Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kawula PENGEMBARA

Kongo.. oh.. Kongo..

10 February 2009, 14:24 , by Kawula Pengembara

 

Kawan, aku punya cerita tentang Kongo…negara yang dulunya bernama Zaire dan presidennya Mobutu Sese Seko. Kisah ini bukan untuk menjelek-jelekkan atau bahkan mendiskriminasikan masyarakat disana. Sama sekali bukan… Cerita ini kukisahkan agar suatu saat siapa saja yang akan pergi ke Afrika, khususnya Kongo dapat memetik pengalaman berharga ini..

Tanggal 14 Januari, hari Rabu malam, dua orang teman kita yang sedang menjadi peacekeeper (Yudhi dan Beni) mengantar seorang military observer (Milobs) asal Malaysia (Kapten Azila) yang baru berkunjung ke camp mereka menuju Bunia airport menggunakan defender double cabin dengan bak belakang terbuka.

Selepas mengantar kowad manis asal Malaysia itu ke bandara, mereka pulang ke camp yang hanya berjarak + 10 km dari bandara. Dalam perjalanan pulang ke compound, seorang mutoto (anak Kongo) berusia sekitar 15 tahun melompat ke atas bak mobil tanpa sepengetahuan mereka. Kondisi jalan yang buruk (jalan tanah bergelombang tak beraspal) dan suasana gelap karena kurangnya penerangan jalan menyebabkan kedua teman kita tidak menyadari adanya tamu tak di undang di bak belakang Land Rover Defender mereka. Dengan leluasa sang maling kecil mempreteli baut yang mengikat ban cadangan Defender beserta peleknya. Tak berapa lama, akhirnya ban cadangan bisa dipreteli untuk kemudian dilempar keluar bak mobil dalam keadaan mobil masih berjalan. Namun karena kecepatan mobil masih cukup tinggi, si mutoto yang belakangan diketahui bernama Eri harus menunggu beberapa ratus meter sampai kendaraan melambat karena jalan menanjak, kemudian baru dia menyusul hasil jarahannya loncat keluar bak.

Keesokan paginya, kawan-kawan kita yang hanya berjumlah 7 orang sebagai tim yang mengurusi logistik bagi teman-teman lainnya di Dungu (+ 200 km dari lokasi) sadar kalau bannya dicuri orang. Kemudian mereka minta bantuan Kongole (inlander) yang sehari-hari membantu mereka bersih-bersih di camp untuk mencari pelaku pencurian. Dengan berbekal uang $1 US, sang kongole berangkat mencari si pencuri ban. Dan hal itu bukan pekerjaan yang sulit karena maling ban itu tak lain dan tak bukan adalah anak-anak yang sering nongkrong dijalan depan camp. Singkat cerita, pelaku ditangkap tanpa perlawanan untuk “ditanyai” oleh kedua kawan kita itu. Dari hasil interogasi diketahui bahwa ban serep mobil mereka telah diambil oleh orang lain saat dilempar keluar oleh si pencuri. Saat ditunjukkan kediaman sang penadah yang ternyata bukan satu gerombolan dengan si pencuri, sang penadah hanya “mengangkat bahu” sambil acuh tak acuh mengatakan tidak tahu-menahu soal ban defender ini.

Akhirnya tim “buser” dadakan itu melaporkan kejadian ke Polresta Bunia sebagai pihak berwenang yang memiliki yurisdiksi di wilayah tersebut. Sebetulnya ada terbersit keraguan saat melihat kantor Polres yang dindingnya terbuat dari tanah ditempelkan ke kayu-kayu yang disusun menyerupai tulangan kawat dan atapnya yang terbuat dari ilalang.

Polresta BUNIA
Foto POLRESTA Bunia – D. R. Congo

Namun demi tegaknya keadilan dan kembalinya ban yang susah dicari gantinya di negara yang kaya mineral namun miskin ekonomi itu, maka mereka meneruskan tekad melaporkan kejadian pencurian tersebut. Tak berapa lama, polisi dan tim buser dadakan pergi menjemput sang pencuri dan penadah menggunakan truk polisi dan bensin dari peacekeeper??. Kenapa bensin dari peacekeeper? Karena aparat kepolisian di Kongo tidak mampu membeli bensin untuk operasional kendaraannya…Atau mereka sengaja… who knows..?

Sampai ditempat, sang pencuri tidak menunjukkan rasa ketakutan ataupun berusaha untuk melarikan diri. Setelah menciduk si Pencuri kecil, polisi kemudian bergerak ke tempat sang penadah yang ternyata sudah lari tunggang-langgang duluan.

Polisi di DR Congo
Polisi di D.R. Congo

Hasil penyelidikan di kantor polisi menetapkan tersangka akan dituntut 6 bulan penjara dan hasil sidang akan diumumkan pada hari Senin. Menurut aparat penegak hukum Bunia tentang peraturan yang ada di Bunia dan mungkin di seluruh Kongo; pihak pemerintah hanya akan memberikan makan kepada terpidana di penjara 2 kali seminggu. Bayangkan! – Seorang manusia diberi makan hanya 2 kali seminggu. Dan di penjara Bunia dan penjara-penjara lain di Kongo, selain jatah makan dari pemerintah, terpidana harus diberi makan oleh keluarga atau kerabatnya.

Penjara di Bunia - DR Congo
Gedung Penjara di Bunia

Penjara di Bunia - DR Congo
Penjara Bunia: Jauh dari nyaman

Dan yang lebih parah, apabila sang terpidana tidak memiliki saudara, maka yang wajib bertanggung jawab memberi makan adalah orang yang menuntut atau yang melaporkan mereka ke polisi. Nah lho…?

Setelah menimbang dan memikirkan ulang, akhirnya kawan-kawan kita terpaksa harus mencabut tuntutannya daripada harus mengantar makanan setiap hari selama 6 bulan ke orang tak dikenal yang sudah berupaya mencuri property mereka. Hari Sabtunya, kawan-kawan kita mendatangi Kantor polisi yang seperti mau roboh itu dan menyatakan niat mereka untuk mencabut tuntutannya.

Polsek di Kongo
Kantor POLSEK di D.R. Congo

Dan lagi-lagi mereka harus terkejut karena ternyata selama 4 hari investigasi di kantor polisi, sang maling tidak diberi makan oleh aparat. Saat ditemui, sang maling sudah meringkuk gemetaran di pojok kantor polisi karena 4 hari tidak diberi makan. Anehnya lagi, saat diberi biskuit oleh kawan-kawan kita malah langsung direbut oleh polisi. Alasannya belum waktunya makan, padahal biskuit itu untuk mereka habisi sendiri.


Ini dia tampang si pencuri itu.

Atas dasar itu pulalah akhirnya kawan-kawan kita rela mencabut tuntutannya. Pihak Polresta Bunia setuju tuntutan dicabut dengan beberapa syarat, salah satunya pihak penuntut harus membayar $50 US.

Kaget campur heran dan takut menghadapi kenyataan bahwa mereka harus memberi makan ke orang tak dikenal selama 6 bulan penuh, akhirnya mereka nego soal tuntutan yang akhirnya disepakati angka $20 US plus biskuit setengah karung….

Kongo… oh… Kongo..

Kawula PENGEMBARA Kawula PENGEMBARA Kawula Pengembara is a new comer in peacekeeping system he happened to be in Africa for some reasons or another. He loves to travel and has lots of stories. He has a single seater flying background and he loves adventures...

Detail Profile »

5  Comments

by Luigi Pralangga at 10 February 2009, 14:40

Mas, rangkuman dari cerita ini adalah : Ban, nggak ketemu (tetep hilang) dan mesti mbayar ‘nego’ sebesar US$20.00 yah? – Report pisan, euy jadinya.

Nggak ada sama sekali perikemanusiaan-nya itu tahanan gak di kasih makan sampai 4 hari, syukur masih gemeteran, coba kalau udah gak bergetar lagi (Baca: Mampus), bisa runyam urusan-nya ya?

Ck..ck..ck..! pantes kalau gitu judulnya: Kongo.. Oh.. Kongo!

by wita at 10 February 2009, 22:59

alhamdulillah, ternyata negara kita ternyata jauh lebih baik dari kehidupan kongo di cerita tadi (walo modus minta “uang bensin” di temen2 polisi juga masih belon ilang). kita patut bersyukur punya Republik Indonesia yang relatif sudah lebih baik daripada masa-masa sebelumnya. wita~penebar~aura~positif

by Endang Triastuti at 11 February 2009, 01:34

Lhaaa….? seru amat yah peraturannya….
Btw, saya terkesan dengan gambar ‘Kantor POLSEK di D.R. Congo’…

by benfa at 11 February 2009, 02:54

met pagi kpada kawan2 yg lg tugas nan jauh di negri orang.wau kacian bgt ya khidupan di D.R. Congo,kantor polisinya aj seperti itu,apa lgi tempt mereka tinggal, intinya kita harus bangga mjadi orang INDONESIA, semoga hukum di indonesia tidak akan meniru seperti contoh hukum di kongo.i lv u.

by Suherlan at 11 February 2009, 09:24

…ceritanya itu…maju kena mundur pun kena… alhamdulillah kita dilahirkan di negara yg lebih “beradab”….dengan banyaknya orang kita yg “merantau dan belajar” dari luar seharusnya negara kita itu cepat keluar dari krisis bangsa ya mas ?!…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Nurul Rochayati Nurul is currently resides in Kyoto, Japan and is pursuing her masters degree in International Relations at Ritsumeikan University Japan. She is nothing new to non-governmental organization line of work, as she has been working for various research organizations during...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago