Area of Maritime Operation (AMO), 11 Mei 2009,- Sesuai dengan misi dari MTF mencegah terjadinya penyelundupan sejata dan material terkait dari, dan ke Lebanon lewat laut. Itulah tugas pokok yang dilaksanakan sehari-hari oleh Kapal Perang Republik Indonesia KRI Diponegoro-365 dengan komandan Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah sejak bergabung dalam UNIFIL Maritime Task Force (Task Force 448) bersama unsur-unsur MTF dari Negara-negara lain seperti Belgia, Jerman, Turki, Yunani dan Italia.

Seperti hari-hari biasanya, KRI dengan jumlah ABK 100 orang personel tersebut sedang berada di daerah AMO _ di zone 3 dan melaksanakan tugas rutinnya. Siang itu sekitar pukul 13.00 LT KRI Diponegoro dan MTF Patrol Boat AITTITOS mendeteksi adanya _MV. Spring Horse dari kontak radar yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan hailing. Dari hasil hailing ternyata motor vessel tersebut memiliki data-data yang mencurigakan sehingga dilaporkan kepada MIO Comannder, selanjutnya mendapat perintah untuk melaksanakan boarding (Pemeriksaan) terhadap kapal tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar Preyen “Peran Tempur Bahaya Permukaan-peran tempur bahaya permukaan kemudian KRI Diponegoro mendekat ke Motor vessel tersebut dilanjutkan Peran pemeriksaan dan penggeledahan”.
Satu (1) team boarding yang sudah terlatih dalam hitungan menit berserta 3 orang L.O dari LAF-N siap dengan senjata dan perlengkapannya. Mereka langsung diluncurkan dalam jarak kurang lebih 1000 yard menuju kapal target. Dengan menggunakan 2 RHIB (sekoci).

Kedua RHIB tersebut secara bergantian merapat di lambung kiri kapal untuk menaikkan team boarding ke kapal melalui tangga Jacob. Dengan penuh kewaspadaan mereka memasuki kapal target diterima oleh chiefmate sementara sebagian team melaksanakan body search terhadap crew yang sudah berkumpul di geladak buritan sesuai dengan perintah sebelumnya dari mother ship (KRI Diponegoro).

Chiefmate kemudian membawa sebagian team boarding menuju anjungan untuk melaksanakan pemeriksaan dokumen-dokumen kapal yang telah dipersyaratkan bagi setiap kapal yang berlayar. Dari hasil pemeriksaan kemudian ditemukan kejanggalan yang cukup memberi bukti adanya usaha penipuan data yakni No IMO dan IMMSI-nya yang tidak sama. Setelah penemuan tersebut team boarding party melanjutkan pemeriksaan ke ruangan-ruangan (kompartemen) untuk melaksanakan pencarian terhadap barang-banrang yang dicurigai telah dimuat di kapal tersebut. Ada satu benda yang menarik perhatian Komandan team boarding Lettu laut (P) Sadariyanto disalah satu ruangan lounge room ABK yaitu sebuah kotak ukuran besar yang berfungsi sebagai meja. Ia kemudian memerintahkan teamnya untuk membongkar kotak tersebut dan….ternyata didalam kotak tersebut terdapat sebuah senjata berupa pistol dalam sarung.


Keberadaan pistol tersebut didokumentasikan sebagai barang bukti adanya pelanggaran yang telah dilakukan oleh kapal tersebut. Selanjutnya diadakan kontak dengan LO yang masih berada di anjungan guna meneruskan berita adanya penemuan senjata tersebut ke mother ship, kemudian dari mother ship diteruskan ke MIO Commander (BNS Leopold 1). Tim boarding dinyatakan sukses dan latihan berakhir dengan penahanan terhadap kapal MV Spring Horse yang diperankan kapal Leopold 1.

Menurut Komandan MTF Rear Admiral J.T. Pynoo bahwa latihan yang disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat seperti Dubes RI di Lebanon Bagas Hapsoro, Dubes Belgia, Commander in Chief of LAF Navy Rear Admiral Ali El Mouallem dan staf serta sejumlah media local baik cetak maupun elektronik adalah untuk memperlihatkan/menunjukkan kepada media press khususnya, tentang koordinasi, kerjasama yang baik dan integrasi antara unsur MTF salah satunya KRI Diponegoro-365 dengan unsur-unsur LAF-Navy sehingga dapat melaksanakan tugas dengan baik dan sukses.
Sebelum pelaksanaan latihan Commander MTF RADM J.T Pynoo setelah memperkenalkan diri dan mengucapkan selamat datang kepada Dubes RI Bagas Hapsoro, Dubes Belgia dan sejumlah media massa memberikan briefing tentang missi dari Maritime Task Force, Komandan KRI Diponegoro-365 memaparkan tentang profile KRI Diponegoro sedangkan untuk Helly BO-105 yang onboard disampaikan oleh Pilot Kapten Laut (P) Panji P. Acara kemudian dilanjutkan dengan Tour kebeberapa bagian kapal salah satu Anjungan.
Komandan Satuan Tugas Letkol laut (P) Arsyad Abdullah menyampaikan ucapan terimakasih dan sangat berbangga karena bisa ikut bergabung dengan satuan tugas Maritime Task Force dengan Negara-negara lain dan sebagai satu-satunya Negara yang NON – NATO.(GIE)


Terakhir kali naik KRI tahun 1982-an,, KRI Samadikun, buatan Amrik tahun 50 an..itu juga lantaran salah satu perwiranya masih sodara ,mau nitip bibit Belimbing ntuk dibawa ke Jakarta…he..he..he.., lihat KRI Diponegoro kayanya anyar & profilnya buatan galangan kapal Belanda ya mas… , dengan warna standar UN penampilannya ngga kalah saat berpatroli bareng kapal peran negara lain, sayangnya di tanah air malah banyak KRI ngga bisa patroli jauh-jauh lantaran minimnya jatah solar….
KRI Diponegoro yang membanggakan … the newest Corvette in UNIFIL MTF … selalu siap setiap saat … tapi bukan semboyan rexona looh … ;-))
Mohon ijin untuk mengutip artikel untuk group Tentara Nasional Indonesia di Facebook ….
wuuuiiiih,enak jg yah di kapal perang,kayak di hotel*****?mau dong ikutan…
wow keren betul KRI Diponegoro..!!!