Dinginnya udara pagi mengusik mimpi indah kami malam itu. Khartoum 04.30 waktu setempat kami berempat – Bang Eko (Komandan Kontingen Garbha 2008-2009), Bang Arthur, saya sendiri dan Santy- harus segera berkemas menuju Movement Control (Movcon) karena proses passenger’s check-in pada penerbangan ke El Fasher sudah dibuka. Dinginnya air mandi subuh menyegarkan tubuh kami yg meskipun malam itu kami hanya istirahat 2 jam.
Kami sudah merencanakan CTO ke El Fasher ini jauh-jauh hari mengingat CTO kali ini adalah CTO terakhir selama misi kami setahun di UNMIS. Apalagi di El Fasher kami punya pasukan POLRI FPU (Formed Police Unit) II di bawah bendera UNAMID berjumlah 145 personil yang seluruhnya adalah anggota Brimob dengan Komandan FPU II AKBP Nazludin. Beliau satu lifting dengan Komandan Kontingen Garbha periode 2008-2009 AKBP Eko Rudi Sudarto lulusan Akpol 1991. AKBP Nazludin sebelumnya pernah melaksanakan misi UN di Bosnia.
Dengan menggunakan pesawat UN kami terbang dari Khartoum ke El Fasher selama 2 jam. Setibanya di El Fasher kami disambut oleh Komandan FPU II AKBP Nazludin beserta Wadankon Kompol Rantau. El Fasher, sesuai dengan namanya kita menjumpai kondisi alam yang berpasir, panas, berdebu dan berangin. Kami pun beranjak menuju Markas FPU II dengan menggunakan kendaraan Toyota Land Cruiser UNAMID.
Ternyata FPU POLRI bukan satu-satunya FPU dalam misi UNAMID. Dalam perjalanan kami melewati markas FPU dari Negara-negara lain seperti Egypt, Nepal, Bangladesh dan Yordania. Kami pun mendapatkan informasi bahwa status keamanan di El Fasher saat ini level 4 karena beberapa saat yang lalu telah terjadi penculikan terhadap Police Advisor dari Nigeria dan personil yang bersangkutan belum ditemukan hingga saat ini. Komandan Kontingen Police Advisor Nigeria tersebut dipulangkan ke negaranya karena menurut hasil investigasi Komandan Kontingen dinilai lalai terhadap anggota kontingennya. Setelah kejadian itu turunlah kebijakan dari unsur pimpinan UNAMID jika dalam kondisi terdesak mengancam keselamatan nyawa dan harta benda maka FPU dapat melakukan serangan dalam rangka membela diri. Jika kondisi keamanan ditetapkan level 5 maka seluruh pasukan harus dievakuasi ke negara rujukan terdekat.
Adapun tugas dari FPU adalah menjaga keselamatan Police Advisor dalam melaksanakan tugasnya. FPU bergerak dalam bentuk regu bersenjatakan lengkap, helm, rompi anti peluru dan kendaraan roda empat lengkap dengan peralatan komunikasi dan GPS.
Selama perjalanan kami mampir di Markas FPU Jordania karena Komandan FPU POLRI II AKBP Nazludin akan berkoordinasi dengan Komandan FPU Jordania. Kami pun menyempatkan diri berfoto sejenak di depan kendaraan lapis baja mereka. Secara tidak sengaja ada salah satu personil FPU Egypt lewat di samping kami dan menyapa kami. Ternyata Komandan Kontingen Garbha 2008-2009 AKBP Eko Rudi Sudarto mengenalinya karena pernah satu kelas saat kursus COESPU di Visenza Italia. Akhirnya satu persatu unsur pimpinan di FPU Egypt pun bertemu dengan kami dan terlihat mereka begitu gembira bertemu dengan Bang Eko seperti reuni masa lalu. Siang itu kami mendapatkan undangan makan siang dari FPU Egypt. Kami pun menghadirinya setelah melaksanakan sholat jumat di mesjid FPU II POLRI.
Setibanya di Markas FPU II kami melihat penjagaan, kondisi lingkungan, kediaman para pasukan dan kendaraan yang tertata rapi. Pasukan FPU II Polri memiliki 6 kendaraan Toyota Land Cruiser anti peluru dan anti ranjau, sejumlah panser, sejumlah truk besar dan kendaraan patroli. Kendaraan-kendaraan tersebut adalah kendaraan milik POLRI yang dibeli dari Turkey. Sistem UN adalah UN menyewa kendaraan tersebut. Dananya diterima pemerintah Indonesia dan setelah selesai masa kontrak kendaraan-kendaraan tersebut dibawa pulang ke Pemerintah Indonesia. Kendala yang ditemui saat ini adalah dalam hal maintenance. Semua suku cadang hanya ada di Turkey. Mechanic yang ada tidak bisa berbuat banyak sehingga sebagian kecil kendaraan tidak bisa beroperasi dengan optimal.
Di dalam markas pun dilengkapi helipad untuk landing dan take off helicopter dalam situasi emergency. Untuk logistic makanan, FPU POLRI II disupply dari UNAMID setiap minggunya.
Selama kami disana kami menyempatkan diri bersilaturahmi dengan seluruh pasukan FPU berdiskusi dan menyampaikan pengalaman kami selama misi di UNMIS. Adapun pertanyaan mereka umumnya adalah bagaimana mekanisme pelaksanaan CTO dan juga mengenai peluang buat mereka melaksanakan ibadah umroh di Mekkah. Untuk pelaksanaan umroh ini masih ada kendala karena visa mereka adalah visa pasukan sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk melaksanakan ibadah umroh. Kami pun memperkenalkan contact person kami di Khartoum diantaranya Consellor KBRI Sudan, Movcon UNAMID, Movcon UNMIS, dan mahasiswa Indonesia. Diharapkan kesemua contact person tersebut dapat membantu selama pelaksanaan tugas mereka di misi ini.
Itulah sekelumit cerita dari kunjungan kami ke El Fasher Darfur Sudan. Semoga dengan ridlo Alloh SWT, rasa bangga, ikhlas, dukungan dan perhatian dari unsur pimpinan kami bangsa Indonesia dapat terus memerankan peranan aktifnya dimanapun bertugas.




Mas Bimo,
Terima kasih tulisannya, menarik bisa mengetahui aktivitas laskar penjaga perdamaian Indonesia di Sudan. Selamat bertugas, GBU all.
Komentar:
Wah, kalau kendaraan-kendaraan tersebut dibawa pulang ke Pemerintah Indonesia sepertinya tidak efisien karena biaya transportasi ke Indonesia bisa mahal, kenapa tidak dijual disana saja?
Salam,
Nofaldi