Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Donasion

Kisah 35 tahun lalu: Terulang di Liberia

16 February 2009, 16:16 , by Donasion

 

Masih ingat waktu kecil, semasa masih duduk dibangku sekolah dasar, setiap hari Minggu selalu bepergian mencari kayu bakar untuk memasak. Kami sekeluarga bergabung dengan kerabat lainya pergi mencari kayu bakar ke atas bukit di kampung kami, Solok – Sumatera Barat. Waktu itu belum lazim bagi orang kampung untuk menggunakan kompor untuk memasak. Minyak Tanah hanya digunakan untuk menyalakan lampu petromaks bagi keluarga yang mampu. Untuk keluarga yang tidak mampu, mereka menggunakan lampu togok (lentera).
Kembali ke cerita mencari kayu, pagi-pagi sekali kami berangkat, disaat sinar matahari belum menyengat.

Tidak lupa kami membawa bekal untuk makan siang saat mencapai diatas bukit. Kami menelusuri pematang sawah untuk mencapai bukit. Sesampainya diatas bukit, kami mulai mengumpulkan kayu-kayu untuk dibawa turun. Setelah kayu kayu terkumpul, kami ikat sesuai dengan kemampuan masing masing untuk membawa, terus makan siang, sore harinya kami turun dari atas bukit dengan membawa kayu masing masing diatas kepala. Kami menggunakan senggulung dari kain sarung sebagai alas kayu di kepala. Itu 35 tahun yang lalu. Dengan semakin majunya Negara kita, sekarang di kampung kami sudah ada aliran listrik, dan minyak tanah pun masih tersedia walau kadang harus antri, tungku kayu sudah tidak ada lagi. Masyarakat sudah tidak menggunakan minyak tanah, melainkan kompor gas, dan kompor listrik untuk memasak.

Semenjak bertugas di misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia ini, kembali saya temukan lagi ritual mencari kayu, disaat kampung saya sudah lama meninggalkan tradisi ini. Harper, sebuah kota di bagian timur Liberia, berbatasan langsung dengan Pantai Gading (Republique du C’ote D’ Ivoire) tempat dimana saya bertugas saat ini. Apa yang dilakukan anak-anak sekolah disini persis sama dengan apa yang saya lakukan dulu.

Anak Kota Harper mencari kayu

Anak Kota Harper mencari kayu

Diakhir pekan, saat libur sekolah, mereka berombongan mencari kayu bakar. Bedanya mereka tidak menyeberangi persawahan dan mendaki perbukitan. Mereka berjalan berkilo-kilometer untuk mencari kayu bakar untuk masak. Saya tersenyum sendiri melihat mereka menjujung kayu juga menggunakan singgulung dari kain. Mereka pergi juga berombongan persis seperti saya di masa kecil dulu.

Anak Kota Harper mencari kayu

Selain menggunakan kayu bakar, masyarakat disini, juga menggunakan charcoal_ untuk memasak. Satu kantong plastik charcoal hanya cukup untuk dua kali masak. Harga satu kantong plastik kecil _charcoal adalah L$ 10.00 Liberty (Dollar Liberia) atau lebih kurang Rp. 2000. Kalau melihat hasil nya, ya cukup mahal.

Anak Harper penjual arang kayu

Kayu arang dijual eceran

Penjual arang di pasar

Bagaimana dengan minyak tanah?. Jangan pernah bermimpi untuk menggunakan minyak tanah untuk masak disini. Satu liter minyak tanah dijual L$ 120.00 Liberty (Rp. 20.000). Kenapa mahal banget? Seluruh kebutuhan untuk Harper datang dari Monrovia, Ibukota Liberia. Satu satunya alat transportasi untuk menuju Harper dari Monrovia hanya lewat laut dengan menggunakan kapal kapal yang sudah usang yang berlayar terseok-seok untuk mencapai Harper.

Pelabuhan di Harper, Monrovia

Dibutuhkan 2 hari 2 malam berlayar menuju Harper dari Monrovia. Jalan darat ada, tapi kondisinya sangat parah sekali di beberapa tempat.

Jalan lintas Harper

Saya pernah menelusuri jalan darat ini demi mengejar tanggal keberangkatan dari Monrovia demi berlebaran di kampung. Waktu itu penerbangan pesawat UN dari Monrovia – Harper sering dibatalkan karena musim hujan.

Kembali ke minyak tanah, biasanya mereka beli sedikit sedikit, sekitar seperlima liter, harganya L$ 20.00 Liberty. Ini digunakan untuk memancing agar agar charcoal cepat terbakar. Mungkin ada yang bertanya: Bagaimana dengan kompor listrik atau kompor gas seperti dikampung saya sekarang?.

”Mame(my friend)… Belum ada listrik untuk umum disini…!”

Ada orang kaya di Harper, namya Jimmi Anderson menyewakan listrik bagi masyarakat dengan tariff US$ 100.00 untuk daya listrik sebesar 5 Ampere, dan US$ 200.00 untuk daya listrik sebesar 10 Ampere. Bisnis jasa penyaluran listrik ini meraup banyak minat dimana pelanggan-nya adalah para pengusaha Lebanese (orang Lebanon) yang mempunyai usaha toko dan pedagang-pedagang yang umumnya besasal dari Republique du Guinea.

Sedangkan untuk membeli tabung berisikan gas, satu tabung isi 12.5 liter dijual seharga US$ 40.00 tersedia hanya di Monrovia saja, sayangnya untuk di Harper, gak ada yang menjualnya.

Jadi penggunaan kayu bakar untuk masak masih tinggi di Harper. Kapan ya masyarakat liberia dapat hidup seperti masyarakat di kampung saya?.

Donasion Donasion Having to conclude his initial assignment with the International Federation of Red Cross – IFRC, then successfully completed another at the British Red Cross during the Tsunami post-disaster rehabilitation in Aceh Province, Donasion further engaged into new challenges in the...

Detail Profile »

10  Comments

by Endang Triastuti at 16 February 2009, 20:19

wah.. trenyuh bacanya…. jadi ingat buku sejarah Indonesia jaman dulu….

by Taufik Polapa at 17 February 2009, 07:56

Wah…. tergugah jg saya membaca artikel dari pak Donasion, 35 Tahun lalu di daerah Kwandang tdk seperti daerah LIberia, karena Minya tanah masih bisa di temukan, walaupun masih banyak masyarakat Miskin tp tdk semiskin di Liberia saat ini jika di bandingkan dengan 35 thn lalu di Kec. Kwandang.

Belum lg jika di bandingkan dengan kota Gorontalo 40 thn lalu. yang tentu saja jauh lebih makmur dari Liberia saat ini.

Jika membaca tulisan Pak Donasion, membuat para pembaca mengucapkan rasa syukur bahwa saat ini daerah kita tdk separah seperti di Liberia. dan saat ini Indonesia bbm turun 3 x, sembako Turun. Pengangguran berkurang,. Angka Rakyat Miskin berkurang. Tersirat dari cerita ini kita harus tetap mempertahankan agar Indonesia lebih makmur lagi.

wassalam

tp

by Rusyono Yono at 17 February 2009, 08:00

Selamat bertugas, Bang…!

Terima kasih atas artikelnya. Saya senang sekali membacanya. Saya harap saya bisa terus mendapatkan kisah2nya.

by Ahmad Sucipto at 17 February 2009, 10:10

Apa ka­ta dunia?………

by Emma at 18 February 2009, 03:16

tq sudah berbagi ceritanya,….. sangat menarik kamipun punya pengalaman yg sama dulu waktu kecil …..oh ya di Solok persisnya kampung anda dimana ….barusan kami sekeluarga melewati danau singkarak sepuuh hari yg lalu….

salam

by Ovi Chandra at 18 February 2009, 04:42

Urang awak ma… selamat bertugas mulia saudaraku!!, Ambo sekeluarga berasal dari Bukit Tinggi…Tugas di Jakarta.

Salam
Ovi Chandra

by Eko Hadi at 19 February 2009, 05:06

Mas, kapan pulang kampung? Kelihatannya betah disitu.

Mas, numpang nanya… kalau di daerah Congo(DRC), apakah aman?. Kalau dulu yang sering dengan di daerah Congo termasuk daerah konflik, sehingga pasukan garuda kita juga pernah dikirim bertugas kesana. Apakah sekarang masih seperti itu?

by sunardi at 19 February 2009, 05:08

Hmmm… Jadi merasa beruntung, masih bisa pakai kompor. :)

by rere at 21 February 2009, 23:51

Nah begini donk cerita di pralangga.. ada sisi humanisnya… sukses selalu uda donasion…

by septian at 27 February 2009, 17:16

Ijin memperkenalkan diri bang..
Letda czi Septian, 2007.

sedikit informasi, untuk satgas PBB di kongo masih berjalan. Sekarang yang ada di sana satu kompi+ (175 orang). Kebanyakan dari yonzipur 2, Palembang. Insya Allah, Batalyonku tahun ini akan berangkat menggantikan mereka bulan Agustus.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Ii Rosna TARMIDJI This environmental engineer started her career as a preschool teacher before joining the local Indonesian NGO as a climate change researcher. In one of her assignments, she was sent to Raja Ampat, Papua and immediately fall in love with the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago