MONUC Force Commander dalam lokakarya SEA (Sexual and Exploitation Abuse) yang dilangsungkan selama satu hari di Goma, Kamis (27/8) meminta seluruh kontingen yang tergabung dalam misi PBB di Kongo untuk mencontoh Kontingen Indonesia yang tidak pernah tersangkut masalah exploitasi dan penyalahgunaan seksual. Letnan Jenderal Babacar Gaye sebagai pimpinan militer tertinggi misi PBB di Kongo memuji Kontingen Indonesia, Bangladesh dan Cina yang dinilai “bersih” dari pelanggaran SEA.
Sebagai misi PBB dengan jumlah pasukan penjaga perdamaian terbesar di dunia, MONUC juga memiliki kasus pelanggaran yang tidak sedikit. Oleh karena itu, tak henti-hentinya MONUC menyelenggarakan seminar SEA guna mencegah peningkatan pelanggaran, khususnya masalah eksploitasi dan penyalahgunaan seksual.
1“ />
Dan pada hari Kamis kemaren seluruh komandan kontingen yang tergabung dalam MONUC mengikuti workshop yang khusus diadakan dengan mengundang pembicara Ms. Malcorra dari Departement of Field Support (DFS)-Markas Besar PBB di New York.
Perhatian yang sangat tinggi dari pimpinan PBB terhadap masalah SEA disampaikan oleh Ms. Malcorra karena the peacekeeper adalah simbol perwakilan tertinggi dari lembaga dunia United Nations. Oleh karena itu menurut Ms. Malorrca, perilaku peacekeeper harus setara dengan simbol yang sangat tinggi derajatnya tersebut.
Utusan PBB yang bermarkas di New York itu mengatakan; “Masyarakat dunia menaruh harapan besar kepada the peacekeeper akan terciptanya perdamaian di seluruh dunia.” Oleh sebab itu setiap personel pasukan penjaga perdamaian dunia memiliki tanggung jawab yang besar dipundaknya untuk menciptakan dunia yang lebih baik, demikian imbuh Ms. Malcorra. Lebih lanjut Ms. Malcorra menambahkan bahwa pimpinan PBB memahami kondisi the peacekeeper yang bertugas di dalam lingkungan dan situasi yang sangat sulit, namun mereka meminta agar seluruh personel pasukan penjaga perdamaian dunia tetap berpegang pada kebijakan Sekjen PBB tentang “zero tolerance policy” terhadap kasus SEA. Dimana PBB tidak akan mentolerir segala bentuk pelanggaran SEA, khususnya di daerah misi. Oleh karenanya, PBB mengkategorikan pelanggaran SEA sebagai pelanggaran kategori 1 atau pelanggaran berat dengan sanksi yang berat pula.
1“ />
Sementara itu, MONUC Force Commander sebagai pimpinan militer tertinggi misi PBB di Kongo yang juga hadir dalam acara yang digelar di markas Eastern Integrated Headquarter-Goma menekankan dua hal penting dalam SEA workshop kali ini. Yang pertama, Letnan Jenderal Babacar Gaye mengajak seluruh Komandan Kontingen yang tergabung dalam MONUC untuk mengukuhkan kembali komitmen pasukan penjaga perdamaian dunia untuk menjunjung tinggi kebijakan “zero tolerance policy” terhadap pelanggaran SEA. Selanjutnya Jenderal Gaye berjanji akan merumuskan sebuah proposal yang akan digunakan untuk meningkatkan upaya penegakan aturan terhadap kasus SEA. Jenderal Gaye juga memuji kontingen Indonesia, Bangladesh dan Cina yang tidak memiliki daftar pelanggaran SEA. Bahkan Jenderal asal Senegal tersebut berpesan kepada seluruh komandan kontingen untuk saling bertukar pengalaman dengan kontingen lain dan belajar dari kontingen yang tidak pernah tersangkut masalah SEA, sehingga dapat menerapkan hal-hal yang baik tersebut kepada kontingen masing-masing.
1“ />
1“ />
Konferensi SEA yang diadakan di Goma tersebut dihadiri oleh seluruh komandan kontingen yang tergabung dalam MONUC, termasuk diantaranya Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda XX-F Mayor Czi Sugeng Haryadi Yogopranowo. SP-47/VIII/Konga XX-F/MONUC.
selamat bapak-bapak..
nama harum bangsa indonesia akan senantiasa harum di seluruh antero dunia berkat sepak terjang anda sekalian.
bravo!