Di ujung jalan sana, diantara tembok pemisah DUA jalur pembatas wilayah desa Barumbu dan Kumumba,kubaca sebuah spanduk yang ditulis dalam bahasa lingala (baca Linggala).
“ TOTONGA KIMIA ELONGO “ (Bersatu kita damai)
Disudut lain diwilayah Kingasani saya temukan juga spanduk dengan tulisan :
“ TOSILISA POTA TOMITIKA NA PROPAGANDE YA MABE TE “
(Buang luka dari bumi kita & jangan mudah dipropaganda)
Kita maknai dengan sederhana saja,spanduk tersebut adalah cetus mulya dari sebuah komunitas salah satu suku yang ada di D.R. Congo yang mengajak kepada seluruh rakyat Congo untuk berdamai & membantu menghentikan semua urusan pertikaian Goma.
Tak mudah memang untuk merajut kembali benang yang sudah kusut atau membasuh luka hati sehingga menjadi penyejuk setawar sedingin, walau pesan tersebut tertulis diatas kain perca bekas terigu saya sepakat dan faham dengan pendapat banyak orang kalau pesan tersebut sangatlah penting, sebuah pesan yang mencari ruang untuk membangkitkan Solidaritas Emosional Kebangsaan rakyat Congo untuk bersatu.
Pesan damai lainnya selalu mengalir datang dari Suku Swahili, diantara suku lainnya suku ini jauh lebih bersahabat,bahasa Swahili merupakan bahasa yang terpilih radio BBC dipakai dalam siaran nasional. Bahasa swahili juga dipakai masyarakat Kenya & Tanzania (bahasa ini terkesan lembut/enak didengar).
Kata DAMAI … adalah sebuah ungkapan indah TAPI sulit untuk dinikmati, memang mudah dipahami dalam koridor disituasi mengajak orang/komunitas lain untuk berteman memupuk erat tali persaudaraan yang terkoyak oleh asutan zaman yang entah dengan sengaja atau tidak telah dipupuk dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya sejalan dengan lengsernya penguasa…sebuah ironi & fenomena yang tak terselesaikan bertahun karat, betapa beratnya rakyat Congo dalam meniti perjalanan hidup mereka dinegeri yang selalu penuh konflik antar suku,betapa berbagai harapan & impian mereka semakin terpasung.
Untuk memikirkan masa depan saja sudah sulit yang tersisa hanyalah angan bagaimana makan hari ini bisa tersambung kembali walau hanya sekerat ubi kayu rebus atau mentah adalah hal yang biasa.
Kesulitan lain.
Belum lagi menghadapi para Polisi & Tentara kelaparan yang tidak mendapat gaji berbilang bulan merongrong kehidupan mereka setiap hari, menembus lorong dan trotoar menimbun luka disetiap identitas sosial masing masing suku & dendam dihati rakyat,betapa orang selalu tak nyaman jika berpapasan dengan para Polisi & Tentara,mereka bukanlah penjamin keamanan justru pembuat rasa takut.
Sungguh mahal memang harga sebuah kemerdekan dinegeri sendiri setelah terbebas dari jajahan Belgium selama 300 tahun … kebodohan yang ter-ikat erat dalam diri mereka harus berlanjut pula dengan TERJAJAH oleh bangsa sendiri.
Pokok kata, D.R. Congo yang terlihat oleh saya adalah negeri yang kepribadian-nya telah terkoyak-koyak, benar-benar mengalami krisis Multidimensi: _Ekonomi, Hukum, Sosial, Etika & Moralitas, Agama.
Mereka semua rentan terhadap hasutan. Semua ini jelas menghancurkan moral mereka dalam menjalankan kehidupan berbangsa mereka dengan keragaman sekitar 250 kesukuan & beraneka ragam bahasa daerah serta 5 aliran keagamaan.
Selain French (Bahasa Perancis) sebagai bahasa pengantar resmi, ada 4 dialek lokal dipakai secara resmi yang merupakan kekuatan 4 suku, yaitu:
1. Bahasa Lingala dipakai di Kinshasa dan sekitar perbatasan propinsi;
2. Bahasa Swahili di wilayah timur;
3. Bahasa Kikongo di wilayah barat;
4. Bahasa Tshiluba di wilayah selatan;
Dalam kaitan kerusuhan Goma, para pemimpin Agama di Kinshasa menyatakan kerisauan mereka dengan kondisi perpecahan antar suku/perbedaan etnis kesukuan disana.,namun begitu penyelesaiannya masih juga bertele-tele. Kebencian yang paling mengakar bagi orang Congo adalah terhadap orang Rwanda & keturunan yang menikah campur dengan Congolaise, sebuah pertikaian setua zaman seperti kebencian orang Palestina terhadap Israel. Kalau dari sisi perbedan agama saya belum melihat adanya konflik antar Agama yang berkepanjangan.
Gerakan kebangsaan serta Persatuan & Kesatuan yang di IKRAR-kan Joseph Kabila ketika ia terpilih sebagai presiden dengan dukungan penuh dari 250 partai politik ternyata belum terwujud atau memang sengaja membentuk penjelmaan kehendak politik mereka sendiri, jalan mulus untuk berbagi “Sharing Power” yang mendurhakai identitas demokrasi politik, setiap opini/kesamaan imajinasi yang seharusnya diterima & dihormati justru dijadikan perbedaan & ancaman,para penguasa selalu terjebak dalam tirai kekuasan/identitas kekuatan suku dan bukan oleh rasa nasionalisme kebangsaan.
Mungkin satu kesalahan yang disengaja adalah ketimpangan sektor ekonomi & kwalitas pendidikan yang masih belum terbenahi, tirani penguasa, korupsi yang merajalela, kemiskinan & kesenjangan sosial serta tipisnya solidaritas sosial, harga pangan melambung luar biasa, penghasilan percapita vs. index US$ yang beredar bebas sangat tidak seimbang dan ini menimbulkan kesengsaraan rakyat Congo yang tidak terkontrol bertahun panjang tak usai.
Masih terngiang ungkapan Pastor Yosef dari SVD Katholik betapa sulitnya membina hidup bersama dalam damai di negeri Congo ini, sepertinya penguasa negeri ini takut jika ada damai di bumi, mereka seperti mahluk yang tidak pernah selesai dalam wujut sempurnanya.
Kalau di Indonesia kita punya semboyan kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika” di D.R. Congo saya belum menemukan sebuah retorika kebangsaan mereka dan semua turunan semantiknya yang sepatutnya harus mereka suarakan tanpa henti sebagai upaya memasung konflik sesama anak negeri Congolaise.
Dikisah lain
Di keseharian rutinitas biasanya saya selalu menelusuri pasar traditional lahan tempat saya bekerja, dua bulan terakhir ini rasanya takut amat sangat untuk singgah berlama lama dipusat perbelanjaan Bokasa dan pasar tradisional lainnya, semua sudut terasa sesak dengan lantunan keras lagu lagu traditional Africa, saya tak bisa bayangkan seberapa besar trauma – kebencian & dendam serta rasa curiga yang melintas liar disepanjang jalan dan lorong dihati para suku yang merasa tertindas atau kebencian atas keluarga yang terbunuh di Goma dan kerusuhan masa lalu, mereka adalah bom waktu yang siap meledak setiap saat.
Sering sudut mata saya melihat ada sirat & kilat kebencian dimata mereka melihat saya yang berkulit putih,selalu perkiraan mereka saya bekerja di UN, sebuah institusi dengan komunitas yang mereka anggap sebagai antek Amerika dan punya uang banyak.
Dari misi kemanusiaan
Berbagai upaya perbaikan/pembinaan mental & spiritual masyarakat sebenarnya sudah dilakukan oleh UN Mission dan Islamic Founder African serta Missionaris dari berbagai konggregasi,sebuah misi yang mengajak mereka untuk mengenal TUHAN secara utuh.
Kebetulan saya mengenal sangat dekat lembaga Charity/Missionaris Katholik SVD & Charity Mother Theresa di Kinshasa. Saya mendapat masukan betapa para Missionaris selalu berusaha melayani kepentingan umat, memberikan berbagai pencerahan/motivasi hidup untuk menekuni agama, menghormati sesama,bersikap jujur & rendah hati, saling menolong dan memberi, belajar bersama untuk membangun sebuah citra, mengejar impian cita-cita.
Ironis nya niat baik missionaris ini sering disalah artikan oleh berbagai kelompok yang kemudian menghasut. Pemberian yang sebenarnya adalah bantuan selalu di anggap sebagai keharusan yang harus terus menerus. Mereka lebih dominan sebagai parasit dan peminta minta, rasanya tak tau kapan mereka akan mampu untuk merubah kebiasaan buruk tersebut, sepertinya meminta itu adalah sebuah kehormatan bagi mereka atau barangkali TUHAN tak pernah menciptakan sepotong URAT MALU bagi kaum mereka.
Hari ini mereka meminta ampun dalam sebuah misa di Gereja Katholik, minggu depan mereka sudah berpindah ke misa yang lain dari sebuah komunitas gereja yang lain pula. Hanya karena sebuah janji financial dari komunitas tersebut….itulah mereka dengan kedangkalan iman nya dalam kebodohan & kemalasan kolektif, rendahnya sumber daya manusia.
Dan kondisi ini terus berjalan sampai saat ini, keadaan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kaum oposisi dalam melakukan provokasi.
(info dari narasumber didapat bahwa jumlah kaum pemberontak diwilayah Goma yang baru berkecamuk oktober kemarin adalah kaum mayoritas masyarakat Congo yang menganut kepercayaan/agama Kimbanguist dan animisme).
Atas dasar mimpi apakah jika damai bisa dirajut, damai adalah sebuah impian yang menyentuh dinding kalbu nurani menyentuh dari semua kebebasan diri sendiri diantara riuh meriah kehidupan lain disekitar kita, sebuah mimpi bersanding nyaman.
Tapi sesungguhnya pula DAMAI hanyalah kata, sebuah harfiah yang tak bisa menangkap niat apa yang ada dalam diri semua orang, damai adalah harapan sebuah kemerdekaan untuk berjuang…untuk gagal & bangkit lagi demi sebuah kenyataan yang kadang lebih indah dari impian…adakah sebuah harapan sesuatu yang mustahil, menjadi pelita yang bisa meneguhkan hati mereka bukan gelembung soda yang mudah pecah.
Siapakah sesungguhnya sipembuat mala ini …………
Mungkin ….. inilah takdir zaman terhadap Bumi Congo, ketika berbagai paham diktator mulai berkibar,kekuasaan penguasa memuntahkan sombong & kekuatan membelah damai menjadi kekerasan yang berbenih panjang tanpa sudah.
Begitupun saya jatuh hati dengan negeri ini ……………..
Sebuah negeri yang menjadi impian Exportir Indonesia karena potensi dagangnya, sebuah tempat yang kaya dengan hasil buminya (Uranium-Oil-Gold & Diamond) yang dalam skenario barat/UN harus tetap dipertahankan keberadaannya. Sebuah negeri yang malang dan rumit dalam menuju KEDAMAIAN hayati. DAMAI hanyalah pesona kata yang terlaris & sederhana. Sebuah tanda begitu banyaknya negeri yang masih belum beradab.
Ketika manusia dengan sadarnya lebih setia memilih berbuat MALA sepanjang hayat. Salam setepak sirih sejuta pesan – Bumi Kinshasa ….. EA Piliang.
Note : Berikut terlampir photo koleksi pribadi yang saya dapat dari narasumber Milobs TNI Mayor AL Agustinus Tambunan yang baru kembali ke Tanah Air pd tgl 21 Nov 2008. Setelah 1 tahun bertugas diwilayah Rutshuru Goma/Nord Kivu (wilayah kerusuhan yang dilakukan milisi Jend. Laurent Nkunda).

