Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kartu isi-ulang pulsa di Liberia: Ai lapyu beibeh mai darling!

15 February 2009, 13:14 , by Deden Lukman

 

Mah, kumaha damang?..”
“Anak-anak sehat?.. trus Zahra (anak 1) gimana luka jaitannya dah dilepas belum?… Mirza gmana sehat n lancar makannya bun? mana anak-anakku pengen ngobrol neh…” – Lepas kelar tanya situasi di rumah dan mengetahui kalau semuanya aman terkendali dan kelar mendengarkan laporan balik dari sang istri akan perihal urusan dapur dan baru saja hendak berkata-kata manis rindu-madu tralala-trilili – gombal mode-on, eh langsung tiba-tiba diserobot oleh suara ketus notifikasi tanpa ba-bi-bu menyelak kemesraan ini dengan berkata:

you have just one minute remaining…” – dalam hati teh menjerit: “Setaaaan!”

Buyarlah sudah ungkapan rayu-madu ini, dan lain sebagainya – terpaksa deh kemudian percakapan telepon dengan istri tercinta ditutup dengan ungkapan standard-basi, yaitu: “Mah, ya udah yah – udah abis nih pulsa-nya.. nanti telepon lagi yah.. – Daagh!”

Memang ongkos komunikasi bukanlah barang yang murah, terutama bagi kita-kita yang nyengceling (Baca: terpental jauh dipelsok) di negeri pantai barat afrika ini. Buat kalangan peacekeepers yang berada di Liberia, bisa dikatakan setiap orang menghabiskan paling tidak US$ 100.00 untuk dibelanjakan kartu pulsa prabayar, yang sudah pasti cepat ludes-nya dipakai untuk SMS dan menelpon ke kampung halaman, apalagi kalau pakai acara ‘pasea’ (baca: Berantem) di telepon pula, wah bisa habis menguap cepat uang dikantong ini membeli si kartu isi ulang pulsa tadi. Memang ternyata kartu pulsa ini adalah salah satu zat adiktif dan berbahaya (buat kantong).

Bicara soal telekomunikasi dan infrastrukturnya, Liberia termasuk yang jauh ketinggalan dan terbilang cukup mahal. Tidak ada saluran telepon kabel yang tersisa semenjak perang berkecamuk 15 tahun lalu, walhasil semua orang di Liberia harus menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, meski mutu jaringan dan kualitas suara selular berbasis GSM ini harus diakui masih buruk. Jempol ini rasanya sudah kapalan dan pegel menekan tombol nomor telepon di ponsel untuk menghubungi ke kampung dan tidak jarang nada sambung terdengar 2-3 kali kemudian langsung ‘jeprut’ (baca: putus sambungan). Jadi sayangku – mohon bersabar yah – bukan saya yang tidak ingin menelpon sering, tapi memang koneksinya yang rada-rada dogol. Apa mau di kata?.

Bicara soal kartu isi ulang, tentunya hal ini tidak lepas dengan mata rantai distribusi penjualan-nya, dimana kalau di tanah air, isi ulang kartu pulsa mudah dan nyaman. Dari mulai warung di pojok tikungaan, sampai di berbagai mesin ATM dan kasir saat berbelanja di pusat perkulakan macam Carrrefour dan/atau Giant di tanah air. Meski serupa namun tak sama disini.

Buat staff Military Observer macam sim kuring (baca: Saya) ini yang notabene hanya turun ke kota 2-3 bulan sekali, sering kali membekali diri dengan beberapa kartu isi ulang pulsa pecahan US$ 5.00 yang dijatah hanya boleh 5 dollar saja per minggu-nya, kalau tidak bisa boros dan habis pulsa ditengah pedalaman sana. Kalau sudah begitu persis dengan istilah mati-angin & mati-gaya!.

Kalau saja demikian itu terjadi, maka salah satunya jalan untuk menelpon ke kampung adalah dengan mengunjungi wartel-wartel (Warung Telekomunikasi) khas ala Liberia dengan gubug reyot seperti foto-foto dibawah ini. Selain menjual pulsa dengan harga diluar harga banderol, mereka juga menyediakan jasa recharging batere ponsel. Mengapa begitu sih? Memang tidak bisa recharging sendiri di rumah?. Heheheehe.. bagi yang belum faham, Listrik umum di Liberia itu masih belum ada, apalagi bagi penduduk di pedalaman semua diterangi dengan cahaya lilin dan bagi yang mampu mereka mengunakan generator listrik, termasuk itu untuk recharging batere ponsel..

Bun, besok kalau mau cerita panjang di telepon – coba dicatat aja deh yang penting-penting jadi lebih ringkas.. sayang rasanya kalau uang ini habis hanya untuk membahagiakan si tukang penjual pulsa disini… soal cinta mah nggak usah diragukan lagi deh !

Deden Lukman Wijaya
ai lapyu beibeh mai darling!!

Deden LUKMAN Graduated from the Air Force Academy in 1996. Initial service within the IAF begun Central Command Comms in Abdurrahman Sallah Air Force Base, Malang – Eastern Java. Following another assignment at Hassanudin Air Force Base, Makassar for 2,5 years. His...

Detail Profile »

9  Comments

by Luigi Pralangga at 16 February 2009, 04:58

hehehehe… baru tau dia kalau ‘ongkos komunikasi’ itu memang mahal disini – jadi bersyukurlah bagi mereka2 yang lancar dan murah teleponan dengan ‘yayang’nya :D

Kumaha si Beibeh, teh?

by Harri at 16 February 2009, 07:10

US$ 100.00. gile bener. tp jgn di kurs ke Rp yak kang, bs2 kliyeng2. hehe..

