Masih ingat waktu kecil, semasa masih duduk dibangku sekolah dasar, setiap hari Minggu selalu bepergian mencari kayu bakar untuk memasak. Kami sekeluarga bergabung dengan kerabat lainya pergi mencari kayu bakar ke atas bukit di kampung kami, Solok – Sumatera Barat. Waktu itu belum lazim bagi orang kampung untuk menggunakan kompor untuk memasak. Minyak Tanah hanya digunakan untuk menyalakan lampu petromaks bagi keluarga yang mampu. Untuk keluarga yang tidak mampu, mereka menggunakan lampu togok (lentera).
Kembali ke cerita mencari kayu, pagi-pagi sekali kami berangkat, disaat sinar matahari belum menyengat.
Tidak lupa kami membawa bekal untuk makan siang saat mencapai diatas bukit. Kami menelusuri pematang sawah untuk mencapai bukit. Sesampainya diatas bukit, kami mulai mengumpulkan kayu-kayu untuk dibawa turun. Setelah kayu kayu terkumpul, kami ikat sesuai dengan kemampuan masing masing untuk membawa, terus makan siang, sore harinya kami turun dari atas bukit dengan membawa kayu masing masing diatas kepala. Kami menggunakan senggulung dari kain sarung sebagai alas kayu di kepala. Itu 35 tahun yang lalu. Dengan semakin majunya Negara kita, sekarang di kampung kami sudah ada aliran listrik, dan minyak tanah pun masih tersedia walau kadang harus antri, tungku kayu sudah tidak ada lagi. Masyarakat sudah tidak menggunakan minyak tanah, melainkan kompor gas, dan kompor listrik untuk memasak.
Semenjak bertugas di misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia ini, kembali saya temukan lagi ritual mencari kayu, disaat kampung saya sudah lama meninggalkan tradisi ini. Harper, sebuah kota di bagian timur Liberia, berbatasan langsung dengan Pantai Gading (Republique du C’ote D’ Ivoire) tempat dimana saya bertugas saat ini. Apa yang dilakukan anak-anak sekolah disini persis sama dengan apa yang saya lakukan dulu.



Diakhir pekan, saat libur sekolah, mereka berombongan mencari kayu bakar. Bedanya mereka tidak menyeberangi persawahan dan mendaki perbukitan. Mereka berjalan berkilo-kilometer untuk mencari kayu bakar untuk masak. Saya tersenyum sendiri melihat mereka menjujung kayu juga menggunakan singgulung dari kain. Mereka pergi juga berombongan persis seperti saya di masa kecil dulu.

Selain menggunakan kayu bakar, masyarakat disini, juga menggunakan charcoal_ untuk memasak. Satu kantong plastik charcoal hanya cukup untuk dua kali masak. Harga satu kantong plastik kecil _charcoal adalah L$ 10.00 Liberty (Dollar Liberia) atau lebih kurang Rp. 2000. Kalau melihat hasil nya, ya cukup mahal.



Bagaimana dengan minyak tanah?. Jangan pernah bermimpi untuk menggunakan minyak tanah untuk masak disini. Satu liter minyak tanah dijual L$ 120.00 Liberty (Rp. 20.000). Kenapa mahal banget? Seluruh kebutuhan untuk Harper datang dari Monrovia, Ibukota Liberia. Satu satunya alat transportasi untuk menuju Harper dari Monrovia hanya lewat laut dengan menggunakan kapal kapal yang sudah usang yang berlayar terseok-seok untuk mencapai Harper.

Dibutuhkan 2 hari 2 malam berlayar menuju Harper dari Monrovia. Jalan darat ada, tapi kondisinya sangat parah sekali di beberapa tempat.

Saya pernah menelusuri jalan darat ini demi mengejar tanggal keberangkatan dari Monrovia demi berlebaran di kampung. Waktu itu penerbangan pesawat UN dari Monrovia – Harper sering dibatalkan karena musim hujan.
Kembali ke minyak tanah, biasanya mereka beli sedikit sedikit, sekitar seperlima liter, harganya L$ 20.00 Liberty. Ini digunakan untuk memancing agar agar charcoal cepat terbakar. Mungkin ada yang bertanya: Bagaimana dengan kompor listrik atau kompor gas seperti dikampung saya sekarang?.
”Mame(my friend)… Belum ada listrik untuk umum disini…!”
Ada orang kaya di Harper, namya Jimmi Anderson menyewakan listrik bagi masyarakat dengan tariff US$ 100.00 untuk daya listrik sebesar 5 Ampere, dan US$ 200.00 untuk daya listrik sebesar 10 Ampere. Bisnis jasa penyaluran listrik ini meraup banyak minat dimana pelanggan-nya adalah para pengusaha Lebanese (orang Lebanon) yang mempunyai usaha toko dan pedagang-pedagang yang umumnya besasal dari Republique du Guinea.
Sedangkan untuk membeli tabung berisikan gas, satu tabung isi 12.5 liter dijual seharga US$ 40.00 tersedia hanya di Monrovia saja, sayangnya untuk di Harper, gak ada yang menjualnya.
Jadi penggunaan kayu bakar untuk masak masih tinggi di Harper. Kapan ya masyarakat liberia dapat hidup seperti masyarakat di kampung saya?.
wah.. trenyuh bacanya…. jadi ingat buku sejarah Indonesia jaman dulu….
Wah…. tergugah jg saya membaca artikel dari pak Donasion, 35 Tahun lalu di daerah Kwandang tdk seperti daerah LIberia, karena Minya tanah masih bisa di temukan, walaupun masih banyak masyarakat Miskin tp tdk semiskin di Liberia saat ini jika di bandingkan dengan 35 thn lalu di Kec. Kwandang.
Belum lg jika di bandingkan dengan kota Gorontalo 40 thn lalu. yang tentu saja jauh lebih makmur dari Liberia saat ini.
Jika membaca tulisan Pak Donasion, membuat para pembaca mengucapkan rasa syukur bahwa saat ini daerah kita tdk separah seperti di Liberia. dan saat ini Indonesia bbm turun 3 x, sembako Turun. Pengangguran berkurang,. Angka Rakyat Miskin berkurang. Tersirat dari cerita ini kita harus tetap mempertahankan agar Indonesia lebih makmur lagi.
wassalam
tp
Selamat bertugas, Bang…!
Terima kasih atas artikelnya. Saya senang sekali membacanya. Saya harap saya bisa terus mendapatkan kisah2nya.
Apa kata dunia?………
tq sudah berbagi ceritanya,….. sangat menarik kamipun punya pengalaman yg sama dulu waktu kecil …..oh ya di Solok persisnya kampung anda dimana ….barusan kami sekeluarga melewati danau singkarak sepuuh hari yg lalu….
salam
Urang awak ma… selamat bertugas mulia saudaraku!!, Ambo sekeluarga berasal dari Bukit Tinggi…Tugas di Jakarta.
Salam
Ovi Chandra
Mas, kapan pulang kampung? Kelihatannya betah disitu.
Mas, numpang nanya… kalau di daerah Congo(DRC), apakah aman?. Kalau dulu yang sering dengan di daerah Congo termasuk daerah konflik, sehingga pasukan garuda kita juga pernah dikirim bertugas kesana. Apakah sekarang masih seperti itu?
Hmmm… Jadi merasa beruntung, masih bisa pakai kompor. :)
Nah begini donk cerita di pralangga.. ada sisi humanisnya… sukses selalu uda donasion…
Ijin memperkenalkan diri bang..
Letda czi Septian, 2007.
sedikit informasi, untuk satgas PBB di kongo masih berjalan. Sekarang yang ada di sana satu kompi+ (175 orang). Kebanyakan dari yonzipur 2, Palembang. Insya Allah, Batalyonku tahun ini akan berangkat menggantikan mereka bulan Agustus.