Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

E-mame!, I think I've got it! [From STD to HIV/AIDS]

2 December 2008, 18:46 , by Luigi Pralangga

 

Sudah lama memang saya berkeinginan mengulas perihal yang satu ini.. Memang sensitif namun itu adalah fakta yang harus diterus-terangkan. Hampir rampung 5 tahun saya bertugas disini, sudah pasti selayaknya seorang pria (baca: Laki-laki) yang senantiasa punya hasrat yang melonjak-lonjak akan lawan jenisnya, perihal “urusan isi celana dalam” adalah merupakan topik hangat yang tidak pernah bosan untuk dibahas, antara sesama kolega sekantor, rekan se-negara dan terus sampai ke sang pasangan.

Sudah mulai senyum-senyum, khan? – baik, kita mulai yah cerita seru ini.. untuk melindungi hak privasi narasumber, kita sebut sajalah dia namanya: Marveen Khreepeekhanjhoot.

Saya tidak begitu mengenalnya secara pribadi, meski dia adalah staff IT yang senantiasa datang berkunjung ke gedung tempat saya bekerja, sangat piawai membantu urusan komputer lelet sampai ke koneksi jaringan yang sering kali batuk-pilek. Maklumlah kita disini terhubung dengan koneksi internet dan jaringan data melalui protokol microwave-links yang notabene kalau sudah hujan gludug – langsung deh jadi lelet dan putus.. disitulah si kampret ini kemudian berteriak menghubungi IT Helpdesk dimana si Mamang Khreepeekhanjoot itu datang menolong.

Sepintas lalu dia adalah pria yang menyenangkan, ramah dan tidak keliahatan berangasan, dengan kepala bersorban kain biru, gimana sih layaknya pria dari suku Singh. Anaknya kecil kurus, meski badan-nya bau bawang stadium akuut, tercium nyaring saat dia berada di kolong meja memperbaiki kabel komputer itu – saya harus berdamai hati dulu sampai dia hengkang jauh barulah kemudian menyemprotkan air refreshner di ruangan. (Jahat sekali memang saya ini!).


Salah satu pesta-pesta internal para staff mission itu.

Pesta demi pesta, acara gathering sana dan sini, sosok Mang Khanjoot _ sering terlihat dan acapkali dekat-intim dengan beberapa gadis muda setempat (Maksudnya: Wanita muda Liberia). Tidak dipungkiri bagi semua staff yang bekerja di daerah pasca konflik, baik itu pria-wanita, sipil-militer, apapun statusnya di _katepe masing-masing, semuanya berubah menjadi ‘lajang’ (meski di kampung/negara asalnya mungkin sudah beranak-3) dan bergantung pada individu dan gaya hidup [perilaku sex] masing masing apakah status ‘lajang jadi-jadian’ itu kemudian membuat mereka bebas untuk menjalin hubungan dengan siapa-saja.


10,000 personil militer lengkap dengan urusan hajat-nya masing-masing.

Kehadiran lebih dari 10,000 personil military peacekeepers dan sekitar 1,000 staff sipil PBB dibawah naungan UNMIL di Liberia, yang notabene kebanyakan dari personil itu adalah para pria..

Ya, pria-pria yang sudah pasti jelalatan mata (dan hasratnya) tiap kali ada wanita dengan sepasang “bujur” _ atau “wadah-cai” _(maksudnya: payudara) aduhai, sudah pasti leher mereka berputar hampir 360 derajat mengikutinya.

Ya, dan si kampret ini adalah termasuk diantaranya!.

Hello, nama saya Joni – kok kamu mirip sekali dengan Dian Sastro, sodaraan ya?

Pria-pria yang karena situasi penugasan ini kemudian mendadak berubah menjadi “lajang”. Tidak dipungkiri, terutama mereka personil militer yang mungkin lebih banyak ‘restriction’ atau batasan selama mereka masih bertugas di negeri asal di kesatuan-nya – begitu mendarat disini langsung deh matanya melotot hampir mau loncat keluar dengan lidah yang menjulur ke bawah sembari terus “ngacai” bak ilustrasi mesin kasino yang muntah terkena hit jackpot.

Meski tidak semua begitu, paling tidak begitulah kisah yang saya dengar dari rekan-rekan staff sipil wanita yang si kampret ini kenal baik dan dekat (yang tentunya berparas aduhai) saat mereka berpapasan dengan mereka dari kontingen peacekeepers Pakistan, misalnya.

Hey, lighten up! – they’re just perhaps admiring you! – begitulah bela si kampret ini.

Kembali ke cerita si Mang Khanjoot itu, Tidak lama berselang, sebulan sebelum si kampret ini cuti mudik yang baru saja berlalu ini, sempat berkunjung ke rumah salah satu kawan, seorang staff warganegara Thailand yang juga adalah rekan serumah si Mang Khanjoot ini. Sebutlah si kawan Thai saya ini bernama, Charbool Rashanamphool. Saya dengan si Mas Charbool ini selalu bertukar resep masakan dan bumbu-bumbu masak, apalagi saat dia kembali dari cuti, selalu banyak membawa oleh-oleh yaitu seabrek bumbu masak instan, macam si Bumbu Indofood-lah.

Perlu diketahuai bahwa, selain perihal wanita, makanan adalah salah satu topik pemersatu para pria ‘mendadak lajang’ ini.

Selain urusan suplai bumbu masak, si kampret ini pun banyak dibantu Mas Charbool untuk urusan reparasi laptop yang dipakai ngeblog ini bila ada masalah, maka datanglah saya kesana, sembari dia utak-utik, dari teras menjepretlah banyak foto-foto pemandangan sekitar dimana apartemen mereka berada di lantai 4, pada perempatan jalan Benson dengan Center street, terbilang kawasan pusat kota Monrovia dan pasar tumpah jadi-jadian pun sering digelar disana.

Dengan Mas Charbool di teras depan

Diruang tamu terlihat si Charbool sedang berbincang dengan si Khanjoot, sementara si kampret ini sibuk motret kesana kemari dari balkon. Tidak lama kemudian bergegaslah ia (Mang Khanjoot) keluar apartemen nampak terburu-buru, entah mengapa.

Hey, what’s with him rushing?”, tanya saya.

Dunno, exactly – he was just asking whether I have some anti-itching cream and pain killer tabs”, jawab si Charbool.

Is he bitten by insect, mosquito or something? – to me he looks not well indeed”, balas si kampret ini.

No.. I think he’s in a deeper shit.. I told him so to avoid these girls from the first place.. but, he took shit to even listen.. and he’s going home on leave this weekend.. definitely his wife may not be glad to learn any of this crap..”, jelas Mas Charbool.

Dengan jeda nafas, kemudian ia (Mas Charbool) mulai bercerita bahwa sekitar seminggu lalu, si Mang Khanjoot rajin mengundang beberapa teman wanita lokal (maksudnya: Wanita Liberia) berkencan dan menginap.

Meski yang diceritakannya adalah sebatas cerita kekesalan bahwa tamu-tamu gadis itu kerap menyikat habis makanan dan bir tersimpan di kulkas milik si Charbool ini saat lewat tengah malam, namun si kampret ini kemudian faham bahwa nona-nona-hitam-dan-mungkin-kemudian-terlihat-manis-karena-sudah-berbulan-bulan-menahan-hajat adalah kemungkinan besar carrier atau pembawa penyakit “gatal-gatal” didalam retsleiting itu.

Sudah maklumlah bahwa perihal berkencan dan menginap ini sudah pasti bukan untuk bermain ucing-sumput (Baca: Petak Umpet) atau sekedar main catur dan semisalnya. Sudah pasti hanya untuk urusan assooy melepas hajat secara sembarang dan beresiko.

Beberapa papan billboard tentang bahaya HIV/AIDS


HIV/AIDS Berbahaya: Ah itu urusan belakangan!


HIV/AIDS: Alamak!

Dalam banyak ulasan, paparan dan beberapa publikasi oleh UNICEF, UNFPA, UNAIDS dan WHO, menjelaskan bahwa daerah pasca-konflik adalah sarang prostitusi dimana dengan deras masuk-nya jumlah orang asing/pendatang yang masuk dibawah naungan misi kemanusiaan danlain sbeagainya, dan siapapun berada didalamnya, baik itu populasi origin, pendatang termasuk semua personil militer kontingen peacekeepers dan expat sipil macam staff PBB memang rawan sekali dari terjangkit PSK/STD (Baca: Penyakit Seksual kelamin/Sexually Transmitted Desease) dan sampai resiko tertular HIV/AIDS.

Belum lagi faktanya bahwa lebih dari 33% penyebaran HIV/AIDS itu berada di benua Afrika, dan Liberia adalah salah satu negara didalamnya. Mengerikan, bukan?!!!!.


Remaja putri: Rentan kontraksi HIV/AIDS dari luar.

Acapkali, host population – terutama anak-anak perempuan remaja adalah rentan terhadap kontraksi HIV/AIDS yang dibawa oleh pendatang. Karena faktor himpitan ekonomilah penyebab utama terdapat tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengambil jalan pintas terjun ke dunia prostitusi, terutama ditujukan pria-pria (hidung belang) asing itu.

Itulah mengapa saya ingat betul saat minggu pertama mendarat di Monrovia, saat mengikuti Induction Training, yaitu training awal yang wajib diikuti oleh semua staff (Sipil, Militer, Konsultan dan Kontraktor) yang bernaung dibawah UNMIL dimana salah satu materi dan session-nya adalah HIV/AIDS dan the Do’s and Don’ts dalam perihal ‘isi celana dalam’ ini selama masih bertugas di daerah misi peacekeeping ini.


Mission assignment: Honey, saya nggak akan bandel, kok!

Kalian bertugas disini adalah juga senantiasa berjanji untuk mampu menjaga status HIV/AIDS [Negative] masing-masing. Bila saatnya tiba untuk cuti mudik – maka pakai dan terbanglah pulang ke kampung halaman-mu disanalah lepas-puaskan dengan pasangan tetapmu..” – begitulah seru HIV/AIDS Adviser, Kolonel Joyce Puita sembari tangan kanan-nya mengacung-acungkan sebuah dildo yang sudah terbungkus licin oleh sebuah kondom.

Ya, si kampret ini masih ingat betul saat itu, sembari salah satu session dari pembekalan HIV/AIDS ini menyajikan slide foto pasien yang terkena penyakit semacam Syphillis, Gonorrhea, Genital Herpes dan seabrek nama-nama sebutah PSK yang lidah ini susah sekali mengucapnya, namun sudah merinding melihat slideshow yang secara gamblang menunjukkan ‘burung’ seorang pasien STD yang bentuknya sudah nggak keruan lagi; bonyok nggak jelas, persis terong yang tergilas ban truk! – belum lagi gambar kelamin wanita yang mirip telur ceplok gosong begitu!.

Wah, sudah deh – jadi hilang tuh nafsu meski disodorkan Seorang Julia Perez menari-nari bugil didepan hidung ini —> nggak bakalan “bangun deh!”. Tidak sedikit dari peserta Induction Training itu yang tidak bisa menikmati santap makan siangnya lantaran terbawa gambar ‘telor ceplok’ itu. Kacau deh!.

Dengan semangat berapi-api layaknya tukang obat diterminal Blok-M itu, didepan peserta training, sang Kolonel itu kemudian berkelakar begini:

E..mame! – I think I’ve got it” (Ee, My man, sepertinya saya ketularan!)

That night when I met her, she looked OK and seemed to be healthy-Ooh!”

Sembari tangan dia terus memegang-megang daerah retsleiting celananya. Gelegar tawa semua peserta training kontan sudah tidak tertahan lagi. Pihak administration UNMIL meski sudah menganjurkan berkali-kali dalam kampanye internal memerangi HIV/AIDS kepada seluruh peacekeepers dan menyediakan seabrek-abrek dispenser kondom di setiap toilet yang ada didalam fasilitas kompleks gedung, tetap saja kendali akhir itu ada dan berpulang pada keputusan masing-masing individu.


HIV/AIDS: ABC Rules – Abstinence, Be Faithful & Condomize


Stay Safe: Whenever and Wherever

HIV/AIDS is real.. therefore keep the promise..
Keep the promise to avoid being contracting with one..
Keep the promise to be faithful..
Keep the promise to practice safe sex..
keep the promise to advocate others..

Saya lupa persisnya, namun saat menulis posting entry ini, teringat saya akan sebuah email yang dikirim salah seorang pembaca setia situs web peacekeepers ini, seorang ibu muda, dari emailnya mengaku tinggal di Medan, dari sekian baris kalimat dalam email itu, ia kemudian bertanya kepada saya pada emailnya: “Mas, sampeyan bagaimana caranya kalau sedang jauh disana terus menjadi kepengen banget.. untuk itu-tuh..?” – si kampret ini hanya senyum-senyum sambil kemudian tertawa lepas membaca pertanyaan itu.

Sudah dijawab kok via email, dan terima kasih atas pertanyaan-nya – demikian saya tutup balasan email waktu itu.

Bagi para staff sipil yang bergelut di daerah misi (pasca-konflik), untuk kita-kita di UNMIL, diberikan jatah rehat yang umum disebut (R&R) Rest & Recupperation, atau (ORB) Occupational Recupperation Break, dan bagi perwira Military Observer namanya CTO (Compensatory Time-off), yaitu 5 hari kerja (7 hari kalender) yang sering dikombinasikan dengan jatah/tabungan cuti tahunan untuk dipakai untuk pulang terbang mudik ke kampung yang salah satunya bisa dipakai untuk mengadakan hajatan “mbelah duren” dan hajatan lain-nya. Begitulah salah satu response saya pada email untuk ibu tadi.

Ohya, ada yang bisa bantu njawab mungkin ada masukan lain?

PS: Bun, kapan ya disana musim duren tiba?. Tolong kasih tau yah.. saya mau cuti nih untuk panen.. – love you!

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

45  Comments

by Aida at 3 December 2008, 05:09

Kang Luigi,

Dispenser kondom juga tidak begitu menolong zigana, kalo sudah mana tahan mana inget “kudu disarung” meureun. Seperti disini dispenser semacam itu teh ngagulantung dimana-mana di tempat umum, da saya mah kadang ngabarigidig kalo membayangkan alam ayeuna teh.

Kumaha arjuna & mommynya sehat ? Sudah ditinggalkeun deui atuh ya ? kiriman kita teh nyampe, bulukan teu ?

by Ari at 3 December 2008, 05:21

Itulah tantangan tugas non kombatan, jd tgsnya melawan hawa napsu, mudah2n praj TNI dibrkan kesabaran, dan bs terhindar dr hal2 sprti itu. Amin

Powered by Telkomsel BlackBerry®

by Pujiyanti Setiawan at 3 December 2008, 05:39

Assalamualaikum Kang,
Senyum2 aku bacanya, thanks ya…, jadi lebih banyak tau…

Wassalam,
Puji ;-)

by Wahyu Nurdiyanto at 3 December 2008, 10:40

Selamat berjuang mas di sana…

Hmmm benar benar tugas berat disana… saya pisah dengan istri dengan jarak hanya surabaya – cirebon aja dah stress kalo pengen gituan…

Akhirnya ya…udah dikeluarin aja sama ketika waktu bujangan., hahaha!!!! – setidaknya ga berisiko…dan ga bayar hahaha!!!!

Sukses untuk Mas Luigi di sana
Take care…

salam

Wahyu Nurdiyanto
n o t h i n g | wong sing lagi blajar dadi menungso sejati
wahyunurdiyanto.com

by Hery Soelistyo at 3 December 2008, 13:55

Salam Hangat Maz Luigi,

Wow…..Ha……..ha ceritanya seru sekali, baru baca sebentar aja udah mo ketawa. Memang sih persoalan hajat laki – laki selalu menjadi bahasan yang menarik. Saya jadi inget tayangan di BBC kemaren malam juga membahas mengenai para pengungsi Irak yang exodus ke Libanon dan jadi “entertainer” di klab – klab malam disana dan notabene mereka masih belia. Ternyata hampir di setiap area pasca konflik selalu memiliki masalah yang sama. BTW, bagaimana sih sebenarnya kehidupan remaja cewek di Liberia sebenarnya?coz dari foto – foto mas beberapa saya lihat ada foto cewek – cewek sana juga dan mereka berbicara dengan bahasa apa?

Di Indonesia, prositusi juga marak. Terutama prostitusi usia belia, seperti di Lokalisasi Sunan Kuning Semarang dimana saya pernah tinggal di dekat area tersebut. Saya dulu sempat bekerja di perusahaan asing yang bergerak dalam bidang exporter furniture sebagai fotogafer, kebetulan mess saya dekat dengan area esek – esek tersebut. Sehingga hampir tiap hari saya menyaksikan lingkungan beserta penghuninya.

Ya kalau AIDS sih memang belum separah DKI atau Papua yang memiliki angka tertinggi. Tapi untuk penyakit garuk – garuk atau sexual disease oo………..banyak juga. Ternyata penyakit kelamin itu nggak kenal status sosial lho!

Saya tadi seharian field work jadi baru balas e mail malam hari. Hampir lupa, kalau staff UN yang dikirim ke luar seperti mas, biasanya visanya apa and harus pakai dokument apa aja? Karena mungkin bulan depan ada teman dari Belgia juga yang mau nyusul ke Indonesia dan dia mau jadi volunteer di Jepara dan dia Tanya sama saya tadi via phone.

Sementara partner saya Hanne Leen masih pakai visa kunjungan sosial saja. So dikemudian hari saya harus mengurus dokument yang semestinya supaya tidak terjadi masalah dengan imigrasi. Tahu sendiri khan mas imigrasi Indonesia is sarang penyamun.

Terima kasih artikelnya, kapan selesai tugas dan pulang ke Indonesia.

Best regards
Hery

by rere at 3 December 2008, 18:57

“Mission assignment: Honey, saya nggak akan bandel, kok!”

Sebelum nyampe di negara si bau kelek, masih mampir di beberapa negara lainya kan ?

hahahhahahaha

by cip at 4 December 2008, 03:44

item-item. kebayang…

by Tami Agung Nc at 4 December 2008, 05:41

aloww kang , he he he he baca ini blog dari wal ampe akhir cuma bisa cengar cengir nih, he he lucu juga yah tapi dalam bgt arti ya .
walo gimana pun kan tetep niat ya berjuang dan beribadah , tetep harus di jaga si burung merpati itu ( ha ha ha ha ) kan pasti dpt jatah cuti panjang euy tuk mbelah duren ..ihk ihik ihik

salut euy tulisan yg luga dan mudah di cerna tapi dalam dan pernuh arti , he he he so buat bapak2 yg dinas di derah konflik hati2 yah …tetep kampaye kan ;

HIV/AIDS is real.. therefore keep the promise..
Keep the promise to avoid being contracting with one..
Keep the promise to be faithful..
Keep the promise to practice safe sex..
keep the promise to advocate others..

by Luh De Suriyani at 4 December 2008, 06:11

kerennnnnnnnnnn mas ceritanya.
ga usah deh mikir yang nun jauh di leberia sono, di sini aja, suami-suami kurang ajar masih seenaknya ngesot sembarangan. buktinya, di bali sakarang, jumlah PLWHA kini makin banyak ibu2 di kampung nun jauh di sana tanpa air bersih, buta huruf, ga pernah keluar dari gang rumah. Bayinya juga.

we shall keep our promise then. salam untk bun yang berdebar nunggu belah duren


Luh De Suriyani
Freelance Journalist
Email lodegen@yahoo.com
Blog lodegen.wordpress.co…

by "james" at 4 December 2008, 08:26

Cerita yang sangat menarik. thanks udah berbagi untuk kami kami disini. melihat foto-foto cewe africa( Liberia) yang gosong-gosong gitu apa masi ada daya tarik…..???
bingung saya mas……. ha ha :-))

by Deden Lukman Wijaya at 4 December 2008, 08:37

Itulah akibatnya karena si Khahanjoot ngak punya idung dan juga ngak mau pake pikiran….setuju meendingan belah duren di negri sendiri…ada duren petruk..duren montong…

Major. Deden Lukman Wijaya
United Nations Mission in Liberia (UNMIL)
U.N. Military Observer
Via Diplomatic Mail: PO Box 4677
Grand Central Station, New York
Ny 10163-4677, U.S.A

by James at 4 December 2008, 09:43

Cerita yang sangat menarik. thanks udah berbagi untuk kami kami disini. Melihat foto-foto cewe africa( Liberia) yang gosong-gosong gitu apa masi ada daya tarik…..???
bingung saya mas……. ha ha :-))

by Luigi Pralangga at 4 December 2008, 09:46

Dear James,

Trims buat komentar singkatnya… pada awalnya memang saya sependapat, karena berangkat dari kacamata dan selalu melihat dari kacamata seorang Indonesia.
Namun setelah kita cukup lama bergelut disini – sudahlah mulai bisa membedakan mana orang Sierra Leone, mana orang Liberia, mana orang Sudan, dan sebagainya seperti halnya kita bisa membedakan mana orang Palembang dengan mana orang Bali, kira-kira seperti itulah..

Kemampuan membedakan yang sama pada menilik mana wanita cantik dan manis Afrika dan mana yang tampangnya persis ikan gurame :D
Dibalik dari perbedaan itu semua – afrika harus diakui memang eksotis – itu hanya bisa kalau kita juga sedikit menggeser sudut pandang dan pola pikir kita dengan tidak hanya melihatnya dari kacamata seorang Indonesia saja.. dibalik semua hitam bagian dari tubuh mereka – satu hal yang saya harus akui juga adalah —> gigi mereka jauh lebih putih dari gigi kuning atau coklat kita semua ! – hehehehe…

Memang, adalah tipikal pria yang punya tantangan besar dalam menahan hasratnya untuk urusan isi celana dalam ini.. itulah mengapa saya secara pribadi sering terbang pulang kampung. bertemu keluarga dan ‘berkomunikasi’ dengan istri :-).

Mereka memang cantik.. sumpah! (bagi yang memang cantik!) cuman buat saya pribadi, sepertinya saya bleum cukup pede untuk berinteraksi seperti kampret-kampret itu yang langsung hantam kromo saja —> hajar bleh, sambil urusan gimana entar :D.

Ibaratnya, seperti minum kopi tanpa air —> mengunyah si bubuk kopi, tentu pahitnya bukan main dan merem-melek-lah mata kita dibuatnya :D

by kumincir at 4 December 2008, 10:36

Wah… Di dieu mah usum kaduna geus liwaaaaattttttttt………..!!!!!!!!
Kabayang, euy… Saminggu wae uing mah geus murang-maring, antukna sejawat kantor jadi korban. Heuheuheu…
Wilujeng dines deui…

by Hedi at 4 December 2008, 11:27

kalo udah di kantong disease kayak gitu sih mending swalayan deh, atau kalo kepepet cari cewek bule yg bersih (itu juga kalo dia mau) hehehe

by Hilman Agung at 4 December 2008, 13:25

Bener2 HIV is riya …(baca:real) ya!
Pesan moralnya dapet sambil senyum-senyum mudah2an masuk ke kepala nih !

by gugum at 4 December 2008, 19:54

Kang Lui-lui…..

Akhirnya si sayah bisa comment yeuh huehehe maklum baru bisa buka link yang kang lui kasih ini.
Karunya ih ente jauh jeung si teteh…. Sing sabarnya…nanti juga cuti ke Indonesia kan entar bisa susurungkuyan ama si teteh hahaha….
Btw serem banget ya 33% penyebaran HIV/AIDS adalah dari Afrika. Mudah2an Indonesia mah gak begitu yah….(amitamit.com)..
Sok atuh kang sing Bageur ya di sana..mudah2an terhindar dari godaan-godaan yang enggak enggak. Percaya lah ke kang lui mah, banyak kegiatan positifnya pasti tersalurkan dengan kesibukannya.

Cheers from Jakarta…
Nanti dateng ya kekahan anak akuh..April kan pulang teh??

by Yokie at 4 December 2008, 21:57

Kang Haji,

Takut ya …biar item tapi setannya item juga kali ya he he he he he

Good luck with the mission … peacekeeping and self defense (Iman) ternyata salah satu bagian dipenghasilan gede, resiko besar juga ya hehehe

See you on Feb.

Yokie

by Diana at 5 December 2008, 04:06

Aku lagi sibuk nih Mang UI,
tapi artikel kamu ini memang menggelitik buat dipelorotin satu persatu..

Buat urusan hajatun hajanudin ini orang jepang memang jagonya, seperti Kentucky Fried Chicken, yang jagonya ayam..nah mereka ini jagonya hajatiah di mana-mana, bahkan ada sex trip ke filipina dan bangkok…mungkin juga ke indonesia ( murah neee kata mereka buat bisnis hajato ini ).

Dulu atasanku bener-bener ngejago soal satu ini, dan dia terkenal di seantero mangga dua-kota dan blok M, bahkan kata supirnya dia sering memborong boneka panda yang dijual dipinggir jalan buat dibagi-bagikan kepada gadis-gadis karaoke untuk menarik simpati(??).. oh ya, badannya si jepang itu memang mirip si Kungfu Panda, agak gendut dan persegi… mungkin boneka-boneka Panda ini dimaksudkan sebagai ‘sample’ sebelum test drive langsung dengan ybs yah ?

Nah balik ke maksud aku nulis ini.. suatu hari aku harus ke Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), nengok temen yang sedang sakit keras… di depan ruang tunggu praktek dokter kulit dan kelamin aku lihat dia (si Boss Jepang itu) lagi nongkrong dan lesu..wajahnya agak pucat..

Memang beberapa minggu sebelumnya aku sering lihat dia yang sudah gak malu-malu lagi “garuk-garuk” terus di sekitar wilayah peta blok M nya.. ya itu (Mang Khanjhoot)

Dasar Mang UI,…gua ngakak baca cerita (curhat konsumsi umum) kamu …

by Fernando Chaniago at 5 December 2008, 05:57

hmmm…
keren cerita pak lui..

thanks ya sms nya….

insyaAllah nando beli deh…

by Yopi at 5 December 2008, 09:41

Thx banget articel-nya, so touching!! semakin manyadari pentingnya menghargai & mensyukuri hidup buat saya pribadi..

Looking forward for your another ‘surprisingly different’ articles:-). Regards from Desa Telaga Asih, Cibitung

by fisto at 5 December 2008, 17:22

hehehe…menarik banget mas ceritanya….keep safe aja deh selama di sana lho, emang di sana ngapain???…hahaha…just kidding… :D

by Offi Kuswanto at 6 December 2008, 08:01

Cerita khas versi Kang Lui…
Pointnya Sampe, Kemasan Menarik, Rasanya Rame, Endingnya Puas….
Cecengiran :: saat membaca nama “Marveen Khreepeekhanjhoot.” dan “ Charbool Rashanamphool.”
Merinding :: saat membaca terong yang tergilas ban truk dan telur ceplok gosong..
Manggut2 :: saat Joyce Puita berseru utk menjaga status HIV/AIDS masing2..

Semoga Kang Lui selalu diberikan kekuatan dan ketabahan untuk mampu membuang hajatnya dengan cara yang “SAVE” . Dan selalu diberikan kesehatan mata, jangan sampe melihat yang bermulut Mujaer berubah seperti Dian Satro.

Warm Regard
Offi Kuswanto – BOGOR

PS :
Kang Lui jangan sesekali jadi “LAJANG KAJAJADEN” ya

by Michael at 6 December 2008, 08:25

Hehehe..funny article __ but yet important.
Well, officers just keep yourselves safe, okay?
Remember, your wife & children are waiting for you in here.
They think of you guys often and they dont want you to get those diseases.
If you need to relieve your self, just think of the most safetiest way to relieve your you know what lah __
Sir, i’ve made my comment. Hehehe…
Mission completo!

by ivo at 6 December 2008, 11:49

Kang.. pesan saya teh.. dirikan sholat :) bukan hanya dikerjakan.. hehe pesen buat saya juga sih.. keep fighting Kang!! :)

by sherly at 6 December 2008, 11:53

memang semuanya berpulang ke individu masing2 ya…. biarpun udah ga tahan, mesti tetep berkepala dingin dan berotak sehat….

by d3ptzz at 6 December 2008, 19:35

Jadi keinget apa yang disampaikan pada konser AIDS I’m in love di grha sabha pramana ugm beberapa waktu yang lalu…

kalau saya memang belum menikah…jadi ya sama-sama masih menanti saatnya…hahaha….

by Tobing at 7 December 2008, 10:18

mampir ahh ke tempat mas luigi. tantangan jadi peacekeepers di afrika berat juga yah, sudah jauh dari keluarga, hasrat gak bisa disalurkan sembarangan karena adanya penyakit2 mengerikan yang bisa ditransfer. :D semoga mas luigi bisa bersabar menunggu datangnya hari libur. sukses selalu. keep on writing great stories.

by Shasya Pashatama at 8 December 2008, 11:11

Kayaknya kita lagi ‘pasilingsingan’ jalan, soalnya pas saya disini, eh pas Mas Luigi di rumahku :)

HIV, ga abis2 ya? abis gimana, kalo udah urusan yang satu itu kok kayaknya segala macem dikorbanin. Aneh juga sih udah tau riskan, masih aja menolak pake condom :) Kampanye nya pasti ga beres2 ni. Apalagi di Indonesia, mau kampanya condom malah ‘dituduh’ mempopulerkan sex bebas :)

Met tugas lagi ya!

by Mus_ at 8 December 2008, 11:22

cerita yang sangat menarik.

selamat bekerja di sana, yaa…
sukses selalu.

dan selalu lindungi diri kita dari AIDS, demi kita, demi keluarga.

Salam,…

by Andi Eko at 8 December 2008, 20:31

Ceritanya bagus sekali mas .. untuk edukasi kita semua, dalam rangka WAD 2008 TOP BGT lah :)

by Yoga at 8 December 2008, 21:01

Mas Luigi,
Saya jadi teringat cerita ini. Seseorang yang ketinggalan “cuti kerinduan” di sebuah perusahaan pertambangan, akhirnya memilih menyalurkan hasrat di km… (istilah umum untuk tempat prostitusi), hubungan yang cuma sekali itu membuahkan AIDS, positif terinfeksi HIV. Bapak yang aslinya cukup konvesional dalam beragama ini jadi sangat terpukul. Ia tak berani pulang, dan mencoba bunuh diri. Usaha pertama dan kedua (menunggu dilindas alat berat yang bannya saja setinggi 3m lebih) gagal, karena cepat ketahuan satpam. Meski telah di konseling dan dinyatakan stabil, toh ia mencoba lagi yang ketiga kalinya dan berhasil. Ia jadi kornet Mas, karena mencebur ke stone crusher.

Pesan saya untuk semua, jangan pernah memikirkan untuk mencoba, even just for once!

by indah sitepu at 8 December 2008, 22:46

duuhhh menyeramkan sekali yahh di sana….

duhh jaga diri baik2 mas…:P

by isdah ahmad at 9 December 2008, 01:54

=)) gaya luigi banged critanya

by edratna at 9 December 2008, 06:22

Memang sulit ya, terutama bagi yang telah berkeluarga dan berhubungan jarak jauh. Namun dengan iman yang kuat, semua dapat diatasi. Semoga kang Luigi selalu dilindungi, apalagi ada Arjuna dan kakak2nya yang menanti ayah tercinta dengan penuh kebanggaan.

(catt: pertanyaan teman di atas menggelitik….apa betul ada daya tarik jika melihat yang “gosong” begitu? Atau karena udah terbiasa, akhirnya terlihat menarik juga).

by Luigi Pralangga at 9 December 2008, 08:07

@ Edratna:

Mbak Ratna,

Memang sih pertanyaan itu valid (Baca: Lumrah) sekali, saat awal saya tiba di Liberia 4 tahun lebih lalu, semua (orang-orang disini ya laki2 dan perempuannya) terlihat sama semua serupa – istilahnya sama rata mirip.. namun lama kelamaan seiring waktu dan ‘expose’ dengan mereka tiap hari, rata-rata kita sudah mapir bisa menilik mana yang cantik, manis dan mana yang tetep mirip ‘ikan gurame’, bibir jeding (Maksudnya: Tebal), mata bolotot, jidat lebar dengan body/paras yang kekar :-).

Rata-rata buat mereka yang ‘blasteran’ nah ini yang jadi favorit, biasanya campuran antara Liberia dengan Lebanon (banyak komunitas Lebanese disini sejak puluhan tahun), nah mereka hampir mirip dengan si Neng Beyonce-lah meski beda-beda tipis :-)

Wanita Liberia sudah sejak dari jaman dulu dikenal ‘berbobot’ seantero regional West Africa – maksudnya ‘bobot depan’ dan ‘belakang-nya’ itu penuh melendung menuh-menuhin bungkusnya dan inilah yang menjadi daya tarik khas.

Susah ngejelasin-nya – mesti datang kesini deh saya jadi guide tournya dijamin puas keliling2 deh!

Afrika memang eksotis, dan sehitam-hitamnya orang Liberia —> masih kebih hitam (Maksudnya: Ungu!!!) orang Sudan! (Sumpah!)

by Agus Arifin at 9 December 2008, 09:18

Alhamdulillah JKH, Mas. artikel nya menarik, oh ya kapan pulang ke Indonesia ?

Mas, boleh kah sedikit konsul/ tanya, di Indonesia ada daerah penularan HIV AIDS, terutama di Timika, nah disana ada kisah ada orang laki laki yg ber istri dan dgn 2 anak, karena perilaku suami tidak puas dgn istri nya maka dia suka jajan dan sampai memboking wanita dan hamil.

Pertanyaan : kira-kira apa upaya harus dilakukan si istri supaya dia aman , atau sekarang dia pisah sudah janda ,apakah ada kemungkinan ia tertular dari suami nya yg suka ganti wanita ,
apakah ciri-ciri orang yg kena HIVAIDS ?

Bila janda akan kawin lagi apa yg seharus nya dilakukan oleh bakal suami nya ?

Semoga ada pencerahan,
JKH,
Best Regards : Agus

by Fridessy at 9 December 2008, 15:09

:) thank you kang… have a safe day in Liberia…
Kamis gua mau ke Congo DRC… well they said in Kinsasha is OK:)

by adrianzz at 9 December 2008, 19:17

ya memang perang memberikan efek ke banyak pihak
hehehe,keep safe pak……jangan sampai pulang2 menambah jumlah
hehehe
salam kenal pak!

by erander at 9 December 2008, 20:27

Cerita ini mengingatkan saya ketika 3 bulan saya hidup disebuah pulau dimana penduduknya adalah nelayan no maden dan hanya ada 1 wanita, ibu², istri dari salah seorang nelayan yang tugasnya melayani makanan nelayan.

Pada awalnya, penampilan ibu² muda itu amat sangat tidak menarik. Mungkin seperti ketika kita pertama kali melihat wanita² afrika. Tapi karena setiap hari yang ibu itu saja yang dilihat .. eh, lama² jadi menarik juga .. OMG!! setan mulai bertugas

Begitu deh .. ada lagi cerita saudara saya yang ditugaskan didaerah terpencil di pedalaman Kalimantan yang akhirnya ketemu jodoh ditempatnya bekerja. Ketika dia dimutasi ke ibukota yang ramai dia baru sadar, bahwa ternyata istrinya yang dulu dia anggap paling cantik .. kalah jauh .. wah ini mah suami kualat, ga patut dicontoh ya :evil:

Btw .. koq kang Luigi cuma cerita pengalaman orang lain .. trus pengalaman kang Luigi sendiri gimana? pasti lebih seru dong.

ditimpuk kang Luigi pake wajan

by Chandra Sukotjo at 10 December 2008, 15:39

Yth. Mas Luigi,

Apa khabar mas, saya Letkol Cpm Chandra Sukotjo, mantan Konga XXII-2 UNMIS, would like to comment that I appreciate your relentless and continuous news on Indonesian peacekeeping missions (civil and military). Keep up the good work.

Saat ini saya dan beberapa Perwira mantan Konga-Konga baru saja selesai kursus Atase Pertahanan dan direncanakan untuk menempati pos-pos pada pertengahan tahun 2009.

Salam saya kepada segenap peacekeepers Indonesia. Selamat bertugas.

Regards,

Letkol Cpm Chandra W Sukotjo
Mabes TNI, Jakarta

by geRrilyawan at 10 December 2008, 21:36

sori bos yang tadi kosong…
negeri bau keleknya dimana mas…?
ternyata “perjuangan menahan hawa napsu” cukup berat juga ya disana. asal jangan tak ada rotan akarpun jadi. yahhh tabah aja mas…daripada berabe :)

salam kenal :)
george weah masih ada disana?

by Bachtiar at 15 December 2008, 03:23

Cewek Liberia konon walau kulitnya item tapi katanya “daya tahannya“ mantap daripada cewek kulit putih.. :)

by aftrie at 16 December 2008, 08:25

wiw.. nice article.. hehe..
baru pertama mampir nih..
makasih sebelumnya dah mampir di blog saya.. hehehe…
salam kenal juga dari jogja :D

by anbhar at 17 December 2008, 09:33

jadi namanya hajatan belah duren toh :D

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Imelda TJAHJA Imelda Tjahja She has joined United Nations since 2003. Currently she is serving United Nations Mission in Sudan (UNMIS). Prior to her joining the UNMIS, she was assigned to United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) and United Nations Mission in East...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago