Hurreyyyyyyyy… Dalam hati, aku bersorak girang, karena akhirnya, setelah 4 bulan berada di Kinshasa, aku bisa juga pergi melihat Bonobo. Ma kasih banyak buat Erick, temannya Kak Luna, karena udah dengan sukarela mau membawa kita. Ma kasih juga ke Kak Luna, karena sudah berhasil mengeluarkan “aji rayuan maut” untuk ngajakin Erick :-). Sebelum berangkat, yang kita tau cuma mau pergi ke “_BONOBO_”. Ternyata, kita salah, karena banyak orang Congo sendiri, nggak tau dimana itu Bonobo. Tidak ada tempat yang namanya Bonobo. Bonobo itu nama binatangnya, tapi tempatnya di De La Lukaya. Kita baru tahu ini, setelah kesasar jauhhh banget. Kalau udah bingung, kita mutusin buat nanya orang yang di jalan. Dan yang ditanya, kebanyakan bingung, entah karena nggak tau dimana letaknya Bonobo atau nggak ngerti sama apa yang kita bilang.
Orang Congo sini pada susah Bahasa Inggris (sama juga seperti di Indonesia :-)). Taunya Bahasa Prancis atau Linggala. Susahhh banget, kalo mau nanya arah jalan. Aku, Nurul dan Kak Luna, sudah ketawa-ketawa aja sambil ngobrol pakai Bahasa Indonesia biar dua orang pria yang jadi bodyguard kita (ceileee), nggak ngerti apa yang kita bicarain, dan buat menenangkan hati juga, supaya nggak terlalu kecewa, kalau ternyata kita gagal nyampe di tempatnya si Bonobo dan Nurul (dengan penuh semangat):
“Sari, betolnya jalan kita ini Sar? Kok kayanya nggak jelas ini?”
Sari (ketawa- ketawa nggak jelas): “hehehehehe… Nggak tau aku Nurul. hihihihi”
Kak Luna (dengan gaya bijaksana): “Nikmati aja dek, kalopun nggak sampe, kan udah jalan-jalan ngelihat-lihat sisi lain Kinshasa”.
Ok dech Kak Lunaaaaa.. :-)
Akhirnya, setelah berkendara sekitar 2 jam, masih dengan tanda tanya yang besar di kepala, dan “desperado” mode on, ditambah lagi dengan udara siang yang panas, AC mobil rusak pula, akhirnya kita memutuskan untuk berhenti dan bertanya lagi. Dengan hanya bermodalkan bahasa prancis sepotong, akhirnya si Papa Kapten ),
“Comment Sa Va Papa? (Apa kabar?) Do you know where _Bonobo?”_
Dan, si Papa Congo yang kita tanyain juga dengan tampang bingung, geleng-geleng kepala, sambil ngucap-ngucap nggak jelas. .
Si Papa Kapten, masih berusaha nanya; “_Bonobo_ Papa? Bonobo? Monkey?”
Si Papa Congo, teteppp aja keukeuh nggak tau. Tapi, akhirnya, ntah diutus oleh Malaikat dari surga mana, datanglah seorang pria dengan tampang ramah sekali dan bisa berbahasa Inggris, nanyain kita:
“Where are you going?”
Trus dia nunjukin ID Card MONUC-nya; “I am also working with MONUC, I am AK’s driver”.
Dia nyebutan nama salah seorang Chief yang terkenal :-). Cesssss, aq langsung berbinar-binar. Semuanya langsung pengen ngomong. Hehehehe… Akhirnya, dia berhasil meluruskan kita ke jalan yang benar menuju si Bonobo. Kita harus balik lagi, ke jalan yang udah kita lewatin. Simpang menuju ke tempatnya Bonobo, udah kita lewatin sekitar 45 menit yang lalu. Lumayan jauh, karena 45 menit di jalanan yang bebas hambatan. Trus, dia ngasih tau, kalau nama tempatnya bukan Bonobo.
“Later, when you already at the triangle, you will see marche (pasar), ask to the people there, where to go to De La Lukaya. Not _Bonobo_”.
