Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

vonny-ferdinandus

Kisah seru Bedinde Liberia: It's horse-shit green!

20 December 2008, 18:30 , by Vonny Ferdinandus

 

Gaya rambutnya selalu berganti-ganti, paling tidak 2 minggu sekali, saya selalu melihatnya berubah. Minggu lalu tatanan rambutnya lurus jatuh mengurai hingga tengkuknya, dengan helai rambut berwarna tembaga merah mengkilau, terlihat cukup jelas dari ruang tamu ini dikala dia sedang mencucui piring. Hari ini, yang mana seminggu berselang, dia muncul dari pintu dapur sekitar jam 9 pagi, saya pikir siapa gerangankah? ada sosok berambut keriting tidak keruan bersemayam di dapur dengan suara “klotraak..klotraak“ membuka-tutup lemari dapur dan terdengar pula gemerincing suara pirirng yang sedang dicuci.

Dari ruang tamu ini, langsunglah aku bergegas berjalan cepat sembari mulai berjinjit sembari merebahkan badan mengintip, khawatir kalau ada maling masuk dari dapur menguras isi lemari disana. Cukup dag-dig-dug sih, pertama hanya terlihat bayangan rambut keriting besar, seperti onggokan pita-kaset-kusut begitulah. Namun begitu badan ini merebah lebih rendah lagi, legalah sudah melihat bahwa si mahluk keriting kusut itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah; Cythia. Sebut saja nama lengkapnya Cythia Bujuregagaro. Dia dikontrak.. maksudnya dipekerjakan oleh kita, bertiga penghuni apartemen, yaitu Marina, Richard dan saya untuk mengurus rumah, bebersih, dan cuci-cuci. Kita masak sendiri-sendiri dan saya tidak pernah mau mendelegasikan urusan masak-memasak pada pembantu sejak awal.

Mbakyu Bujuregagaro ini, bercerita kalau dia berasal dari Voinjama, yaitu sebuah propinsi atau orang disini menyebutnya dengan “county” diujung atas Liberia yang berbatasan dengan Republique du Guinea. Sudah 2 minggu ini mulai bekerja, kita bertiga selalu meninggalkan secarik kertas masing-masing akan instruksi khusus buatnya jika ada tugas diluar tugas pokok beberes tadi. Sebab, selain dia agak bolot gimanaaa gitu kalau dijelasin oleh saya, logat bahasa Inggris si mbakyu ireng bermata lebar ini sangat tidak bisa dimengerti meski telinga ini sudah dekat dipasang dari congornya itu. Sumpah!.

Kinerja mbak Bujuregagaro ini masih terbilang lumayan, meski demikian masih terlalu pagi buat kita bertiga untuk merasa puas, mengingat apa yang pernah terjadi beberapa minggu silam.

Banyak kejengkelan yang selama ini tertimbun, dengan bedinde (Baca: Pembantu rumah tangga) yang selama ini dipekerjakan kita di apartemen ini. Baiklah saya coba mengingat-ingat dulu. Namun kalau saya jadi teringat rasa kesal dan mau ngamuk itu sudah pasti menggelora. Mantan bedinde kita sebelum si Bujuregagaro ini, sebutlah namanya dia Nadine Kuttusapee, perawakannya tidak jauh berbeda dengan saya, dia kita terima bekerja atas rekomendasi dan puja-puja rayu salah satu personil security (Penjaga malam) yang bekerja di housing compund kita. Karena tiap kali pulang kerja selalu dia, maksudnya si mamang satpam itu menghadang membukakan pintu gerbang dan repot mengejar saya untuk membantu membawakan kantong-kantong belanjaaan itu dan mengantarnya hingga ke dapur. Dari pelayanan itulah menjadikan dia cukup nyaman untuk menyampaikan “iklan promosi“ jasa bedinde buat kita.

Memang cukup bikin setress dan kesal kalau sudah lelah sepulang dari bekerja seharian, belum lagi kalau saat kerja di kantor banyak urusan sakit-kepala yang datang nggak berenti-berenti, ditambah lagi kalau si Boss (di kantor) bibirnya ikut manyun jadi semeter begitu seharian, sampai dirumah sudah lapar harus masak, dan mengurus cucian dan lain sebagainya.. dengan adanya jasa bedinde, jadi sedikit bisa bernafas-lah, nonton TV atau baca-baca majalah, ketimbang sibuk dengan nyuci dan nyeterika baju buat besok harinya.

Entah mengapa, sepertinya saya ini termasuk orang yang kurang sabar (untuk urusan bebenah rumah) sejak menjejakkan kaki di Liberia ini, mungkin karena saya selalu menggunakan standar kinerja bedinde di kampung halaman yang sekali, dua kali atau maksimal sampai tiga kali dikasih tau atau diajarin mengerjakan sesuatu langsung kemudian bisa mandiri. Berbeda dengan disini, mesti ekstra sabar mengajari pembantu baru, dari mulai instruksi sederhana seperti cara-nya menyapu lantai dengan baik dan benar, yang benar-benar resik, cuci piring yang seharusnya, dan urusan bebenah rumah tangga yang sepertinya sih adalah perihal simple, ampun deh! – mesti berkali-kali diajarin.

Semisal perkara cuci piring saja, sepertinya entah metode darimana itu asalnya, seonggok tumpukan piring kotor itu direndam bersama sisa remeh bekas makanan yang tersisa di bak cuci piring di dapur itu, kemudian di teteskan itu sabun cair pencuci piring dan dibuatlah itu bak cuci piring berbusa bercampur dengan sisa minyak bekas masakan, jadilah kubangan bercampur sabun sambil kedua tangan-nya sibuk mengkucek-kucek piring dengan air keruh berbusa itu… gimana sih gambaran-nya seperti memandikan kerbau di sungai?, nah begitulah!. Hasilnya? – piring-piring itu masih tetap licin berminyak dan tidak seperti iklan sabun cair di tanah air yang begitu kelar dicuci kering, begitu digosok oleh jari ini akan terdengar: Squeeking —> ngek-ngook-bersih-langsat-mengkilap. Ini mah, jauh!! yang ada saya harus mencucinya ulang tiap kali mau menggunakan piring-piring itu.

Pertama kali instruksi diajarkan padanya disampaikan dengan bahasa Inggris yang sederhana dengan kedua tangan ini memperagakan tangan kanan dengan memegang sebuah cucian kemeja putih dan sebelah kirinya memegang kaus oblong warna merah seraya berkata:

Nadine, tolong kalau mencuci dengan mesin cuci ini, pakaian berwarna dengan yang putih jangan disatukan yah..”

Terus di jawabnya: “Ehe..“ kayak suara tokek gitu deh. Entah si “Ehe“ itu maksudnya dia ngerti atau nggak, wallahualam, dan seterusnya dengan instruksi bebenah lain-nya, si “Ehe“ pun selalu tersebut olehnya. Marina dan saya adalah 2 penghuni wanita yang boleh dikata adalah type penghuni rumah yang cinta dengan kerapihan, dan selalu saja mendapati beberapa bagian lantai di apartemen kita kok jadi terasa ngeres berpasir di beberapa sudut ruangan, belum lagi pertanyaan yang terlontar dari masing-masing kita, seperti:

Si Nadine naruh ini atau itu dimana ya?“.

Merogoh kocek sebesar US$120.00 (untuk melayani 3 penghuni dalam satu apartemen) setiap bulan-nya untuk gaji standar expat disini, tidaklah menjamin bahwa kualitas bekerja mereka membawa kepuasan. memang jumlah itulah yang kita bayarkan kepada-nya, Kalau iklan batere di tanah air selalu berujung dengan semboyan: “Kuat dan tahan lama…“ nampaknya tidaklah begitu dengan urusan pencari bedinde yang andal di Liberia. Kurang dari 1 bulan, kita sudah melihat gejala “baterai soak“ dari kinerja si Mbak Kuttusapee ini, mulai dari datang kelewat terlambat, bahan makanan (yang cocok dengan selera dia) mulai terasa menyusut stock-nya di ruang penyimpanan makanan bersama, belum lagi kalau sudah kumat hobby ngebohong saat ditanya mengapa dia tidak masuk kerja sehari sebelum-nya.

Ohya, kebetulan masih nyimpen fotonya, ini dia si Nadine itu dengan rambut dianyam ala tali jemuran.

Ternyata bukan saya aja yang dibuat geram dengan perilaku males-kerja-pengen-asal-gampang dan ditanya-ini-tidak-tahu, ditanya-itu-nggak-ngerti (tapi kalau ngitung duit gaji mah selalu pinter dan mesti kasbon melulu).

Waktu itu hari minggu dimana saya mendengar Marina sedang marah-marah pada si Nadine, menanyakan dimana sepasang sepatu hijau kesayangan-nya disimpan. Malam hari itu ia memang diundang pada sebuah pesta, salah satu kolega kantornya telah menyelesaikan masa tugasnya di Liberia untuk melanjutkan ke penugasan misi berikutnya ke Sudan dan mengundangnya untuk makan malam. Ia mencari-cari sepatu hak tingginya warna hijau tidak kunjung nampak, sat itu saya sedang di dapur tengah memasak untuk bekal makan siang besok harinya, maka terdengar suara Marina memanggil si Nadine ini.

Nadine, have you seen my green shoes? – I put them here inside the closet and it’s seems nowhere to be found… I remember you were the one cleaning it 2 days ago.. now where did you put them?

Ehe, me donno…

Begitulah jawabnya singkat sambil melengos keluar menuju dapur..

Wait! – you were the only one I handed them to clean.. the color is green, just like this one!“ – seraya Marina menunjukkan sepasang sepatu hak serupa di depan hidungnya.

Green color? – me dunno..

What do you mean by – Me dunno?

Ehe, Me dunno green color, ye…

Aarrghh…., Vonny… Vonny….!

Yes, Marina.. Whut’s up..

Maka dijelaskannyalah kalau dia mencari si sepasang sepatu kesayangannya itu, akhirnya kita bertigapun mencarinya, bongkar sana-sini tetap tidak ketemu, sementara si Nadine dengan dogolnya hanya ikut mundar-mandir sambil melongo persis bagong pusing nggak keruan gitu deh. Udah dijelasin sih bahwa sepatunya itu warnanya hijau-tua-pekat-kekuning-kuningan.

Sepertinya si Nadine agak buta warna atau memang bener-bener dogol, sambil waktu itu saya juga agak bingung juga ngejelasin dalam bahasa inggrisnya “Hijau-tua-pekat-kekuning-kuningan

Tiba-tiba saja ilham itu muncul dibenak saya dan langsung menjelaskan-nya;

Nadine, look.. the color is like horse-shit… you know horse-shit, right? – that is exactly the color of her shoes she’s looking for..

Ehe,.. hmm. I think, that shoe I put them out to the garbage bin..

You did what??…. I asked you to clean them not to throw them away..!!!

Mendengar bahwa sepatu kesayangan-nya dibuang ke tong sampah, kontan si Marina malah menjadi mencak-mencak nggak keruan.. dan langsung aja saya memutuskan untuk segera mengungsi masuk kamar ketimbang mendengar suaranya dia nyap-nyap kepada si bedinde dogol itu.

Sambil berjalan masuk kamar, saya pun jadi tertawa sendiri teringat menjelaskan bahasa ingrisnya warna hijau-tua-pekat-kekuningan itu dengan Horse-shit Green. Tapi kalau saya ingat-ingat, memang sepatunya itu warna-nya persis sama dengan hijau-nya tai kuda, kok!.

Ohya, setelah kejadian “nyap-nyap“ itu, jelas si Nadine diputus kontrak kerjanya, maka muncul-lah seminggu kemudian si mahluk yang doyan gonta-ganti model rambut ini. Ya Tuhan mudah-mudahan dengan si Bujuregagaro ini, nggak terjadi lagi deh tragedi Green – Horse Shit lagi.

vonny-ferdinandus Vonny FERDINANDUS Recently joined UNMIL in September 2007. Initially embarked to peacekeeping field since 2003 in Dili, Timor – Leste under the World Food Programme (WFP). Though this would be the first african-based mission, post-conflict assignment is nothing new to her, as...

Detail Profile »

7  Comments

by hume at 20 December 2008, 18:36

wah .. yang sabar ya mba, klo gitu bawa aja bedinde dari indo… hehehe…

by Luigi Pralangga at 20 December 2008, 19:00

Heheheh… untungnya si bedinde sekrang ini nggak neko-neko, alhamdulillah amanat dan udah mulai ngerti diajarin masak rendang.

Tempo hari ketinggalan ngegeletak di meja amplop isi uang gaji, sementara keingetnya pas udah di kantor, buru-buru telepon si bedinde dirumah suruh periksa dan dia bilang ada, dan di simpen dilaci meja katanya – lega banget pas pulang kantor langsung meriksa dan ternyata uang/amplopnya ada lengkap gak kurang duitnya :D

by Fiona Siahaan at 21 December 2008, 10:22

Hahaha… gak di Indo ga di Afrika, urusan PRT selalu ada2 saja yah.. Salam hangat dari Jakarta..

by dian at 21 December 2008, 14:36

testing…dari kapan hari gak bisa comment

by Ani Surjatin at 22 December 2008, 03:18

Hatur nuhun, dongengna seru…!!. Ternyata bediende dimana mana sami nya…belet dan bolot

Masih lami dinesna? ngalih kamana deui engke ?
iraha mulih ?

Didoain selalu sehat bugar, bahagia ceria, sejahtera salamet dunya akherat, amin.

by Caecillia Widati at 22 December 2008, 10:36

Gile bikin gemes aja tu Nadine… talk about ignorance… :P
Keep the stories coming, eh J J happy holidays!

Thank you,
Caecilia

by mahendra at 23 December 2008, 07:25

walau jauh tapi kalu udah bisa bikin rendang dan masakan lainnya jadi betah dong disini, salam hangat selalu dan semoga sukses…Amin…!

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Andi Perdana Kahar Born on February 1971, LT Col Andi Perdana Kahar devoted himself to the country of Indonesia through military carrier. Therefore, after graduating from the high school in 1989, he attended the Indonesian Military Academy for 3 years of education. Following...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago