Seringkali pertanyaan tentang Liberia datang dari sanak famili, kawan-kawan dan para sahabat di tanah air dan di luar negeri. Kisaran pertanyaan mereka adalah biasanya bagaimana iklim/cuaca, situasi keamanan, kondisi jalan dan seabrek-abrek pertanyaan lainnya via email dan saat berbincang-bincang dengan mereka ditelepon. Namun satu hal yang si kampret ini cukup bingung menjawab pertanyaan: “Seperti apa sih makanan khas Liberia?”. Nah ini dia yang si kampret kurang pengalaman, karena memang jarang sekali mencobanya, satu dua jenis masakan khas setempat pernah dicoba dannampaknya bukanlah menjadi pilihan favorit untuk kemudian dicoba berikutnya. Ohiya, ini disclaimernya: Mohon dibacanya artikel ini selepas makan aja ya!.
Salah satu pengalaman mencoba masakan khas setempat pernah diceritakan juga disini. Secara umum, Liberia punya banyak masakan khas setempat yang enak seperti Jollof Rice, dimana versi Jollof Rice di Liberia adalah sejenis nasi goreng meriah, segala macam masuk tumplek disana, dimana daging ikan asap, ayam dan babi dicincang dan dimasukkan digoreng bersama nasi, mencobanya hanya sekali dengan wanti-wanti agar tidak ada masuk si daging babi tadi.
Berikut sebuah klip dari Youtube, sebuah demo masak yang menjelaskan bagaimana si Nasi Goreng Jollof ala Nigeria yang terkenal itu dibuat:
Beberapa masakan lain, hanya sekedar icip-icip saja cukup tahu rasanya dan menerima sajian saat diundang makan di rumah salah satu staff lokal, nah sisanya ya masak sendiri atau makan di restoran umum ala masakan China atau Lebanon.
Lain padang, lain juga ilalang – begitu kata pepatah. Orang-orang yang sudah tinggal di Ibukotanya Liberia, Monrovia, yang sudah mulai terbiasa dengan pengaruh masakan lebanon, mereka mulai gemar makan roti arab ini, Lebanese Bread, begitulah sebutannya disini, roti kempes bundar dan bila masuk angin, berubah menjadi kenyal (liat) dan sulit dikunyah, sama saja seperti mencerna kain pel yang kering dijemur diterik matahari – terbayangkhan sudah?.
Namun saat kita bergerak ke dusun dan masuk ke pelosok pedalaman, ragam panganan/menu makanan dari penduduk setempat mulai bergeser, dimana ketersediaan dan distribusi bahan makanan dari kota ke pedalaman makinjarang dan harganya bisa berkali-kali lipat membuat semua penduduk di kampung benar-benar mengandalkan kebutuhan pangan dan gizi mereka dari apa yang mereka tanam dan dapatkan di hutan. Ubi ketela, daun singkong dan macam-macam lainnya adalah salah satu dari beragam pasokan gizi bagi orang di pedalaman Liberia.
Saat berkunjung ke Harper, yaitu sebuah kota yang berada di ujung barat Liberia berbatasan dengan Pantai Gading (Rep. of Ivory Coast ), mengunjungi rekan Indonesian Peacekeepers yang betrugas di sana, waktu itu adalah Let. Kol Supriatno, si kampret ini pun ikut menemani patroli reguler mereka ke daerah Pleebo dan Howeke , yaitu kota kedua setelah Harper, dimana patroli jalan darat ini benar-benar melalui kondisi medan yang memprihatinkan.
Melewati daerah Pleebo, merujuk koordinat pada peta operasi kita terus menuju daerah berikutnya dan setelah 2 jam ajrut-ajurtan di tengah hutan dan keluar masuk kampung tibalah kita pada sebuah kampung bernama Howeke yang menurut catatan para Military Observer di Harper HQ belum pernah dikunjungi.
Seperti biasa, mereka bertemu dengan tetua kampung disana dan bersilaturahim sambil mewawancari para tetua kampung itu perihal situasi proses perdamaian dan lain sebagainya. Sementara itu si kampret ya sibuk memotret mereka dan melihat-lihat pemandangan sekitar.
Anak-anak di kampung itu memang senang sekali mengikuti kemana saja si kampret ini pergi.. dan saat kamera ini menjepret mereka dengan kilauan blitz (lampu kilat) bersoraklah mereka kegirangan. Persis seperti menggembala domba, kemana saja anak-anak itu ikut membuntuti, akhirnya si kampret ini diajaklah ke salah satu rumah tidak jauh dari saung dimana tetua kampung dan para military observer itu ngobrol.
Disana, ada sekelompok ibu-ibu yang berkumpul dibelakang rumah dimana ada sebuah gubuk dan terdapat beberapa baskom/panci yang tergeletak diatas tanah. melihat kedatangan si kampret ini bersama anak-anak, mungkin beberapa diantaranya adalah anak-anak si ibu-ibu ini, mereka kemudian bangkit dan tersenyum. Nampaknya mereka cukup heran akan munculnya si kampret ini bersama anak-anak mereka dan dengan logat khas Liberia, ibu-ibu itu sepertinya bertanya kepada anak-anak itu: “Hey, kalian nemu darimana ondel-ondel nyasar macam satu ini?”, dijelaskanlah oleh salah satu dari mereka: “Bla..bla..bla….” maka mengangguklah ibu-ibu itu dan menyapa dengan salam.. lalu ngobrol deh sikampret ini kemudian sembari mereka meneruskan memasak.
Melongok apa gerangan yang ada pada panci-panci itu, membuat si kampret ini jadi merinding-disko. Mengapa?
Jelaslah melihat seonggok kodok-kodok rawa, beberapa belut dan kepiting-kepiting kecil tumplek jadi satu dalam sebuah panci, sudah tidak jelaslah itu masakan apa yang akan dibuat dari satwa-satwa penghuni rawa itu jadinya.
terus terang melihat kodok rasanya udah jijik banget, sementara salah satu ibu dengan girangnya menunjukkan cara memasak mereka itu – mungkin dia pikir jepretan kamera ini serasa demo masak pada studio TV itu, sementara si kampret ini menahan diri untuk tidak menampakkan rawut wajah geli dan mau muntah.
Satu panci kodok-kodok dalam wadah itu kemudian dibuat sejenis sop/soup sementara setengah panci lagi dibuat semacam gorengan dengan dicampur parutan singkong, si daging kodok tadi di cincang kecil-kecil dan dicampurkan entah bumbu apalah itu nggak jelas, lalu di goreng dengan menggunakan api dari kayu bakar. Melihat jenis masakan ini, teringat si kampret ini pada penjual gorengan ditanah air, salah satunya adalah combro. Combro di tanah air sudah pasti nikmat dan bisa jadi si oncom itu dipadu dengan cengek (baca: Cabe Rawit) membuat kedua mata ini merem melek jadinya. Namun ceritanya pasti akan jauh berbeda dengan si combro kodok ini.
Tidak jauh dari dapur itu tergantunglah seekor monyet, pastinya sudah mati dan sebagian sudah terkoyak dagingnya tersisa, selebihnya mungkin sudah menjadi masakan dalam salah satu panci-panci yang menghembuskan uap diatas tungku itu.
Daging monyet dan daging satwa liar di hutan lainnya adalah salah satu asupan gizi penduduk di pedalaman Liberia. Nama panggilan umum untuk daging hutan ini adalah “Bushmeat”, dan bila ditawari makan masakan bushmeat ini bisa beragam jenis dagingnya, bisa daging monyet, daging babi hutan, daging simpanse, siamang sampai ke daging trenggiling. Gelo pisan-lah!.
Melihat si kampret ini celingukan dan memotret monyet yang digantung itu, dipanggillah ia oleh salah satu ibu-ibu yang sedang masak itu. Dengan bahasa setempat dia berkata sembari menjulurkan tanyannya memegang sebuah combro hangat, sepertinya dia berkata: “Mas, ini dia combro kodok spesial untukmu, mau?” – Si kampret hanya tersenyum saya sembari agak menggelengkan kepalanya. Edun pisanlah pokoknya!









Kang Luigi,
cuma satu kata koment-nya : yeeekkksss…
cocoknya tuh buat ‘jungle survival menu’ aja ya….
mustinya judulnya ditambahin, jgn dibaca kalau mau makan…
eniwei it’s good article… n penuh warna.
Salam buat Indonesian peacekeeper lain yg disana, n bgmn ttg ide bikin kaos indonesian peacekeeper dgn desain yg chic n simple (logo UN dgn tulisan Indonesian Peacekeeper misalnya) dan di beri logo bendera Indonesia di lengannya, agar kami2 ngga selalu disangka Phillipina atau Nepal bahkan China… :)
Bhn kaosnya yg bagus dan awet…
Salam dr Port Au Prince.
Juragan, nuhun pisan.. disclaimernya udah dipasang di alenia pertama tuh :D.
Soal si souvenir UN, emang udah ada rencana, silahkan kontak Kang Deden Wijaya di dlukmanw96@yahoo.com, beliau yang ‘jaga warung’ sehubungan dengan pengalaman kita-kita yang tertuang di cerita ini: Oleh-oleh merchandise UN yang mahalnya minta ampun itu
Kapan rencana cuti mudik?, saya juga akan pesen 2 lusin lebih buat oleh2 temen2 disini dan dipake sendiri :D
Saya membaca artikel ini sambil makan dan Alhamdulillah gambar-gambar ini belom berhasil mengurangi nafsu makanku. Hehehehe.
Nice post mas, cerita tentang makanan emang ga ada habis nya. sebenarnya di Indonesia pun, banyak kok yang makan kodok. Malah tadi di tipi ada acara yang menampilkan masakan dari Manado yang terbuat dari ular, tikus hutan dan kelelawar (yang mereka sebut tikus terbang). Melihat hewan nya saja sudah gak menggiurkan apalagi mencicipi makanan yang terbuat dari hewan hewan ini.
Keep writing mas luigi.
Eh, blog ini menggantikan blog yang di blogspot yah??
Cipu
Wuih..masakannya . No Comment dech
Eh..manawi teh bade dicobian, hanjakal, jangan-jangan si monyet juga dibikin gule lagi. btw nice article.. keep writing kang & gbu with your great mission.
Heheh…saya stop membaca sampai pada kalimat “merinding disko”, tidak kuasa, :p Jadinya saya lihat video demo masaknya aja.
Makanya cepet pulang kang!, hariwang ;D
Oia, berarti masih mending makan roti yang digulang gaper campur peluh itu ya kang gkgkgkgkgk.
jadi semua dicampur? creatif juga ya… mendingan kodok sih daripada serangga
Haloo kang luigi,apa kabar ??? wah nice artikel nih !!! rasanya nano2 pasti ..!!wah kalau saya kang lebih memilih lebanese bread biar keras dan penuh perjuangan untuk memakannya..!!! hehe…!!!
eh…nikmat juga. Hampir sama dengan yang sering sri temukan di Medan terutama di daerah pencinan, tapi mereka lebih sophicated lah dalam penampilan. Biasa untuk kodok, mereka udah dibersihkan dan dikasih bumbu warna kuning, tinggal goreng kalo ada yang pesan. untuk ular, mereka dah dipotong potong kecil kecil. tapi ada juga yang sangat wild dengan memajang kelelawar hidup hidup.
enak…enak…bisalah sri dikirim kesana, buat acara masak memasak. chef ala resto !
Wuaah.. kodoknya ‘seksi’ euy… :D Kalau niat ‘berpetualang’, memang perutnya harus ‘kebal’ selera ya kang… :D Salam!
wah kang, kalau didatangkan ahli kuliner dari Indonesia, daging itu bisa jadi masakan yang enak dipandang ketika disajikan, dan makin menggunggah selera, namun kalau memahami ilmu bahwa daging itu tidak untuk dikonsumsi, pastilah mengatakan yeeeekssss …
thank you for sharing your experience in Monrovia …
ahahahahaha…aaiiihhhh geliiii pisan bayangin makan daging onye…hueksss