Dalam keseharianku, mereka menyeragamkan aku berwarna kuning. Tugasku berat sekali – paling tidak dibanding kawan-kawan satu profesi di negara lain, sepertinya kok mereka nyaman sekali dalam keseharian-nya. Mereka mempekerjakan aku paling tidak 10-12 jam per harinya, badanku ini letih sekali dibebani muatan yang tidak kepalang banyak dan sudah pasti bukanlah perkara ringan. Acapkali saya hanya diberi ‘minum’ sebanyak satu toples besar dan terus memaksaku untuk berjalan sampai rasa ‘haus’ itu kembali menggelora.. maka ia memberiku ‘minum’ untuk satu toples besar lagi. rasanya jarang sekali aku diantarkannya untuk sebuah perawatan berkala. Saat kaki-kakiku ini letih dan ‘sepatu’ ini mesti harus diganti, sayangnya bukanlah sepatu baru yang mereka belikan buatku, melainkan sepatu bekas yang pada tapak-tapaknya sudah tidaklah begitu berbeda dengan sepatu lama-ku yang gundul itu. Saat ‘baju’_ku mulai terlihat koyak disana-sini, bukanlah _’baju baru’ yang diberikannya padaku, namun hanya sekedar dijahit seperlunya saja, selama aku masih bisa berjalan, teruslah mereka menderaku dengan muatan-muatan besar, banyak dan berat itu.. belum lagi kondisi jalan yang kulalui ini tidaklah mulus dan baik, melainkan berlubang dan acapkali menerjang kubangan dan jalan berbatu. Andai saja aku bisa beristirahat, itulah saat badanku benar-benar ambruk dan tidak mampu lagi bergerak. Antara Monrovia hingga terus ke Voinjama, itulah jalan yang penuh dengan nestapa. Tertanda : Taxi Liberia.
Mungkin itulah untaian ekspresi dalam bait-bait lara bila saja sang taxi di Liberia bisa berbicara.
Potret transportasi umum di negara ini masih amat memprihatinkan baik dari sisi infrastruktur pendukung sarana transportasi yang masih perlu banyak rehabilitasi dan konstruksi besar-besaran, kondisi kendaraan yang beroperasi di hampir semua jalan-jalan di Liberia mayoritas sudah tidak laik jalan, dan ditambah lagi sikap mengemudi para pengguna jalan disini masih jauh dari tingkat kesadaran yang memadai.
Bukanlah berarti semua staff PBB yang mengendara kendaraan di daerah misi serta merta bebas dari sembrono, namun demikian sistem transportasi umum serta kekacauan manajemen transportasi darat di Liberia adalah salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu-lintas di negara ini, terutama di ibukotanya, Monrovia yang mempunyai kepadatan penduduk hampir 40% dari total jumlah populasi negara ini. jadi sudah terbayangkan betapa semrawutnya kondisi lalu-lintas disini.
Kembali ke si Taxi Liberia ini, mungkin bagi kebanyakan kita yang berasal dari negara di Asia, Eropa dan Amerika, yang notabene situasinya masih jauh lebih maju – dijamin akan tercengang begitu tiba di Monrovia dan hendak mencoba menggunakan jasa taxi setempat, rasa privasi itu harus dibuang jauh-jauh, pengatur udara kendaraan adalah “impian ditengah hari bolong” – maksudnya adalah: Mau naik taksi kuning pakai AC [di Liberia] itu sudah tidak mungkin. Satu hal lain yang membuat kedua alis ini menjadi naik melengkung keatas dan tidak akan kembali turun adalah saat sang sopir taksi meminta anda untuk menggeser dari duduk agar penumpang lain bisa masuk bersama.
Apa???

Ya!, benar sekali – coba geser dulu duduknya, penumpang lain akan masuk!
Bahkan kursi penumpang didepan akan dimuati oleh 2 penumpang dan 4 orang untuk barisan kursi di belakang, pada sebuah taxi kuning jenis sedan.
Ini persis dengan Angkutan Kota (Angkot), dong kalau begitu – memang! persisnya “Taxi Angkot”, tanpa AC, tanpa Argo meter tentunya, kaca harus dibuka dan jangan heran kalau bokong anda itu akan sering kali tertusuk per dari jok-kursi yang sudah usang dan robek-robek itu. Nikmatilah perjalanan berkeliling kota Monrovia, dan jangan kecewa bila satu saat, semisal dibawah terik matahari siang, dengan penumpang penuh (4 orang dibelakang dan 2 didepan), sang supir taxi itu tiba-tiba berhenti sejenak, keluar dari kendaraannya berjalan ke pinggir sedikit mendekati semak-semak dan membuka retsleiting celana-nya dan kemdian: “Curr…….” dia pipis di semak-semak pinggir jalan itu sementara sang penumpangnya menyaksikan dia lega membuang hajat.
Nah, pada saat itulah saya bisa berkata: “Selamat datang di Monrovia”
Saya merasa beruntung sekali, meski masih belum mahir berkendara, apalagi mencoba berkendara di Monrovia yang semrawut ini, jarak antara apartemen akomodasi dan lokasi kantor tidaklah begitu jauh. Meskipun harus ditempuh dengan berjalan kaki, hanyalah memakan waktu paling lama 20 menit dengan santai. Namun demikian, selalulah ada yang berbaik hati untuk mengantar saya dari pintu ke pintu, yaitu para sahabat yang bekerja di gedung kantor dan juga tinggal di kompleks apartemen yang sama, serta untuk keperluan berbelanja makanan dan acara makan malam diluar, selalulah ada yang mengantar.
Taxi di Monrovia bukanlah jenis kendaraan umum yang bebas melayani rute sesuai permintaan penumpang, ia tidaklah berbeda dengan sebuah bus umum dengan rute yang sudah ditetapkan. Jadi untuk bepergian dari satu tempat meuju tempat lain, bisa jadi harus berganti taksi sebanyak 3-4 kali, dan sudah pasti setiap pergantian taxi tadi akan diwarnai dengan kejar-mengejar dan sikut-sikutan antara calon penumpang satu dengan lain-nya. Ih, sengsara amat! – memang begitulah adanya.
Dari sekilas yang saya pelajari, dan dari cerita para staff nasional orang Liberia di kantor yang menggunakan jasa taxi kuning Liberia setiap harinya, mereka – para supir taxi paling tidak diharuskan memberikan uang setoran kepada juragan taxi-nya perhari sebesar US$20.00, diluar biaya BBM (Fuel) yang bisa mencapai US$10 – US$15 untuk 10-12 jam. Ragam model kendaraan yang sering dipakai menjadi taxi di Monrovia adalah mobil-mobil bekas yang diimport dari eropa, jepang dan amerika serikat, dan kembali dicat warna kuning seadanya, lalu acapkali dihiasi dengan tulisan atau semboyan khas layaknya di tanah air banyak dijumpai pada bagian belakang bak sebuah truk angkutan. Nah, persis seperti itu.
Tidak jarang umur kendaraan taxi kuning Liberia ini menjadi semakin pendek, selain jarang dirawat oleh pemilik dan para supirnya, suku cadang yang mereka beli adalah suku-cadang bekas atau hasil kanibalisasi dari kendaraan yang sudah tidak bisa dioperasikan lagi, jadi tidaklah heran bila banyak taxi kuning disini, pada cerobong knalpotnya menyemburkan asap hitam pekat bak cerobong asap sebuah PLTU Batubara.
Ada 3 cara yang dipakai umumnya pengguna taksi kuning di Monrovia, untuk memastikan bahwa taxi yang dicegatnya mau berhenti, ini bergantung dari gerakan jari tangan sang calon penumpang;
Taxi jarak dekat: Cara menyetopnya adalah jemari kiat dibuat seperti bentuk menunjuk, dan gerakkanlah kebawah seperti menunjuk ke tanah, maka hanya taxi yang melayani rute jarak dekat saja yang akan berhenti menghampirimu. Ongkos taxi jarak dekat ini biasanya berkisar antara L$10 sampai dengan L$ 15 bergantung jarak.
Taxi menuju Downtown Monrovia: Buat jarimu seperti menggenggam sebuah pistol, atau buatlah seperti bentuk sebuah pistol, faham khan?… sudah bisa? Nah, lalu tidurkan dia kesamping kiri dan gerak-gerakkan maju – mundur, maka hanya taxi yang menuju Monrovia Downtown saja yang akan berhenti menghampirimu. Ongkosnya berkisar antara L$20an per orang.
Taxi jarak jauh: Buka lebar kelima jarimu itu dan lambaikanlah ke kanan begitu terus bulak-balik, maka sang supir taxi yang lewat akan faham bahwa dirimu perlu taxi yang bisa mengantarkan sampai batas kota paling ujung sesuai arah lalu-lintas dimana dirimu berada. Nah untuk jarak jauh, sepertinya harus dirimu sendiri yang mencoba-nya, sebab saya sendiri belum pernah punya pengalaman naik taxi kuning ala Liberia itu.
Alternatif lain bepergian kesana – kemari di Monrovia, dan menjadi pilihan yang cukp populer adalah menggunakan jasa Ojek Motor, dimana orang di Monrovia menyebutnya dengan nama “Pengpeng”. Tidaklah berbeda dengan sebuah ojek motor di tanah air, namun untuk Ojek ala Liberia, faktor keselamatan penumpang adalah resiko yang terlalu besar untuk ditanggung, selain para pengendara sepeda motor itu hampir semuanya tidak mengantongi SIM-C (Surat Ijin mengemudi untuk Sepeda Motor) dan tidak semua sepeda motor di Liberia itu memiliki plat nomor, jadi siapapun yang sudah bisa mengendari sepeda bututpun bisa menyulap dirinya menjadi seorang pengendara ojek.
Tidak jarang dari mereka sadar akan keselamatan bersepeda-motor, apalagi menggunakan helem keselamatan. Jadi singkatnya naik ojek Liberia – resiko kehilangan nyawa tanggung masing-masing. :-(
Sungguh miris memang kondisi taxi di Liberia ini, kalau saja dia bernyawa seperti seekor kuda atau keledai sekalipun, mungkin ia sudah lari ngibrit tunggang-langgang sekencang-kencangnya dari sang pemiliknya, karena pasti akan tersiksa dengan muatan yang bertumpuk hingga mendekati langit dan belum tentu mereka dirawat layak seperti halnya kendaraan pribadi kita di tanah air.
Wahai engkau taxi Liberia – sungguh berat derita dan beban yang menderamu..










bagus banget mas tulisan taxinya…bisa aja ada ide untuk menulis seperti itu..keep giving us the interesting stories from Manrovia.
Regards,
Major Gusnadi
Monuc HQ – G3 Ops Desk Officer S 7 & 8
FHQ – Kinshasa
Ext : 6355
Cell : +243 812 1010 88
Mirip sekali dengan angkutan bis matutu di kenya atau mobil elf jurusan garut-tasik, berjejal gak keru keruan hahaha…
Oia, tulisan taxinya mengingatkan saya pada tulisan-tulisan truk-truk di Indonesia yang kadang-kadang bermuatan saleh religius, konyol, sampai seronok, plus gambar-gambar yang membuat kita nyengir :)
Sedih banget baca ceritamu, bisa-bisa populasi taxi di monvoria semakin langka bahkan akan hilang, karena seperti saling menghidupi satu sama lain.
Well ternyata ada yang lebih parah daripada negeri tercinta Indonesia. memang ga mudah menjalani hidup di liberia. mungkin penduduk disana sudah terbiasa dengan situasi yang serba apa adanya.
Walau mungkin juga banyak yang berontak. sudah berapa lama kamu di liberia luigi? sudah mulai betah disana? mungkin kalau aku mualai disana saya pasti banyak geleng-geleng kepala. heee.hee..so have a nice day…GODBLESS YOU ALWAYS..