Sebuah pin berbentuk pita merah itu dibagi-bagikan kepada para staff, email pengumuman perihal pembagian pin pita merah ini memang sudah dikirimkan sehari sebelumnya. Sudah pasti hampir semua staff telah membacanya dan faham bahwa 1 December 2009 tempo hari adalah peringatan hari AIDS sedunia. Namun apakah esensinya dari peringatan hari tersebut bagi tingkat individu itu sendiri?. Kadang si kampret ini bertanya pada diri sendiri, apakah diri ini termasuk individu yang berada pada lingkungan yang beresiko?. Jawabannya ya dan juga tidak. Adalah “ya” benar bahwa dengan berada di daerah penugasan misi PBB seperti di Liberia, tidak sedikit personil peacekeeper yang meninggal karena HIV/AIDS. Dan “Tidak”, bila individu tersebut faham akan resiko dan konsisten dalam memegang teguh status HIV (positive atau negative) dirinya serta tidak berperilaku yang meresikokan diri masing-masing atau orang lain.
Plang reklame macam diatas ini senantiasa menyapa si kampret ini 2 (dua) kali dalam setiap hari, yaitu pada saat berangkat dan pulang dari bekerja. Kadang kemacetan itu umumnya persis terjadi pada daerah pandangan dimana si plang reklame ini tertancap. Memang deh! – Tahu benar si pengiklan itu menempatkan pesan-pesan HIV/AIDS ini persis disepanjang jalan yang mana banyak orang pasti akan melihatnya.
Ya.. ya.. saya faham.. saya harus berjanji.. untuk menjaga status (HIV/AIDS) ini. Nampaknya tidak cukup dengan satu plang reklame saja, si pesan HIV/AIDS ini secara berkala menggempur ranah pikiran penduduk di Liberia, termasuk itu para staff asing (Expatriates) baik itu staff sipil dan military peacekeepers UNMIL, dan staff UN Agency lainnya untuk senantiasa mawas dan terus bisa memang janjinya tadi.
Inilah dia plang reklame berikutnya sudah nangkring menghadang perhatian para pengendara pada ujung perempatan tidak jauh dari plang reklame sebelumnya.
Plang reklame lawas yang sudah mulak karatan dan ada yang hampir mau roboh tertancap miring dan siap terjungkal kapan saja, masih terlihat di berbagai sudut Ibukota Liberia – Monrovia ini. Nah beberapa diantaranya secara lantang terus mengedepankan pesan akan bahaya HIV/AIDS.
Harus diakui faktanya bahwa, setiap personil peacekeepers, baik itu sipil dan militer, pada saat dia berangkat terbang dan bertugas pada daerah misi, apapun status sosialnya, baik itu menikah, lajang, duda, dan lain sbeagainya akan secara defacto berubah menjadi: LAJANG atau istilah keren-nya: SINGLE.
Exposure para peacekeepers di medan penugasan yang notabene tanpa keluarga/pasangan, bagi kita semua yang sudah menikah dan/atau aktif secara seksual sudah pasti menempatkan diri pada sebuah tantangan yang cukup serius. Apalagi urusan birahi dan penyalurannya bagi kebanyakan dari mereka yang tidak bijak, acapkali pertimbangan rasio akan bahaya-bahaya tadi menjadi terkalahkan, mengingat ‘senat-senut’ dibawah sana makin lama makin merajai dan mungkin bagi kebanyakan peacekeepers dari negara/benua lain pada saat baru tiba sering berguman dalam hati: “Ah nggak mau.. gelap banget sih!” atau “Ah, nggak deh.. bukan pilihan selera..” – namun lama kelamaan akan bergeser komentarnya menjadi: “Eh, kok dia menjadi kelihatan manis ya?” atau “Alamak, sexy benar dan bodynya bak gitar…” dan lain-lain sebagainya.
Nah kalau ceritanya sudah seperti diatas beginilah yang repot, tidak sedikit dari peacekeepers yang karena nafsu, akhirnya terjerumus kepada tindak-pelanggaran SEA (Sexual Abuse & Exploitation) saat dirinya bertugas di daerah misi terhadap wanita atau anak-gadis penduduk setempat. Hal seperti ini telah menjadi tantangan besar bagi PBB, dimana pada tahun 2005, sebuah skandal SEA yang menggegerkan itu terjadi di Congo yang mencuat dan insident itu akhirnya diakui oleh pihak sekretariat PBB sendiri.
Dalam beberapa kesempatan, salah seorang sahabat si kampret ini yang juga adalah tetangga, seorang microbiologist yang bertugas di salah satu laboratorium klinik yang dikelola oleh misi PBB di Liberia, bercerita bahwa dirinya kurang tidur sudah berjalan hampir seminggu disibukkan dengan berbagai tes darah dan pasien-pasien yang berkas kesehatan serta tes laboratoriumnya menjadi tanggungjawabnya.
Kebetulan saat si kampret ini bertandang ke rumahnya mengirimkan sepiring pisang goreng, dirinya baru saja kembali dari klinik. Waktu saat dia tiba menunjukkan sekitar jam 8 malam lewat, tanpa basa-basi, disambarnya itu pisang goreng dan dia mulai berceloteh tentang hari-harinya yang melelahkan itu.
Alkisah dimulai dengan cerita bahwa dalam seminggu terakhir (waktu itu), klinik dimana dia bertugas menerima pasien military peacekeepers yang bertugas di pedalaman Liberia, diterbangkan karena alasan ‘medical evacuation’. seorang prajurit anggota peacekeepers batallion Ethiopia. Pria di bilangan awal 30an, katanya.
Mengapa dengan dia?, tanya si kampret ini. Si kawan ini meski dengan mengunyah pisang goreng itu bercerita bahwa si pasien ini kehilangan banyak cairan dalam tubuhnya dan setelah diperiksa, terdapat banyak sekali sariawan dan fungus (jamur) diseluruh permukaan rongga mulutnya, dan memang benar saja katanya.. begitu diperiksa melalui tes darahnya, ternyata positif HIV/AIDS dan sudah pada stadium akut.. bla..bla..bla..
Si kampret ini sudah beberapa kali menelan ludah saat dia bercerita bahwa seluruh permukaan didalam rongga mulutnya penuh luka seperti sariawan dan lain sebagainya nggak usah diterusin deh!. Dan pada 2-3 hari berikutnya pasien tersebut meninggal dunia, ditambah lagi kasus serupa dari batallion yang sama pada hari-hari berikutnya. Tragis, bukan?.
Jumlah peacekeepers yang meninggal karena HIV/AIDS di daerah misi tidak hanya disebabkan dari terjangkitnya mereka saat berada di daerah misi, namun terdapat prosentasi yang cukup lumayan dari mereka sudah mengidap HIV sebelum berada di daerah misi. Mengapa tidak disaring dulu?, dan hanya prajurit yang sehat saja yang diterbangkan?. Sulit nampaknya jika kebijakan tersebut diterapkan oleh pasukan/kontingen yang berasal dari regional wilayah afrika barat dan/atau benua ini, dimana penyebaran dan kontraksi HIV/AIDS pada negara asalnya ini sudah menjangkiti sebagian besar dari mereka, hanya saja masa inkubasi virus tersebut bervariatif dari individu satu ke selanjutnya. Kebetulan saja bagi mereka yang meninggal saat berada dalam penugasan misi PBB memang sudah parah stadium-nya.
Bukan hanya Afrika yang patut menjadi sorotan dalam pemberatasan HIV/AIDS, namun ini berlaku serupa bagi semua. HIV/AIDS adalah fakta yang harus difahami bersama, dengan hati dan rasio bahwa (janji) menjaga status HIV/AIDS masing-masing adalah sebuah kewajiban, terhadap diri dan keluarga masing-masing yang setia menunggu mereka di kampung halaman.
Sebagai tambahan, saat pesan-pesan reklame itu sudah tidak ‘ngaruh’ lagi untuk menasehati agar bisa menjaga diri dari bahaya HIV/AIDS, keimanan/ketakwaan (beragama) masing-masing individulah yang mungkin bisa berperan sebagai kendali rem agar tidak terjerumus demi memuaskan hasrat menjadi sebuah penyesalan seumur hidup.
Bagaimana tanggapanmu, dear peacekeepers?.




I couldn’t agree more, Thanks Kang Luigi!!! Diingatken Dei! Dah agak miring2 nih, jadi balik lagi ke jalan yang benar. Success and best regards from Congo.
alo mas luigi mantaf deh… gmn sih caranya klo mo kirim cerita2? mumpung msh nyantol di otak neh
Assalamualaikum…..
Perlahan tapi pasti, memang penyakit ini, makin menyebar dimana mana. Banyak penyebab. pergeseran nilai salah satunya. artikel yang cukup menarik, dan sarat pembelajaran.
Perlu mengkampanyekan. bahaya dari HIV-AIDS ini..
dan saya rasa ,harus lebih sering digalakkan, dari tingkat terkecil, mengingat sekarang , permasalahan semakin kompleks, dan menurut saya, Indonesia sendiri.. haruss LEBIH giat mengkampanyekan dan ini menjadi tanggung jawab dari masing mnasing kita yang perduli bagaimana bangsa ini, terutama generus( generasi penerus ) nantinya.
semoga kedepan lebih baik
Salam dari tanah air, untuk kawan kawan disana
doa mendoakan…
SEMOGA TETAP DALM LINDUNGAN TUHAN yang maha kuasa.
Amin
WASSALAM