Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Nadia FEBINA

Hanya Terjadi di Angola

9 April 2008, 22:17 , by Nadia Febina

 

Cuplikan percakapan dari film Blood Diamond:
“T.I.A”, kata Leonardo Di Caprio.
“T.I.A?”, tanya si cantik Jennifer Connely.
“This Is Africa”

Sembari mesem-mesem si nadiyem yang lagi nonton DVD Blood Diamond di rumah bergumam: “T.I.A bisa juga This Is Angola, yak. Kan sama-sama A.”

Sebelumnya saya minta maaf karena postingan ini sejatinya adalah sebuah curhatan akbar. Memang biarpun saya sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang normal bagi orang biasa tapi adalah sebuah kemewahan kalau di Angola, tapi tetep aja ada kejadian-kejadian yang bawaannya bikin mangkel. Bagi kita aneh, bagi mereka normal. Bagi kita normal, bagi mereka aneh. Begitulah suka duka hidup di sini. Kadang mulai meragukan yang namanya fakta, logika dan rasio, kalau bisa dibalik-balik begini, berarti tidak bersifat absolut ya? maap, melenceng! hehe

Jadi begini ceritanya.

Yang namanya di Angola, birokrasi itu seratus kali lebih rumit daripada di Indonesia. Aseli. Jadi temans, kalo mau ngomel sama birokrasi di Indonesia yang memakan waktu lama hanya untuk ngurus ini itu, mendingan ditunda dulu ngomelnya, ingat temanmu ini yang tinggal di Angola ini yaa, hehe. lhah melenceng lagi Oke, back to topic. Nnah dengan birokrasi yang panjang itu, semua rencana ke luar dari Angola tentunya harus dipikirkan masak-masak. Singkat cerita, untuk sekedar mencari penyegaran dan charge battere buat sepuluh hari berlibur ke negara tetangga, Namibia, persiapan pun harus dilakukan dari 2 bulan sebelumnya. Ini karena pesawat dari dan ke Angola itu sedikit, jadilah harus rebutan. Untungnya setelah ngotot-ngototan dengan travel agent yang bawelnya setengah mati, akhirnya ticket dan visa pun ada di tangan…setelah 2 bulan. Walaupun mesennya terbang dengan namibian airline, tapi karena faktor rebutan itulah dapetnya pesawat dari airline nasional angola. Agak ketar-ketir memang, tapi dipikir-pikir nggak pa-pa deh kan harus nyoba juga setidaknya sekali, iya gak?

Pada hari H nya kita harus berangkat, seneng banget dong tentunya. We were soo looking forward! Pesawat berangkat jam 11.00, kita harus udah ada di depan counter check-in jam 06.00, dan berangkat dari rumah jam 05.40. Itu berarti wekker menyala jam sekitar 04.30 pagi. Kebayang kan, berangkat siang harus bangun dari subuh. Ini walaupun agak mencengangkan kedengarannya, tapi buat kita-kita yang tinggal di Angola, udah mulai terasa normal. Jadi peraturannya, kalau mau berangkat, harus tiba di airport setidaknya 4 jam sebelum waktu keberangkatan. Dan memang nggak main-main. Biarpun kita datang tepat waktu (-4jam), begitu sampai di sana antriannya panjaaaang banget. Maklum, meja check-in nya cuma satu. Hehe, gila kan.

Setelah dengan setianya ngantri selama kurang lebih 1.5jam, akhirnya sampai juga saya dan Maskyu di depan counter check-in. Setelah menunjukkan ticket kami, si mas nya dengan nada datar bilang, “Mbak nya bisa berangkat, tapi suaminya nggak bisa.”

Haaaa?“, kita berdua kaget. “Maksud looo? gimana-gimana, nggak ngerti”
“Iya, si masnya ga ada di list bookingan kita”
“Lhah, gimana ini udah valid ticket gitu loh. Ini lho mas, ticket nya.. Niiih.”
“Iya, tapi ga ada di sistem”

Setelah kita perhatiin, ternyata yang namanya “sistem” adalah secarik kertas bertulisan tangan yang isinya list penumpang-penumpang hari itu. Nggak ada komputer. Hanya secarik kertas yang nanti dicoret nama dan nomernya kalau si penumpang udah check-in. Seperti to-do-list saya sehari-hari!

Coba tunggu aja di pinggir situ, nama suaminya saya masukin waiting list. Kalau ada penumpang yang cancel baru kamu bisa naik. Jadi tunggu aja”, kata si masnya dengan nada penuh otoritas. Rupanya dia mulai nggak sabaran.
Enak aja, dibegituin mulai habislah kesabaran saya & Maskyu, “Lhah gimana tho mas, saya kan udah bayar, ini buktinya.” Saya ngotot dung.
“Ya tapi namanya nggak ada di list ini, gimana mau saya masukin ke pesawat?”
“Lhoh, orang pake tulisan tangan begitu, paling kolega situ yang lupa ga masukin ke kertas. Atau jangan-jangan situ kali yang lupa.. hayyo??! Ayolah Mas, yang bener aja, ini kan bukan salah kita, masa jadi di waiting list”
“Lha iya, ini juga bukan salah saya. Kalau nama situ ga ada ya berarti ga ada. Titik.”

Nnah lo. Bingung. Inilah namanya logika dibalik-balik. Speechless in seattle, kita udah ga ngerti mau ngomong apa lagi. Akhirnya kita mengalah dan pergilah kita ke pojokan “waiting list”. Oh iya perlu digarisbawahi bahwa percakapan di atas berlangsung dengan bahasa inggris dicampur bahasa portugis karena si masnya nggak fasih bahasa inggris, dan saya & Maskyu juga cuma bisa ngomong bahasa portugis seipirt. Jadi ngebayang dong, hahaha.

Ternyata di pojokan itu setidaknya ada 4 korban lainnya. Jadilah kita korban-korban ini bercurhat-curhatan sejenak. Usut punya usut, ternyata kejadian seperti itu bukan hal yang aneh. Jadi.. ternyata memang benar. Sistemnya adalah: ada seseorang di airline ini yg tugas dan kerjanya kumpul-kumpulin dan mencatat satu-satu nama-nama penumpang untuk flight ini atau itu. Yaa, wajar sekali lah kalo si orang ini lagi siwer nama si penumpang jadi tidak terdaftar! Yang lebih dagelan lagi, biarpun udah ada ticket di tangan yang disertai bukti pembayaran, yang lebih dipercaya adalah si daftar siwer ini. Hahaha, berarti bener kaan judulnya: HANYA DI ANGOLA! :)

Walaupun akhir cerita nya adalah happy ending, yaitu masih ada tempat yang kosong untuk si Maskyu dan akhirnya alhamdulillah kita berangkat berlibur, tak urung kejadian seperti ini agak menimbulkan trauma kecil. Jadi sempet berikrar, kalau nggak terpaksa-terpaksa banget, mungkin itu terakhir kalinya naik airline nya mereka lagi. Secara rencana kami adalah yang terakhir kalinya terbang dengan si airline ini, tentunya nggak lupa dong jepret-jepret sebelum take-off, hehe. Teuteuuup. Kekekek. Tapi manyuuun, abis sebeeellll!!

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

8  Comments

by Koen at 10 April 2008, 01:37

Hahah, Portugis-English. Saya pikir tadinya di Angola teh bisa pakai bahasa Indonesia logat Semarang gitu :). Sukses selalu ya.

by wijaya at 10 April 2008, 03:10

ini pernah juga terjadi di Khartoum satu tahun sebelumnya. mesti berada di aiport 3 jam sebelumnya. belum lagi kalau memasukkan bagasi berebut. terkadang kitanya masih di luar (saking kecilnya badan kita) tas nya udah ada di dalam dan berdebu!

by Luigi Pralangga at 10 April 2008, 04:14

Wah, neng.. ternyata di Liberia juga sama..! jadi istilahnya tiket ditangan bukan berarti akan terbang, biasanya sih kita-kita selalu kasih reminder via text message, telepon, kalau perlu datang ke kantor airlline/travel agent 2-3 hari sebelumnya. Kacau dah!

Bener khan tebakanku: nadiafebina.com/blog… fotonya diambil di Padang Gurun di Namibia.. hehehe!

by Fenty at 10 April 2008, 05:17

Ternyata, Angola n liberia situasi airportnya cuma beda2 tipis ya! Makanya walaupun udah 3 kali keluar masuk Liberia tetep aja “stress” bawaannya, tiap nyampe di airport. Makanya benar adanya, kalo udah ada disana perasaan dan jiwa kita harus di setting seperti kelakuan orang2 africa itu..kalo ga yah makan hati aja situ..mungkin bisa dimulai dengan menyapa orang lain, Waz up mame? Gimme small small!!! ;p

by Yulia at 11 April 2008, 00:09

Wah, mbak.. di negara kita juga sama kok. Di Papua juga walau udah punya tiket belum tentu terdaftar kok, malah bisa tiba-tiba “digantikan” sama yang lain. Saya pernah harus mundurkan kunjungan karena tim yang mau datang “tidak ada di daftar” padahal tiket sudah di tangan. Padahal “hanya” dari manokwari ke sorong hehe jadi trip ke field bercampur antara senang dan stres! Salam.

by Bardan Dalimunthe at 11 April 2008, 14:18

wah, gile…gak kebayang tu repotnya mau berangkat liburan……berarti di Indonesia lebih mending ya……hehe….tidak alternatif lain selain udara ya? kereta api gitu/bis? mungkin butuh banyak waktu ya kalo lewat darat….

btw, thanks for sharing,

salam,

by anton ashardi at 11 April 2008, 18:00

ndak papa kalo ribet perjalanannya…yang penting bisa dijadiin bahan postingan, hehehehehe… :D

by Silly at 22 April 2008, 17:29

Nadia… wah, akhirnya kumenemukanmu disini, hehehe.. nyasar kesini ngikutin link yg dikasih mas luigi.. (hai massss, thanks for your advise for my new name).

Nad, keren yach fotonya. Dikau ikut suami yach ke Angola. Duh, hebat yach. Senang sekali baca ceritanya.. pengen nambah malah, hehehehe… :-)

Anyway, OOT, Have you got my email??… kalo udah sempat, bales ya say… Yes, lets be a penpal… :-) (kayak anak ABEGE aja kita yah, hahahaha)

T.A.L.C (tender, attantion, love and care),
silly

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help



Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

551 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Kecil Kecil Cabe Congo
Urusan perut memang ngga bisa dianggap remeh. Awalnya, aku sepele dengan urusan ganjal perut ini. Berbagai saran dari teman – teman di Indonesia dibiarkan berlalu begitu saja. Masuk telinga kiri... »
Nurul Fitri Lubis , 1 hour ago

Observasi Batas Daerah Operasi UNIFIL
Pemahaman tentang batas daerah operasi antar satuan di jajaran UNIFIL ( United Nations Interim Forces in Lebanon ) bukan hanya perlu di mengerti di atas peta, namun harus disertai pemahaman... »
Yogi Nugroho , 5 hours ago

Indobatt juara Turnamen Voli tingkat SECEAST UNIFIL
(Marjayoun, 15/3) Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mengharumkan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah komuniti internasional, telah dilakukan dengan berbagai upaya dan kerja keras... »
Yogi Nugroho , 1 day ago

Kursus MS Office Basic untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga: The Power of Motherhood
Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri... »
Ro'is Nahrudin , 3 days ago

Indobatt gelar Training of Trainer
Komitmen Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) untuk mencapai suatu keunggulan positif dibandingkan dengan satuan tugas dari kontingen lain, memerlukan inovasi yang kreatif dan berhasil guna bagi lingkungan dimana... »
Yogi Nugroho , 3 days ago

 

Recent Comments

Luigi Pralangga commented on Kecil Kecil Cabe Congo
a few seconds ago


Lili commented on Budaya orang Congo berfotoria
a few seconds ago


Husam commented on Low Numbers, High Impact: Involvement of Women in Peacekeeping Operations
a few seconds ago


Nurul Fitri Lubis commented on Kinshasa, Aku Datang!
a few seconds ago


Didut commented on Impresi gado-gado di Myanmar
a few seconds ago

Partner

pralangga.blogspot.com