Salam dr tanah air

UNFAO-Representation in ID

by Donasion at 16 February 2009, 10:41

Kan gak mungkin nelpon “yayang” singkat dan padat yah. Pasti pengen lama lama. 5 USD hanya cukup untuk 1 kali nelpon.
Ya, bagaimanalah Kang Deden,, kita org pedalaman.

by falva at 17 February 2009, 15:12

assalamualikum…

waduuuuhhhhhh……..
syusah duonk……, kangan nya lom ilang ehhh pulsanya dah abisss, heheheheheheh………
truss gmn neh…???!!!!!!!

mungkin dulu sebelum terbiasa berat banget yahhhh.
akn tetapi mungkin sekarang sudah “HARAP MAKLUM”..hehehe
lucu ya, artikel nya…….

yah , kan ada wartelnya tuh , ya lwat situ aj komunikasi nya, lagian wartelnya ..keren bo..”

ya ya ya..namanya juga daerah konlik kli yah, jadi yah , untuk kita kita yang diindonesia , ngga boleh suka “NGGERUNDEL” sama sistem komuniksi di indonesia , dah cukup baik kan??!!!!, tapi ya kadang kadang……suka aneh aja dikit, iklan saMa kenyataan nya , iklan kartu pra bayar dengan kenyataan saat kita mengunakannya,,,

jangan banaK boong nya deh , ntar bintilan loh, hehehe

selamat bertugas yahhhhhhhhhh
semoga Selamat, komunikasi nyA lancar, bentar asal berkualitas(kualitas apaan..!!!).. weh marah..
jangan marah lo ntar niat nya jadi berubah,…,
dn cepet tua…

HIHIHI

SEMOGA SEHAT SELALU

SALAM MANIS

FALVA

INDONESIA

by Rieeta Widy at 17 February 2009, 21:57

Sebelum komentar aku mo bilang “Salam Kenal utk semuanya”
Pertama aku kenal ama bang Deden dari FB, sekedar iseng aku add temannya bang Deden yaitu Bang Luigi Pralangga. Bang Luigi yg kasih aku situs ini, gak tau nya Bang Deden juga salah satu member disini ya…
Setelah baca tulisan Bang Deden aku jadi terenyuh nih..selama ini aku hanya berpikir jadi tentara tuh keliatan keren dengan seragam mereka, gak berpikir seberapa sulit nya jadi tentara….
Setelah baca tulisan2 di situs ini, makin salut aku dengan abang2ku yg rela mengabdi bagi Nusa dan Bangsa….dan sedikit malu dengan pemikiran picik ku yg melihat tentara hanya dari uniform nya aja… Mohon maaf atas pemikiran rendah ku ya bang…

Komen ku utk tulisan abangku, coba aja bang klo bisa internet berarti bisa juga donk pake skype atw ym… lebih murah dan lebih enak buat komunikasi karena ada video call.. sama seperti yg aku lakukan dengan abang ku yang di DILI….
Semoga komenku bisa membantu ya bang….

by danie at 18 February 2009, 18:46

Alhamdulillah, pagi-pagi sudah ditegur Allah dengan tulisan akang, i lap yu beibeh, hmmm, mahal ya kang, memang harus realistis sih, tapi kangen gimana ya, jadi, lagi-lagi alarm syukur, gampang nelpon di negri dewek (sendiri) dari jaringan sampai harga pulsa.

Thank you for reminding me and see you in Jakarta.

by Rosmawaty at 18 February 2009, 21:27

Maaf..kulon nuwun…ikutan komentar ah…
Sebelumnya, salam kenal buat semuanya aja. Saya teman Luigi waktu SD…(ketemuan di FB lagi hehe)

Membaca artikel ini…hati tuh jadi nyesak juga ya heheheehe gimana nggak? Kangen tapi tidak bisa terlampiaskan dengan puas…Uh, inget itu pasti kesal banget hati ini hikshikshiks.
Tapi, terkadang memang itu tuntutan profesi dan konsekuensi dari sebuah tanggung jawab yang disandang di bahu.

Jika sikon emang demikian … ya buat nyeneng-nyenengin ati…diketawain aja kali ya?
HAbis..mo apa lagi coba?
Wah..kalau demikian, saya baru sadar kenapa tentara tuh senang banget jika ada hiburan di markas atau tempat bertugas meski artisnya gak jelas…(di TV). Bukan artisnya yang dilihat kayaknya….tapi hiburannya, spt oase di tengah padang gurun.

Oke deh…saya cuma bisa bilang SELAMAT BERTUGAS…dan TETAP SEMANGAT buat semua yang bertugas di sana.

ROSMA

by eriezz at 19 February 2009, 04:24

euleuh2 ampe segitunya yah…tp klo bwt yayang mah apa sih yg nggak…di jabanin dah..btw eta teh wartel???meuni siga pos ronda wae tuh aya nu jaga na keur sarare halah ..sabar mas cinta berat di ongkos hihihi..

by Neng Keke at 19 February 2009, 22:12

Mahal emang, kang… Tapi buat ‘si teteh di lembur’ kata ‘Halo’ bisa bikin hati berbunga-bunga paling engga 6 jam… Iiiiihhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiyyyyyyyyy!!! :D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Reinhard HUTAGAOL Reinhard Hutagaol currently serving as AKBP/Leut. Col (Police Commision) at Indonesian National Police (INP). Having equipped with extensive exposure during his previous international assignment in Bosnia-Herzegovina in 1997 – 1998. Reinhard has already deployed to Sudan for assignment to...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago