menggunakan heli
buatan Russia ini, interior kabin-nya dirasa cukup sempit dan agak kaku, namun demikian fokus saya kali itu adalah membaca peta dan mengamati pemandangan diluar. Headset yang dikenakan saat itu tidak cukup baik untuk meredam suara deru baling-baling dan mesin heli, apa boleh buat daripada telinga ini dibuat pekak mending terus dipakai saja.

Air Recon

Air Recon

Air Recon

Putaran pertama penerbangan waktu itu adalah menjelajah sedikit ke arah barat, dimana data pada recon-sheet details mengindikasikan pada koordinat tertentu, berdasarkan laporan ditenggarai adanya hamparan lahan tanaman ganja yang tumbuh dibawah perlindungan pohon-pohon tinggi di hutan itu. Selain itu, daerah yang biasanya diamati dari udara melalui air reconnaissance patrol ini adalah daerah dimana tidak ada jalan darat yang bisa dilalui oleh kendaraan patroli UNMIL, dan cukup beresiko bila dilakukan dengen patroli berjalan (foot patrol).

Air Recon

Sesekali sang pilot diminta untuk terbang sedikit lebih rendah agar para UNMO dapat dengan lebih mudah mengamati dan mencatat kondisi dibawah dan pergerakan-pergerakan yang dapat diamati, khususnya bila menjumpai sebuah kampung atau pemukiman dan mencocokannya pada peta operasi dan data-data lain-nya.

Sungguh menyenangkan rasanya mengikuti patroli udara ini, tidaklah begitu melelahkan ketimbang patroli jalan darat dengan berkendara off-road, hanya pekak saja kedua telinga ini jadinya.

Selepas usai mengamati daerah perbukitan dan hutan belantara, haluan helikopterpun berkeser ke arah pantai, dimana jalur pantai dan perairan disekitar pantai adalah lahan pengamatan berikutnya. Liberia dengan luas laut yang cukup luas ini semenjak pecahnya konflik telah menjadikan areal maritimnya terbuka tanpa terjaga.

Air Recce Coastal

Banyak kapal-kapal penangkap ikan dengan tonase (bobot mati) kapal yang
tergolong bukan nelayan tradisional acapkali terlihat masuk ke perairan Liberia, mendulang hasil laut secara illegal. Itulah salah satu tujuan air recon-patrol ini, memastikan, mendata integritas area udara dan maritim Liberia dan memberikan laporan hasil patroli ini kepada jalur komando UNMIL yang kemudian hasil rekomendasinya diberikan kepada pemerintah Liberia, dalam rangka pembenahan dan perbaikan program pembangunan serta keutuhan wilayah negara tersebut.

Hampir 2 jam kita berputar di udara, sebelum kembali ke pangkalan, jadwal patroli kita terakhir adalah mendarat di sebuah desa, menurut peta operasi, desa tersebut bernama; Banna Town. Desa ini tidak terhubung dengan jalur penghubung yang cukup baik untuk dilalui/jelajahi oleh kendaraan, meski itu kendaraan off-road sekalipun.

Air Recce Team

Setibanya dan mendarat disalah satu lahan terbuka, penduduk kampung sudah ramai menunggu disisi lapangan dengan rasa ingin tahu yang besar, mengingat belum pernah ada helikopter sebesar itu mendarat selama ini, dan bagi anak-anak kecil dikampung ini, melihat orang dengan warna kulit yang lebih cerah dari mereka merupakan sebuah peristiwa yang bagaimana ya..? (Mencari kata-kata yang tepatnya…) oh iya! – menakjubkan. Mengapa?, Karena begitu mereka melihat kita-kita turun dari heli dan berjalan menghampiri mereka, berbicara untuk mengetahui siapakah “Town Chief” istilah sebutan Pak Lurah dari kampung tersebut.

Sebelum bertemu dan melakukan wawancara para tetua kampung, seorang kawan baru saya di kampung itu mengajak untuk memperlihatkan sebuah bangunan. Dengan logat bahasa Inggris ala Liberia yang sulit dimengerti, namun saya sudah faham dari gerak-gerik dan bahasa tubuhnya ia minta agar tim UNMO dapat melihat dan memeriksa bangunan sekolah mereka.

Math Student

Cukup memprihatinkan memang, tentu saja perjalanan nyasar ke ruang kelas ini adalah untuk membawa pesan agar pihak misi PBB dapat membantu membuatkan bangunan/ruang kelas yang memadai untuk anak-anak di kampung sini. Sudah dicatat, kok!. Kita serahkan laporan ini nanti ya dan ditunggu saja perkembangannya sambil terus rajin belajar ya.

Sekitar 30 menit wawancara team UNMO kepada para tetua kampung, data-data lengkap sudah terisi akan informasi demografi , infrastruktur, jumlah para ex-combatant (milisi) dan situasi kampung tersebut dan beberapa kampung yang berada disekitar Banna Town, beramah-tamah dengan penduduk setempat merupakan pengalaman unik yang ditutup dengan foto bersama sebelum pamit terbang kembali ke pangkalan.

Dialogue with Town Chief

The Town Clan

Menjelajah wilayah pedalaman dan mengarungi ruang udara Liberia, adalah salah satu kegiatan rutin para UNMO/MILOBS yang bertugas di UNMIL, meski diakhir hari penat yang amat sangat dari 3-4 jam perjalanan pergi pulang, banyak kenangan seru dan cerita unik yang dialami oleh masing-masing anggota UNMO. Salam hangat dari afrika barat!….Sang merah putih selalu berkibar…..!!!!

Dicky WIJANARKO Major (Marines) Dicky Wijanarko was born in July 1973 in the hilly area of Wilis Mountain in Madiun, East Java. He joined the military – naval academy and graduated from Indonesia’s Marines Corp in 1995. During years after graduation, Major...

Detail Profile »

5  Comments

by Luigi Pralangga at 11 December 2009, 00:04

Senengnya bisa jalan-jalan meski diatas hutan Liberia pake heli tempur!! – mantap deh!, seumur-umur selama tugas di UNMIL – LIberia ini blom pernah nih naik heli macam itu.. tapi faham bener deh itu telinga bisa budek stadium akut kalau nggak pake headsetnya :D, kebayang deh!.

by Herry Djuhaeri at 11 December 2009, 07:27

Kang Luigi, sukses, sehat, aman saterasna di nagri batur.

nuhun panayangan lalakon ageung resiko milob2 di liberia.
salam buat mas dicky, sukses selalu, bravo Marinir …….
dr ltkol Mar herry dj (ex-miliobs-Monuc-bunia 2003)

by Ehabel at 11 December 2009, 17:17

Mantap Sunnn!!! Jangan lupa satu komponen heli untuk oleh2 pulang ke Indonesia, ban kempesnya kali!!! Souvenir yg cantik tuh!!!!

by dewi at 14 December 2009, 18:15

Indah juga Liberia dilihat dari udara, tapi foto sekolahnya itu lho, memprihatinkan sekali membuat hati miris.

Oia pak, sebenarnya masalah seperti kondisi bangunan sekolah ini apa memang nanti menjadi bahan laporan? Mengingat mungkin sebenarnya agak tidak nyambung juga dengan misi patroli Milobs. Tapi syukur juga sih kalo iya menjadi bahan perhatian :)

Salam dan Selamat bertugas pak!

by dicky at 16 December 2009, 06:23

Letkol Herry@ siap komandan trim kasih banyak sukses juga buat komandan wasalam.
Kang Lui@ wah di Gbarnga internet byar pet mulu nih bang..
Kang Ehabel@ siap juragan….
Dewi@ semua yang kita lihat kita laporkan bos…buat bahan masukan UN n Pemerintah Liberia…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Octavianus Marthin Oktavianus MARTHIN Super Intendent (Lieutenant Colonel) Oktavianus MARTHIN, SIk., was born in Jakarta, October 25, 1970. After finishing senior high school in Jakarta in 1989, then became a cadet of Indonesian Police Academy in Semarang. Graduated from that Academy in the year...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago