Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Nadia FEBINA

Ini Perdamaian Juga!

7 August 2007, 05:24 , by Nadia Febina

 

Waktu pertama kali saya diajak gabung sama Luigi buat jadi salah satu koresponden di website yg kondyang ini, saya seneng banget, tp sembari bingung juga dalam hati… Lhah, ini gimana juga ceritanya saya si perempuan tanpa misi ini tiba2 harus menulis di website yang judulnya “peacekeeping mission”? Nah lo.

Sebelum cerita panjang lebar, sebagai background buat teman-teman semua, saya mau ceritakan sedikit tentang negara di mana saya tinggal ini. Angola itu sebuah negara yang lumayan besar di pantai barat Africa, tepat di perbatasan selatan Congo, dan perbatasan utara Namibia. Tau kan Namibia.. Itu loh, yg tempat Angelina Jolie melahirkan anaknya dari Brad Pitt itu.. (hayyyah!). Angola ini bahasa nasionalnya yang resmi adalah Portugis, karena bekas jajahan Portugis selama 500+ tahun dan baru merdeka tahun 1975. Nggak lama setelah merdeka itu, terjadilah civil war yg panjang dan baru sekitar 5thn yang lalu usai. Jadi sejujurnya kalo bicara soal peacekeeping di daerah perang, tentunya saya ga punya pengalaman apa2 buat diceritakan, karena negaranya sendiri sudah adem ayem selama 5 tahun barulah saya datang, hihi. Peace yo.

Typical Luanda Apartements

Negara Angola yang beribu kota Luanda ini berpenduduk total sekitar 14juta dengan luas area yang lumayan banget lah, jauh lebih besar dari Pulau Jawa. Cuma sayangnya populasinya hanya berpusat di ibukota. Luanda ini dulu dibuat dengan design capacity 400 ribu manusia, tapi sekarang dihuni oleh 4 juta orang. Tentang macet, ga usah ditanya. Tapi biarlah saya simpan dulu cerita tentang macet dan lain-lain ini buat nanti di posting-posting berikutnya okey.

Luanda Bay View

Hari pertama saya mendaratkan kaki di tanah Angola ini – sekitar 6 bulan yang lalu – saya mempersiapkan diri apa yang akan saya temui di sini. Terus terang saja, saya sampai hafal luar kepala segala briefing dari kantor yang mengirim saya ke sini, segala do’s and don’t’s, dan segala macam warning dari ancaman malaria, susahnya masalah logistic sampai bahaya tertembak di jalan. Mau beli ini itu gak ada, mau ini itu ga bisa, obat anti malaria yang harus diminum tiap hari itu bikin halusinasi, susah punya temen karena semua orang di sana ngomong portugis kecuali expats, apalagi mau punya kegiatan selain ngantor, nggak bakalan ada. Begitu yg selalu mereka bilang, setiap hari, bikin parno tanpa ampun. Tekad saya dahulu: okay, mungkin hidup saya jadi ga nyaman dan kemungkinan besar jadi sengsara seperti kata orang-orang, tapi saya ingin lihat dunia lain, dunia yang bukan Jakarta, Tokyo, New York, London atau Paris. Dunia yang tidak mungkin saya visit kalau tidak karena tugas, yang mungkin bisa menjadi sarana belajar, membuat pikiran dan hati saya menjadi “kaya”. Amien.

Marina di Tengah Kota

Setelah 6 bulan tinggal di sini, apa kesimpulan saya?

Terus terang terbukti bahwa peringatan-peringatan itu agak berlebihan, walaupun tidak bohong. Walaupun harus saya akui, kenyamanan yang selama ini kita anggap normal, kadang sesuatu hal mewah di sini. Misalnya: lagi enak2an mandi, listrik tiba2 mati. Air pun mati, karena pompa nya mati juga. Jadilah saya keluar kamar mandi dengan gumpalan busa shampoo di atas kepala saya. Mau ngomel, ternyata hal ini sudah biasa. Yang ngedengerin juga males, wong itu hal biasa.

Pasar Kaget versi Angola

Tapi tentu ada pelajaran dan segi postifinya. Karena hal-hal kecil seperti listrik sering mati begitu, saya harus hati-hati untuk tidak tergoda menjadi stress. Hehe. Terus terang hari-hari pertama saya rela loh, menghabiskan waktu untuk merinci secara detail hal-hal yang mengecewakan dan membuat hidup jadi gak nyaman. Tapi sekarang saya kok tidak rela menghabiskan waktu saya untuk itu. Mungkin karena pelan-pelan saya pelajari ternyata kekecewaan dan frustasi itu hanya akan lahir kalau realita dan keinginan tidak sinkron. Berdasar perasaan inilah, saya memutuskan untuk mengkompromikan my will power dengan reality. Well, istilahnya berdamai dengan diri saya sendiri. Masih belajar, karena ini proses. Doakan ya. :)

Satu hal yang saya suka di sini, saya mendapatkan kesempatan bertemu dan berteman dengan orang-orang dari berbagai bangsa. Selain tentunya kawan-kawan dari Angola, sebut saja kawan-kawan dari berbagai negara dan benua: Portugis, Brazil, Inggris, Amerika, Colombia, Malaysia, Vietnam, Lebanon, Flipina, Italia, Pakistan, India, Canada, Equador, Peru, Cuba, Spanyol, Belanda, Perancis dan Iran. Semua berteman dalam perantauan, bersatu dalam perbedaan-perbedaannya. Senangnya mendapat kesempatan untuk merasakan dunia yg tanpa batas, ibarat batin ini mendapat tetesan embun penyejuk setelah lelah melihat berita di tv dari hari ke hari yang mengulas tentang perang dan kehancuran yg dibuat oleh tangan manusia atas dasar uang dan ego.

Walaupun saya tidak menutup mata dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan kemiskinan di negara ini, tapi nggak dipungkiri negara ini menawarkan banyak hal-hal yang positif yang pantas buat saya ceritakan juga. Tunggu yaa, di posting-posting berikutnya! :)

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

6  Comments

by Luigi Pralangga at 15 August 2007, 16:18

Hi Nadia,

Trims udah nyempetin untuk berbagi melalui entry perdana-nya. Memang Angola kalau dilihat dari scope afrika adalah bagai raksasa yang baru saja terbangun dari tidurnya dan melihat geliat ekonominya – tak ayal akan banyak expat-nusantara yang akan hinggap disana.

Ditunggu laporan wisata kuliner ala Angola-nya.. :-)

by Utami Agung NC at 16 August 2007, 00:47

TOB mba’ bagus artikel ya ..bisa di baca ma teman2 yang lain , nota bene yg belum tau negara sana ..BENER kta Bang Luigi di tunggu wisata kuliner di sana ….salam kenal ya mba’

by Viking KARWUR at 16 August 2007, 01:29

Salam kenal juga… ternyata Mbak Nadia ini kenal Om Gerhard juga ya… Ok deh… saya menunggu juga artikel kuliner nya… Wisata kuliner deh…

Artikelnya keren…

by undercover at 16 August 2007, 22:01

Wah senengnya bisa kembali share comment di Our Peacekeeping Journey.. Buzz yang bakal dikenang sampe mampus, karena moment nya pas 17 an baru boleh comment. He…

Salam kenal mba Nadia… Artikel nya keren, saya serasa terbawa terbang ikut-ikutan berada di Angola.

Berdamai dengan diri sendiri, istilah yang bisa saya coba juga tuh, mengingat dalam hidup tak selamanya semua rencana terwujud seperti yang selalu kita inginkan.

by Ana at 17 August 2007, 16:52

Hi Nadia, tks utk artikelnya ya…. Bagus! Berkat artikel mu saya jadi tau ttg Angola, dan juga didukung oleh foto2 yg disajikan. Ternyata Angola tuh juga terletak didekat pantai ya, sangat indah melihat pemandangan disekitar pantai yg kamu sajikan ini.
OK, ditunggu dg artikel2 lainnya ya, dan jg lupa sajikan juga foto2 ttg Negara Angola itu.

Cheers….

by nancy at 4 September 2007, 03:35

Peace juga Nad:)…pantai2 nya indah banget ya Nad:)…hati jadi tambah damai dapat menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini:)

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arief Bastian Sanusi Arief Bastian Sanusi, 1st Lieutenant Marine Corps, was born in December 1983 in Pangkalan Susu, North Sumatera. After conclusion of formal education at SMUN 1 Padang in 2001, He drafted hiimself at the Indonesian Naval Academy and later became the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago