Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Bonobo really loves xxx

11 April 2010, 04:14 , by Sari Siswa Purnama

 

Hurreyyyyyyyy… Dalam hati, aku bersorak girang, karena akhirnya, setelah 4 bulan berada di Kinshasa, aku bisa juga pergi melihat Bonobo. Ma kasih banyak buat Erick, temannya Kak Luna, karena udah dengan sukarela mau membawa kita. Ma kasih juga ke Kak Luna, karena sudah berhasil mengeluarkan “aji rayuan maut” untuk ngajakin Erick :-). Sebelum berangkat, yang kita tau cuma mau pergi ke “_BONOBO_”. Ternyata, kita salah, karena banyak orang Congo sendiri, nggak tau dimana itu Bonobo. Tidak ada tempat yang namanya Bonobo. Bonobo itu nama binatangnya, tapi tempatnya di De La Lukaya. Kita baru tahu ini, setelah kesasar jauhhh banget. Kalau udah bingung, kita mutusin buat nanya orang yang di jalan. Dan yang ditanya, kebanyakan bingung, entah karena nggak tau dimana letaknya Bonobo atau nggak ngerti sama apa yang kita bilang.

Orang Congo sini pada susah Bahasa Inggris (sama juga seperti di Indonesia :-)). Taunya Bahasa Prancis atau Linggala. Susahhh banget, kalo mau nanya arah jalan. Aku, Nurul dan Kak Luna, sudah ketawa-ketawa aja sambil ngobrol pakai Bahasa Indonesia biar dua orang pria yang jadi bodyguard kita (ceileee), nggak ngerti apa yang kita bicarain, dan buat menenangkan hati juga, supaya nggak terlalu kecewa, kalau ternyata kita gagal nyampe di tempatnya si Bonobo dan Nurul (dengan penuh semangat):

“Sari, betolnya jalan kita ini Sar? Kok kayanya nggak jelas ini?”

Sari (ketawa- ketawa nggak jelas): “hehehehehe… Nggak tau aku Nurul. hihihihi”

Kak Luna (dengan gaya bijaksana): “Nikmati aja dek, kalopun nggak sampe, kan udah jalan-jalan ngelihat-lihat sisi lain Kinshasa”.

Ok dech Kak Lunaaaaa.. :-)

IMG_4322

IMG_4327

IMG_4357

IMG_4343

Akhirnya, setelah berkendara sekitar 2 jam, masih dengan tanda tanya yang besar di kepala, dan “desperado” mode on, ditambah lagi dengan udara siang yang panas, AC mobil rusak pula, akhirnya kita memutuskan untuk berhenti dan bertanya lagi. Dengan hanya bermodalkan bahasa prancis sepotong, akhirnya si Papa Kapten ),

“Comment Sa Va Papa? (Apa kabar?) Do you know where _Bonobo?”_

Dan, si Papa Congo yang kita tanyain juga dengan tampang bingung, geleng-geleng kepala, sambil ngucap-ngucap nggak jelas. .

Si Papa Kapten, masih berusaha nanya; “_Bonobo_ Papa? Bonobo? Monkey?”

Si Papa Congo, teteppp aja keukeuh nggak tau. Tapi, akhirnya, ntah diutus oleh Malaikat dari surga mana, datanglah seorang pria dengan tampang ramah sekali dan bisa berbahasa Inggris, nanyain kita:

“Where are you going?”

Trus dia nunjukin ID Card MONUC-nya; “I am also working with MONUC, I am AK’s driver”.

Dia nyebutan nama salah seorang Chief yang terkenal :-). Cesssss, aq langsung berbinar-binar. Semuanya langsung pengen ngomong. Hehehehe… Akhirnya, dia berhasil meluruskan kita ke jalan yang benar menuju si Bonobo. Kita harus balik lagi, ke jalan yang udah kita lewatin. Simpang menuju ke tempatnya Bonobo, udah kita lewatin sekitar 45 menit yang lalu. Lumayan jauh, karena 45 menit di jalanan yang bebas hambatan. Trus, dia ngasih tau, kalau nama tempatnya bukan Bonobo.

“Later, when you already at the triangle, you will see marche (pasar), ask to the people there, where to go to De La Lukaya. Not _Bonobo_”.

Trus, dia juga ngegambar sketsa peta lokasinya. (Kaya peta mau ke kondangan :-)). Akhirnya, setelah mengucapkan sejuta terima kasih, kita balik lagi, dan nemu jalannya. Begitu masuk ke simpang ke arah De La Lukaya, mulailah mobil semakin ajut ajutan. Karena jalannya sempit dan berlumpur. Kalo mau ngelihat Bonobo, baiknya naik mobil 4WD.

Setelah 3 jam di atas mobil dengan suhu udara panas, kita nyampe juga di tempatnya si Bonobo. Untung bau keringatnya kita kita nggak sedahsyat bau keringat orang sini :-).

Seharusnya, kalau nggak pakai acara nyasar (dan nggak kena macet waktu mau keluar dari kota Kinshasa), jarak tempuh dari Kinshasa ke Bonobo sekitar 1 jam. Lagian, emang anehhh banget. Sepanjang jalan dari Kinshasa sampai ke tempatnya Bonobo, kita nggak bakalan ngeliat ada satu pun petunjuk jalan. Kita baru benar-benar yakin udah tiba di tempatnya Bonobo, setelah masuk ke dalam gerbangnya dan melihat ada papan bertuliskan “Lola ya _Bonobo_”.

Bahkan, di depan gerbangnya, nggak ada petunjuk sama sekali. Kita aja sampe kelewatan, lagi-lagi nanya, dan cuma bilang “_Bonobo_?”, untungnya, orang sekitar daerah situ langsung ngerti. Muter lagi deh.

Napa sih, bela-belain amat ngeliat ni Bonobo? Kan sama juga ma monyet. Eitttt… Jangan salah. Bonobo ini special, karena cuma ada di D.R. Congo, dan sudah berada diambang kepunahan, karena perburuan untuk dimakan, trus juga karena kondisi perang di Congo. Kala aku nggak nyasar ke Kinshasa, dah dipastikan deh, aku nggak bakalan pernah liat Bonobo. Thanks God :-).

Kalo dari informasi yang didapat di internet, ni Bonobo, sepupunya Simpanse, dan yang punya kemiripan paling banyak dengan manusia. Bonobo ini juga pinter. Dia ngerti kalo diajakin ngomong. Kata yang jaga, Bonobo ini ngerti Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Linggala juga ok. Wahh… malah kalah dong, ama kita yang manusia :-).

IMG_4437

IMG_4378

Bonobo Graph

Ini Bonobo, tingkahnya juga mirip banget ma manusia. Mereka bisa berdiri tegak. Trus, kalo berantem ma temannya, pake acara nendang, cara nendangnya beneran kayak manusia. Bonobo ini juga nggak begitu agresif dibandingkan dengan binatang sejenis dia. Apa mungkin karena Bonobo ini suka “s3x”? :-).

IMG_4399

Kalo lagi mau makan, ni Bonobo langsung horny, dan langsung dia making-love deh :-). Ni Bonobo, bisa ML sambil makan pisang..!!!!

IMG_4396

Kata Papa Kapten; “they are busy when they are eating”,

Bahkan petugas jaga disana bilang; “They like s3x, s3x, s3x and s3x” :-).

Bonobo punya “prinsip”:http://www.Bonobo.org yaitu: Make Love, NOT War :-) (Bonobos seem to ascribe to the 1960s hippie credo, “make love, not war.” They make a lot of love, and do so in every conceivable fashion. Beyond that, they are very loving too, showing care and compassion for each other in many ways. Sex in Bonobo society transcends reproduction, as it does in humans. It serves as a way of bonding, exchanging energy and sharing pleasure……).

Untuk ngelihat Bonobo, kita harus bayar tiket masuk. Untuk orang asing, $5 per orangnya. Di situ, juga ada restoran yang seadanya. Tapi, jangan terkejut, kalau kita nggak boleh bawa makanan sendiri.

dela lukaya river

IMG_4558

Harus pesan makanan dari situ. Kalo mau makan makanan yang dibawa sendiri, harus bayar $7 (pertamanya dibilang yang jual, harus bayar $10), walaupun kita pesan minuman dari mereka. Hehehehehe… Dasar! Congo! :):):-)

Sari Siswa Purnama Sari studied in Economics, majoring in Accounting at North Sumatera University (USU), 1997-2002. She began her endeavor with the international humanitarian organization in October 2005 under flag of the International Organization for Migration (IOM), almost 1 year since aftermath of...

Detail Profile »

3  Comments

by Nurul Fitri Lubis at 12 April 2010, 00:53

Kalo kata pepatah, “malu bertanya sesat di jalan”.. Kalo kita mah, “rajin bertanya, tetep aja nyasar”… he he he… hidup bonobo….

by Luigi Pralangga at 12 April 2010, 04:27

Wah, perjananan macam ini nih yang bikin ‘mission assignment’ berasa seperti ‘safari mission’ aja.. sok atuh foto turis lokalnya mana nih? :D

by Deded Wardi at 13 April 2010, 17:53

Wah.. Congo juga ada yg beginian…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

630 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Ratih PUSPARINI Major Ratih Pusparini is serving in Indonesian Air Force since 1995. Presently she is posted as G3 Ops Desk Officer MONUC HQ, Kinshasa, DRC for one year as a part of her mandate in UN Mission in DRC ....

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Pelatihan wajib masuk Iraq: SAIT Training
Saat konvoy memasuki koordinat Zulu-Papa, tiba – tiba konvoy kendaraan mendapat serangan bom yang dipasang di sisi jalan rute konvoy (Roadside Bomb), dimana kendaraan kedua menerima guncangan terkuat dari serangan bom tersebut dan hamper keluar jalur. ”Emergency.. emergency.. !, Alpha Tango this is Charlie Mike-Zero-Five, we’have been attacked by roadside bomb at coordinates Zulu-Papa.. all vehicle commander report to Mike Zero-Five on Damage Status, over”.. Crrk!..
Luigi Pralangga , 6 hours ago

Force Engineering Tinjau Pekerjaan Satgas Zeni TNI dI Kongo
Setelah sepuluh bulan berlangsung pembangunan jalan Dungu Faradje yang dikerjakan oleh Satgas Zeni TNI sepanjang 155 Km di Kongo serta kunjungan demi kunjungan yang telah dilakukan oleh pejabat MONUSCO (Mission de I’Organisation de republic des Nation Unies Pour la Stabilisation en Republique Democratique du Congo) baik sipil maupun militer, kini giliran Force Engineering yang bermarkas di Kinshasa melihat secara langsung proyek jalan yang dikerjakan oleh Satgas Zeni TNI Kontingen Garuda XX-G/Monuc.
Agus Hermansyah , 4 days ago

UNIFIL Force Commander Buka Puasa Bersama di Indobatt
UNIFIL Force Commander Mayor Jenderal Alberto Asarta Cuevas menyempatkan diri untuk menghadiri undangan Komandan Indobatt Letkol Inf Andi Perdana Kahar dalam acara Iftar Dinner atau Buka Puasa Bersama di UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Sabtu (4/9). Kegiatan yang merupakan ciri khas bulan puasa Ramadhan ini, turut dihadiri pula oleh seluruh Mukhtar (pemimpin pemerintahan desa, beda dengan Mayor=pemimpin agama) yang berada dalam Area Operation Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/ Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) di Lebanon Selatan.
Sanra Michiko Moningkey , 4 days ago

‘Safari Ramadhan’ Indobatt di Lebanon Selatan
Komandan Indobatt Letkol Inf Andi Perdana Kahar bergandengan-tangan dengan Wadan Indobatt Letkol Mar Guslin memprakarsai dan memimpin kegiatan keagamaan rutin yang dilaksanakan setiap dua hari sekali di seluruh jajaran kompi Satuan Tugas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/ Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) di Lebanon Selatan. Kegiatan yang terkenal dengan nama ‘Safari Ramadhan’ gencar dilaksanakan selama bulan puasa yang penuh keberkatan ini bagi umat muslimah.
Sanra Michiko Moningkey , 7 days ago

Welfare Cruise Monusco Staff
Hari ini, diadakan Pagi ini, sesuai jadwal akan diadakan pelayaran rekreasi bagi seluruh staff Monusco yang berminat untuk berlayar menggunakan pusher & barge (tongkang) UN-07. Jadi pantas jika pagi ini Mayor Amrin yang mendapat giliran mengkomandani UN-07 begitu sibuk untuk mengatur segala perlengkapan guna kelancaran acara tersebut. Dari mulai mengatur meja, kursi, sound system, acara selama perjalanan, door prize, makan siang dan perlengkapan penunjang lainnya. Bantuan pengawalan khusus diminta dari Ghana Batallion QRT (Quick Reaction Team) yang berjumlah 12 orang dengan harapan tidak akan terjadi masalah keamanan selama perjalanan. Meski perlu diketahui kalau pelayaran ini hanya menempuh jarak 25 KM dari Onatra Port Kinshasa ke daerah Kingkole dan bisa ditempuh selama kurang lebih 3 jam.
Lusyanto Januar , 7 days ago

 

Recent Comments

riza commented on Pelatihan wajib masuk Iraq: SAIT Training
a few seconds ago


Ovan Radho commented on Bertugas di Misi Perdamaian: Meniti jalur karir di PBB
a few seconds ago


Dini Daniela commented on Sebuah cahaya diujung terowongan
a few seconds ago


karina commented on Sebuah cahaya diujung terowongan
a few seconds ago


Luigi Pralangga commented on Welfare Cruise Monusco Staff
a few seconds ago