Seperti kita ketahui dimana-mana yang namanya LALEUR ato nama umumnya LALAT, adalah salah satu binatang sejenis serangga yang ditakuti karena dapat menyebabkan penyakit terutama penyakkt perut. LALEUR (Baca: Lalat) ini hinggap dimana saja sesuka hati mereka termasuk tempat-tempat kotor hingga ke makanan kita dimana dari kaki-kakinya itu, mereka membawa kuman penyakit yang nantinya sakit perut yang lumayan ga begitu nyaman apalagi kalo ketemu yang namanya MENCRET (maaf).

Disini sang JINGGA alhamdulilah tidak sedang dihinggapi kata terakhir di paragraph atas tetapi hanya mau berceloteh tentang yang namanya laleur. Ehem…tes 1,2,3…Baik, para pembaca yang budiman, sang JINGGA sebenarnya sangat jijik terhadap serangga yang namanya laleur, karena memang selain pembawa penyakit juga karena binatang yang dianggap sang JINGGA adalah binatang yang BANGKAWARAH …artinya ga tau sopan santun kapan saja dan dimana saja. Kenapa dijulukin demikian, karena di tempat sang JINGGA yang sedang menghadapi musim hujan dimana air hujannya enggan turun malah suhu panasnya saja yang masih tertinggal dan berusaha membakar kulit sang JINGGA yang dari lahir memang sudah bukan putih tua…tapi coklat matang (emang ada gitu warna itu?????).
Jadi begini boss..setiap siang si laleur yang jumlahnya lumayan banyak sering bermukim di teras yang masih tanah dan terbang masuk ke dalam kamar dari rumah si JINGGA yang kebetulan bergabung dengan rekan peacekeeper Negara PERU dan NIGERIA.

Memang tiap siang sang JINGGA dan rekan-rekan tersebut kembali ke rumah karena memang sudah waktunya perut untuk diisi meskipun masakan yang disiapkan rasa “KUMAHA AING” (Baca: Terserah Saya)… yang penting bisa menghidupi cacing-cacing diperut agar tidak demo menuntut ini itu. Dan, sang JINGGA hari itu beraksi seperti koki professional memasak untuk makan siang dan makan malam nantinya. Tanpa terpengaruh godaan si laleur yang sering terbang melewati telinga, hinggap di mana saja sesuka dia, sang JINGGA tetap bertahan demi makanan. Nah sambil menunggu masakan tersebut matang, sang JINGGA duduk di teras bersama rekan yang lain ngobrol ngalor-ngidul sambil minum air dingin di gelas kesayangan masing-masing.
Disinilah inti permasalahan yang terjadi yaitu saat kami sedang santai ngobrol memperbincangkan general security di area of responsibility (AOR), rekan kami yang dari PERU terbahak-bahak tertawa setelah melihat berulang kali sang JINGGA mengibaskan tangannya untuk mengusir si LALEUR yang BANGKAWARAH itu sering hinggap di hidung, pipi, telinga…wah pokonya dia senengnya maen atas…(maksudnya di daerah wajah, jangan POR-ON atuh!!) padahal saat itu sang JINGGA sedang berseloroh menanggapi pendapat rekan PERU tersebut.
Mungkin karena sang JINGGA sudah terlatih, satu tangkisan KARATE tepat mengenai si laleur dan entah jatuh dimana. Tak terasa perbincangan kami membawa larut masakan menjadi matang dan siap dihantam…dengan sigap kami menyiapkan piring di meja makan yang telah tersedia. Para pembaca yang budiman, entah karena lapar ato emang masakan sang JINGGA yang lezat, kami berdua tanpa bicara sepatah katapun melahap makanan masing-masing…sekitar 4 menit berjalan..tiba-tiba rekan dari PERU ini tersedak batuk karena makananya masih rada panas, so tangan kirinya menangkap gagang gelas alumunium dan langsung menenggak berusaha meredakan batuk.
Saat itu juga sang JINGGA melihat raut wajah rekannya yang terdiam seperti menikmati sesuatu dimulutnya dan berkata “Something strange in my glass and now in my mouth”… kelihatan sekali dia seperti tidak berniat menggigit benda yang dimulutnya dan secara perlahan lidahnya berusaha mendorong benda tersebut keluar dari mulutnya.

You know what was it?….*Geuleuh*…. dia makan si laleur yang BANGKAWARAH yang mungkin terpukul kibasan sang JINGGA tadi dan tercebur di kolam dingin gelas kaleng PERU punya. Fortunately, dia ga nyadar kalo si laleur itu korban keganasan sang JINGGA da secara perlahan namun pasti sang JINGGA menyelesaikan makan siangnya dan beranjak pergi meninggalkan rekan PERU yang masih terlihat marah-marah dan menginjak-nginjak kakinya ke si laleur yang sudah tak berdaya seperti kekerasan yang melanggar HAM. Caciaaaan deh lo, LALEUR!!!!!


Kang Nana,
Seru pisan cerita laleurnya.. mungkin si Kampretos de La Peru itu bisa dikasihtau kalau si laleur itu bisa jadi vitamin :D hehehehe… kapan cuti mudik nih?
wuiihh.. lalat pun bisa jadi vitamin hahaha..
kalau minuman di hinggapi lalat atau kecemplung lalat, langsung aja tenggelamin lalatnya pakai sendok, trus airnya di aduk 3 kali tapi dengan arah berlawanan jarum jam.
habis itu lalatnya di buang , di minum deh airnya, kata pak kyai bisa nambah daya ingat :P
tuk ngusir eta si“Laleur” mah gampang,
begini,tangkap satu silaleur, lalu ambil Tipex, nah olesin tipex di kepala (sirah) laleur sedikit saja asal keliatan putih.
Nah pasti laleur-laleur yang lainnya pasti menjauh, karena disangkanya ada “polisi-laleur’, lantaran pake helm putih.
Jangan serius canda aja,
Salam buat semua yang bertugas di lebanon.
dari Saudi-Arabia.
Kang jangan banyak2 buata terasi kang jingga menang baru dapat ulekan batu yang baru buat terasi and ayam penyet terus ne plus pecel lele ala sudan ya selamat bertugas jaga kesehatan dan di tunggu di khartoum
hahah…yikes!! :P lalatnya diiket terus ditempelin sebagai peringatan untuk lalat2 yang lain :D