Trus, dia juga ngegambar sketsa peta lokasinya. (Kaya peta mau ke kondangan :-)). Akhirnya, setelah mengucapkan sejuta terima kasih, kita balik lagi, dan nemu jalannya. Begitu masuk ke simpang ke arah De La Lukaya, mulailah mobil semakin ajut ajutan. Karena jalannya sempit dan berlumpur. Kalo mau ngelihat Bonobo, baiknya naik mobil 4WD.
Setelah 3 jam di atas mobil dengan suhu udara panas, kita nyampe juga di tempatnya si Bonobo. Untung bau keringatnya kita kita nggak sedahsyat bau keringat orang sini :-).
Seharusnya, kalau nggak pakai acara nyasar (dan nggak kena macet waktu mau keluar dari kota Kinshasa), jarak tempuh dari Kinshasa ke Bonobo sekitar 1 jam. Lagian, emang anehhh banget. Sepanjang jalan dari Kinshasa sampai ke tempatnya Bonobo, kita nggak bakalan ngeliat ada satu pun petunjuk jalan. Kita baru benar-benar yakin udah tiba di tempatnya Bonobo, setelah masuk ke dalam gerbangnya dan melihat ada papan bertuliskan “Lola ya _Bonobo_”.
Bahkan, di depan gerbangnya, nggak ada petunjuk sama sekali. Kita aja sampe kelewatan, lagi-lagi nanya, dan cuma bilang “_Bonobo_?”, untungnya, orang sekitar daerah situ langsung ngerti. Muter lagi deh.
Napa sih, bela-belain amat ngeliat ni Bonobo? Kan sama juga ma monyet. Eitttt… Jangan salah. Bonobo ini special, karena cuma ada di D.R. Congo, dan sudah berada diambang kepunahan, karena perburuan untuk dimakan, trus juga karena kondisi perang di Congo. Kala aku nggak nyasar ke Kinshasa, dah dipastikan deh, aku nggak bakalan pernah liat Bonobo. Thanks God :-).
Kalo dari informasi yang didapat di internet, ni Bonobo, sepupunya Simpanse, dan yang punya kemiripan paling banyak dengan manusia. Bonobo ini juga pinter. Dia ngerti kalo diajakin ngomong. Kata yang jaga, Bonobo ini ngerti Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Linggala juga ok. Wahh… malah kalah dong, ama kita yang manusia :-).
Ini Bonobo, tingkahnya juga mirip banget ma manusia. Mereka bisa berdiri tegak. Trus, kalo berantem ma temannya, pake acara nendang, cara nendangnya beneran kayak manusia. Bonobo ini juga nggak begitu agresif dibandingkan dengan binatang sejenis dia. Apa mungkin karena Bonobo ini suka “s3x”? :-).
Kalo lagi mau makan, ni Bonobo langsung horny, dan langsung dia making-love deh :-). Ni Bonobo, bisa ML sambil makan pisang..!!!!
Kata Papa Kapten; “they are busy when they are eating”,
Bahkan petugas jaga disana bilang; “They like s3x, s3x, s3x and s3x” :-).
Bonobo punya “prinsip”:http://www.Bonobo.org yaitu: Make Love, NOT War :-) (Bonobos seem to ascribe to the 1960s hippie credo, “make love, not war.” They make a lot of love, and do so in every conceivable fashion. Beyond that, they are very loving too, showing care and compassion for each other in many ways. Sex in Bonobo society transcends reproduction, as it does in humans. It serves as a way of bonding, exchanging energy and sharing pleasure……).
Untuk ngelihat Bonobo, kita harus bayar tiket masuk. Untuk orang asing, $5 per orangnya. Di situ, juga ada restoran yang seadanya. Tapi, jangan terkejut, kalau kita nggak boleh bawa makanan sendiri.
Harus pesan makanan dari situ. Kalo mau makan makanan yang dibawa sendiri, harus bayar $7 (pertamanya dibilang yang jual, harus bayar $10), walaupun kita pesan minuman dari mereka. Hehehehehe… Dasar! Congo! :):):-)











Kalo kata pepatah, “malu bertanya sesat di jalan”.. Kalo kita mah, “rajin bertanya, tetep aja nyasar”… he he he… hidup bonobo….
Wah, perjananan macam ini nih yang bikin ‘mission assignment’ berasa seperti ‘safari mission’ aja.. sok atuh foto turis lokalnya mana nih? :D
Wah.. Congo juga ada yg beginian…