Satgas Kompi Zeni TNI Garuda XX-F yang lebih dikenal dengan Indonesian Engineering Company (Indoengcoy) memulai pekerjaan perbaikan Bandar Udara Mavivi, Beni dalam rangka mendukung tugas Monuc (misi PBB di Kongo) melaksanakan proses DDRRR (Disarmament, Demobilization, Repatriation, Reintegration and Resettlement) di negara Republik Demokratik Kongo.
Pemeliharaan bandara Mavivi dikerjakan oleh Peleton Alat Berat (Ton Alber) yang memiliki alat-alat berat seperti: excavator, greader, dozer, loader, vibro wales, water tank dan dump truck.
Pemeliharaan Bandara meliputi perataan runway yang belum diaspal tersebut. Untuk pemerataan runway digunakan bahan timbunan dari Limonite (sejenis tanah merah) yang diambil dari daerah Kianzaba yang berjarak 30 Km dari Bandara Mavivi.



Berdasarkan recce (survey) yang dilakukan sejak 6 November lalu oleh tim survey Kompi Zeni TNI dan Airport Engineer dari Monuc yaitu Mr. Gautham Mukhopadhyay (WN India) dan Airops Mavivi Airport Mr. Ghulam (WN Iran) diperoleh data bahwa terdapat beberapa titik runway yang dapat membahayakan penerbangan, khususnya saat pesawat landing atau take-off.

Mulai titik 300 sampai dengan 1600 terdapat banyak lubang dan gelombang yang diakibatkan oleh sistem drainase yang kurang baik sehingga menyebabkan air tergenang disepanjang runway.
Menurut Kapten (Sus) Michael Mulyono, MT, Perwira Seksi Pemeliharaan Airport, pekerjaan pemeliharaan bandara Mavivi meliputi 4 tahap pekerjaan, yaitu: Perataan (leveling), Penambalan (filling), Penyiraman dengan air (spraying water) dan Pemadatan (compacting) runway sepanjang 2.120 meter dengan lebar 78 meter. Disamping itu, akan dilaksanakan pula perataan dan pemadatan apron dan helipad yang kesemuanya membutuhkan 3.268 m3 limonite. Pekerjaan yang dimulai sejak minggu lalu tersebut diperkirakan akan selesai dalam jangka waktu 6 bulan mengingat pekerjaan baru dapat dilakukan hari Sabtu dan Minggu saat tidak ada aktivitas penerbangan di bandara.

Bandara Mavivi menjadi sarana transportasi yang penting di wilayah Timur Kongo sebagai penghubung antara kota Beni dan wilayah sekitarnya dengan kota-kota lain di Kongo. Disamping itu, Mavivi Airport menjadi salah satu titik penting bagi pengerahan pasukan FARDC (Forces Armee Republique Demokratik du Congo/ Pasukan Pemerintah Kongo) dalam menjaga keamanan dan untuk menghalau ancaman dari pemberontak, khususnya kawasan Timur negara yang kaya akan emas dan berlian tersebut.
Seperti diketahui, sejak 2003 Indonesia telah mengirimkan pasukan Zeni TNI setiap tahun ke Kongo untuk bergabung dalam Monuc (Mission de l’Organisation des Nations Unies en République Démocratique du Congo/misi PBB di Kongo). Saat ini terdapat 175 personil TNI dibawah komando Mayor Czi Sugeng Haryadi Yogopranowo yang bergabung dengan 17.000 pasukan PBB lainnya yang disebar ke seluruh wilayah Kongo guna menghentikan pertikaian yang terus berlangsung seiring dengan perjalanan sejarah bangsa yang dulu terkenal dengan nama Zaire.
Yakin kok jerih payah Kontingen Zeni TNI di DR Congo gak akan terlupakan! – tetep semangat dalam mendukung misi MONUC di Kongo.
Untuk di UNMIL – Liberia, Engineering Company dipegang oleh PakRAM (Pakistan Battalion for Road and Airport Maintenance), meski memang tugas mereka berat sekali – infrastruktur transportasi di Liberia masih carut-marut.
Bangganya punya TNI yang bisa membantu pembuatan airport negara lain. BRAVO!!
Setidaknya segala usaha, daya dan upaya dan prestasi yang diukir di negara lain dapat mendapat tempat di hati masyarakat kita Indonesia, semoga hal ini dapat menghapus pandangan masyarakat
“bahwa TNI hanya bisa menghamburkan anggaran negara”
semoga saja secuil berita ini dapat menyadarkan mereka yang memandang sebelah mata aura TNI
Ya Allah berikanlah rekan” yang bertugas di luar sana kesehatan baik lahir maupun batin, dan mudahkanlah tugas mereka walaupun itu semua memang terasa berat.
fa-inna ma’a al’usri yusraan , inna ma’a al’usri yusraan (Al-Insyirah 5-6)