Sebuah ceritera tentang kehidupan kasih seorang ayah yang terobsesi membedah DUNIA melalui karir diplomatik dengan segala konsekwensinya.
Saya mengenalnya sebagai seorang Bapak yang berusia kurang lebih 60 tahun yang memiliki 3 orang anak dengan pengalaman sebagai Diplomat senior yang sudah malang melintang sebagai duta/mediator dalam penempatan diluar negeri & menjelang masa pensiun nya beliau ditunjuk sebagai Duta Besar u/ Afrika.
Mungkin karena pengalaman beliau cukup lama saya melihat karakter beliau lumayan berbeda dengan diplomat Indonesia umumnya termasuk gaya kepemimpinan beliau yang kharismatik, dan saya menyukainya … beliau cukup rendah hati & memasyarakat dalam kesahajaannya tanpa kehilangan wibawanya.
Beliau sangat berwawasan & tidak sungkan dalam memberi masukan … bukan dalam bahasa DIPLOMAT, tetapi dengan penyampaian yang umum sehingga menimbulkan suasana keakraban & itu bukan hanya khusus dengan saya tetapi dengan komunitas Indonesia lainnya pun demikian.
Awalnya ada perasaan sungkan jika berhadapan dengan beliau, pada biasanya kami masyarakat Indonesia yang ada di Afrika hanya berjumpa jika ada sesuatu keperluan saja (apakah menyangkut Visa/Pasport atau event Dirgahayu RI) tetapi sejak beliau membuka diri boleh dibilang hampir setiap minggu kami bertemu di Wisma KBRI bermain tennis atau billiard bersama disamping acara rutin bulanan yaitu “ARISAN” yang selalu dimeriahkan dengan acara Bingo.
Sebuah kegiatan menikmati kemerdekaan & kemewahan hati yang penat dengan kesibukan dan rutinitas pekerjaan.
Pernah disuatu hari … disuatu senja yang sama dengan pertemuan disenja minggu sebelumnya entah oleh karena apa kami berdua hanyut dalam sebuah cerita panjang perihal pengalaman beliau dalam mendidik anak anaknya selama bertugas diluar negeri.
Awalnya saya bertanya kepada beliau mengapa setelah berkeliling dunia akhirnya memilih Afrika sebagai terminal terakhir penempatan . Dengan kesahajaan-nya beliau menjelaskan dengan seksama pengalaman demi pengalaman beliau selama belasan tahun dimulai dari ASEAN – Japan – Amerika & Europe … beliau mengatakan ada hal yang sangat mendasar & sangat prinsif bagi saya kenapa saya memilih Afrika sebagai penempatan terakhir padahal saya tau banyak rekan Diplomatik yang enggan ditempatkan di negeri yang dikenal sebagai negeri kelaparan ini, karena Afrika yang satu ini dihuni seimbang antara Muslim & Kristen ortodoks selain negeri ini belum begitu maju seperti Negara lainnya dan ini terkait erat dengan anak saya, begitulah awal pembuka cerita beliau kepada saya.
Saya terbentur dengan pendidikan Agama anak anak saya … seminim minimnya iman seorang anak tetapi menyangkut AKIDAH & ke-ISLAM-an adalah hal yang sangat penting dan mendasar bagi seseorang. Saya melihat anak-anak saya tumbuh dalam warna & nuansa kemewahan dan kebebasan negara maju yang sangat sulit bagi saya untuk membendungnya & itu secara perlahan mempengaruhi pertumbuhan religiusnya yang selalu iya lupakan, frekwensi bertemu dengannya-pun menjadi jauh dari sering. Saya melihat bahwa waktu sholat baginya merupakan sebuah hambatan & kebebasan sex ia lakukan sebagai sebuah hiburan bukannya ia tidak mematuhi saya, tetapi iklim sebuah negara maju tersebut telah merasuki & memberi motivasi bagi anak saya u/ berbaur dengan pola & gaya kehidupan anak muda Amerika – Japan & Europe.
Awalnya saya punya impian dengan membawanya serta ke Luar negeri saya akan menjadikan masa depannya jauh lebih baik.
Selama ini jauh dari pemikiran saya akan berdampak sedemikian parah … saya merasa Selama ini sudah memberikan bekal agama yang baik dengan pemahaman yang benar tentang agama islam . Tapi ternyata saya keliru ! saya salah … (kata beliau) dalam pasrah.
Mendengarkan cerita beliau saya tercekat pada ironi tak henti atas sebuah dinamika hidup seorang Bani Adam antara kesuksesan & kegagalan, nurani dan adrinalin saya mencari sebuah asal dengan liar antara sebuah kebenaran atas NIAT dan perilaku hidup yang mungkin SALAH, sehingga sang Duta Besar harus menuai SALAH, apakah semua ini memang terjadi atas se IZIN Tuhan juga diluar doa doa yang iya panjatkan tapi tersirat yang kemudian didengar & diAMIN-kan para Malaikat.
Sembari bermain bilyard saya melihat sang DUTA BESAR berkali kali menahan haru gemuruhnya hati bak laksana pualam yang tersontak dan retak , mungkin berbagai kenangan melintas dalam benaknya dan mungkin berbagai peristiwa yang ia lihat masih menyisahkan luka hati & sesal yang saya tidak tau pasti apakah akan mampu ia pupuskan atau hanyut terbawa mendung ber-arak arak diatas sana.
Tidak ada satu pertanyaan pun yang saya ajukan ke beliau, saya juga tidak bertanya apa yang beliau pikirkan saat itu … saya hanya mencoba menjadi pendengar yang baik karena usia saya tidak layak untuk menasehati beliau.
Dan saya terus menunggu beliau melanjuntukan ceritanya sembari terus asyik memperhatikan bergelindingnya sang BOLA bilyard yang terpilih dan masuk.
Akhirnya cerita pun berlanjut … saya mencoba mendiskusikan hal ini dengan istri saya & seorang ulama Mesir yang saya kenal … saya mendiskusikan dengan anak saya berbagai pemahaman tentang agama … Islam – Kristian – Katholic – Hindu & Budha yang pada hakekatnya berasal dari sebuah sumber & tujuan yang sama.
Proses memberi penyuluhan ini ternyata bukan hal mudah, saya membutuhkan waktu yang panjang dan penuh kesabaran untuk kembali menata pondasi akidah anak saya yang berserak – luluh lantak tak berpegang tanpa kemudi tanpa arah.
Akhirnya doa doa yang penuh sesal atas berbagai kelalaian kami dikabulkan oleh Allah SWT, kami bersyukur atas perubahan pemahaman anak kami yang secara perlahan mulai bertaubat dan kami sadar betul bahwa TIDAK ADA SATU pun yang terjadi tanpa se-izin Tuhan sang Khaliq Maha Pemilik. Penjelasan panjang ini akhirnya menutup semua kisah & jalan hidup beliau ditabir senja pada hari tersebut dan pertemuan ini kami lanjuntukan dengan sholat berjamaah bersama.
Sungguh! hati saya tergigit mendengarkan kisah nyata ini … pertanyaan bathin saya selalu akankah atau mampukah saya kelak mencetak anak anak saya menjadi anak yang sholeh yang berbakti kepada kedua ibu bapanya, Negara dan masyarakat dimana kelak iya bermukim.
Betapa saya sadar setiap hari hidup ini masih saja ada lalai & khilaf yang terbuat, masih juga bibir dan lidah yang tak bertulang ini berkata dusta, padahal bisa saja kalau esok tak pernah datang dan diri tak sempat berkata AMPUN kepada Tuhan.
Sungguh celaka & nistalah diri kita sebagai orang tua yang gagal menuntun anak menuju SURGA.
Dari penuturan kisah hidup beliau akhirnya saya banyak belajar & memetik berbagai hikmah & pengalaman hidup sebagai bekal dalam mendidik anak anak saya, insya Allah.
Sebuah pengalaman yang sangat berharga … DAN itulah sebuah bentuk kasih sayang yang tercurah dari seorang ayah “Sang Duta Besar “ penuh kasih dalam batas dan kadar yang tiada bertepi, tak lekang & luntur walau terbang jauh melintas benua.
Semoga kisah hidup dari orang orang yang hidup dalam ke alpaan ini akan menjadi cermin bagi kita semua … itupun jika kita mau & berkeinginan BERCERMIN apakah dengan cermin datar – bulat – persegi empat atau – cembung, terpulanglah kepada masing masing individu. Hidup adalah sebuah rangkaian pilihan, pintar & bodoh serta kaya dan miskin atau menjadi ber-iman dan jahat … bukanlah takdir TUHAN sungguh & nyata.
Salam setepak sirih sejuta pesan dari balik sebuah bilik “Indonesian House” – Kinshasa: Erfan Ahmad Piliang.
Note : Terkenang dengan ungkapan Aa Gym … “Jagalah Hati” dengan sengaja saya tidak menyebutkan nama Negara Africa yang mana…demi menjaga Hati Sang Duta Besar kalau kisah disuatu senja yang beliau ceritakan termuat disini…peace.


salam kenal Mas,
setuju mas sebagai org tua memang agak seram melihat ‘kondisi zaman terkini’ dlm mendidik anak, walau kita sendiri juga bisa dikatakan ngga baik baik amat tapi mana ada sih maling yg pengen anaknya jg jd maling?sebenernya males jg ikut koment…tp kl liat diplomat kita dan keluarganya dari beberapa yg saya kenal memang rada rada ‘snob’ dan kebanyakan ngga ada ‘isinya’ cuma diplomat salon yg ngga heran kalo ngga ber ‘prestasi’…boro boro menguasai 5 bahasa…bahasa inggrisnya jg bhs inggris pasar hehehe makanya kl ada dubes yg model kaya gini jadi takjub juga…
Mas,
Yang ini keren banget ceritanya…
Keren keren… wekekkekekkeek
Salamin buat Bpk Diplomatnya yach… GANBATTE wekekkeeek
Happy IED MUBARAK Holidayyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
Yipeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
Mas Erfan,
Ceritanya juga adalah teguran juga buat sayah nih :D Nuhun pisan udah di inegtin melalui kisah ini.
Selamat Hari Lebaran bagi yang merayakannya… maaf lahir Bathin dan semoga segala amal kita semua dibulan suci Ramadhan diterima Allah SWT dan segala dosa yg sudah ter ampuni jangan diulangi lagi eeehhh …amin salam EA
wahhhh, crita yang menyejukkan hati sekaligus inspiring banget.
Makasih ya mas.
anywa, ya ampun, sudah berapa kali saya koment disini, lupa melulu kenalan sama penulisnya (saya suka lupa kalo penulis tiap artikel beda2… hehehehe)
Salam kenal ya mas,
Silly
salam kenal juga buat dik Silly,smg sht dan berbahagia sll.
Fenomena yang sering saya temui dan alami…. dilema yang mgk temen2 alami jika ada di lingkungan jauh dari religiusitas… kompromi yang berlebihan kedalam kultur barat merupakan indikasi tidak PeDenya kita akan keyakinan sendiri.