Photo Bunagana l – Photo bersama 2 perwira milisi Nkunda berpangkat Letnan (berpakaian sipil) didepan Head Office CNDP di Rutshuru (menggali informasi).

Lokasi Barak Markas Batalyon 513 FARDC di Kahunga – Rutshuru. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan diantara tuntutan terhadap pengabdian,kesetiaan & loyalitas prajurit (nyaris tidak ada supply Konsumsi) setiap hari mereka berkeliaran meminta mencari makan.

Markas Milobs/Team site di Rutshuru … lokasi ini merupakan salah satu arena pertempuran kaum milisi yang menyerang tentera FARDC yang bertahan diatas lokasi perbukitan, ditengah konflik tsb personal MILOBS terjebak diperkemahan tanpa senjata, tanpa mampu berbuat sesuatu, harapan hanya memohon pertolongan TUHAN agar terlindungi dari tembakan peluru nyasar.

Mayor Agustinus Tambunan & team Milobs dalam sebuah
Koordinasi keamanan bersama tokoh masyarakat desa di wilayah Goma.

Jembatan ini merupakan wilayah PERBATASAN antara DR.Congo Wilayah timur dengan Uganda. Ada 2 wilayah yang menjadi perbatasan negara ISHASA dan BUNAGANA.

Senyuman Kebahagiaan terpancar jelas dari kedua Mayor ini
(Mayor A.Tambunan & Mayor Triadi) 1 tahun PENGABDIAN usai sudah.
Senyuman kerinduan INDONESIA ku.

Salah satu lokasi penambangan liar diperbatasan Rwanda “Mendulang MIMPI“…mengais sebutir diamond atau segenggam emas.

Digubuk inilah sikecil Congolaise mulai memahami kehidupannya.
This is my home … I sleep, I eat, I study, I bathe…in the living room semuanya dilakukan HANYA dalam sebuah bilik tanpa sekat, begitulah kondisi hidup Congolaise dibanyak sudut perkampungan sangat miskin.

Kapan Bumiku Damai,aku ingin kesekolah…angan sibocah.

Pondok darurat dilokasi pengungsian warga kerusuhan Goma

Bukan manusia saja yang mengungsi rumah pun ikut mengungsi.

Terkenang pepatah lama : Asam digunung garam dilaut bertemu di Kuali. Begitu akurnya-nya sang MAYOR dari III angkatan ini ( AD-AL-AU ) bekerja sama dalam berbagi menikmati kebebasan di hari Minggu.
Kebersamaan yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi sekembalinya ke Tanah Air Indonesia…memory indah lembaran hidup.


Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago