“DALAM PENUGASAN DIWILAYAH KONFLIK PENUGASAN APAPUN YANG DILAKUKAN OLEH PRAJURIT PRIA JUGA DIKERJAKAN OLEH PRAJURIT WANITA TERMASUK: *MENJADI PENGEMUDI*” – Mendapat kepercayaan dari Pemerintah Indonesia sebagai Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) yang pertama mewakili Indonesia untuk bergabung dengan perwira dari manca negara untuk melaksanakan tugas operasi misi perdamaian PBB/MONUC di Kongo.
Setelah melalui beberapa rangkaian proses seleksi serta pembekalan di Mabes TNI, saya diberangkatan ke daerah operasi pada tanggal 18 Januari 2008 dengan menggunakan maskapai penerbangan Thai Airways dengan rute Jakarta – Bangkok – Addis Ababa – Kinshasa. Rute penerbangan yang sangat panjang dan meletihkan itu tidak mengendorkan semangat saya sebagai prajurit untuk siap menghadapi segala situasi yang ada. Saya harus transit selama 7 jam di Bangkok untuk melanjutkan penerbangan ke Congo. Sambil menungu waktu untuk penerbangan berikutnya saya berjalan-jalan di dalam bandara melihat counter yang menjual beragam jenis barang dan souvenir. Tepat pukul 3 dinihari saya siap-siap terbang dengan menggunakan pesawat Ethiophian Airlines. Walaupun masih mengantuk karena tidak sempat istirahat di Bangkok saya ikut mengantri untuk check in bersama penumpang lain yang semuanya orang kulit hitam.
Pukul 8 pagi waktu setempat saya tiba Ethiophia dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan kepenatan selama penerbangan. sambil melihat pemandangan Negara Ethopia yang sangat indah dari bandara Addis Ababa. Saya tidak menyangka bahwa negara ini sudah mulai maju. Sekitar pukul 9 waktu setempat saya melanjutkan penerbangan ke Congo. Penerbangan menuju ke Congo ternyata cukup panjang karena harus transit di Gabon dan menunggu penumpang dari Gabon menuju Congo.
Pada tanggal 19 Januari 2008 pukul 15.30 saya tiba di Kinshasa. Saat turun dari pesawat Ethophian Airlines di Bandara Ndjili, saya disambut udara panas yang menyengat dan sekelompok orang berkulit hitam yang menanyakan identitas saya. Saya tunjukan dokumen yang dikeluarkan oleh MONUC kepada petugas bandara dan menjelaskan kepada mereka bahwa saya perwira Indonesia yang baru tiba di Congo. Serem juga melihat orang kulit hitam yang berada disekitar bandara, wajahnya tidak ada yang tersenyum semua berwajah serius.
Saya lega setelah melihat rekan Milobs Indonesia berdiri dipintu bandara menjemput saya. Sambil menunggu bagasi, saya memperhatikan situasi di Bandara Ndjili dan heran melihat Bandara ini sangat sederhana untuk ukuran bandara Internasional.

Illustration Photo – © Copyrights Google Inc.

Airlines.net Photo – © Copyrights
Dalam hal pengambilan bagasi saja memerlukan waktu yang cukup lama. Setelah proses pengambilan bagasi selesai kami keluar menuju shuttle bus yang disiapkan oleh MONUC.
Sepanjang perjalanan saya terkejut melihat kondisi negara ibukota Congo yaitu Kinshasa yang sangat kotor dan tidak teratur, tampaknya negara ini masih terbelakang terlihat dari gedung tua disepanjang jalan serta banyak pedagang tradisional menjajakan dagangannya sehinggga mengganggu lalu-lintas. Melihat pemandangan di Kinsasha saya mengalami sebuah kejut-budaya, karena itu sepanjang perjalanan saya hanya membisu dan membayangkan betapa getirnya harus tinggal selama satu tahun di kota seperti itu. Namun saya segera tersadar bahwa saya membawa misi negara. Saya buang jauh-jauh kecemasan itu dan saya bertekad saya harus mampu menghadapi segala tantangan yang ada dihadapan saya.
Yang paling mengejutkan saat menuju Indonesian House saya lihat lingkungannya sangat kotor dengan timbunan sampah dan berbau pesing. Anak-anak langsung mengerumuni saya dan rekan saya untuk meminta uang dengan nada memaksa . Saya hampir tidak percaya melihat kenyataan yang saya hadapi.
Tidak berapa lama kami sudah sampai di lantai bawah untuk menuju rumah Indonesia yang terletak di lantai 9. Saya sempat bingung melihat koper saya yang besar dan berpikir siapa yang akan membawanya ke atas . Rupanya Senior Milobs pria meminta bantuan kepada anak-muda tanggung untuk membawa koper menuju ke Indonesian House. Saya kagum melihat anak usia belasan tahun tersebut mampu mengangkat dua koper sekaligus yang satu dijinjing dan yang satu dijunjung dikepala sembari menaiki tangga hingga ke lantai 9.
Indonesian House berada di lantai 9 dimana liftnya pun sudah tua kadang berfungsi dan kadang mati. Sangat menyedihkan melihat kondisi lift yang sudah tidak layak pakai tapi masih dioperasionalkan juga. Kami mulai menaiki tangga menuju Indonesian House. Saya lihat Senior Milobs pria santai saat naik tangga mungkin mereka sudah terlatih. Bagi saya yang jarang naik tangga memang terasa letih terutama pada saat naik ke anak tangga di lantai 4 s/d 9, lutut pun terasa mau copot dan nafas mulai ngos-ngosan serta mulai muncul keringat dingin mungkin karena belum terbiasa.
Wah bisa dibayangkan kalau saya angkat koper sampai ke lantai 9 mungkin saya tidak kuat. Begitu koper tiba di lantai 9 anak-anak dan anak muda tersebut meminta bayaran yang mahal padahal sebelumnya mereka sudah terbiasa bawa koper ke atas dan sudah faham berapa bayarannya. Tapi kali ini semua heran kenapa mereka emosi minta bayaran mahal dan setengah memaksa dan suaranya menakutkan seperti mau berkelahi.
Sebagai orang baru saya terkejut melihat perangai penduduk lokal yang sangat kasar dan tidak memiliki etika dan sopan santun kepada warga asing yang baru tiba di negaranya, sangat kontras dengan kita di Indonesia.
Setelah tiba di rumah lantai 9, saya terburu-buru membuka koper untuk mengambil baju Loreng dan sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan). Dalam waktu 10 menit saya sudah siap dan berangkat ke Force HQ untuk proses check-in, berfoto untuk pembuatan ID Card.
Sekembalinya dari Force HQ, saya mulai lagi menaiki tangga menuju lantai 9. Wah!, ternyata berat juga naik tangga memakai sepatu lars. Saya bayangkan jika setiap hari saya harus naik turun tangga memakai sepatu lars, lama-kelamaan betis saya bisa bertambah besar seperti betis pemain sepakbola.
Pada malam harinya saya bersama para Senior Milobs menyiapkan makan malam. Kami tidak mempunyai pembantu sehingga semua harus bekerjasama menyiapkan makan malam. Selesai makan malam saya minta tolong kepada Senior Milobs Pria menemani saya pergi ke Mall untuk membeli bantal, karena saya sulit tidur tanpa bantal. Lokasi Mall dengan Indonesian House jaraknya cukup dekat dengan berjalan kaki sekitar 15 menit kami sudah tiba disana. Mall di Kinshasa tidak tergolong jenis mall yang modern, namun barang-barang yang dijual lumayan bagus termasuk bantal yang akan saya beli harganya US$30 dollar*…lumayan mahal tapi kualitasnya bagus. Salah seorang Senior Milobs, *Letkol Marinir Arif Harnanto yang baik hati dan bijaksana mungkin heran kenapa saya kok mesti mencari bantal segala. Maka, saya sampaikanlah bahwa “bantal” yang digunakan di rumah Indonesia-kan sudah turun-temurun dan yang memakai bantal itu pun Milobs pria sehingga aroma bantal sudah bercampur-aduk nggak keruan mungkin juga ilernya ada yang lengket di bantal itu dan Letkol Arif pun hanya senyum-senyum saja mendengarnya. (Bersambung).




Hello Mbak Nita,
Memang berat ya, Mbak!. apalagi jadi Srikandi pertama yang mendarat di DRC (Congo) dan memang terkenal sekali dari cerita rekans di UNMIL yang pernah bertugas di MONUC/Congo kalau umumnya orang-orang disana itu kasar dan tidak ramah abis!.
Perihal bantal di “Indonesian House” yang notabene adalah warisan turun temurun, persis sama kok dengan bantal-bantal di Rumah Milobs Indonesia di Liberia yang acapkali si sarung terlihat sudah kumel, busuk dan menggumpal benjol-benjol begitu bentuknya nggak jelas!. (Hahahahaha…)
Tapi tetap aja nyaman buat kita (para pria Indonesia) pakai tidur, apalagi kalau sudah ngumpul ngobrol sampai malam – nampaknya bau iler itu sirna! :D
Untuk orang yg biasa tidur dengan posisi terlentang mungkin ‘kualitas’ bantal ga jadi masalah. Tapi, buat saya penting. Soalnya, saya kalo tidur terbiasa dengan posisi tengkurap. Bisa dibayangkan jarak ‘iler’ yg lebih dekat dengan hidung.
Mungkin mba seperti saya juga ya..? Hahaha…
Jangankan perempuan Mba,…. Laki aja schock pertama kali!!! Kalimat pertama yg paling saya ingat dan gak akan pernah sy lupakan adalah ““Wllcome to Negeri Antah Berantah”“.
Tapi nilai positif yg saya bisa ambil dari pengalaman di negeri ini adalah saya bisa lebih bersyukur menjadi bangsa Indonesia dan hidup di negara Indonesia dg segala kelebihan dan kekurangannya!!!
BTW soal bantal, saya ada pertanyaan, pilih bau bantal Indo House atau bau keringat orang Lokal???. Kalo saya sih dg sigapnya lebih baik langsung nyambar Bantal utk tidur…. by Good Night, have a nice dream!!!