Indonesia akan segera mengirim pasukan tambahannya yang akan bergabung dengan misi PBB di Lebanon. Direncanakan pasukan yang dikirim adalah murni dari satuan matra laut. Pasukan ini akan merperkuat pasukan laut yang ada di UNIFIL atau lebih dikenal dengan UNIFIL Maritime Task Force.
UNIFIL saat ini memiliki kekuatan pasukan berkisar 13.000 personel, yang terdiri dari pasukan darat dan pasukan laut. Pasukan darat terdiri dari dua sektor, yaitu sektor barat dan timur. Pasukan darat dan laut tetap dibawah kendali dari Force Commander yang saat ini di jabat oleh jenderal yang berasal dari Italia yaitu Mayjen Claudio Graziano.

Bila dilihat sejarah terbentuknya Maritime Task Force cukup menarik. Perang yang dipicu oleh milisi Hizbullah dengan menyerang serta menculik dua tentara Israel pada bulan Juli 2006. Hal ini yang memicu perang selama 34 hari sehingga memakan korban yang cukup besar dipihak masyarakat sipil Lebanon. Untuk menutup akses manuver milisi Hizbullah, maka tindakan blokade laut dan udara yang dilakukan oleh Israeal selama perang yang berlangsung dari Juli-Agustus 2006. Kerugian besar yang dialami negara Lebanon cukup besar akibat blokade ini, karena negara ini sangat tergantung dari kunjungan turis dan perdagangan.
Pada tanggal 14 Agustus 2006 berdasarkan resolusi PBB nomor 1701, memberikan amanah kepada UNIFIL untuk melaksanakan pergelaran pasukannya menjadi lebih besar. Berdasarkan mandat PBB tersebut, terdapat kemungkinan pasukan UNIFIL yang dapat digelar di Lebanon Selatan sebayak 15.000 personel. Hal ini sangat jelas membantu tugas LAF _ dalam mengawasi wilayah Selatan Lebanon dari kemungkinan digunakan sebagai _“daerah penyelaman” kelompok bersenjata. Karena sejak dahulu, tertulis dalam sejarah bahwa daerah Lebanon yang berbatasan dengan Israel tidak pernah sepi dari konflik. Pecah perang pada tahun 2006 yang lalu, tidak adanya keterlibatan LAF, sehingga Hizbullah memang “merasa” sebagai pahlawan yang berani melawan Israel.
Hingga saat ini secara eksplisit PBB belum memiliki exit staregy di Lebanon. Hal ini mengankibatkan kondisi dilapangan yang tetap rentan dari ketegangan2 antara Israel dan pihak Lebanon. Disamping saat ini DPKO (Departement Peace Keeping Operation) belum melanjutkan phase selanjutnya dari status UNIFIL Deployment yang disetujui dengan resolusi PBB no 1701. Phase saat ini tetap di phase ke III dimana kerjasama UNIFIL dengan tentara Lebanon untuk memperkuat kemampuan tentara Lebanon (LAF) di wilayah Selatan.
Spesifikasi teknis
Terkait permintaan PBB terhadap Indonesia untuk meningkatkan partisipasinya di Unifil sejak tahun 2007 telah mengundang Indonesia untuk mengirim kapal perangnya untuk bergabung dalam Maritime Task Force. Saat ini UNIFIL Maritime Task Force yang beroperasi diperairan laut Lebanon terdiri dari kapal-kapal perang dari negara-negara Eropa.
Sehingga UNIFIL MTF dianggap kurang mencerminkan pasukan PBB yang multinasional. Pada saat kunjungan Panglima TNI pada bulan Juli 2008 ke Markas Besar UNIFIL di Naqoura Lebanon, dan bertemu dengan Force Commander Mayjen Claudio Graziano terungkap keinginan dari jenderal Italia tersebut agar Indonesia sesegera mungkin mengirimkan pasukannya bergabung dengan Maritime Task Force.





Pengiriman kapal perang Indonesia ke MTF UNIFIL sangat diharapkan, karena hal ini akan memiliki dampak yang cukup besar kepada citra MTF khususnya pada komposisi kapal-kapal yang tidak hanya akan melaksanakan negara-negara Eropa tetapi juga dari salah satu negara Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya muslim.

Area of Interest – Maritime Task Force
Kemampuan personel dan perlengkapan yang akan dikirim dalam misi PBB, tentunya harus memenuhi standar yang diterapkan PBB. Hal ini untuk memudahkan PBB dalam melaksanakan pengawasan dan pemeriksaan baik sebelum deployment dan selama di daerah tugas. Pertimbangan tersebut diatas juga menuntut TNI untuk menyiapkan personel dan materialnya yang akan bergabung dalam MTF.
Persyaratan minimal untuk kapal perang yang akan bergabung dalam UNIFIL antara lain sebagai berikut:
1. Mampu mengoperasikan/mengendalikan heli
2. Mampu melaksanakan SAR
3. Mampu melaksanakan RAS (Pengisian BBM di laut)
4. Memiliki fasilitas kesehatan level 1
5. Memiliki combat management system secara real time
6. Mampu melaksanakan self protection
7. Memiliki kemampuan mengidentifikasi kalan/lawan (IFF)
8. Memiliki berbagai jenis persenjataan
9. Mampu memberikan bantuan kepada Angkatan Laut Lebanon
Dari kondisi diatas TNI, pada awalnya telah menyiapkan beberapa kapal perang yang memiliki standar tersebut, seperti KRI Nala-363, KRI Karel Sasuitubun-356 dan KRI Diponegoro-365.

Kelas kapal yang dipersiapkan oleh Indonesia
Namun persiapan yang dilakukan tertuju terhadap pemilihan kapal perang KRI Diponogoro. Kapal ini termasuk jenis Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) buatan Belanda dan kapal ini telah bergabung dalam jajaran Armada Timur TNI AL sejak Agustus 2007. Kita ketahui bahwa TNI AL memiliki dua armada yaitu armada kawasan barat dan timur. Bila dilihat luasnya laut Indonesia maka Armada Timur memiliki cakupan yang luas untuk area of operation. Tentunya berbagai pertimbangan, seperti imbangan daya tempur TNI di dalam negeri tidak akan mengurangi kemampuan TNI mengantisipasi ancaman dari laut di dalam negeri.
Hal ini yang pastinya, melandasi keputusan TNI untuk turut menurunkan kemampuan laut Indonesia di fora internasional.
Direncanakan kapal perang Indonesia tersebut sudah bergabung dengan UNIFIL MTF pada bulan Maret 2009. TNI AL yang memiliki aspek pembinaan matra laut telah berupaya untuk menyiapkan material (major equipment) tersebut untuk siap bertolak dari Indonesia menuju Lebanon pada pertengahan Februari 2009.
Untuk tambahan informasi bahwa kapal ini memiliki spesifikasi tehnis sebagai berikut:
Spesifikasi Teknis Kapal Indonesia
Selain itu pesawat Helly Bolko akan dilengkapi bersama papal tersebut.
Bila dilihat dari keikutsertaan Indonesia berperan aktif dalam misi pemeliharaan perdamaian, boleh dikatakan bahwa baru pertama kali Indonesia akan mengirimkan kemampuan lautnya bergabung dalam MTF di Lebanon. Dengan semboyan Jalasveva Jaya Mahe (Dilaut kita jaya) akan menunjukan profesionalisme TNI kepada dunia.
Ayo kang, tambah semangat lagi untuk hijrah ke UNIFIL…
sebentar lagi kita akan menjadi kekuatan kontributor nomor 3 disini setelah Indo maritime TF datang akhir Feb 2009 nanti…
Rudy
Naqoura
Wujud partisipasi yg ditunggu2 dunia internasional pada umumnya, khususnya di Lebanon.
Tetap semangat, dan selamat bertugas
Jabat erat dari tanah air
Harri
Food and Agriculture Organization of the United Nations
Representation Indonesia
Bahwa kesempatan untuk mengirimkan KRI dalam misi perdamaian dunia merupakan kesempatan yang sangat strategis yang jarang diperoleh.
KRI yang akan dikirim ke misi diharapkan kondisinya sesuai fungsi asasi, selain untuk memenuhi kriteria yang yang dipersyaratkan oleh PBB juga dapat menunjang keselamatan personel dan material serta menunjukkan kesungguhan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia internasional melalui PBB/MTF-UNIFIL sehingga dapat memberikan penilaian positif yang berdampak secara politis maupun strtegis, untuk itu sangat diperlukan kesungguhan dan kerja keras untuk mewujudkan progam ini dengan memegang Mission Oriented.
Dengan dibukanya kesempatan Indonesia untuk berpartisipasi dalam misi PBB MTF-UNIFIL merupakan indikasi bahwa PBB telah mengakui kemampuan Indonesia/ TNI AL dalam melaksanakan operasi di laut serta operasi bersama dengan negara lain sesuai pengalam tugas operasi yang dimiliki didalam negeri maupun di kawasan.
Untuk dapat melaksanakan operasi dalam MTF-UNIFIL perlu dilaksanakan penyiapan KRI yang sudah ditunjuk baik bidang Platform, Sewaco maupun personel pengawak.
Kita semua turut berdoa semoga misi ini dapat berhasil, dapat berjalan dengan lancar dan aman lancar sehingga dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah Internasional.
“JALES VEVA JAYA MAHE” JUSTRU DI LAUT BANGSA INDONESIA JAYA
Letkol Laut (P) Tedjo Sukmono Pabandya-3 Sus /Paban III Binkar Spers TNIKeputusan yang baik,.. mudah-mudahan UN tetap percaya pada TNI untuk semua daerah konflik di dunia, dengan biaya UN tentunya hehehe… Dengan begitu TNI juga segera dikenal dunia dan siapa pun yang terbiasa menjelek-jelekan TNI di dunia internasional biar gigit jari, Tunjukan bahwa kita negara bahari terbesar di dunia, punya kekuatan laut yang wajib dan harus disegani,.. :)
Mudah2an dengan dikirimkannya kesatuan kapal-kapal Indonesia bergabung dengan IMTF di UNIFIL bisa menjadikan bukti partisipasi aktif Indonesia pada perdamaian dunia..
Bagaimana dengan IMTF – Somalia? yang konon UNSC (United Nations Security Council) di New York Headquarters sudah mengijinkan kekuatan militer IMTF mengejar danmenumpas perompak ditelukj Aden sampai masuk ke wilayah daratan Somalia? Akankah Indonesia juga menjawab tantangan itu?
Mohon pencerahannya, Mas Irawadi..