Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Lettu Elvisyach Putra

Malam tahun baru di Sudirman Camp

12 January 2009, 09:53 , by Elvisyah Putra

 

Hari itu adalah pertama kalinya bagi saya untuk pergi ke Beirut setelah lebih kurang 2 bulan berada di daerah penugasan Lebanon. Tepatnya Rabu tanggal 30 Desember 2008 pukul 03.00 pagi waktu Lebanon kami yang berjumlah 7 orang bergerak ke Beirut dari New Land Naqoura bagian Selatan Lebanon dalam rangka koordinasi dengan pihak kedutaan RI Lebanon dan persiapan acara malam tahun baru yang akan dilaksanakan di Indonesian Sudirman Camp. Kami tiba di sana pukul 04.30 waktu Lebanon. Kami disambut oleh seorang petugas kedutaan yang sudah mengetahui perihal kedatangan kami, sudah menjadi prosedur bagi kami untuk memberitahukan terlebih dahulu sebelum bergerak. Kami dipersilahkan istirahat disatu kamar karena memang perjalanan lumayan melelahkan.

Jam dinding menunjukkan pukul 09.00, kami dipanggil oleh pak Dubes untuk sarapan bersama beliau. Sembari sarapan, beliau berbicara tentang banyak hal yang menyangkut keadaan Lebanon, kehidupan di kedutaan, hubungan beliau dengan prajurit TNI yang bertugas disini, dan sedikit tentang musik. Setelah sarapan kami pergi ke teras luar dilantai 5, luar biasa bagus sekali pemandangan kota Beirut. Layaknya seorang turis, kami mengabadikan beberapa foto untuk kenang-kenangan kembali ke tanah air nantinya.

Kemudian kami turun ke lantai bawah untuk berkoordinasi dan persiapan acara malam tahun baru. Diantara persiapan itu adalah, kami menyiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan oleh Komandan dan penyanyi lainnya. Suara alat musik mulai berbunyi, awalnya hanya saya dan dua senior yang membunyikan. Tak lama kemudian Masuk keruangan latihan itu satu orang namanya Mas Azis. Kami pun memainkan beberapa lagu. Awalnya agak kaku karena belum kenal, namun setelah cocok memainkan beberapa lagu komunikasipun menjadi lancar. Saya kagum dengan kemahirannya memainkan Keyboard dan sebenarnya saya agak grogi karena begitu mahirnya dia memainkan alat tersebut, namun didalam hati saya berbisik kapan lagi ngejreng dengan orang hebat seperti ini. Selang beberapa lama, Masuk lagi satu orang namanya Mas Gatot. Dia memang bertugas di bidang kesenian dan budaya di dubes RI Lebanon ini dan dia bisa memainkan dengan mahir beberapa alat musik.

Komando diambil alih oleh Mas Gatot. Dia ingin kami menggarap satu lagu daerah dari Indonesia tepatnya lagu dari Jawa Barat yaitu Manuk Dadali. Aransemen pun diatur seluruhnya oleh dia. Lagu ini kebetulan lumayan terkenal bagi seluruh Masyarakat Indonesia, jadi tidak ada kesulitan dalam memahami irama lagu ini bagi kami. Aransemen pun terus berlanjut, awalnya agak sulit namun lama kelamaan kami bisa menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh Mas Gatot. Betapa senangnya kami karena lagu yang digarap oleh Mas Gatot ini sangat menarik untuk dimainkan. Selain menantang juga memacu kami untuk mengeluarkan segala kemampuan musik yang kami miliki. Etnik daerah dan modern digabungkan dalam satu lagu. Tempo dari cepat tiba-tiba berubah menjadi lambat. Dari irama ballad tiba-tiba menjadi funky. Pokoknya sangat mengasyikkan. Dan pada akhirnya dalam waktu kurang dari 1 jam lagu itu rampung.

Mas Azis mengatakan dia belum sarapan, jadi kami break sebentar untuk istirahat. Saat istirahat saya ngobrol-ngobrol dengan Mas Gatot saling bertukar cerita. Makin kagum saja saya dengan Mas Gatot ini, ternyata dia adalah seorang musisi handal di Indonesia. Dikontrak oleh Deplu untuk misi kebudayaan di Lebanon selama setahun. Lulusan FKIP jurusan musik dan pernah dikirim oleh pemerintah Indonesia untuk eksebisi musik 2 tahun di Australia. Ternyata sebegitu hebatnya teman bermusik saya. Sebelumnya belum pernah saya ngejreng dengan musisi yang benar-benar menguasai musik. Paling cuma ngejreng biasa-biasa saja. Memang semakin banyak teman dan semakin banyak suatu hal yang kita tahu, maka semakin terasa ilmu yang kita punya belum ada apa-apanya. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tinggi hati merasa paling hebat. Karena memang diatas langit Masih ada langit.

Karena waktu sudah siang, kami Masuk kamar untuk ibadah dan dilanjutkan makan. Kali ini kami makan tidak ditemani oleh pak Dubes karena beliau sedang ada kegiatan keluar. Setelah selesai break kami mengulang memainkan lagu-lagu untuk dimainkan pada malam tahun baru. Tepat pukul 16.00 kami berhenti latihan untuk membereskan alat-alat musik dan suond systemnya kemudian diMasukkan ke dalam truk untuk dibawa ke Sudirman Camp persiapan malam tahun. Setelah selesai mengangkut segala perlengkapan yang akan dibawa, kami pun berpamitan dengan pihak dubes. Pukul 17.00 kami berangkat kembali menuju Naqoura dengan ditemani 3 orang dari pihak dubes sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap perlengkapan. Selama dijalan saya merenung sendiri, betapa beruntung saya bisa berangkat ke Lebanon untuk misi perdamaian PBB dan disini menemukan hal-hal lain diluar tugas pokok saya sebagai peacekeeper. Terima kasih Tuhan untuk segala kesempatan ini, jadikan saya hamba yang selalu mensyukuri segala nikmatMu yang tak terhingga ini.

Kami tiba di Sudirman Camp pukul 20.00 dan langsung dilanjutkan makan malam, sekarang kamilah yang menjamu pihak kedutaan untuk makan bersama di ruang makan prajurit. Kemudian malam itu juga kami langsung mengeset alat beserta sound systemnya dengan harapan besok pagi bisa gladi untuk kesiapan acara malam tahun baru. Waktu berjalan dengan cepat, akhirnya kami tiba pada acara inti.

Pada malam 31 Desember 2008 ini, hadir pak Dubes beserta keluarga dan banyak tamu dari kedutaan, ada juga mahasiswa- mahasiswa Indonesia yang kuliah disini turut hadir pada malam itu. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan tugas kami untuk mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh komandan dan penyanyi lainnya pun dapat dilaksanakan dengan baik.

Perayaan tahun baru di Lebanon

Malam tahun baru di Lebanon

Malam tahun baru di Lebanon

Malam tahun baru di Lebanon

Malam tahun baru di Lebanon

Ada juga beberapa kesempatan bagi pak Dubes memainkan beberapa lagu, dan ternyata pak Dubes pun mahir memainkan beberapa alat musik. Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan bagi kami khususnya bagi saya pribadi, dimana saya bisa bermusik bersama musisi-musisi handal bahkan bisa menemani pak Dubes yang merupakan perwakilan Presiden RI di Lebanon untuk memainkan beberapa lagu.

Banyak sekali pelajaran baru yang saya dapatkan disini. Selain tugas pokok saya sebagai duta Indonesia untuk turut serta dalam satgas ini menjaga perdamaian di Lebanon, banyak lagi hal-hal baru menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya dalam memahami arti hidup, menghargai orang tidak dari tampilan luarnya saja.

Respect kepada semua makhluk ciptaan Tuhan maka semua akan memberi respect kepada kita. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Sekali lagi terima kasih Tuhan atas segala anugerah ini. Jadikan kami hamba-hamba yang tidak pernah lupa akan nikmatMu. Jadikan tugas kami ini penuh dengan ilmu yang bermanfaat sehingga makin lama kami hidup semakin paham pula makna dan tujuan hidup yang sebenarnya.

Lettu Elvisyach Putra Elvisyah PUTRA Elvisyah Putra, 1st LT Ordnance Corps. Graduated from Indonesian Military Academy in 2004 and continued Basic Corps Course in 2005. Further assignment posted at Paldam XVII/Cenderawasih as a chief of weapons warehouse for 3 years which later lands him another...

Detail Profile »

0  Comments

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Listiati Rumatupa Listiati Rumatupa, originally came from Pemalang, Central Java – Indonesia. An antropologist by academic from the University of Cendrawasih, Jayapura – Papua. She started her career in an NGO for Indonesian Family Planning Association (PKBI) in Papua where she worked...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago